Ulama Multitalenta


Dia dikenang sebagai sosok multitalenta. Selain sebagai mubaligh, pemikir dan pendidik, dia adalah aktivis politik yang juga novelis. Nama lengkapnya Haji Abdul Malik Karim Amrullah. Nama itu kemudian dibuat akronim menjadi Hamka-yang kemudian menjadi sapaannya. Orang-orang pun mengenalnya sebagai Buya Hamka. Sebutan buya adalah sapaan kepada orang yang dihormati di Sumatera Barat-yang berasal dari kata abi, abuya atau bapak.

Sosok yang tidak kenal kompromi jika sudah menyangkut aqidah itu dilahirkan di Maninjau, Sumatera Barat, Senin 16 Februari 1908. Meski demikian, dia sangat toleran terhadap agama lain. Hamka akrab dengan Kardinal Justinur Darmoyuwono.

Ulama intelektual yang merupakan anak dari Syeikh Abdul Karim bin Amrullah atau dikenal Haji Rasul, pelopor Gerakan Islah (tajdid) di Minangkabau-itu sebenarnya tidak mengenyam pendidikan formal. Dia hanya sekolah hingga kelas tiga di sekolah desa. Lalu, menekuni ilmu agama di Padangpanjang dan Parabek, selama tiga tahun.

Khasanah intelektual yang dimilikinya lebih banyak didapat dari belajar sendiri. Dia “mengunyah” kajian-kajian para intelektual dan pujangga besar dari Timur Tengah seperti Zaki Mubarak, Jurji Zaidan, Abbas al-Aqqad, Mustafa al-Manfaluti dan Hussain Haikal. Dia juga mendalami pemikiran intelektual barat seperti Albert Camus, William James, Sigmund Freud, Arnold Toynbee, Jean Paul Sartre, Karl Marx dan Pierre Loti.

Keinginan untuk belajar, tumbuh saat usia 16 tahun. Hamka muda memberanikan diri meninggalkan kampung halamannya, Minangkabau, Sumatera Barat untuk berguru dengan sejumlah tokoh pergerakan Islam seperti Haji Oemar Said Tjokroaminoto (Sarekat Islam), Ki BAgus HAdikusumo (Muhammadiyah), KH Fakhruddin dan RM Soerjonopranoto.

Cakrawala berpikirnya makin luas setelah terlibat aktif dalam organisasi keagamaan Muhammadiyah. Usai Muktamar Muhammadiyah di Solo tahun 1928, dia mengukuhkan pendirinya untuk berkhidmat di Muhammadiyah, guna memerangi khurafat, bidaah, tarekat dan kebatinan sesat di Padang Panjang.

Dia menjadi ketua cabang Muhammadiyah di Padang Panjang. Agar ajaran Muhammadiyah makin meluas, pada tahun 1929, Hamka mendirikan pusat latihan pendakwah Muhammadiyah dan konsultan Muhammadiyah di Makassar. Kemudian terpilih menjadi ketua Majelis Pimpinan Muhammadiyah di Sumatera Barat oleh Konferensi Muhammadiyah, menggantikan S.Y. Sutan Mangkuto pada tahun 1946. Beliau menyusun strategi dakwah dalam Kongres Muhammadiyah ke-31 di Yogyakarta pada tahun 1950.

Pada tahun 1953, Hamka dipilih sebagai penasihat pimpinan Pusat Muhammadiah. Pada 26 Juli 1977, Menteri Agama Indonesia, Prof Dr Mukti Ali melantik Hamka sebagai ketua umum Majelis Ulama Indonesia tetapi beliau kemudiannya meletak jabatan pada tahun 1981 karena nasihatnya tidak dipedulikan oleh pemerintah Indonesia.

Namanya sempat meredup saat penjajahan Jepang. Hamka pernah direkrut Jepang dan diangkat menjadi Syu Sangi Kai atau Dewan Perwakilan Rakyat pada tahun 1944. Namun, ketika Jepang kalah dan menyerah ke sekutu, Hamka menjadi sasaran kritik hingga akhirnya dia hijrah ke Jakarta.

Namun, semangatnya tak surut. Dia tetap berdakwah dan mempertahankan kemerdekaan. Bahkan, saat Presiden Soekarno menunjukan gaya kepemimpinan yang otoriter dengan mengeluarkan dekrit tahun 1959, Hamka gencar mengkritik Soekarno. Bersama sejumlah tokoh Islam lainnya, Hamka dituduh makar oleh rezim Soekarno.

Dia pernah menjadi anggota Konstituante Masyumi yang kemudian diharamkan oleh pemerintah pada tahun 1960. Masyumi adalah partai Islam yang bertentangan dengan Partai Komunis Indonesia (PKI), yang kala itu tengah mesra dengan Soekarno.

Hamka juga dituduh pro-Malaysia. Kala itu, Indonesia tengah berkonfrontasi dengan negara tersebut. Dari tahun 1964 hingga tahun1966, Hamka merasakan pahitnya hidup dipenjara. Dia mengalami siksaan fisik dan batin yang luar biasa. Meski pernah dipenjara oleh Soekarno, Hamka tak menyimpan rasa dendam. Saat Soekarno meninggal dunia, dia menjadi Imam Sholat jenazah proklamator tersebut. Dan, justru dari penjara dia menciptakan karya monumental yang menjadi rujukan umat Islam di Indonesia yaitu Tafsir Al Azhar.

Dalam ranah politik, Hamka pernah terlibat aktif di Sarekat Islam setelah dijejali ilmu oleh Tjokroaminoto. Dia pernah menjadi anggota Konstituante Masyumi. Pada tahun 1947, Hamka pernah menjadi Ketua Barisan Pertahanan Nasional, Indonesia.

Hamka juga dikenal sebagai seorang pendidik. Upayanya memajukan pendidikan Islam di Indonesia dibuktikan dengan membangun Pesantren Al-Azhar yang modern-yang menerapkan sistem dan metode pembelajaran yang tak kalah dengan pendidikan umum. Bagi Hamka, pendidikan agama tidak boleh tertinggal dengan pendidikan modern karena pendidikan agama akan membentuk pribadi-pribadi yang bermoral. Hamka pun mendorong agar pendidikan agama masuk dalam kurikulum pendidikan di sekolah-sekolah umum. Dalam bidang akademik, Hamka pernah menjadi dosen di Universitas Islam, Jakarta dan Universitas Muhammadiyah, Padangpanjang dari tahun 1957 hingga tahun 1958. Setelah itu, menjadi rektor Perguruan Tinggi Islam, Jakarta dan Profesor Universitas Mustopo, Jakarta.

Perannya dalam memajukan pendidikan juga menuai penghargaan. Dia dianugerahi gelar Doctor Honoris Causa, Universitas al-Azhar, 1958, Doktor Honoris Causa, Universitas Kebangsaan Malaysia, 1974.

Dalam bidang dakwah, Hamka adalah Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) pertama kali. Dia dilantik pada tanggal 27 Juli 1975, kemudian mengundurkan diri pada 18 Mei 1981 karena berseberangan dengan pemerintah. Saat menyampaikan pidato pelantikannya, dia mengaku bukan sebaik-baiknya ulama. Baginya, popularitas yang dimiliknya bukan berarti dirinya baik sebagai ulama. “Berpuluh, bahkan beratus agaknya yang benar-benar ulama yang tidak mau menonjolkan diri, dan tidak hadir dalam majelis ini, dan bahkan bersyukur karena mereka tidak mendapat panggilan buat hadir. Orang-orang seperti itu jarang tampil dan menonjol, sebab ingin uzlah dari pergaulan yang penuh fitnah ini,” kata “Tapi, kepopuleran bukanlah menunjukan bahwa saya yang lebih patut,” katanya seperti dikutip dalam buku berjudul: Tokoh-tokoh Islam Berpengaruh Abad 20, karya Herry Mohammad, dkk, Gema Insani, 2006.

Dalam bidang kesusastraan, Hamka telah menghasilkan novel dan cerpen. Novel-novelnya yang terkenal dan menjadi buku teks sastra di Malaysia dan Singapura adalah Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, Di Bawah Lindungan Kaabah dan Merantau ke Deli.

Hamka memang juga piawai dalam merangkai kata dalam tulisan karena dirinya adalah wartawan, penulis, editor dan penerbit. Sejak tahun 1920-an, dia pernah menjadi wartawan Pelita Andalas, Seruan Islam, Bintang Islam dan Seruan Muhammadiyah. Kemudian di tahun tahun 1928, beliau menjadi editor majalah Kemajuan Masyarakat dan pada tahun 1932, menjadi editor dan menerbitkan majalah Al-Mahdi di Makasar. Hamka juga pernah menjadi editor majalah Pedoman Masyarakat, Panji Masyarakat dan Gema Islam.

M. Yamin Panca Setia/Dari Berbagai Sumber

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s