Lakon Patek Jebolan Afganistan

Umar PatekJEJAKNYA menghilang setelah tragedi Bom Bali I, 2002 silam. Sang arsitek bom yang menewaskan 202 orang itu hilang bak ditelan bumi dalam pelarian yang sulit terdeteksi. Dia sempat dikabarkan tewas, 14 September 2006 dalam penyergapan di Sulu, Filipina. Namun, kabar itu tak pernah ada kepastian.

Dialah Umar Patek alias Umar Arab alias Umar Syekh alias Zacky. Buronan teroris internasional paling wahid yang kepalanya dihargai US$ 1 juta oleh
Pemerintah Amerika Serikat itu, kabarnya
telah ditangkap di Pakistan, 2 Maret 2011.
Namun, kabar itu baru berhembus ke
media, 30 Maret 2011.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Pakistan, Tehmina Janjua, Kamis (31/3), memastikan orang yang ditangkap pihak keamanan Pakistan adalah tersangka pelaku pengeboman klub malam di Bali pada Oktober 2002.

Hingga saat ini, Umar Patek, keturunan
Jawa-Arab berusia 40 tahun itu masih diin-
terogasi oleh Badan intelijen Pakistan, The
Inter-Service Intelligence (ISI). Rencananya, Umar Patek akan diserahkan ke Indonesia setelah interogasi selesai.

Petugas ISI belum mengungkap rincian hasil interogasi mengenai aksi Umar Patek di Pakistan. Sementara pemer- intah Indonesia telah mengirim tim dari Polri dan Badan Intelijen Negara (BIN) untuk memastikan kebenaran telah ditangkapnya Umar Patek.

Umar Patek adalah rekan Dulmatin, gembong teroris yang tewas dalam penyergapan yang dilakukan Detasemen Khusus 88 Antiteror Mabes Polri, di rumah toko Multiplus Jalam Siliwangi, Pamulang, Tangerang Selatan, 9 Maret 2010 lalu.

Sebelum tewas, Umar Patek kabarnya menerima wasiat dari Dulmatin untuk melanjutkan gerakkan pem- berontakan bersama kelompok Abu Sayyaf di Filipina Selat- an dan melanjutkan eksekusi aksi pengeboman di sejumlah tempat. Alumnus Afganistan sekitar 1990-an itu memang sudah lama berinteraksi dengan Abu Sayyaf yang diang- gap pemerintah Filipina sebagai kelompok separatis.

Dia piawai meracik bom. Ia juga pernah berjuang bersama Front Pembebasan Islam Moro (MILF) di Mindanao pada 1995. Jebolan Afganistan ini juga meru- pakan salah satu petinggi Jamaah Islamiyah (JI) yang dekat dengan Osama bin Laden.

Namun, sejak jejaknya terendus setelah bom Bali I, Patek bersama Dulmatin memutuskan ikatan dengan Kelompok JI yang ada di Indonesia. Mereka pun bergerak di bawah tanah.

Dalam pelarian, kabar dirinya di Filipina nyatanya tak memutuskan rantai komunikasi dengan jaringan teroris di Indonesia. Akhir Desember 2005, Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) yang kala itu dijabat Syamsir Siregar, mendapatkan informasi dari Asep Rahmatan Kusuma, 32 yang mengaku agen Central Intelligence Agency (CIA) mengungkap. Dari Asep, Patek dikabarkan akan membunuh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Patek juga berencana menyerang Kedutaan Besar Amerika di Jakarta.

Abdullah Sonata, terdakwa kasus terorisme yang kini sedang menjalani proses hukum di Pengadilan Negeri Jakarta Timur, mengaku kenal dengan Patek. Dari penga- kuan Sonata, Patek mempunyai spesialiasi keterampilan yang berbeda.

“Ia spesialis field engineering (teknik lapangan), kalau saya spesialisnya ustaz,” katanya sambil tertawa saat dite- mui di ruang tahanan Pengadilan Negeri Jakarta Timur, Rabu (30/3). Sunata termasuk tokoh besar Jamaah Islamiyah (JI) yang membuat bukti pedoman umum perjuangan JI.

Namun, sejak jejaknya terendus setelah bom Bali I, Patek bersama Dulmatin memutuskan ikatan dengan Kelompok JI yang ada di Indonesia. Mereka pun bergerak di bawah tanah. Dalam pelarian, kabar dirinya di Filipina nyatanya tak memutuskan rantai komunikasi dengan jaringan teroris di Indonesia.

Akhir Desember 2005, Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) yang kala itu dijabat Syamsir Siregar, mendapatkan informasi dari Asep Rahmatan Kusuma, 32 yang mengaku agen Central Intelligence Agency (CIA) mengungkap. Dari Asep, Patek dikabarkan akan membunuh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Patek juga berencana menyerang Kedutaan Besar Amerika di Jakarta.

Abdullah Sonata, terdakwa kasus terorisme yang kini sedang menjalani proses hukum di Pengadilan Negeri Jakarta Timur, mengaku kenal dengan Patek. Dari penga- kuan Sonata, Patek mempunyai spesialiasi keterampilan yang berbeda.

“Ia spesialis field engineering (teknik lapangan), kalau saya spesialisnya ustaz,” katanya sambil tertawa saat dite- mui di ruang tahanan Pengadilan Negeri Jakarta Timur, Rabu (30/3). Sunata termasuk tokoh besar Jamaah Islamiyah (JI) yang membuat bukti pedoman umum perjuangan JI.

Sonata pertama kali bertemu Patek sewaktu konflik Ambon pada 2000-an. Pada masa itu, kata Sonata, banyak aktivis dan relawan datang di Ambon. Sonata juga berte- mu dengan Patek selama seminggu di Filipina Selatan sebelum gembong teroris Selamat Kastari ditangkap polisi.

“Hanya sebentar (bertemu Umar Patek), tidak pernah lama kalau bertemu,” katanya. Pertemuan terakhir dirinya dengan Umar Patek pada 2004-2005 di Jakarta sebelum ia ditangkap oleh polisi dalam kasus tindak pidana teroris- me menyembunyikan Noordin M Top dan kepemilikan senjata api. Sonata ditangkap polisi pada Desember 2005.

Kala itu, kata Sonata, Umar Patek bolak-balik Indonesia-Filipina. Setelah pertemuan itu, ia tidak lagi menjalin komunikasi dengan Umar Patek. Pertemuan itu terjadi saat Umar Patek hendak berangkat ke Filipina Selatan. Sonata tidak menjelaskan isi pertemuan ini. “Namanya kawan ketemulah,” ujarnya. Dia membantah saat disebut bahwa pertemuan itu untuk persiapan pengirim remaja Indonesia ke Filipina Selatan. “Siapa? Yang mana tuh? Saya tidak pernah mengatakan itu,” katanya.

Patek dengan Sonata memang memiliki hubungan. Lewat Patek, Sonata mengatur pengiriman senjata di Ambon dan untuk pelatihan kemiliteran di pegunungan di Seram Barat. Sonata dapat membantu menghubungi para veteran Ambon yang dikenal sebagai kelompok STAIN (Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri). Hampir seluruh anggota kelompok STAIN adalah anggota Darul Islam.

Saat kerusuhan meletus di Ambon, pada 2004, Sonata yang sedang berada di Jakarta bermaksud mengirim sebuah senjata untuk Asep dari Kompak yang berada di Ambon. Sonata menghubungi Umar Patek di Filipina, dan menyuruh Ali Zein (JI) untuk mengambil senjata tersebut di Manado, Sulawesi Utara.

Perkenalannya dengan Patek setelah berapa bulan bom Bali tahun 2002. Patek dan Dulmatin pernah datang ke Jakarta dan meminta bantuan Sonata yang saat itu menjabat Ketua Kompak, untuk membantunya menun- juk jalur menyeberang ke Mindanao, Filipina.

Namun, rute yang biasanya dipakai anggota JI untuk ke Mindanao adalah melewati Sulawesi Utara tampaknya menjadi terlalu berbahaya. Dulmatin dan Patek berharap dapat menggunakan satu-satunya rute yang bisa dipakai, yaitu jalur yang dikontrol DI, lewat Kalimantan Timur ke Tawao di Sabah, Malaysia kemudian menyeberang ke Mindanao.

Sonata lalu bersedia untuk membantu dan mencar- ikan rumah kontrakan bagi Patek dan Dulmatin. Patek lalu teringat dengan anggota STAIN yang lain, yaitu Arham, yang dikenal Patek ketika di Mindanao pada 1999.

Sonata rupanya kenal baik dengan Arham saat di Ambon dan tahu bahwa Arham beserta istrinya tinggal di Lampung. Setelah menelepon beberapa kali untuk menda- patkan alamat lengkap Arham, seorang ajudan Sunata dan Umar Patek kemudian berangkat ke Lampung untuk mencari tahu jika Arham dapat membantunya berangkat ke Filipina.

Arham setuju dan pada akhir Maret 2003, berhasil membantu Dulmatin dan Umar Patek beserta keluarga mereka tiba di Filipina. Sonata pun sadar bahwa melalui koneksi Arham, ia dapat mengirim anggota-anggota baru Kompak untuk dilatih oleh Dulmatin dan Umar Patek. Dia tahu keduanya adalah jebolan Afganistan yang sangat berpengalaman karena tahu pernah terlibat dalam aksi bom Bali I.

Pada tahun 2005, Patek dikabarkan membangun basis di Filipina Selatan. Bersama Dulmatin, Patek membangun tempat pelatihan yang sama sekali di luar jaringan JI di Filipina. Mereka berdiam di Pawas, di luar Cotabato, di mana para anggota DI dilatih, bukan di Jabal Quba, kamp pelatihan JI. Mereka pun tidak memiliki hubungan dengan Wakalah Hudaibiyah, divisi administratif JI di Mindanao.

Belakangan, Heru Kuncoro, adik ipar Dulmatin ikut bergabung dengan mereka. Karena Noordin M Top juga bagian dari Mantiqi I, dirinya menganggap Patek dan Dulmatin sebagai sekutu. Tertangkapnya Umar Patek menjadi kabar baik bagi upaya sejumlah negara untuk memerangi terorisme. Namun, bukan akhir dari upaya melacak jejak para teroris.

Masih ada teroris di Filipina dan masih melakukan ko- munikasi dengan jaringannya di Indonesia. Salah satunya Heru Kuncoro. Dia disebut-sebut sebagai pengganti Dulmatin. Dia juga teman dekat Imam Samudra dan Hambali. Ada lagi Zulkarnaen. Kabarnya juga mengendalikan jaringan teroris di Indonesia. Lelaki berusia 47 tahun, asal Sragen, Jawa Tengah itu memiliki nama asli Arief Sunarso, pernah menjabat sebagai panglima perang sayap militer JI. I M Yamin Panca Setia/Ahmad Nurhasim

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s