Tokoh Nasionalis, Idealis yang Tragis

Sejarah republik ini mengenangnya sebagai tokoh oposisi dan berada di barisan sayap kiri karena kecewa terhadap Amerika Serikat sewaktu perundingan Renville. Namun, ada juga yang menyebut dirinya sebagai komunis karena ingin tetap bisa peran sentral di pentas politik.

Bagi Rosihan Anwar, wartawan tiga jaman, dalam bukunya bertajuk Sejarah Kecil Petite Histoire Indonesia, 2009, dia adalah seorang nasionalis dan idealis, namun juga tragis.

Dialah Amir Sjarifoeddin Harahap, tokoh bangsa Indonesia, mantan menteri dan perdana menteri yang telah memberikan andil besar berdirinya negara ini.

Oktober 1945 hingga Januari 1948, Bung Amir, bertugas sebagai Menteri Penerangan dan Menteri Perhanan Soekarno. Dia juga menjabat Menteri Pertahanan di Kabinet Sjahrir dan menjadi Perdana Menteri (3 Juli-November 1947).

Saat masih perjuangan revolusi bergolak di negeri ini, Amir pada tahun 1942 pernah menggembleng Barisan Pemuda Asia Raya, di gedung Jalan Merdeka Barat. Amir juga menyerukan agar pemuda melanjutkan perjuangan untuk membebaskan rakyat dari belenggu penjajahan.

Januari 1943, Amir pernah ditangkap Jepang. Dia dituduh memimpin gerakan bawah tanah untuk melawan Jepang yang dibiayai dengan uang sebesar 25.000 gulden dari Van der Plas sebelum kapitulasi Belanda kepada Jepang tanggal 8 Maret 1942 di Kalijati, Jawa Barat. Ia dihukum mati oleh Jepang. Tetapi, berkat intervensi Sukarno, vonis tersebut berubah menjadi hukuman seumur hidup. Jepang menganggap Amir sebagai musuh karena menyetujui dan menjalankan garis Komunis Internasional agar menggalang aliansi dengan kekuatan kapitalis untuk menghancurkan dominasi Amerika Serikat. Ia juga dianggap berkoalisi dengan Belanda, menggalang kekuatan anti-fasis Jepang. Namun, strategi perlawanan yang dilakukan Amir tidak mendapat dukungan sesama aktivis perjuangan kala itu. Mereka lebih memilih menempuh taktik lain yaitu berkerjasama dengan Jepang dengan harapan memberi kemerdekaan kepada Hindia Belanda setelah kolonialis Belanda dikalahkan. Nyatanya, strategi Amir yang terbukti benar. Amir keluar dari penjara seiring kekalahan Jepang oleh Sekutu.

Pascakemerdekaan, Amir menandatangani persetujuan Renville pada 17 Januari 1948. namun, reaksi keras disuarakan Masyumi dan PNI yang menolak perjanjian Renville. Akibatnya timbul krisis di kabinet yang dipimpinya. Bung Amir mengembalikan mandatnya. Digantikan dengan kabinet Mohammad Hatta tangal 29 Januari 1948. Sejak itu, Amir seakan hilang dari panggung politik.

Namanya muncul saat meletus peristiwa Madiun, tanggal 19 September 1948. Banyak catatan sejarah menyebut dirinya aktor dibalik peristiwa yang dianggap mengusik kekuasaan Presiden Soekarno.

Terhadap peristiwa Madiun itu, Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Hatta pernah bereaksi keras dalam pidato diradionya.

“Pilih Muso dan Amir atau Sukarno Hatta,” begitu seru Soekarno.

Namun, dari pengakuan Soemarsono, pecetus peristiwa Madiun yang berdiam di Australia, tidak ada upaya menggulingkan pemerintahan Soekarno. Kepada Sabam Siagian, mantan wartawan yang menjadi Duta Besar RI di Australia, Soemarsono mengatakan, peristiwa Madiun itu bukanlah sebuah aksi kudeta, melainkan tindakan koreksi terhadap politik kabinet Hatta yang dianggap terlalu mengalah terhadap tuntutan Belanda dan tekanan Amerika Serikat.

Amir pun menjadi buronan. Akhirnya, pada 29 November 1948 sekitar pukul 17.00 di Gua Macan, Desa Penganten, Kecamatan Klambu (dekat kudus), Amir ditawan oleh Kompi Pasopati/Batalyon Koesmanto dipimpin oleh Kapten Ranu. Dan, akhirnya dieksekusi, di sebuah desa di luar Kota Solo, setelah dia menyanyikan lagu Internationale, lagu perjuangan para sosialis.

Amir memang memberikan pengakuan kepada publik bahwa sejak tahun 1935, dirinya bergabung dengan Partai Komunis ilegal yang dibentuk Muso di Surabaya, tahun 1936. Pada tanggal 8 September, tahun 1948, terjadi pemberontakan PKI Madiun yang dipimpin Soemarsono. Soekarno dan Hatta bertindak tegas terhadap PKI. Muso ditembak mati ketika melarikan diri. Sementara Amir dan Maruto Darusman ditangkap, hingga menjelang akhir tahun dieksekusi di sebuah dekat kota Solo.

“Apakah Bung Amir Komunis?” tanya Rosihan kepada kepada Bung Sjahrir. Sjahrir yang merupakan sahabat akrabnya menjawab, “Tidak”. Tetapi Sjahrir tidak memberikan alasan mengapa dia menjawab begitu.

Sjahrir memiliki kenangan dengan Amir. Kedua tokoh bangsa itu sama-sama sosialis, tetapi beda pandangan tentang komunisme. Keduanya bertemu saat mendeklarasikan Sumpah Pemuda, tahun 1928. Amir mewakili Jong Batak, bendahara panitia dan wakil ketua sidang kongres. Namun, pertemuan mereka tak lama. Seusai kongres, Sjahrir melanjutkan studi ke Universiteit Leiden di Balanda untuk mendalami sosialisme. Sementara Amir memimpin gerakan Indonesia di masa pemerintah kolonial Belanda di Indonesia.

Dua puluh tahun kemudian, ketika kemerdekaan Indonesia terwujud, Sjahrir bersama Amir menahkodai pemerintahan yang mewarnai sejarah republik ini. Dalam buku bertajuk: Sjahrir, Peran Besar Bung Kecil, yang diterbitkan oleh Tim Buku Tempo, 2010,

Amir dan Sjahrir berkerjasama memimpin Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP). Sjahrir menjadi ketua dan Amir menjadi wakilnya dalam lembaga yang memiliki peran serupa dengan legislatif. Kemudian, adanya Maklumat X pada 3 November 1945 yang mengatur pembentukan partai mendorong hubungan keduanya makin dekat. Amir mendirikan Partai Sosialis Indonesia (Parsi) dan Sjahrir mendirikan Partai Rakyat Sosialis.

Sama-sama berhaluan sosialis, keduanya lalu melebur menjadi Partai Sosialis dengan Sjahrir sebagai Ketua Umum.

Di pemerintahan, hubungan Sjahrir dan Amir terus harmonis saat Kabinet Sjahrir II pada 12 Maret 1946. Sjahrir yang menjabat sebagai perdana menteri mempertahankan Amir sebagai menteri pertahanan.

Namun, konflik keduanya mulai mencuat setelah perjanjian Linggarjati yang ditandatangi 15 November 1946. Amir mencela hasil perjanjian Linggarjati.

Hingga akhirnya muncul mosi tidak percaya yang menjatuhkan Sjahrir pada 2 Oktober 1946. Amir naik menjadi perdana Menteri dalam kabinet Amir Sjarifeodein. Perpecahan Sjahrir dan Amir makin nyata ketika pembahasan Marshall Plan seusai perang dunia II, yang membelah Eropa menjadi blok Timur dan Barat.

Uni Soviet yang menjadi pusat blok timur, memerintahkan blok komunis menentang kapitalis pimpinan Amerika Serikat.

Rosihan dalam bukunya: Perjalanan Terakhir Pahlawan Nasional Sutan Sjahrir, yang ditulis pada 1966, menyebutkan bahwa Amir ingin Partai Sosialis menempuh garis Marxis-Leninis-Stanlinis dan meminta Indonesia memihak Moskow (Soviet). Tapi, Sjahrir berpendirian, Partai Sosialis harus menempuh sosialis kerakyatan yang demokratis dan politik luar negeri bebas aktif.

Goerge McTurnan Kahir dalam bukuya Nationalism and Revolution in Indonesia, setelah melakukan riset di Yogyakarta tahun 1948, menceritakan bahwa Amir menjadi tokoh oposisi dan berada di barisan sayap kiri karena kecewa terhadap Amerika Serikat sewaktu perundingan Renville yang digelar tanggal 8 Desember 1947.

M. Yamin Panca Setia
Dari berbagai sumber

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s