Dalih Fa‘i Restui Perampokan

Dalih Fa’i Restui Perampokan (klik versi PDF)

MARWAN alias Nanong alias Wak Geng, terdakwa terorisme yang juga terlibat dalam aksi perampokan di Bank CIMB Niaga Medan tahun lalu menolak dakwaan jaksa yang menyatakan uang hasil rampokan untuk mendanai aksi teroris.
Lelaki berusia 39 tahun yang sehari-hari bekerja sebagai buruh bangunan itu berdalih, dirinya merampok karena motif untuk memenuhi kebutuhan pribadi.
“Apa yang kami lakukan murni perampokan. Tidak ada Fa’i untuk pencarian dana demi tujuan melawan orang kafir,” katanya saat ditemui usai persidangan di Pengadilan Negeri Medan, Kamis pekan lalu.
Marwan juga menolak dirinya dikait-kaitkan dengan Abu Tholud. “Saya baru mengenal Abu Tholud saat diperiksa,” ujarnya. Abu Tholut diduga kuat sebagai pemimpin perampokan yang terjadi di CIMB Medan. Perampokan dilakukan sejak April 2010 hingga Agustus 2010 itu diduga untuk menggalang dana guna memodali aksi teroris. Dalam kurun waktu tersebut, Abu Tholud bersama pasukannya meraup uang hampir Rp1 miliar. Marwan juga menolak dikaitkan dengan Ustad Abubakar Ba’asyir. “Saya tidak bertemu secara pribadi dengan Abubakar Ba’asyir,” tegasnya.
Marwan adalah salah satu dari 13 terdakwa tindak pidana teroris yang kini menjalani persidangan di Pengadilan Negeri (PN) Medan. Ada tujuh berkas para terdakwa yang ditangani Tim Detasemen Khusus Antiteror 88 Mabes Polri antara lain Nibras, Pamriyatno, Jaja Miharja, Anton Sujarwo, Khairul Ghazali, Agus Sunyoto dan Beben Khairul Banin.
Sementara enam berkas terdakwa lainnya yang dipegang oleh Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara antara lain Suriadi, Abdul Gani Siregar, Pautan, Marwan dan Muhammad Chair. Mereka dijerat Pasal pasal 15 Jo pasal 17 Jo pasal 7 Jo pasal 9 Jo pasal 13 huruf B dan C, perpu RI No I tahun 2002 sebagaimana yang telah ditetapkan menjadi UU RI No 15 tahun 2003 tentang pemberantasan Tindak Pidana Terorisme, dengan ancaman maksimal hukuman mati.
Mereka dianggap terlibat dalam sejumlah aksi perampokan bank, salah satunya bank CIMB Niaga Jalan AR Hakim Medan, 18 Agustus 2010 lalu, yang menyebabkan tewasnya anggota Brimob Polda Sumut, Briptu Anumerta Manuel Simajuntak. Mereka juga dianggap terlibat dalam kelompok teroris jaringan Abu Tholut. Sementara dan terkait dengan Ba’asyir.
Dalam dakwaan Jaksa Penuntut Umum (JPU) juga disebutkan, para terdakwa yang ditangkap oleh Tim Densus 88 Anti Teror Mabes Polri itu merupakan sekelompok orang yang melakukan aksi perampokan Bank CIMB Niaga Jalan AR Hakim Medan tanggal 18 Agustus 2010 lalu. Mereka juga menembak mati anggota Brimob Kepolisian Daerah Polda Sumatera Utara, Briptu Manuel Simajuntak.
Menurut Kepala Kejari Medan Raja Nafrizal, uang hasil perampokan tersebut akan digunakan untuk membeli senjata, serta untuk kebutuhan aksi teroris dari jaringan Abu Tholut. Uang hasil rampokan itu juga digunakan untuk mendanai sejumlah aksi teroris di Sumatera Utara dan Aceh. “Perampokan itu diistilahkan dengan nama Fa’i, yang artinya usaha pengumpulan dana demi kepentingan jihad. Orang yang menghalanginya akan disingkirkan atau dibunuh. 20 persen dana itu disisihkan untuk keperluan jihad, ” ujarnya.
Dari penelusuran Polri diketahui Toni Togar alias Indrawarman, pendiri Kumpulan Mujahidin Indonesia (MI) turut mendalangi aksi perampokan tersebut.
Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri, Brigjen Pol I Ketut Untung Yoga Ana pernah mengungkap Toni ikut menyusun startegi dalam perampokan Bank CIMB Medan, melakukan penyerang terhadap Polsek Hamparan Perak, Deli Serdang dan terlibat baku tembak dengan polisi di Tebing Tinggi, Sumatera Utara.
Ketut juga menyebut, rencana strategi dari kelompok Toni adalah adalah mengumpulkan dana guna mendukung kegiatan jihad yang salah satu sumbernya dari fa’i.
Selama Toni mendekam di penjara, kelompok tersebut dikendalikan Fadli Sadama sebagai pelaksana harian sejak tahun 2008. Fadli adalah pelaku perampokan Bank Lippo Medan tahun 2003 dan perampokan Bank CIMB Medan yang kini masih menjadi buronan kepolisian. Kelompok ini membawahi kumpulan mujahidin di beberapa daerah seperti Aceh, Jawa Barat, Jawa Tengah, Lampung, Medan, Riau, dan Kalimantan.
Bahkan, jaringan tersebut terkait peledakan Hotel JW Marriot dan Ritz Carlton 17 Juli 2009, pelatihan militer di Jalin Jantho Aceh, kepemilikan amunisi dan magazine oleh Maulana di Cikampek dan Cawang 12 Mei 2010, kepemilikan bahan peledak oleh Hamzah di Cikuda 7 Agustus 2010. “Ini merupakan rangkaian kegiatan yang saling terkait satu sama lain karena dilakukan oleh satu jaringan pelaku,” kata Ketut.
Bukan hanya di dalam negeri. Kelompok ini juga memiliki hubungan dengan dua orang di Indonesia di Malaysia dan Thailand Selatan. Kedua orang ini bertugas sebagai pencari atau pengumpul amunisi dan senjata api. Salah satunya adalah Taufik Marzuki yang menjadi buron pemerintah Indonesia dan ditangkap oleh Polisi Diraja Malaysia akhir 29 September lalu.
Namun, Mahmud Irsad Lubis, Tim Pembela Muslim yang ditunjuk sebagai kuasa hukum para terdakwa mengatakan ada sekenario yang dibuat penyidik untuk mengarahkan para terdakwa ini agar bisa menjerat Abubakar Ba’asyir.
Dia menuding penyidik dan JPU mencoba mengarahkan Ba’asyir sebagai koordinator perampokan CIMB Niaga atas nama Fa’i. Alasannya, kata dia, karena Ba’asyir pernah berceramah di Hamparan Perak, Medan. “Lalu disangkutpautkan saja, ” katanya.
Irsyad menambahkan, di dalam Berkas Berita Acara Pemberitaan (BAP), tidak ada disebutkan 13 terdakwa terlibat dalam jaringan teroris yang mengumpulkan uang untuk tujuan aksi teroris. “Di BAP para terdakwa mengakui uang hasil perampokan itu hanya untuk keperluan menjelang lebaran. Yang membagikan adalah Wak Geng. Jadi dari mana bisa polisi menyatakan mereka ada jaringan teroris? Tidak ada teroris di Sumut, ” tegasnya.
Namun, di persidangan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, 14 Februari 2011 lalu, JPU yang diketuai Muhammad Taufik menyebut Ba’asyir melakukan provokasi saat ceramah khusus di rumah Alex alias Asep, Ketua Militer JAT Wilayah Sumatera Utara, di Stabat, Langkat, Sumatera Utara.
“Dalam berjihad pertama kali kita harus mempunyai wilayah walaupun kecil. Kita harus berkuasa penuh atas wilayah tersebut,” ujar Ba’asyir seperti dikutip jaksa.
Menurut jaksa, Basyir membenarkan Fa’i, perampokan mencari dana perjuangan. Fa’i ditujukan kepada semua orang kafir, yaitu orang-orang di luar Islam dan penguasa atau pemerintah yang beragama Islam, tapi tidak menjalankan syariat Islam.
Dalam dakwaan JPU juga disebut adanya kaitan aksi perampokan dengan pelatihan militer di Nanggroe Aceh Darussalam. Senjata api para peserta pelatihan militer di Aceh digunakan untuk menyerang petugas kepolisian di beberapa tempat umum seperti di Polsek Leupung dan daerah Lamkabue, serta melakukan perampokan dengan senjata api di Warnet Newnet dan di Bank CIMB Niaga Medan.
Jaksa mengungkap ada rencana latihan militer di Aceh. Rencana itu dibahas saat Ba‘asyir bertemu dengan Dulmatin yang diperantarai oleh Ubaid, anggota Majelis Syuro JAT, di sebuah ruko dekat Pesantren Al Mukmin Ngruki, Sukoharjo, Februari 2009. Ubaid diminta Baasyir untuk membicarakan rencana ini dengan Muzayyin alias Mustakim, Ketua Hisbah JAT. Muzayyin kini masuk Daftar Pencarian Orang (DPO) yang diterbitkan Densus 88 Anti Teror Polri pada 20 September 2010.
Dalam pertemuan lanjutan, Muzayyin mengusulkan agar Abu Tholut dilibatkan dalam pelatihan. Ba’asyir menyetujuinya. Pertemuan berikutnya di rumah Muzayyin, Pesantren Al Mukmin Ngruki, Abu Tholut ditunjuk sebagai penanggungjawab.

M. Yamin Panca Setia/Roby Karokaro

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s