Kisah Para Pembesar di Al-Zaytun

Kisah para Pembesar di Al-Zaytun (klik versi PDF)

MUSIM liburan sekolah tiba pada tahun 2000-an. Ismail Saleh, mantan Jaksa Agung di era Orde Baru, bingung memilih pesantren kilat untuk cucunya mengisi waktu liburan. Dia pun bertanya kepada pembantunya tentang pesantren kilat yang bagus untuk cucunya. Si pembantu menyarankan Ismail mengirim cucunya ke Pesantren Al-Zaytun, Indramayu, Jawa Barat. Untuk menyakinkannya, si pembantu, yang anggota Negara Islam Indonesia (NII) itu menyodorkan majalah yang diterbitkan Al-Zaytun.

“Ismail takjub setelah membaca majalah itu,” kata Solahudin, peneliti sejarah Negara Islam Indonesia, yang bercerita awal mulanya hubungan Al-Zaytun dan keluarga Cendana. Ismail lalu mengirim cucunya untuk belajar Islam ke Al-Zaytun. Sebelum datang ke sana, si pembantu menginformasikan kepada para petinggi NII yang mengelola Al-Zaytun. Kedatangan Ismail rupanya diolah menjadi peluang menarik. Saat datang tiba di Al-Zaytun, Ismail disambut secara mengesankan. “Pokoknya, dibuat supaya Ismail Saleh punya kesan baik,” ujar Solahudin.

Ismail pun terkesan dengan pesantren yang berdiri gagah di Mekarjaya, Gantar itu. Pesantren itu membalikan citra pesantren yang selama ini digambarkan sederhana, manajemennya amburadul dan fasilitas serba-minim. Ismail lalu “mempromosikan” kepada keluarga Cendana tentang kehebatan Al-Zaytun. Pada kesempatan pertemuan itu, kata Solahudin, pemimpin Al-Zaytun Panji Gumilang mengatakan kepada Ismail bahwa ia penggagum Soeharto.

Gayung bersambut. Awalnya, keluarga Cendana mengirim beberapa sapi dari peternakan sapi Tapos, Bogor, Jawa Barat. Sebab, Al-Zaytun juga mempunyai peternakan sapi yang digunakan untuk membiayai siswanya. Pengiriman sapi ini semacam perkenalan awal antara keluarga Cendana dan Al-Zaytun. Dari Al-Zaytun, keluarga Cendana dikirimi yogurt made in Al-Zaytun. Hubungan dengan Cendana makin erat saat Al-Zaytun mau membangun gedung belajar yang diberi nama Gedung Jenderal Besar H. Muhammad Soeharto. Al-Zaytun akhirnya memperoleh sumbangan dari Cendana Rp5 miliar.

Imam membenarkan cerita ini. “Ya benar begitu,” ujarnya di Jakarta, Kamis pekan lalu. Menurut Imam, gedung Jenderal Besar H Muhammad Soeharto mulai dibangun 2003 dan selesai dua tahun kemudian.

Ismail maupun keluarga Cendana rupanya tidak tahu jika Al-Zaytun adalah tempat berlindungnya para petinggi Negara Islam Indonesia Komandemen Wilayah IX (NII KW IX) di bawah kepemimpinan Abu Toto alias Panji Gumilang.

Kisah serupa juga terjadi dalam pembangunan gedung Ir Ahmad Soekarno. Gedung ini dibangun saat Megawati menjadi Presiden Indonesia. Menurut Solahudin, Megawati tidak berkenan Al-Zaytun membangun gedung H Muhammad Soekarno. Sebab, Soeharto dianggap berperan besar menyingkirkan Soekarno. Megawatu lalu mengutus AM Hendropriyono, Kepala Badan Intelijen Negara, untuk berkunjung ke Al-Zaytun.”Itu semua terjadi karena tidak sengaja. Bukan by design,” ujar Solahudin.

Dari penelitian yang dilakukan Majelis Ulama Indonesia (MUI) pada tahun 2002, ditemukan adanya keterkaitan intelijen dengan Al-Zaytun. “Itu (Al Zaytun) didukung oleh BIN waktu itu,” kata Ketua MUI, Jum‘at pekan lalu.

Dia juga membenarkan jika penelitian MUI menemukan sejumlah pembesar negeri ini di belakang Al Zaytun. Selain keluarga cendana, dia juga menyebut Menteri Agama Abdul Malik Fadjar mengalirkan bantuan ke Al Zaytun.

Keterkaitan sejumlah pembesar itu kemungkinan menyebabkan aparat keamanan tidak mau melakukan penyelidikan mengenai hubungan antara gerakan NII KW9 dengan Al Zaytun. “Aparat harusnya menindaklanjuti, menyelidiki,” kata Amidhan. Dia juga mengilustrasikan jika bantuan itu mengalir sebagai bentuk politik etis agar dapat meredam perang fisik seperti jaman Kartosuwiryo. “Itu hubungan historis,” ujarnya.

Imam Supriyanto, yang telah keluar dari NII KW IX pada 2007, mengakui bahwa para pengurus Al-Zaytun adalah para petinggi NII KW IX. “Ada 15 pengurus Al-Zaytun (anggota) NII. Mereka menteri-menteri di NII. Pendanaan Al-Zaytun juga dari anggota NII,” ujar Imam, yang pernah menjabat Menteri Peningkatan Produksi NII.

Rupanya, belakangan banyak petinggi negeri ini yang juga datang ke Al-Zaytun seperti Jenderal Hartono, Jenderal Syarwan Hamid, Akbar Tandjung, Sudharmono, Indra Rukmana, Jusuf Kalla dan Wiranto. Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum, Sekretaris Jenderal Partai Demokrat Edhie Baskoro dan sejumlah petinggi Demokrat juga berkunjung ke Al Zaitun, 11 Maret 2011. Mereka datang tidak dengan tangan hampa. Bagi partai politik, Al-Zaytun adalah tambang suara yang lumayan.

Imam lalu membuka rahasia jika pada Pemilu 2004, Al-Zaytun mendukung Golkar dan pasangan Wiranto dan Solahudin. Untuk mendongkrak suara pasangan ini, Al-Zaytun menggunakan cara-cara kotor. Modusnya, formulir yang berlebih digunakan oleh anggota NII dari luar Al-Zaytun untuk mencoblos di Al-Zaytun. Selain itu, satu pemilih bisa mencoblos lebih dari sekali. “Bahkan satu orang bisa mencoblos sampai empat kali. Orang meninggal juga mencoblos,” ujar Imam. Dia tahu betul karena menjadi koordinator “proyek curang” itu.

Dia sempat diajukan ke Pengadilan Negeri Indramayu dalam perkara tersebut. Ia tidak ditahan dan diakhir sidang pengadilan membebaskanya dari segala dakwaan. “Vonis bebas itu mungkin karena Indramayu kan basis Golkar,” ujar Imam, tertawa.

Pada pemilihan legislatif 2009, Khairun Nisa, putri Panji Gumilang dicalonkan Partai Golongan Karya untuk kursi Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Indramayu, Jawa Barat. Kini Khairun Nisa duduk dikursi DPRD Indramayu mewakili Golkar. “Mayoritas suara untuk dia berasal dari Al-Zaytun,” ujar Imam.

Priyo Budi Santoso, Ketua Dewan Pimpinan Pusat Partai Golkar, mengatakan tidak tahu kalau ada kaitan antara NII dan Al-Zaytun. Selama ini, katanya, Golkar berhubungan dengan Pesantren Al-Zaytun, bukan dengan NII. Ia tidak tahu pula kalau anaknya Panji Gumilang masuk DPRD Indramayu lewat Golkar. “Kalau kita berhubungan dengan Al-Zaytun ya, kalau dengan NII tidak,” katanya. Sebab, katanya, NII mempunyai ideologi bertentangan dengan Golkar. Edhie Baskoro juga menolak jika kunjungannya ke Al Zaytun dikaitkan NII.

Kunjungannya mendampingi Anas Urbaningrum ke sejumlah pesantren di Jawa Barat dalam kerangka membangun bangsa. “Tidak benar jika silaturahmi DPP PD dikaitkan dengan NII, apalagi mendukung NII,” jelas Ibas, sapaan Edhi Baskoro dalam pernyataan pers-nya, di Jakarta, Kamis pekan lalu. Dia juga menegaskan, pihak-pihak yang terbukti melanggar dan menodai NKRI harus ditindak tegas secara hukum.

Bagaimana tudingan jika Al Zaytun sebagai pusat penyebaran doktrin NII?

“Nggak benar yang beredar di masyarakat dan pemberitaan. Cuma orang sirik saja yang mengatakan itu karena mereka mungkin iri melihat kesuksesan Al Zaytun. Nggak ada pelajaran yang menyimpang,” tegas Arini Ulfah, santri Al Zaytun yang mulai sekolah ponpes tersebut sejak kelas 6 SD.

Mantan karyawan Pondok Pesantren Al Zaytun, Eko HS juga mengatakan, Al Zaytun sah dan legal secara kelembagaan. “Enggak ada yang salah. Alumni Al Zaytun tidak semuanya yang diarahkan ke NII,” katanya.

Penelitian MUI juga tidak menemukan adanya materi pendidikan yang menyimpang di pesantren tersebut. “Tidak ada masalah. Kurikulum yang berjalan adalah gabungan dari Kementerian Agama dan Kementerian Pendidikan,” ujar Amidhan. Dia justru menganggap Al Zaytun sebagai kampus besar yang berdiri di lahan seluas 1.200 hektare itu. Pesantren itu dilengkap dengan fasilitas wah: sarana belajar mengajar yang lengkap, lapangan olahraga, peternakan sapi, produsen yogurt dan sejumlah industri yang mendukung kehidupan Al-Zaytun.

Namun. belakangan Panji Gumilang diperkarakan Imam Suprianto yang menjadi salah satu pendiri, pembina, dan pengelola YPI. Dia melaporkan tindak pidana Panji Gumilang ke Markas Besar Polri karena memalsukan dokumen pendirian Yayasan Pesantren Indonesia. “Ia mencoret nama saya dari akte yayasan,” ujarnya.

Ahmad Nurhasim/M. Yamin Panca Setia/Gema Yudha

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s