Tak Menulis di Atas Air

Tak Menulis di Atas Air (klik versi PDF)

SEJARAH perjalanan bangsa yang tercecer dikumpulkannya, kemudian disusun lewat sebuah tulisan hingga akhirnya menjadi bingkai sejarah. Dia memang menyimpan detail sejarah bangsa ini dibenaknya karena merupakan salah satu saksi yang mengikuti dan menyaksikan peristiwa penting perjalanan bangsa ini.

Dialah Rosihan Anwar, tokoh pers yang dimiliki bangsa ini. Wartawan kawakan lima jaman dikenal tajam pemikiran, ulet mengumpulkan fakta, berani mengungkap kebenaran serta semangat tak kenal lelah dalam merekam jejak sejarah. Dia tidak mengenal istilah journalist write in water, write to day and gone tomorrow.

Kamis (14/4) lalu, Rosihan menghembuskan nafas terakhir saat akan menjalani perawatan di Rumah Sakit MMC Kuningan, pukul 08.15 WIB. Almarhum meninggal dunia dalam usia 89 tahun. Rosihan meninggalkan tiga anak dan enam cucu. Istri Rosihan, Siti Zuraida, meninggal setahun silam. Ratusan pelayat memadati rumah duka di Jl Surabaya No.13, Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (14/4). Mereka terdiri dari pimpinan lembaga negara, tokoh nasional, politisi, seniman, wartawan, dan aktivis mahasiswa. Jenazah almarhum dimakamkan secara militer di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta Selatan.

Apresiasi dan penghormatan mengalir deras saat dirinya akan dimakamkan. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menganggap, bangsa Indonesia kehilangan tokoh besar, tokoh segala zaman yang tidak hanya memahami bidang kewartawanan namun juga kebudayaan. “Kita kehilangan tokoh segala zaman yang dikenal juga di antaranya sebagai budayawan dan tokoh film,” kata Presiden didampingi Ibu Negara Ani Yudhoyono. Kepala negara mengenang almarhum sebagai sosok wartawan yang kritis, dengan disertai tanggung-jawab. “Semoga muncul Rosihan Anwar, Rosihan Anwar selanjutnya,” harap Presiden.

Di kalangan wartawan, Rosihan adalah pengampu yang tak pelit membagi ilmu. “Saya berguru kepada beliau, saya datangi beliau, sosok idealis yang menganggap profesinya sebagai panggilan hidup,” kata Pendiri Harian Kompas Jacob Oetama. Jacob mengenang almarhum sebagai wartawan independen yang kaya khasanah pengetahuan dan informasi karena kegemarannya membaca. Kepiawaiannya menulis juga luar biasa bak sastrawan sehingga setiap tulisannya begitu enak dibaca.

Bagi Jacob, Rosihan dikenangnya sebagai sosok yang pantang menyerah, menggugat rutinitas, dan tidak pernah puas diri. Sosok Rosihan juga dianggapnya kaya akan khasanah pengetahuan karena memorinya yang begitu kuat.

Usianya yang sudah senja, tak juga menyurutkannya untuk menulis. Rosihan mengatakan dirinya tetap ingin bekerja meski usia sudah senja. “Dalam profesi saya ini, sulit dikenal masa pensiun, sebab pensiun berarti tidak ada uang masuk untuk sekedar menyambung hidup,” tulis Jacob dalam sebuah buku yang diterbitkannya tahun 1983, dengan judul: Rosihan Anwar, Menulis dalam Lumpur, Sebuah Otobiografi.

Keuletannya di usia senja itu dibuktikannya saat menulis buku dalam usia 88 tahun, berjudul: Napak Tilas ke Belanda. “Sungguh luar biasa dan pantas disyukuri. Mau tak mau, kreativitasnya yang begitu produktif sampai usia lanjut adalah inspirasi bagi generasi berikutnya,” tulis Jacob dalam pengantar buku itu. Bagi orang yang tak mengenal dekat Rosihan, sosoknya terkesan cuek, tak acuh, dan sombong. Namun, Jacob menambahkan, Rosihan peduli dan peka terhadap orang lain. “Sikap dan karya jurnalistiknya menunjukan kepekaan dan kepeduliannya yang sangat menghargai dan peduli terhadap sesama.”

Dari beberapa bukunya, banyak fakta sejarah yang diungkapkannya terkait sepak terjang para pendiri bangsa (founding fathers). Sutan Sjahrir misalnya, diuraikan Rosihan dalam sebuah buku berjudul: Demokrat Sejati, Pejuang Kemanusiaan, 2010, sebagai sosok politisi dan negarawan yang memiliki jiwa besar yang dimiliki bangsa ini.
Rosihan mengurai sisi etis dari sosok Sjahrir yang penting untuk diteladani penerus bangsa ini. Dia mendeskripsikan Sjahrir sebagai sosok politisi dan negarawan yang tidak sekedar berpikir kekuasaan, pragmatis dan matematis. Namun, politik mengandung etika.

Rosihan juga menguraikan sosok Amir Sjarifoeddin Harahap yang dikenal dalam catatan sejarah sebagai tokoh oposisi. Bagi Rosihan, dalam bukunya bertajuk Sejarah Kecil Petite Histoire Indonesia, 2009, Amir adalah seorang nasionalis dan idealis, namun juga tragis. Sebelum era pergerakan revolusi, Rosihan menjadi wartawan Asia Raya pada tahun 1942-1945 dan harian Merdeka (1945-1946). Kemudian bersama Soedjatmoko, Sanjoto, Gadis Rasid, AB Loebis, Soedarpo Sastrosatomo, Sutomo Satiman, Rosihan mendirikan majalah Siasat tanggal 4 Januari 1947.

Awalnya, tidak ada kesepakatan untuk menentukan salah satu di antara mereka untuk menjadi pemimpin redaksi. Gadis Rasid kurang sepakat jika Rosihan menjadi pemimpin redaksi karena dirinya hanya berpendidikan AMS Yogya. Sementara Gadis Rasid dari HBS Semarang dan kemudian Student Letterkundige Faculteit. Soedjatmoko dari Gymnaisium Surabaya.

Karena latar belakang pendidikanya yang dibawah lainnya, Rosihan dianggap layak menepati posisi pemimpin redaksi. Namun, Rosihan mempunyai pengalaman kewartawanan lebih banyak sehingga akhirnya dipilih menjadi Pemimpin Redaksi Siasat. Pada tahun 1948, Rosihan kemudian mendirikan harian Pedoman (1948-1961). Koran itu dibiayai Haji Djunaidi, pemilik percetakan Pemandangan di Jalan Senen 107, Jakarta itu diduduki oleh pemerintah NICA Belanda sebagai surat kabar Republikein atau Kiblik.

Meski demikian, Rosihan tetap konsisten memperjuang Kemerdekaan bangsa ini. Pedoman akhirnya dibredel oleh pemerintah NICA-Belanda, tanggal 13 Januari 1949. Baru setelah tercapainya persetujuan Van Royen-Roem Juni 1949, Pedoman bisa terbit kembali dengan tiras 2000 eksemplar sehari. Tanggal 15 Agustus 1949, Rosihan meliput peristiwa sejarah tentang Konferensi Meja Bunda (KMB) di Den Haag atas undangan pemerintah Belanda.
Di era Orde Lama, Rosihan dianggap wartawan yang ditakuti pemerintah. Bersama Mochtar Lubis, dirinya mengungkap kasus korupsi sepanjang tahun 1951 ‘“ 1956 di sebuah Harian Indonesia Raya.

Pemberitaan dugaan korupsi Ruslan Abdulgani menyebabkan koran tersebut di bredel. Pada tanggal 14 Agustus 1956 diangap kegagalan pertama pemerintah dalam memberantas korupsi di Indonesia. Intervensi Perdana Menteri Ali Sastroamidjoyo, Ruslan Abdulgani yang menjabat Menteri Luar Negeri, gagal ditangkap oleh Polisi Militer. Sebelumnya Lie Hok Thay mengaku memberikan satu setengah juta rupiah kepada Ruslan Abdulgani, yang diperoleh dari ongkos cetak kartu suara Pemilu.

Dalam kasus tersebut mantan Menteri Penerangan kabinet Burhanuddin Harahap (kabinet sebelumnya), Syamsudin Sutan Makmur, dan Direktur Percetakan Negara, Pieter de Queljoe berhasil ditangkap. Namun, kemudian, Rosihan Anwar bersama Mochtar Lubis justru dipenjara tahun 1961 karena dianggap lawan politik Sukarno.

Saat peristiwa Madiun meletus, Rosihan pernah mengangkat dugaan adanya blueprint peristiwa Madiun. Tulisannya membuat marah Francisca Fanggidaej, tokoh perempuan pergerakan sayap kiri. Pimpinan Partai Komunis Indonesia (PKI) DN Aidit pernah memberi tahu Francisca tentang tulisan Rosihan. Dalam sebuah buku bertajuk Francisca Fanggidaej, Memoar Perempuan Revolusioner yang ditulis Hensri Setiawan, Ikapi, 2006. Dalam pengantarnya, Ita F Nadia pernah bertemu dengan Francisca di Utrecht, Belanda.

“Seketika itu aku marah karena dalam tulisan itu disebut bahwa Peristiwa Madiun yang telah memakan banyak korban itu merupakan tindakan pengkhianatan kaum komunis terhadap bangsa dan negara,” ungkap Francisca.
Dia meralat tulisan Rosihan. Katanya, peristiwa Madiun bukan sekedar peristiwa sebagai akibat provokasi pemerintah Hatta-Sukiman seperti ditulis Buku Putih Peristiwa Madiun, terbitan Agitprop CC PKI. Sementara Rosihan menyebut, suatu pemberontakan berencana oleh gerakan komunisme internasional. Blueprint itu disusun oleh Zhadov, yang dikirim ke Indonesia melalui Francisca di Kalkuta ketika Fransisca diundang hadir untuk konferensi pemuda dan mahasiswa Asia Tenggara di Kalkuta. “Aku sama sekali tidak tahu apa yang disebut sebagai dokumen Zhadanov yang merupakan blueprint peristiwa Madiun,” katanya.

Merasa difitnah oleh Rosihan, Aidit mengusulkan kepadanya untuk menuntut Rosihan ke pengadilan. Dia bersama Supeno uga mendesak Rosihan menarik tulisannya. “Namun saat sidang, tuntutan kami ditolak,” jelas Francisca.
Tulisan Rosihan memang dikenal keras. Makanya, Rezim Orde Lama dan Orde Baru sering kali menganggapnya sebagai kawan, sekaligus musuh. Bagi Rosihan, karya jurnalistik bicara fakta, kebenaran, ketidakadilan, dan rezim tak akan mampu menghimpit kebebasan berpikirnya.

Sebagai wartawan senior, Rosihan juga sering kali mengingatkan wartawan muda agar memegang prinsip jurnalistik. “Kita (wartawan) punya tugas menjaga agar keadaan tidak semakin buruk,” kata Rosihan. Seruan itu diutarakannya saat mempersoalkan era keterbukaan informasi yang menampakkan berita-berita sensasi, tapi luput mengemukakan fakta dan mewadahi keberimbangan.

Sebagian wartawan kedapatan secara sadar maupun tidak kadang mendramatisir sebuah fakta berlebihan, meski masih diragukan kebenarannya. Mereka cepat memburu kabar sumir terkait publik figur, pejabat, artis, atau tokoh terkenal. Sensasi dianggap punya nilai jual bagi media. Pers juga kerap masuk ke wilayah privat, bukan ke aras publik yang seharusnya menjadi domain pers.Tetapi di sisi lain, tekanan terhadap pers juga lahir dari elemen masyarakat, di luar aparat yang punya otoritas terhadap alat-alat kekerasan.

Menurut Rosihan, berita sensasional dalam kadar tertentu dipicu oleh persaingan media yang ketat. Untuk memenangi persaingan, katanya, pers bisa membuat berita-berita sensasional, agak diplintir-plintir biar kesannya keras. Karena begitu asyik membuat berita sensasional, mereka lupa kalau yang namanya berita itu harus ketat sesuai kaidah jurnalistik. Harus penuh kehati-hatian, keakurasian dan kecermatan.

M. Yamin Panca Setia

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s