Bui Menanti Amrun Daulay

AMRUN Daulay akhirnya ditetapkan sebagai tersangka kasus korupsi proyek pengadaan mesin jahit dan sapi impor di Kementerian Sosial tahun anggaran 2004-2006 senilai Rp33,7 miliar. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menjerat politisi Partai Demokrat itu dengan tiga pasal di UU Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

“Tersangka AD (Amrun Daulay) disangkakan melanggar Pasal 3 dan atau Pasal 2 ayat 1 dan Pasal 11 UU Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001,” ujar Kabiro Humas KPK Johan Budi, Jumat pekan lalu.

Amrun yang kini menjabat sebagai anggota Komisi II DPR itu tidak sendirian. Mantan Kasudbdit Kemitraan Usaha Yusrizal juga ikut ditetapkan sebagai tersangka atas kasus yang sama. Yusrizal juga dijerat pasal yang sama dengan Amrun.

Penetapan Amrun dan Yusrizal sebagai tersangka merupakan pengembangan penyidikan terhadap mantan Menteri Sosial Bachtiar Chamsyah yang sudah divonis 20 bulan penjara dalam kasus sama.

Bachtiar tidak rela mendekam di penjara tanpa ditemani Amrun. Dalam beberapa kali persidangan, politisi senior Partai Persatuan Pembangunan (PPP) itu menyebut Amrun sebagai dalang kasus korupsi di kementerian yang dipimpinnya. “Saya menteri, tugasnya kebijakan. Teknis yang bertanggung jawab Amrun,” kata Bachtiar.

Indikasi kuat keterlibatan Amrun terungkap tatkala dirinya diketahui mengancam akan memecat bawahannya Amusdjaya Deswarta karena akan memberikan denda kepada PT Lasindo. Perusahaan tersebut merupakan rekanan Kementerian Sosial dalam proyek pemegang mesin jahit merek JITU. Masalahnya, penentuan tender dianggap melabrak prosedur hukum. Amrun diketahui menunjuk Lasindo sebagai rekanan, tanpa melalui proses tender. Direktur Utama PT Ladang Sutra Indonesia (Lasindo) Musfar Azis kini sudah menjadi terdakwa korupsi dalam pengadaan mesin jahit.

Jaksa penuntut umum mendakwa Musfar melakukan tindakan menguntungkan diri sendiri sebesar Rp19,9 miliar saat digelar Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor), Kamis pekan lalu. Musfar didakwa dengna dakwaan berlapis yaitu Pasal 3 dan Pasal 2 ayat 1 UU Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Pria asal Silungkang, Sumatera Barat itu terancam dipidana dengan hukuman penjara paling lama 20 tahun.

Amrun diduga main mata dengan Lasindo karena dirinya menganulir denda keterlambatan 20 persen yang dijatuhkan Amusdjaya. Mantan bawahan Amrun itu takut dipecat Amrun jika dirinya memberikan denda kepada Lasindo. “Ia (Amrun) mengancam memecat saya, karena saya mengirim surat denda tetapi tidak konsultasi dengan dia,” kata Amusdjaya. Amrun juga mewanti-wanti Amusdjaya jika PT Lasindo adalah titipan menteri sehingga tidak layak dijatuhkan sanski. Pengakuan itu juga diperkuat Bachtiar jika Amrun berupaya menyakinkannya bahwa proyek pengadaan tersebut tidak melanggar hukum.

Padahal, Amusdjaya menyatakan, denda tersebut patut dikenakan karena Lasindo terlambat mengadakan 6.000 mesin jahit. “Itu merupakan bagian dari tanggung jawab saya,” ucapnya. sementara Lasindo berdalih, keterlambatan terjadi karena terjadinya fluktuasi listrik di China. Setelah surat denda dikeluarkan dirinya, PT Lasindo mengirim surat kepadanya untuk permohonan adendum terhadap kontrak pokok setelah waktu kontrak berakhir. Fakta tersebut mengindikasikan kuat jika Amrun memainkan peran aktif dalam proyek tersebut.

Dalam proyek tersebut, Amrun adalah pihak yang mendorong Bachtiar agar menyetujui pengadaan sapi dan mesin jahit oleh Departemen Sosial saat itu.

Kesaksikan Amusdjaya saat persidangan dengan terdakwa Bachtiar di Pengadilan Tipikor Jakarta, Desember 2010 lalu juga terungkap jika dirinya diperintahkan Amrun untuk mengurangi jumlah sapi.

Awalnya, sapi yang disediakan berjumlah 3.500 ekor menjadi 2.800 ekor. Pengurangan dilakukan karena alasan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat melemah. Akibatnya, harga sapi impor Australia yang semula Rp4,7 juta per ekor melonjak hingga Rp7 juta per ekor.

Tak hanya itu, Amusdjaya juga mengungkap peran Amrun yang memintanya agar alat tes urin dihilangkan dan pembuatan kandang diserahkan pada masing-masing pemerintah daerah sehingga tidak menggunakan dana proyek tersebut. Menurutnya, perintah revisi ini dilakukan setelah perusahaan rekanan proyek PT Atmadhira Karya memberikan daftar rincian harga sapi potong dari Australia.

Dalam kasus pengadaan sapi impor jenis Steer Brahman Cross asal Australia sebanyak 2.800 ekor, KPK menemukan adanya praktik penunjukan langsung kepada PT Atmadhira Karya selaku rekanan. Akibat penunjukan langsung tersebut, proyek pengadaan senilai Rp19 miliar itu merugikan keuangan negara hingga Rp3,6 miliar.

Sebelumnya, Amrun mengaku dirinya hanya menerima arahan dari Bachtiar untuk menunjuk langsung PT Atmadhira Karya sebagai pemenang pengadaan sapi impor. “Pak Menteri (Bachtiar) bilang kalau ada Iken Nasution yang cocok dengan proyek kita karena ada kandang (sapi) dan punya pengalaman,” katanya saat bersaksi dalam persidangan terdakwa Bachtiar Chamsyah di Pengadilan Tipikor, Senin (29/11).

Dia mengaku, berbekal dari arahan mantan bosnya itu, dirinya menerbitkan surat Nomor 714/BJS/IX/2004 tertanggal 26 Desember 2004 yang menunjuk langsung perusahaan penyedia sapi milik mendiang Iken Nasution.

Nilai kontrak pengadaan sapi asal Australia untuk program penggemukan sapi potong dengan pemanfaatan limbah padat cair tersebut sejumlah Rp19,4 miliar. “Itu (penunjukan langsung) disetujui oleh beliau (Bachtiar),” imbuh Amrun.

Dia menambahkan, ada disposisi penunjukan langsung kepada PT Ladang Sutera Indonesia (PT Lasindo) dalam pengadaan mesin jahit merek JITU.

Amrun menerangkan bahwa pengadaan sapi impor dan pengadaan mesin jahit itu dilakukan dengan cara penunjukan langsung atas disposisi Bachtiar.

“Desember 2003, saya dipanggil Pak Menteri bahwa yang akan mengerjakan proyek pengadaan mesin jahit adalah Musfar Azis. Dia agen mesin jahit merek JITU,” ungkap Amrun. Namun, pengakuan itu dibantah Bachtiar.

“Kesepakatan disodorkan ke saya dalam suatu upacara. Saat itu saya tidak bisa baca dengan detail,” kata Bachtiar.

Ia juga membantah telah menerima imbalan uang Rp700 juta dari pemilik PT Atmadhira Karya, Iken Nasution. Menurut Bachtiar, uang sumbangan untuk Yayasan Bina Insan Cendikia yang dibinanya diberikan oleh Amrun dengan pesan bahwa dana tersebut berasal dari pengusaha.

Kemudian saat mengetahui bahwa sumbangan berasal dari Iken selaku rekanan pengadaan sapi, pria yang selalu berkopiah itu mengaku marah. Kemarahannya semakin memuncak ketika mendapat informasi bahwa ada kekurangan 900 sapi yang gagal disediakan oleh putra pengacara kondang Adnan Buyung Nasution tersebut akibat kekurangan dana.

Lalu, Amrun membisiknya. “Pak ini (Iken) yang menyumbang. Saya bilang orang miskin kok menyumbang. Uangnya saya kembalikan ke Atmadhira jauh sebelum diperiksa KPK,” kata Ketua Pimpinan Pusat Persaudaraan Muslimin Indonesia (Parmusi) itu.

Ketua Departemen Penegakan Hukum DPP Partai Demokrat Benny Kabur Harman mendukung keputusan KPK yang menetapkan Amrun sebagai tersangka. Asalkan, dia menyatakan, bukti hukumnya harus kuat.

“Partai Demokrat mempersilakan sesuai prinsip hukum dan rasa keadilan yang ditentukan oleh perundang-undangan,” kata Benny yang juga menjabat Ketua Komisi Bidang Hukum DPR tersebut kepada wartawan, Jumat pekan lalu.

Meski Amrun adalah kader Partai Demokrat, dia menyatakan, partainya tidak akan mengintervensi apa yang ditetapkan oleh KPK.

Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum juga sebelumnya menegaskan, partainya tidak akan melindungi kader yang terbukti melakukan tindakan korupsi. Anas menyatakan Demokrat mendukung upaya aparat penegak hukum untuk memerangi korupsi.

“Kami tidak pernah melakukan intervensi proses hukum. Kami serahkan sepenuhnya kepada aparat hukum untuk bekerja menegakan hukum dan keadilan,” ujar Anas beberapa waktu lalu.

M Yamin Panca Setia/Melati Hasanah Elandis

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s