Memberi Contoh Budaya Mundur


SEBUAH surat dilayangkan Wakil Bupati Garut, Jawa Barat, Diky Chandra ke DPRD Garut. Surat yang ditandatanganinya pada 5 September 2011 lalu itu isinya menghentak. Diky mundur dari jabatannya sebagai orang nomor dua di daerah penghasil dodol itu. Mantan artis itu mundur dari jabatan wakil bupati karena mengaku tak lagi dapat bekerjasama dengan Bupati Garut Garut Aceng HM Fikri.

“Saya tidak mampu membangun sinergisitas dengan pimpinan daerah lainnya terkait dengan kebijakan penyelenggaraan pemerintahan daerah,” tulis Diky dalam suratnya.

Dia memilih mundur karena khawatir tidak kompaknya dengan Aceng dapat menganggu upaya tata kelola pemerintahan di Kabupaten Garut. Aceng dan Diky memang berjanji mewujudkan pemerintahan yang baik dan bersih serta berpihak kepada kepentingan rakyat. Dengan sadar mantan artis itu pun meminta maaf kepada warga Garut karena tak maksimal melaksanakan roda pemerintahan sesuai harapan selama 2,5 tahun.

Terlepas dari kekurangannya, mundurnya Diky dari jabatan politik yang banyak diincar politisi di negara ini, menjadi contoh baik tentang budaya mundur kepada para pejabat yang tidak mampu melaksanakan tugas dan tanggungjawabnya. Dia seakan ingin mencontoh Muhammad Hatta yang rela melepaskan jabatannya sebagai Wakil Presiden karena perbedaan ideologis dengan Presiden Soekarno.

Hatta menentang paham politik Soekarno tentang Demokrasi Terpimpin karena mengaburkan esensi demokrasi. Mundurnya Hatta mengajarkan sikap kenegarawanan kepada elit politik di negara ini jika kekuasaan bukan tujuan utama dari kegiatan politiknya.

Diky memang ingin memberi contoh jika jabatan bukan segala-galanya. “Saya harapkan, bisa menjadi contoh dalam hal menyelesaikan masalah,” kata Diky kepada wartawan di Garut, Jumat dua pekan lalu.

“Salah satu misi saya juga itu, saya sedih bukan hanya lihat Garut, saya sedih melihat Indonesia, saya sedih banyak pejabat yang sampai mau bayar uang biar naik jabatan,” imbunya.

Di Indonesia, belum pernah ada pejabat publik yang rela mundur karena tidak mampu melaksanakan tugas dan tanggungjawabnya. Bahkan, banyak pejabat publik diduga kuat melakukan pelanggaran hukum menolak mundur. Di luar negeri, seperti di Jepang, pejabat publik sering kali mundur ketika didera masalah. Mundurnya Menteri Pertanian Jepang Seiichi Ota misalnya, 19 September 2008 lalu karena menyebarnya penjualan beras yang tercemar pestisida dan jamur. Ota mengajukan pengunduran dirinya kepada Perdana Manteri Yasuo Fukuda, yang juga mengundurkan diri dua pekan lalu karena krisis politik di parlemen. Ota menduduki jabatan ini sejak Agustus 2008. Ota menyampaikan keputusan untuk mundur, dengan mempertimbangkan seriusnya masalah beras tercemar bagi masyarakat. Mundur dari jabatan karena tidak mampu maksimal melaksanakan tugas dan tanggungjawab sebagai pejabat publik adalah cerminan dari pertanggunjawaban etis seorang pejabat publik.

Dia juga ingin menjadi contoh untuk tidak ada lagi saling menjatuhkan atau menjelekan karena selama ini banyak orang yang ambisi terhadap jabatan. Ia mencontohkan ketika orang bertindak salah tapi tidak mengakui salah, kemudian orang yang tidak mampu dalam bekerja tetap memaksakan diri untuk terus bekerja. Selain itu, ia mengaku sedih seperti pejabat yang berani membayar uang dengan jumlah berapa pun serta melakukan cara-cara yang salah hanya ingin naik jabatan.

Padahal menurut dia mengharapkan naik jabatan tidak perlu diperjuangkan, melainkan pada dasar ketulusan, keikhlasan sebagai pemegang amanah. Ia berharap masyarakat di Kabupaten Garut tidak termasuk yang ambisi terhadap jabatan dengan cara jalan yang salah, juga dapat mengambil keputusan dengan mengaku apabila bersalah atau tidak mampu menjalankan tugas.

“Mudah-mudahan jadi contoh juga, sekarang ini tidak sedikit orang yang salah, tahu tidak mengakui salah, orang yang sudah tidak mampu banyak memaksakan kehendak,” katanya.

Selain itu, dia juga mengakui jika mundur dari jabatan lantaran Aceng masuk ke Partai Golkar. Awalnya, Diky dan Aceng maju dalam Pemilihan Kepala Daerah Kabupaten Garut lewat jalur Independen. Kepopuleran Diky mampu mendongkrak suara pada Pilkada Desember 2009 lalu. Dari hasil rekapitulasi penghitungan suara, pasangan calon perseorangan tersebut mengungguli pasangan Rudy Gunawan dan Oim Abdurochim yang diusung gabungan parpol, dengan selisih sebanyak 112.026 suara. Diky bersama Aceng meraih 535.289 suara (55,8 persen). Sementara calon dari gabungan parpol menjaring 423.263 suara (44,2 persen) dengan partisipasi pemilih 985.898 atau 62,3 persen. Aceng dan Diky dilantik pada 23 Januari 2009 lalu.

Namun, sejak Aceng bergabung ke Partai Golkar beberapa bulan lalu, Diky kecewa. “Munafik kalau saya bilang tidak kecewa,” ujarnya. Namun, dia menambahkan, masalah tersebut tidak menjadi faktor utama dirinya mundur. Diky mundur lebih karena tidak mampu mengimbangi pola kepemimpinan. Diky tak ingin ada dua perintah dalam “satu perahu” untuk menjalankan roda pemerintahan di Garut. “Jangan sampai ada dua perintah dalam ‘satu perahu’,” katanya. Padahal, dirinya menyimpan banyak pemikiran untuk memajukan Garut.

Namun, karena tidak mampu mengimbangi Aceng dalam menentukan kebijakan, harapannya untuk mengaktualisasikan pemikirannya buat kemajuan Garut, kandas. “Apabila itu selaras satu suara, tapi kalau tidak jangan dipaksakan, bagaimana supaya daerah ini berkembang, jangan sampai saya menjadi penghalang atau bagaimana,” katanya.

Selama menjadi wakil bupati, Diky juga mengaku, penghasilannya jauh lebih kecil dibandingkan saat dirinya menekuni dunia artis. Lantas, apa yang akan dilakukannya setelah mundur dari Wakil Bupati Garut? Diky menjawab, dirinya akan kembali ke dunia hiburan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s