Jejak Aktor Penebar Teror

Jejak Aktor Penebar Teror (klik versi PDF)

KAMIS (21/4), sekitar pukul 6.30 WIB, Muhammad Syarif asyik mencandai dua anaknya Nabila dan Naura Sabrina. Tiba-tiba, dirinya dikejutkan oleh beberapa laki-laki yang memaksa masuk ke rumahnya di Jalan Pesangrahan, Kelurahan Cempaka Putih RT 3 RW 3, Ciputat, Kota Tangerang Selatan.

Syarif pun langsung disergap, tanpa perlawanan karena di bawah todongan pistol. Mayasari, isteri Syarif berupaya menghalangi beberapa pria yang tak lain adalah polisi. Namun, upayanya sia-sia. “Sudah, ibu diam saja,” ujar salah seorang polisi itu. Syarif pun langsung diangkut ke Mabes Polri.

Besoknya, sekitar pukul 01.00 WIB, tim indentifikasi Detasemen Khusus Antiteror 88 dari Mabes Polri mendatangi rumah Syarif. Mayasari terkejut karena kedatangan pasukan antiteror itu saat dirinya bersama anak dan mertuanya sedang terlelap. Mereka menggeledah isi rumah, lalu membawa lembaran foto copi ijazah, surat nikah dan surat-surat lainnya.

Syarif alias Aip diringkus aparat karena diduga terlibat pelaku peledakan bom buku. Polri menyebutnya dengan inisial J, satu dari 20 tersangka pelaku teror bom buku yang ditangkap di Tanggerang. Dari penyelidikan yang dilakukan Polri, mereka berencana meledakkan bom di jalur pipa gas Serpong, Banten.

Mayasari yang ditemui Jurnal Nasional di rumah, Jum‘at (20/4), tak yakin suaminya terlibat dalam teror bom. Perempuan berusia 26 tahun itu nampak trauma. Namun, berupaya menenangkan diri sambil menjaga kedua anaknya yang masih kecil.

Hingga saat ini, Polri belum merilis lengkap identitas pelaku. Mabes Polri hanya menyebut dengan inisial. “Pemimpinnya adalah P dari Aceh, yang juga sutradara film dokumenter. Di mana aksi yang akan dilakukan akan didokumentasikannya,” kata Kepala Divisi Humas Polri, Irjen Pol Anton Bachrul Alam, di Mabes Polri, Jakarta, Jumat (21/4). Esoknya, kabar pun berhembus jika P adalah Pepi Fernando.

Minggu (24/4), tim Detasemen Khusus 88 Antiteror menggeledah rumah mertua Pepi di Jalan Seruni II No 14 Blok CE, RT 08/19 Kelurahan Pejuang, Kecamatan Medan Satria, Bekasi Barat. Dari rumah itu, polisi mengamankan empat buah benda mencurigakan berbentuk pipa yang panjangnya sekitar 1 meter.

Polisi menduga benda tersebut berbahan peledak seperti yang ditemukan pada penggeledahan sebelumnya. Sabtu (23/4), polisi melakukan pengeledahan dan mengamankan campuran bahan peledak, sebuah granat nanas, lima buah bom kaleng, dua buah bahan bom yang jadi, sebuah kemasan bom kotak, satu buah solder, potongan pipa besi dan timer jam dinding.

Pepi disebut-sebut merekrut IF, wartawan Global TV yang diringkus Polri, pada Jumat (22/4) pagi. IF direkrut agar dapat menyebarluaskan tayangan peledakan bom di Gereja Christ Chatedral, Serpong, Banten, yang jaraknya sekitar 100 meter dari rangkaian bom yang dipasang di pipa gas milik PT Perusahaan Gas Negara (PGN) di Serpong Banten yang rencananya akan diledakan, Jum‘at (22/4).

“Mereka ingin (aksinya) diliput jaringan (media) internasional,” kata Kepala Bagian Penerangan Umum Mabes Polri Komisaris Besar Polisi Boy Rafli Amar di Jakarta, Sabtu pekan lalu.

Direktur Pemberitaan Global TV, Arya Mahendra Sinulingga membenarkan IF adalah kamerawan Global TV. “Benar dia (IF) adalah wartawan kita, tapi sedang dicari waktu untuk bisa melihatnya secara langsung,” kata Arya kepada wartawan di Jakarta, Sabtu (22/4).

Pihaknya sudah meminta izin kepada Mabes Polri untuk mengirimkan gambar IF yang ditahan Polri. Pasalnya, pihak Global TV tidak mendapat izin untuk bertemu IF karena harus menjalani pemeriksaan intensif.

Markas Ciputat

Sementara itu, Kepala Bagian Sistem Informasi Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Nurul Jamali terkejut saat Polri menyebut Pepi adalah alumnus UIN. Dia membenarkan jika ada alumnus UIN Syarif Hidayatullah bernama Pepi. Namun, kata dia, dari hasil pengecekan database alumni UIN Syarif Hidayatullah, tidak terdapat nama Pepi Fernando.

“Tetapi tidak terdapat nama Pepi Fernando. Yang ada cuma nama Pepi saja. Kami akan cek lagi nama tersebut,” kata Jamali. Meski demikian, dia menyatakan, UIN tidak ingin begitu saja mengakui membenarkan keterangan Polri yang menyatakan seluruh pelaku bom adalah alumnus UIN Syarif Hidayatullah.

Namun, pihaknya siap bekerjasama dengan Polri terkait dugaan keterlibatan alumnus UIN sebagai otak pelaku bom buku dan jalur pipa gas PT PGN. Jamali terkejut oleh klaim polisi yang menyatakan 20 nama pelaku bom yang diringkus Polri disebut-sebut alumnus UIN Syarif Hidayatullah. Sebagai lembaga pendidikan, Jamali menegaskan, mahasiswa-mahasiswi dilarang terlibat dalam aliran radikal. “Sama sekali tidak ada upaya seperti itu dikampus ini. Apalagi ikut dalam NII,” tegasnya.

Rektor UIN Syarif Hidayatullah Kommaruddin Hidayat dan Direktur Pasca Sarjana UIN Syarif Hidayatullah, Prof Azyumardi Azra ketika dikonfirmasi belum bersedia memberikan keterangan. “Maaf saya belum bisa memberikan keterangan,” kata Azyumardi, Minggu (24/4).

Dari data yang dikumpulkan Jurnal Nasional diketahui sebagian pelaku teroris menempati sejumlah rumah petak di Ciputat, Kota Tangerang Selatan. Kediaman mereka berdekatan dengan UIN Syarif Hidayatullah agar aman berlindung. Mereka juga diduga mencari generasi baru teroris dari kalangan mahasiswa dan kaum terpelajar. Ciputat diduga kuat sebagai markas jaringan teroris.

Pasalnya, 9 Oktober 2009 lalu, Tim Densus 88 Mabes Polri juga menyergap sebuah tempat kos di lantai dua, RT 01 RW 03, Kelurahan Cempaka Putih, Ciputat Timur, Tanggerang Selatan. Pelaku peledakan dan peracik bom, Syaifudin Zuhri alias Saefudin Jaelani dan M Syahrir, ditembak mati oleh pasukan antiteror. Syaifudin dan Syahrir menempati sebuah kamar kost, tepatnya samping kanan gedung UIN Syarif Hidayullah.

Keduanya menempati kamar kos yang disediakan salah seorang mahasiswa UIN Jakarta bernama Sony Jayadi. Sony pernah ikut serta ke Padang dan Aceh membantu korban bencana dan menjadi karyawan out sourcing. Sony pun ikut diringkus Tim Densus 88 karena membantu menyembunyikan Saefudin dan Syahrir. Sementara keberadaan rumah Syarif, tak jauh dari lokasi penembakan Syaifudin dan Syahrir. Jaraknya sekitar 300 meter. Karena lokasi kediaman yang berdekatan, diduga mereka saling kenal dan berinteraksi.

Terkait Aceh?

Tertangkapnya 20 pelaku teror itu berangkat dari pengakuan M yang diringkus di Rawamangun, Jakarta Timur. Penangkapan terus berlanjut di enam titik lainnya sehingga muncul pengakuan dari tersangka akan ada rencana aksi bom di jalur pipa gas Serpong, Jum’at (22/4).

Tim Desus 88 Antiteror Polri juga menindaklanjuti informasi lain terkait pergerakan sejumlah tersangka lainnya di Nanggroe Aceh Darussalam. “Di Aceh ditangkap tiga orang,” kata Anton.

Dari pengakuan tersangka yang ditangkap, Polisi terus bergerak, menciduk lima orang tersangka lain dari Gunung Sindur, Bogor. Upaya mengendus jejak para tersangka teroris tidak berhenti. Hingga akhirnya, tiga orang pelaku yang bersembunyi di Kramat Jati, lima orang di Pondok Kopi, satu orang di Bekasi dan satu orang terakhir di Tangerang berhasil dicokok aparat.

Penyidik saat ini masih terus mendalami informasi dari 20 pelaku teror tersebut. Pemeriksaan juga dilakukan untuk mengetahui keterkaitan mereka dengan kelompok-kelompok teroris lama yang selama ini meresahkan masyarakat.

Polri sebelumnya kewalahan melacak jejak pelaku teror bom paket buku. Sejak rangkaian teror gentayangan di Jakarta, 15 Maret lalu, Polri baru menduga-duga jika pelaku teror terkait dengan jaringan Jamaah Islamiah dan mirip dengan rangkaian peristiwa bom di Poso, Sulawesi Tengah, 2009 lalu.

Ketidakcepatan Polri mengungkap jejak pelaku karena mereka adalah pemain baru dalam panggung radikal. Aktor-aktor baru itu steril dari radar intelijen sehingga membuat aparat keamanan kewalahan menangkapnya. Menurut Kadiv Humas Irjen Anton Bachrul Alam, di Markas Besar Polri, Jakarta, Jumat pekan lalu, para pelaku berusia sekitar 30 tahun. Mereka menabur teror dengan tujuan jihad.

Tunas-tunas kelompok militan itu kabarnya adalah mereka yang batal dikirim dalam pelatihan militer yang dilakukan oleh beberapa kelompok radikal di Aceh pada Februari tahun lalu. Dugaan itu berangkat dari pengakuan

Anton yang menyatakan gerakan tersebut dipimpin Pepi dari Aceh, yang juga sutradara film dokumenter. ‘”Di mana aksi yang akan dilakukan akan didokumentasikannya,” kata Anton.

Apakah para pelaku ada kaitannya dengan peran Amir Jama’ah Ansharut Tauhid (JAT) Abu Bakar Ba’asyir yang diduga turut merancang pelatihan militer di Pegunungan Jalin Jantho, Nangroe Aceh Darussalam?

Ba‘asyir ditengarai menjadi penyandang dana dalam pelatihan militer tersebut. Dari penyelidikan dilakukan setelah ditemukan benang merah adanya keterkaitan pengasuh Pondok Pesantren Al Mukmin Ngruki Solo itu dengan berbagai tindakan terorisme kelompok Aceh.

Dalam dakwaan jaksa terungkap ada ada rencana latihan militer di Aceh. Rencana itu dibahas saat Ba‘asyir bertemu dengan Dulmatin yang diperantarai oleh Ubaid, anggota Majelis Syuro JAT, di sebuah ruko dekat Pesantren Al Mukmin Ngruki, Sukoharjo, Februari 2009.

Ubaid diminta Baasyir untuk membicarakan rencana ini dengan Muzayyin alias Mustakim, Ketua Hisbah JAT. Muzayyin kini masuk Daftar Pencarian Orang (DPO) yang diterbitkan Densus 88 Anti Teror Polri pada 20 September 2010.

Ubaid diminta Dulmatin untuk meminta dana Rp15 juta ke Ba’asyir di Ngruki untuk keperluan survei. Ba’asyir menyetujui. Dia memberikan uang Rp5juta kepada Ubaid. Ia juga menyuruh Ubaid meminta tambahan Rp10 juta kepada Joko Daryono alias Thoyib, Bendara JAT Pusat, di Surakarta. Ba’asyir juga diketahui mendanai pembelian sejumlah senjata api dan amunisi untuk pelatihan militer di Aceh.

September 2009, Ba’asyir meminta Ubaid mengambil uang Rp60 juta di rumah Thoyib. Sebulan kemudian, Ubaid kembali diminta Ba’asyir mengambil uang US$5000 di rumahnya di Ngruki. Total dana dari Ba’asyir yang diberikan Ubaid mencapai Rp180 juta dan US$5 ribu, yang kemudian diserahkan ke Dulmatin untuk membeli 24 pucuk senjata api, amunisi, dan magazine seharga Rp325 juta.

Kuasa hukum Ba‘asyir Muhammad Assegaf menganggap tuduhan tersebut ngawur, sporadis, tidak jelas dan penuh rekayasa. “Ibarat sinetron, dakwaan ini episode ketiga. Tuduhan kali ini lebih kabur daripada tuduhan pertama dan kedua,” ujarnya.

Sementara Mayasari mengaku tidak tahu menahu jika suaminya disebut-sebut pernah menetap di Banda Aceh selama tiga tahun untuk latihan militer.

Dia mengaku, pertemuan dengan Syarif terjadi empat tahun lalu di Palembang. Setelah menikah dengan Syarif tahun 2008, Mayasari diboyong Syarif ke Aceh. Di sana, Syarif bekerja sebagai kuli bangunan bagi para korban tsunami Aceh. Tetapi, masa kerja kontrak membangun rumah bagi korban tsunami putus.

Syarif menganggur kemudian sempat menjadi sopir di Aceh. Karena penghasilan yang didapat di Aceh kurang mencukupi, Syarif yang merupakan anak dari pasangan Abdurrahman-Mimin itu kemudian pulang ke Jakarta, membawa serta Mayasari dan anaknya. “Selama tiga tahun kami tinggal di Aceh. Anak pertama kami Naura dilahirkan disana (Aceh),”kata Mayasari.

Semenjak tinggal di Ciputat, Tangerang Selatan, Syarif membuka usaha kecil-kecil, menjual nasi betawi dan mie rebus di rumahnya. Dia berjualan dari pagi hingga malam hari. Pria asli Betawi itu sesekali menjadi sopir pribadi salah seorang perempuan tua di Ciputat.

Sepengetahuan Mayasari, suaminya jarang mengikuti pengajian atau bertemu dengan beberapa pria berjubah. Sebab, Syarif selalu di rumah dan menjaga warung serta rumah kost-kostan warisan orang tuanya. “Suaminya saya tidak ikutan aliran seperti itu. Apalagi disebut menjadi sebagai pelaku bom buku. Kalau sudah selesai bekerja dia langsung pulang ke rumah,” katanya.

M. Yamin Panca Setia/Sabaruddin/Suriyanto/Andhika Tirta Saputra

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s