Freeport Membara

SUSANA Murwanti terkulai lemas saat mendengar kabar suaminya, Aloysius Margana, tewas ditembak sekelompok orang tak di kenal di areal PT Freeport Indonesia (PTFI), Timika Papua. Susana hanya meratapi kematian suaminya di kamarnya. Kerabat dan tetangga yang berkunjung ke di rumah duka, Dusun Pancoh, Desa Girikerto, Turi, Sleman, berupaya menguatkan hatinya untuk bersabar.

Pihak keluarga tak mengira jika Aloysius yang telah bekerja 20 tahun di perusahaan tambang emas terbesar di dunia itu menjadi korban penembakan, 21 Oktober lalu. Karena sehari sebelumnya, Susana sempat menelpon Margana. Tidak ada firasat buruk yang dirasakannya kala itu. Aloysius ditemukan tewas dalam kondisi tertelungkup di dalam mobil Range Rover yang dikendarainya. Lelaki berusia 57 tahun itu ditembak dari jarak dekat, dengan senjata jenis AK 47.

“Aloysius ditemukan tewas di dalam mobil dengan luka tembak di tangan kanan, perut bawah, serta punggung,” kata Roy Suryo, keponakan Aloysius yang juga menjabat Anggota Komisi I DPR di rumah duka, Sleman, Yogyakarta. Sabtu lalu, jenazah Aloysius dimakamkan di pemakaman keluarga di Dusun Pancoh Kulon, RT 1, RW 11, Desa Girikerto, Kecamatan Turi, Kabupaten Sleman. Keluarga korban mengharap aparat keamanan menangkap pelaku. Mereka pun mengharap agar kasus penembakan tak lagi terjadi.

Aloysius merupakan satu dari tiga karyawan PTFI yang tewas menggenaskan dalam aksi penembakan sekelompok orang di areal perusahaan tambang emas dan perak milik Amerika Serikat itu. Dua korban lainnya yang tewas menggenaskan adalah Etok Laitawono dan Yunus.

Penembakan terjadi sekitar pukul 05.30 WIT di lokasi berbeda, dalam waktu yang tak lama berselang. Aloysius menjadi sasaran tembak saat menempuh perjalanan dari Mil 38 menuju arah Mil 40. Dia ditembak saat masih berada di areal Mil 38. 15 menit kemudian, di kawasan Mil 39, aksi penembakan seporadis dilakukan segerombolan orang tak dikenal di pinggir Sungai Aijkwa. Etok dan Yunus-yang sedang berada di kawasan itu tewas diterjang timah panah. Eto tertembak di bagian punggung. Sementara Yunus ditembak di bagian belakang.

Kasus kekerasan di area Freeport bukan kali pertama terjadi. Masyarakat sekitar dihantui kecemasan dan ketakutan karena seringkali terjadi bentrok di dataran rendah dengan tinggi di kawasan Freeport. Mereka juga merasa keamanannya terancam karena bentrokan sering kali menggunakan senjata api. Karena itu, mereka mendatangi Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM), Jakarta, Senin (24/10). Mereka mendesak Komnas HAM terlibat dalam upaya menuntaskan kasus tersebut.

Wakil Ketua Bidang Eksternal Komnas HAM, Nurkholis menegaskan pihaknya akan membentuk tim khusus untuk mengungkap kejadian sebenarnya. “Ruang lingkupnya belum ditentukan. Tapi komitmen awal memang bentuk tim khusus untuk kerja tiga bulan,” katanya. Menurut dia, ada tiga fokus yang akan digarap Komnas HAM bersama Kementerian Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan, dan Presiden.

“Yakni Papua, pelanggaran HAM masa lalu, dan konflik agraria.”

Komnas HAM mengaku, sudah melakukan investigasi, penyelidikan, serta mediasi dalam menuntaskan masalah Freeport. Hasilnya, Komnas HAM menyimpulkan ada empat titik rawan konflik yaitu di Timika, Kuala Kencana, Banti, dan Tembagapura.

Selain mengadu ke Komnas HAM, perwakilan warga juga mengadu ke Komisi I DPR. Dihadapan para wakil rakyat, mereka meminta masalah keamanan dituntaskan sehingga tak lagi dicemasi situasi tak menentu yang terus berkepanjangan.

Sementara dari hasil pemeriksaan yang dilakukan Polri, Kepala Divisi Hubungan Masyarakat (Kadiv Humas) Polri, Irjen Pol Anton Bachrul Alam di Jakarta, Jumat lalu menyatakan, pelaku penembakan diperkirakan berjumlah 10 orang.

“Mereka membawa dua senjata api laras panjang,” terangnya.

Di lokasi kejadian polisi menemukan selongsong peluru, kaliber 5,56 milimeter diduga dari senjata api jenis XX1 atau M16 sedangkan kaliber 7,62 milimeter diduga dari AK 67. Namun, hingga polisi belum berhasil meringkus pelakunya.

Untuk melacak jejak para pelaku, Polri pun meminta bantuan Kopassus TNI yang sangat terlatih untuk mengejar kelompok tersebut. “Kami juga minta bantuan Kopassus,” kata Anton. Kopassus dimintai bantuan agar pos-pos yang selama tidak terjangkau bisa dikontrol. “Dibutuhkan pasukan gerilya, makanya kami minta bantuan Kopassus,” katanya. Polri memetakan dua kelompok yang saat ini harus ditangani. Selain warga dan karyawan yang memblokade akses Freeport, kondisi keamanan juga dikacaukan dengan kelompok bersenjata.

Aksi penembakan semakin membuat situasi Freeport tak menentu. Saat ini, perusahaan tambang itu masih dililit konflik antara karyawan dengan manajemen perusahaan. Karyawan dan kelompok masyarakat melakukan pemblokiran jalan di Mil 27 yang menghambat suplai logistik di area operasi perusahaan.

Akibatnya, stok avtur di Bandara Mozes Kilangin Timika sudah habis sejak Jumat dua pekan lalu sehingga bandara setempat tidak lagi melayani pengisian avtur ke sejumlah maskapai baik komersial maupun perintis ke wilayah pedalaman Papua.

Kondisi itu juga memaksa maskapai Garuda Indonesia melakukan perubahan rute penerbangan. Sementara maskapai Merpati Nusantara pada Sabtu dua pekan lalu batal terbang dari Makassar ke Timika.

Aksi itu adalah buntut dari tuntutan ribuan karyawan Freeport yang meminta manajemen menghentikan operasional perusahaan untuk sementara waktu sampai adanya penyelesaian kasus mogok kerja dan tuntutan kenaikan gaji karyawan.

Kekerasan di Freeport bukan kali pertama terjadi. Jum’at 14 Oktober lalu, mobil milik Departemen Security & Risk Manajemen (SRM) Freeport Indonesia ditembak orang tak dikenal di Mil 37 ruas jalan Tanggul Timur menuju Kampung Nayaro, Mimika, sekitar pukul 15.32 WIT.

Peristiwa itu mengakibatkan Nasp Risza Rahman, karyawan PT Puri Fajar Mandiri tewas di got pinggir jalan. Mobil naas tersebut dikemudikan Beny Thomas dan ditumpangi oleh Roy Maleke dan dua anggota TNI dari kesatuan Yonif 754 Eme Neme Kangasi. Roy Maleke mengalami luka tembak di kaki dan tangan kirinya. Sedangkan seorang anggota TNI, Pratu Tobias dilaporkan mengalami luka tembak di tangan kirinya.

Presiden Direktur & CEO PT Freeport Indonesia Armando Mahler meminta aparat berwenang mengusut berbagai kasus penembakan yang terjadi di areal PT Freeport sejak 8 Juli 2009 hingga saat ini. “Kami karyawan Freeport adalah rakyat Indonesia yang punya hak azasi untuk hidup aman dan tenteram dan dilindungi oleh negara. Mohon aparat berwenang dapat mengusut siapa dalang pelaku teror selama ini,” ujar Armando.

Sudah delapan orang karyawan PT Freeport Indonesia maupun perusahaan kontraktor dan aparat keamanan yang tewas akibat ditembak oleh orang tak dikenal. Sekitar 40 orang lainnya mengalami luka-luka. Namun, hingga kini aparat keamanan tak menungkap tuntas kasus kekerasan itu.

M. Yamin Panca Setia/Suriyanto/Oscar Ferri/Antara

Tabel

Ekskalasi Kekerasan di Freeport

5 Juli 2009

Dua anggota Brigadir Mobil Polda Papua ditembak orang tak dikenal saat naik mobil di area Freeport Mile 54, Distrik Tembagapura, Kabupaten Mimika. Peluru mengenai kaki Brigadir Kepala Jimmy Renhard. sementara Brigadir Satu Abraham Ngamelubun mengalami luka tembang di bagian pantat dan paha.

12 Juli 2009

Dua karyawan Freeport tewas ditembak, yakni Drew Nicholas Grant (warga negara Australia) dan Markus Rante. Penembakan tersebut juga mengakibatkan satu polisi tewas dan dua polisi terluka. Polisi yang tewas adalah Brigadir Dua Marson sedangkan yang luka adalah Inspektur Satu Ada Gunawan dan Ajun Komisaris Anggun Tjahyono. Beberapa polisi dan karyawan Freeport juga luka akibat tembakan.

22 Juli 2009

Rombongan karyawan Freeport dan polisi dihujani tembakan di Mile 52 area pertambangan Freeport. Tembakan ini melukai Brigadir Polisi Satu Fritz Minoti dan dua karyawan Freeport yakni Lebang S dan Agus Salim. Polda Papua berhasil meringkus Amon Yamawe, Dominikus Beanal, Eltinus Beanal, Tommy Beanal, Simon Beanal dan Yani Beanal. Selain menangkap pelaku, polisi menahan Endel Kiwak karena memiliki ratusan butir amunisi.

12 September 2009

Bus yang membawa petugas keamanan diberondong tembakan di area pertambangan Freeport. Akibatnya, dua petugas keamanan terluka yaitu Anselmus Gao dan Gelke Pangkerego. Anselmus mengalami luka pada pipi kanan karena terkena pecahan kaca kendaraan.

Sedangkan Gelke Pangkerego luka pada kaki kanan karena terkena serpihan peluru. Saat itu, bus yang membawa 12 petugas keamanan dan dua orang cleaning service itu tengah menempuh perjalan dari Mile 34 ke Mile 50. Bus ditembaki oleh orang tak dikenal saat melintas di sekitar Mile 42-43 ruas jalan Timika-Tembagapura sekitar pukul 08.50 WIT.

20 Oktober 2009

Konvoi kendaraan bus milik Freeport menjadi sasaran berondongan peluru dari orang tak dikenal. Insiden terjadi sekitar pukul 09.30 WIT tepatnya antara mile 42-43 area kerja Freeport. Akibat tembakan itu, dua orang karyawan Freeport mengalami luka tembak cukup serius. Keduanya adalah Kristian dan Rudi. Mereka menderita luka tembak pada bagian lengan kiri dan paha.

12 Agustus 2009

Penembakan terhadap mobil karyawan Freeport terjadi tiga kali. Kejadian pertama menimpa bis karyawan Freeport dengan nomor lambung 14-0194 yang dikemudikan Jemy Muntu di Mile 45 ruas jalan Tembagapura-Timika sekitar pukul 06.20 WIT. Bis ini ditembak pada bagian kiri dan kanan saat kembali dari mengantar karyawan Freeport di Mile 50. Sekitar pukul 09.35 WIT terjadi lagi penembakan terhadap kendaraan LWB nomor lambung 01-3383 yang dikemudikan Naftali Simbiak di Mile 45. Saat itu Naftali yang bekerja sebagai anggota keamanan Freeport bersama rekannya Didi Januari tengah melintas menuju Mile 50 dari Mile 41. Pada pukul 12.05 WIT, mobil LWB nomor lambung 01-3411 dengan sopir Alianto dan mobil LWB dengan nomor lambung 01-1735 dengan sopir Yossi Pawaru yang ditumpangi sejumlah anggota Brimob dan TNI diberondong tembakan dari arah kiri dan kanan jalan di sekitar Mile 41.

6 April 2011

Mobil milik Freeport yang dikemudikan Abdul Simanjuntak, di tembak orang tak dikenal di Kali Kopi Mile 37 sekitar pukul 14.40 WIT. Abdul Simanjuntak dan Agus Patah yang duduk di jok depan, mengalami luka parah. Keduanya terkena sepihan peluru di punggung dan juga serpihan kaca mobil yang dikendarainya.

10 Oktober 2011

Karyawan Freeport, Petrus Ayamseba tewas dalam bentrokan ribuan karyawan perusahaan itu dengan ratusan polisi di Terminal Gorong-gorong Timika. Ia mengalami luka robek pada ketiak sebelah kiri setelah terkena peluru yang dilepaskan oleh aparat kepolisian. Dalam insiden itu, karyawan dan polisi juga terluka akibat terkena peluru dan lemparan batu. Bentrokan bermula saat ribuan karyawan Freeport bersama istri dan anak-anak mereka melakukan konvoi jalan kaki dari Sekretariat SPSI PT Freeport di Jalan Perintis Kemerdekaan Timika Indah menuju Terminal Gorong-gorong.

Mereka menuntut manajemen menghentikan operasional perusahaan untuk sementara waktu sampai adanya penyelesaian kasus mogok kerja dan tuntutan kenaikan gaji karyawan. Permintaan untuk penghentian sementara operasional PT Freeport tersebut merupakan salah satu rekomendasi surat Dewan Perwakilan Rakyat Papua (DPRP) dan Majelis Rakyat Papua (MRP) dalam pertemuan di Jayapura pada tanggal 7 Oktober 2011.

14 Oktober 2011

Mobil milik Departemen Security & Risk Manajemen (SRM) Freeport ditembak orang tak dikenal di Mil 37 ruas jalan Tanggul Timur menuju Kampung Nayaro, sekitar pukul 15.32 WIT. Peristiwa itu menewaskan Yana Heryana, Iip Abdul Rohman, dan Deden. Ketiganya karyawan PT Puri Fajar Madiri. Mobil pikap jenis L300 yang mereka kendarai ikut dibakar di Mile 37. Mobil naas tersebut juga dikemudikan Beny Thomas dan ditumpangi oleh Roy Maleke dan dua anggota TNI dari kesatuan Yonif 754 Eme Neme Kangasi. Roy Maleke mengalami luka tembak di kaki dan tangan kirinya. Sedangkan seorang anggota TNI, Pratu Tobias dilaporkan mengalami luka tembak di tangan kirinya.

21 Oktober 2011

Penembakan terjadi di area Freeport, Mil 40 dan Mil 34, pada waktu hampir bersamaan, yaitu sekitar pukul 05.00 WITA. Aloysius Margana, karyawan Freeport tewas ditembak bagian lengan kiri hingga menembus dadanya. Aloysius menjadi sasaran tembak saat menempuh perjalanan dari Mil 38 menuju arah Mil 40. Dia ditembak saat masih berada di areal Mil 38.

Dua korban lainnya yang tewas menggenaskan adalah Etok Laitawono dan Yunus. Etok dan Yunus-yang sedang berada di kawasan itu tewas diberondong peluru.

http://www.jurnas.com/halaman/7/2011-10-26/186793
Ilustrasi: matanews.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s