Mentor Politik NU

DIA mampu mempertahankan jabatannya sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Nahdatul Ulama (PBNU) selama 28 tahun (1956-1984). Sejak usia 34 tahun, dia memimpin organisasi kemasyarakatan Islam terbesar di Indonesia itu. Kepiawaiannya berpolitik juga mengantarkannya menduduki jabatan-jabatan strategis di era Pemerintahan Orde Lama dan Orde Baru.

Di masa kepemimpinannya, NU tumbuh menjadi organisasi kemasyaratan yang sangat disegani dalam ranah politik. Dia mengkikis dominasi “Dinasti Jombang‘ di NU, menghapus sekat politik Jawa dan non Jawa di NU.

Dia adalah Kiai DR Idham Chalid. Tokoh kharismatik dan intelek NU ini mampu menancapkan pengaruhnya di NU, tanpa membawa embel-embel keturunan. Dia bukan anak ulama terpandang sehingga tidak menempel sebutan “gus‘ di namanya. Idhan Chalid hanya anak seorang penghulu di pelosok Amuntai, Hulu Sungai Tengah, Banjarmasin, Kalimantan Selatan yang bernama Haji Muhammad Chalid. Kecerdasan dan kematangan politik yang mengantarkan peraih gelar Doktor Honoris Causa dari Al-Azhar University, Kairo itu menjadi pemimpin NU yang turut mengukir sejarah perjalanan bangsa ini.

Meski sering kali dicap sebagai oportunis, Idham Chalid tetap bisa mengumpulkan satu barisan yang terdiri dari kelompok yang antipolitisasi NU dengan kelompok yang bangga dengan kekuatan politik massa NU yang begitu besar jumlahnya. Sikap politiknya yang fleksibel dan akomodatif, serta tetap memegang tradisi dan prinsip Islam, menjadikan dirinya selalu diterima di khalayak NU maupun dari luar NU.

Kematangannya dalam berpolitik dibuktikan saat dirinya berhasil menarik simpati Presiden Soekarno yang kala itu kurang disukai kalangan Islam. Idham Chalid mengajak umat Islam mengikis kebencian terhadap paham-paham Soekarnoisme yang diidentikan dengan komunisme. “Komunisme seperti halnya anjing adalah najis. Akan tetapi, Soekarnoisme tidaklah najis, karena ia bukan komunisme. Paling banter Soekarnoisme itu adalah seperti anjing laut. Dan sebagian Anda ketahui, anjing laut menurut Islam tidaklah najis,‘ katanya (Saelan, 2001).

Sikap politiknya yang tidak konfrontatif terhadap Soekarno itu setidaknya mampu menyelamatkan NU dari situasi krisis di era Orde Lama. Pada tahun 1952, NU pernah hengkang dari Partai Masyumi dan mendirikan partai NU. Selanjutnya, tahun 1955, NU berhadapan dengan rezim Orde Lama yang menerapkan demokrasi liberal selama 4 tahun dan demokrasi terpimpin tahun 1959. Soekarno pun mempercayakannya sebagai Wakil Perdana Menteri di era Orde Lama (Kabinet Ali Sastroamidjojo II). Kala itu, usia Idham Chalid baru beranjak 34 tahun. Sejak itu pula dia berada dalam lingkaran kekuasaan. Di era Orde Baru, Presiden Soeharto juga memberinya kepercayaan menjabat Menteri Kesejahteraan Rakyat (1967-1970), Menteri Sosial Ad Interim (1970-1971) dan menjadi Ketua MPR/DPR RI (1971-1977) dan Ketua Dewan Pertimbangan Agung (DPA) tahun 1977 -1983.

Lakon kompromistis, sekaligus pragmatis itu dilakukannya bukan untuk mempertahankan jabatannya, namun ingin mengubah kultur politik NU yang kaku menjadi lebih adaptif terhadap penguasa, sekaligus mengamankan eksistensi NU yang kala itu terancam oleh kekuatan politik Orde Lama, terutama pada masa demokrasi terpimpin. Dengan cara akomodatif, NU mampu menyusup ke dalam pemerintahan, dan menghalangi agitasi Partai Komunis Indonesia (PKI) yang alergi terhadap politik berbasis agama. Dia menghindari konflik, namun memilki naluri politik yang tajam dalam menentukan sikap politiknya.

Dia lebih memilih bersahabat sebagai jalan tengah ketimbang memusuhi rezim yang dapat berbahaya kepentingan umat. Keterlibatannya dalam kekuasaan sekaligus ingin memengaruhi kebijakan penguasa demi kepentingan umat Islam. Untuk menjaga posisi tawar (bargaining position) umat Islam di hadapan penguasa, dia pun memimpin Partai Persatuan Pembangunan (PPP) sejak tahun 1973.

Tak kala dirinya sibuk mengurusi partai politik, tak sedikit tokoh NU yang menilai dirinya secara negatif. Dia dianggap lebih sibuk berpolitik daripada menempatkan NU sebagai organisasi sosial dan keagamaan. Makanya, terpilihnya Kiai Ali Ma‘shum sebagai Rois Aam NU dianggap sebagai kemenangan kubu apolitik di NU yang memukul posisi Idham Chalid. Bahkan, ada kabar yang menyebut jika menjelang Pemilihan Umum Tahun 1982, tiga orang kiai sepuh NU yaitu Kiai As‘ad Syamsul Arifin dari Situbondo, Kiai Machrus Ali dari Kediri dan Rois Aam Kiai Ali Ma‘shum, bersama politisi senior NU, Masjkur, berkunjung ke rumah Idham dan memintanya mundur dari jabatan Ketua Umum PBNU. Banyak pula yang menduga jika Idham Chalid “dikudeta‘ oleh tokoh-tokoh muda NU yang haus akan pembaharuan yang dilakoni Abdurrahman Wahid, Fahmi Saifuddin dan lainnya. Idham Chalid mengalami pembusukan dari kalangan internal NU, dengan tudingan sebagai politikus yang tidak memiliki pendirian, lebih menguntungkan penguasa.

Gerakan Pemuda Ansor bahkan menjulukinya “politikus gabus‘. Ada juga kabar yang menyebut pendongkelan Idham Chalid karena Syuriyah, yang secara formal merupakan badan tertinggi NU, tidak dilibatkan dalam menentukan keputusan-keputusan penting.

Namun, Ahmad Muhajir (2007) mengambarkan Idham Chalid laksana politisi yang memegang filosofi air yang selalu beradaptasi dengan ruang yang ditempatinya. Apabila air dimasukkan pada gelas maka, ia akan berbentuk gelas, bila dimasukkan ke dalam ember akan berbentuk ember, apabila ia dibelah dengan benda tajam, ia akan terputus sesaat dan cepat kembali ke bentuk aslinya. Dan, air selalu mengalir ke tempat yang lebih rendah. Apabila disumbat dan dibendung ia bisa bertahan, bergerak elastis mencari resapan. Berpolitik dengan mengendepakan filosofi air itu yang membuat karir politiknya menanjak. Ketika NU masih bergabung dengan Masyumi (1950), ia menjadi ketua umum Partai Bulan Bintang di Kalimantan Selatan dan menjadikannya sebagai anggota DPR di era Republik Indonesia Serikat (RIS) tahun 1949-1950. Dua tahun kemudian, Idham terpilih menjadi ketua Lembaga Pendidikan Ma’arif NU (1952-1956) hingga kemudian menapaki puncak jabatan sebagai orang nomor satu NU pada tahun 1956. Jasa terhadap negara dibalas dengan penghormatan dari pemerintah yang menganugerahi dirinya sebagai gelar pahlawan nasional di Hari Pahlawan tahun 2011 lalu.

M. Yamin Panca Setia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s