Nestapa di Tanah Arab

Nestapa di Tanah Arab (klik versi PDF)

RIKA, perempuan berusia 30 tahun asal Purwakarta enggan mengungkap masa lalunya yang penuh kelabu. Dia tak banyak berkomentar dan sesekali menutupi wajahnya dengan selendang hitam. Tenaga Kerja Wanita (TKW) itu seakan ingin segera mengubur masa lalunya di Arab Saudi setelah menginjakan kakinya di Tanah Air.

Rika tiba di Bandara Soekarno-Hatta, Rabu pekan lalu. Ada kerinduan yang begitu dalam menyirat di wajahnya untuk mengumpul bersama sanak keluarga di kampung halaman. Sebelumnya, Rika mendekam di Penjara Al-Malaz, Riyadh, Arab Saudi. Saat ditemui di bandara, Rika terlihat memeluk erat Ritaz, buah hatinya yang berusia tujuh bulan.

Namun, tak terlihat suami yang mendampingi. Dengan rasa malu, Rika pun mengungkap jika Ritaz adalah anak yang dilahirkan dari rahimnya setelah berhubungan intim dengan lelaki warga negara Riyath, Arab Saudi, yang kemudian menikahinya secara siri.

Rika tak bersedia menyebut siapa identitas lelaki itu. Namun, dia mengaku lelaki yang menghamilinya itu bekerja sebagai konstruksi bangunan di Riyath. Rika pun jatuh ke pelukan lelaki itu saat tak lagi bekerja dengan majikannya dan hidup luntang-lantung di jalan karena masa berlaku pasport-nya telah habis (overstay).

“Ayah anak saya orang Saudi. Dia akan menyusul saya ke Purwakarta, itu yang dia katakan kepada saya,” ucap Rika. Dalam kondisi tunawisma itu, Rika mengaku sering kali mendapatkan perilaku tak senonoh, menjadi korban pencabulan. Namun, apa lacur? Lelaki hidung belang itu tak jelas batang hidungnya.

Saat usia bayi baru satu bulan, Rika kemudian dijebloskan ke penjara hidup tanpa suami. Dari balik penjara Al Malaz itulah, Rika mengurus seorang diri Ritaz.

Rika adalah salah satu dari 55 TKW eks tahanan yang mendapatkan pengampunan hukuman dari otoritas pemerintah Arab Saudi. Rika bahagia setelah tiba di Tanah Air. Dia ingin segera pulang bertemu sanak saudara di Purwakarta setelah 2,5 tahun bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Arab Saudi. Rika menginjakan kakinya di Arab Saudi, sejak 2009 lalu.

Bagi Rika, kepulangan ke Indonesia setelah enam bulan di penjara menjadi pelajaran berharga. Dia berniat tetap berada di kampung halaman merawat anak semata wayang hingga dewasa. “Tidak, saya tidak akan kembali lagi ke Arab. Ini yang terakhir,” sesalnya.

Nasib miris yang dialami Rika rupanya dialami TKW berusia 26 tahun asal Sunda yang menolak menyebutkan namanya. Perempuan itu duduk berdampingan di Rika saat ditemui di bandara. Dia mengaku, sudah mendekam sekitar 11 bulan di penjara bersama buah hatinya Muhammad Riansyah.

Dia tersandung kasus tidak memiliki dokumen keimigrasian dan menjalani masa hukuman 1,5 tahun di penjara Al-Malaz. Saat kehamilan empat bulan perempuan itu sudah mendekam di terali besi.

“Hampir enam bulan sudah saya bersama bayi saya di dalam penjara di Al-Malaz. Kami makan seadanya di penjara,” kata perempuan muda itu.

Dia tinggal di Riyadh, Arah Saudi sejak 2006. Bekerja sebagai pembantu rumah tangga, dia pun menikah siri dengan seorang pria Arab Saudi. Di sana dia diberikan jatah uang makan sebagaimana tanggung jawab seorang pria kepada istrinya.

Tanpa kepemilikan paspor resmi, perempuan itu digiring petugas kepolisian Arab ke penjara Al-Manaz. Walau begitu, sang suami seminggu sekali menyempatkan diri menengok di balik penjara itu. “Saya merawat sendiri bayi saya di dalam penjara. Suami saya orang Saudi sering ke penjara. Dia akan pulang ke kampung saya,” katanya.

Penderitaan tak cuma itu. Meski terbebas dari belenggu penjara di Arab Saudi, sejumlah pekerja Indonesia juga pulang ke tanah air tanpa membawa uang. Ika bin Bachrib, 30 tahun tenaga kerja Indonesia asal Sukabumi, Jawa Barat.

Dia hanya bisa terdiam dan menundukan kepala saat tiba di bandara. Dia tak bisa menyembunyikan kekecewaan setelah bekerja di Arab Saudi sejak Agustus 2008. Perempuan kerudung berwarnah hitam itu tak hentinya meneteskan air matanya. “Majikan saya kejam. Mereka melakukan itu (tidak membayar) kepada saya,” kata Ika. Dia mengaku tak sepeser pun membawa uang.

Sejak suaminya meninggal 2008, dirinya harus menghidupi kedua anaknya, Sahrul (5 tahun) dan Nurjanah (9 tahun). Bahkan, Ika harus berhutang kepada tetangganya untuk mengubur jasad suaminya. Karena tak mampu melunasi hutang itu, Ika berangkat ke Arab Saudi, mencari pekerjaan. Sembilan bulan pertama bekerja di Arab Saudi, Ika menerima bayaran gaji selama dua bulan. Setiap bulan gajinya sebesar 800 real atau setara Rp2 juta per bulan.

Ia pun kabur dari rumah majikan dan membawa serta identitas dirinya dan paspor. Tidak punya pekerjaan tetap Ika harus kesana kemarin, dari satu majikan ke majikan lain.

Naas, ketika ia ditangkap petugas kepolisian Arab Saudi dan harus menerima hukuman penjara 10 bulan. “Mau bayar pakai apa saya tidak punya uang,”kata dia.

Selain itu, tak sedikit TKI yang terancam hukuman mati. Kementerian Hukum dan HAM masih menunggu pembebasan 21 Warga Negara Indonesia (WNI) terpidana mati dari penjara Arab Saudi. Baru dua warga yang diputuskan bebas murni oleh otoritas pemerintah Arab Saudi dari ancaman hukuman mati.

“Sampai saat ini, kami masih menunggu pembebasan 21 WNI. Baru dua orang dari 23 WNI hukuman mati telah mendapatkan Ta’zir atau bebas murni,” kata Menteri

Hukum dan HAM, Patrialis Akbar, beberappa waktu lalu.

Di Arab Saudi tercatat, ada 316 WNI yang menempati penjara di 12 provinsi di Arab Saudi. Patrialis menyatakan mereka juga dibebaskan setelah mengikuti sidang khusus. Tak hanya itu, pemerintah Arab Saudi juga menyiapkan akomodasi tiket bagi seluruh WNI yang dibebaskan.

Pemerintah telah memulangkan ribuan WNI/TKI yang overstay dalam tujuh tahap sejak 14 Februari hingga 4 Mei 2011 lalu. Pada tahap I hingga VI telah dipulangkan 2.073 orang dengan pesawat Garuda, sedangkan pada tahap VII telah dipulangkan 2.353 orang termasuk satu jenazah dengan kapal Labobar milik PT Pelni.

Kepala Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) Moh Jumhur Hidayat menyatakan, Arab Saudi melarang WNI/TKI overstay yang telah dipulangkan untuk berangkat kembali ke negeri itu selama lima tahun. Pemerintah Kerajaan Arab Saudi telah memberlakukan kebijakan melalui sistem pemeriksaan fingerprint (sidik jari).

Larangan itu, katanya, berlaku bagi mereka yang ingin bekerja kembali ke Arab Saudi atau untuk keperluan lain. Jumhur mengharap WNI/TKI yang telah dipulangkan itu tidak mengunjungi Arab Saudi selama batas waktu lima tahun ke depan.
“Mereka harus tahu adanya larangan itu. Selain berisiko hukum juga berakibat nasib WNI/TKI menjadi lebih parah,” ucapnya.
Jumhur juga menegaskan pihaknya akan memperketat penempatan TKI ke Arab Saudi melalui pola perekrutan dan proses dokumen melalui sistem dalam jaringan (online) yang melibatkan pemerintah daerah atau Dinas Tenaga Kerja.

M. Yamin Panca Setia/Sabaruddin

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s