Nyanyian Yusuf Belum Berakhir

YUSUF Supendi tak main-main membongkar dugaan kasus fitnah, poligami hingga penggelapan yang menyeret petinggi Partai Keadilan Sejahtera (PKS).

Setelah melaporkan dugaan pelanggaran kode etik yang dilakukan Presiden PKS Lutfhi Hasan Ishaaq ke Badan Kehormatan Dewan Perwakilan Rakyat (BK DPR), Selasa (22/3) lalu, giliran Sekretaris Jenderal (Sekjen) PKS Anis Matta yang dilaporkannya ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Pendiri Partai Keadilan (PK) yang merupakan cikal bakal PKS itu menyebut Anis telah melakukan penggelapan dana partai sebesar Rp10 miliar saat Pemilihan Gubernur (Pilgub) DKI Jakarta tahun 2007. Kala itu, PKS mengusung Adang Darojatun. Adang lalu menyerahkan mahar sebesar Rp40 miliar ke PKS. “Anis Matta melakukan penggelapan uang. Tidak saya katakan korupsi ya,” kata Yusuf di Gedung KPK.

Uang yang diberikan Adang itu dalam bentuk tunai. “Uang satu koper berjumlah Rp40 miliar diserahkan ke DPW PKS DKI Jakarta yang menerima diantaranya Sutisna atau Sutriana, saya lupa. Pokoknya namanya Su su gitu dah. Nah Rp10 miliarnya diambil Anis,” katanya.

Yusuf siap mempertanggungjawabkan upayanya yang menyeret petinggi PKS itu. “Silahkan gugat saya dalam 24 jam,” tantangnya. Tak hanya itu, Yusuf juga mengantongi selusin saksi yang bersedia membongkar dugaan kasus petinggi PKS.

Anis Matta merespons dingin peluit yang dihembuskan Yusuf. Dengan tenang, dia menganggap, ada pihak yang menunggangi Yusuf untuk menghantam PKS.
“Ada (yang menunggangi). Ada itu. Tetapi kita sedang mempelajari detailnya itu. PKS tentu ada peta, tahu pergerakan seperti ini,” katanya di Gedung DPR.
Kasus yang dilaporkan Yusuf, kata dia, sudah dilaporkan ke KPUD Jakarta dan telah dibahas di internal partai.

Meski demikian, dia menambahkan, PKS tidak akan merespons berlebihan serangan yang dilakukan Yusuf . “Kita tidak mau bereaksi berlebihan, karena ini buat kita masalah biasa. Karena ini, pola lama,” kata Anis.

Tudingan itu dibantah Yusuf. “Bagaimana saya mau ditunggangi. Ini keyakinan saya. Gak ada urusan. Saya niatnya amar ma’ruf nahi munkar,” tegasnya.

Tudingan Anis yang menyebut ada pihak yang menunggangi Yusuf juga disesalkan anggota Dewan Pembina Partai Demokrat Achmad Mubarok. “Selesaikan secara bijak dalam internal partai, jangan malah menduga-duga dan seuzon dengan pihak lain,” katanya. “Kami yakin PKS mampu menyelesaikan masalah rumah tangganya dengan baik,” imbuhnya.

Ketua DPP Partai Amanat Nasional (PAN), Viva Yoga Mauladi juga mengingatkan agar pentolan PKS tidak melontarkan pernyataan yang dapat memperkeruh suasana politik di koalisi Sekretariat Gabungan (Setgab).
“Tuduhan-tuduhan itu akan terus menumbuhkan saling kecurigaan sehingga menghilangkan kehendak untuk bersama dalam koalisi yang tulus,” ujarnya di Jakarta, Rabu (23/3).

Perseteruan antara Yusuf dengan sejumlah petinggi PKS kemungkinan bakal berlanjut. Kedua pihak nampaknya dihadapi jalur buntu untuk menyelesaikan secara damai. “Nasi sudah jadi bubur,” kata Yusuf.
Luthfi juga menyatakan belum ada rencana untuk menggelar pertemuan dengan Yusuf.

Mungkin, karena itu, Ketua Majelis Syuro PKS Hilmi Aminuddin memperkirakan akan ada “gempa politik” yang mengguncang partainya. PKS pun siaga mengantisipasinya.
Hilmi menyerahkan sepenuhnya masalah tersebut secara hukum. PKS juga sudah membentuk tim advokasi. “Hukum yang berbicara, PKS ada tim advokasi di DPP,” kata Hilmi usai menghadiri Musyawarah Kerja Wilayah (Muskerwil) DPW PKS Jawa Barat, di Gedung Sasana Budaya Ganesha (Sabuga) Bandung, Sabtu, pekan lalu.

Menghadapi serangan-serangan yang menghantam PKS itu, beberapa hari lalu, sejumlah pentolan PKS melakukan pertemuan di Gedung Serbaguna Kompleks DPR, Kalibata, Jakarta Selatan, Kamis (24/3) malam.
Sejumlah tokoh PKS seperti Luthfi Hasan Ishaaq, Ketua Fraksi PKS Mustafa Kamal, mantan Presiden PKS Nur Mahmudi Ismail, dan mantan Presiden PKS Hidayat Nur Wahid hadir dalam acara ini.
Luthfi membantah jika pertemuan yang dibingkai acara buka puasa bersama itu juga membahas isu politik yang menyerang PKS. “Kita hanya silaturahmi, ingin pertemuan ini diselenggarakan secara berkala,” ujarnya.

Meski demikian, pengamat Politik Univeritas Indonesia Andrinof Chaniago mengingatkan, nyanyian Yusuf akan menggerogoti eksistensi PKS yang tengah bersiap menuju Pemilihan Umum 2014.

Petinggi PKS tidak bisa anggap enteng serangan yang dilakukan Yusuf. Pasalnya, isu yang dihembuskan sangat sensitif secara politik. “Isu yang dikeluarkan sangat sensitif, poligami dan korupsi,” ujar Andrinof.

Isu poligami sangat ampuh menghilangkan suara pemilih dari perempuan. “Walaupun Islam membolehkan beristri lebih dari satu. Tetapi hal itu masih menyakiti wanita. Ini sangat sensitif.”
Sementara kasus korupsi hingga saat ini masih menjadi sorotan tajam masyarakat. Apalagi, PKS selama ini mengklaim partai Islam yang bersih.
Karena itu, Andrinof menyarankan agar petinggi PKS dapat membuktikan jika laporan Yusuf tidak benar. “Jika ingin aman, petinggi PKS harus membuktikan pengaduan Yusuf salah.”

Terkait dugaan adanya orang ketiga yang memanfaatkan Yusuf, menurut Andrinof, sangat kecil kemungkinannya. Sebagai seorang kiai besar, tidak mungkin Yusuf mau menghancurkan partai yang sudah susah payah dibentuk. “Tidak ada kiai yang mau menghancurkan pesantren yang sudah dibuatnya. Tetapi kalau menghukum santri yang nakal pasti dilakukan.”

Yusuf sendiri mengaku upaya yang dilakukannya karena kecintaan terhadap partai. “Saya ingin selamatkan PK yang saya dirikan dari perilaku yang tidak benar,” ujar Yusuf.

Pengamat Politik Lembaga Survei Indonesia (LSI) Burhanuddin Muhtadi berpendapat, PKS tidak bisa sekedar membantah tudingan Yusuf. Tetapi harus ada pembuktian.

“Peluanganya 50-50. Jika terbukti tidak benar, PKS akan menjadi partai yang di eluelukan. Tetapi jika tidak, maka peluang PKS menjadi partai besar akan hacur. Apalagi sebentar lagi Pilkada DKI Jakarta. Ini sangat disayangkan,” katanya saat dihubungi.

Burhanudin juga tak yakin jika Yusuf sengaja melakukan gerakan untuk menghancurkan PKS. Pasalnya, Yusuf pernah menjabat Wakil Ketua Dewan Syariah Partai Keadilan, anggota Majelis Syuro PKS, Anggota Dewan Syariah PKS dan anggota Komisi III DPR dari Fraksi PKS.

“Kredibilitas Yusuf tidak dapat dipungkiri telah mengakar di dalam darah kader PKS. Intinya, jika ingin tetap eksis, PKS harus buktikan semua tuduhan itu tidak benar.”

Spekulasi itu ditanggapi datar oleh Lufhfi. Dia menyatakan, nyanyian Yusuf tidak akan memecah kekuatan partai. “Buktinya, PKS tetap menjalankan seluruh agendanya saat ini,” katanya. Dia juga menegaskan, partainya akan menindak tegas siapa pun yang melakukan pelanggaran di dalam partai.

Dalam perkara Yusuf, partainya telah bertindak tegas. Dia mengatakan, pada tahun 1999-2004 lembaga yudikatif PKS memecat seorang Wakil Presiden dan di periode 2004-2009 yudikatif PKS juga memecat seorang Wakil Dewan Syariah. “Jadi, tidak ada satupun di institusi kami yang bisa mengintervensi keputusan yudikatif di PKS,” ujarnya.

Masalahnya, Yusuf menjawab, dirinya dipecat karena difitnah menganggu isteri orang. “Dengan siapa, kapan dan seterusnya. Tetapi tidak pernah dijawab,” cetus Yusuf.

Sayang Ingin Selamatkan PK

PENGAKUAN Yusuf Supendi bak badai yang menghantam Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Pengakuannya mempreteli citra partai politik yang berbasis ideologi Islam itu. Dari persoalan poligami, suap hingga fitnah yang dilakukan petinggi PKS dilantunkannya.

Yusuf tak sekedar bernyanyi dihadapan para pencari berita. Namun, dia bergerak menuju Badan Kehormatan DPR untuk melaporkan dugaan pelanggaran kode etik beberapa petinggi PKS.

Dihadapan BK DPR, pendiri Partai Keadilan (PK) sebelum berubah menjadi PKS itu mengungkap kelakuan buruk Presiden PKS Lutfhi Hasan Ishaaq yang telah memfitnahnya menganggu isteri orang. Dia juga mengungkap ada ancaman dari Lutfhi terhadapnya. Dari pengakuannya, Lutfi dikabarkan menerima dana dari Yusuf Kalla sebesar Rp34 milyar saat Pemilihan Presiden tahun 2004 lalu.

Waktu itu, posisi Lutfhi sebagai Bendahara Umum PKS. Lutfhi juga membongkar aib sejumlah petinggi PKS. Sekretaris Jenderal PKS Anis Matta disebutnya pernah menggelapkan dana Rp10 miliar saat Pemilihan Gubenur DKI Jakarta 2007 lalu. Kala itu, PKS mengusung Adang Daradjatun sebagai calon gubernur.

Karena itu, Yusuf pun meluncur ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk melaporkan dugaan kasus penggelapan tersebut.

Berikut pengakuan Yusuf dalam beberapa kali kesempatan terkait upaya perlawanannya dengan sejumlah petinggi PKS di Jakarta, pekan lalu.

Mengapa anda memperkarakan petinggi PKS ke BK DPR?

Pertama, perlu diklarifikasi bahwa yang saya adukan itu cuma satu, yaitu Pak Lutfi. Hanya Luthfi. Dia (Luthfi) melanggar etika dan aklak sebagai Anggota DPR. Dia melakukan fitnah dan ancaman SMS kepada saya. Dan yang paling bermasalah itu, mengirim SMS ke saya, saya dituduh menganggu isteri orang. Kepada BK DPR, saya sudah kasih dokumen 75 halaman.

Jadi, itu intinya, saya dituduh mengganggu isteri orang karena menurut ajaran Islam, kalau mengganggu isteri orang sampai pada perzinahan, maka harus dibuktikan dengan fakta. Itu fitnah. Dan saya juga tanyakan juga dimana, dengan siapa, kapan dan seterusnya. Tetapi tidak pernah dijawab. Lalu, saya mendapatkan ancaman, yang intinya dapat mengarah pada kekerasan, yang dapat mengakibatkan hilangnya nyawa. Itu ancaman dari SMS Pak Luthfi.

Saya sampaikan ke BK, saya berkewajiban untuk melaporkan Lutfi ke BK karena menjadi pernyataan saya tentang tuduhan mengganggu isteri orang itu fitnah luar biasa. SMS (berupa ancaman) lengkap sudah saya siapkan. Saya minta aparat melakukan penyelidikan. Saya sudah menyiapkan tim pengacara, yang menyarankan agar bersikap jujur, faktual, amar mahruf nahi mungkar, karena itu saya mencari hal yang faktual.

Apakah upaya yang dilakukan anda terkait dengan sanksi pemecatan yang ditetapkan DPP PKS?

Selama SK itu tidak diserahkan ke saya, saya anggap tidak sah karena melanggar Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD ART) PKS. Namun saya dapat SMS, menginformasikan, ternyata SK itu dikeluarkan tahun 2009. Tetapi, saya berkeyakinan pemecatan itu belum inkracht, karena saya belum menerima SK. Karena secara yuridis belum inkracht, kalau mereka anggap sudah final, itu lain lagi, jadi ada upaya hukum.

Kenapa tidak diselesaikan masalah anda dengan petinggi PKS secara internal?

Realitasnya, petinggi PKS itu lebih banyak berpihak pada orang, tidak berpihak pada kebenaran. Sementara yang tuntut adalah keadilan dan kepastian hukum. Itu sudah dimulai dari tahun 2005. Waktu itu, Agustus 2005, saya menuntut keadilan dan kepastian hukum, tetapi tidak ditanggapi. Kenapa tidak ditanggapi, karena berhadapan dengan Ketua Dewan Majelis Syuro PKS Hilmi Aminuddin dan Sekretaris Jenderal DPP PKS Anis Matta.

Saya sudah berupaya damai sejak lima tahun lalu. Mediasi juga sudah dilakukan. Bahkan lewat pengacara sudah dilakukan somasi pertama dan terakhir, tetapi diabaikan. Ya, mendekati mustahil (berdamai). Sudah jadi bubur, mau apa lagi. Harapannya ada perbaikan. Kita harus bela yang teraniya. Jadi, kalau dibiarkan, akan ada kezaliman-kezaliman.

Apa alasan pemecatan DPP PKS terhadap Anda?

Saya bagaimana bisa memahami alasan itu. SK saja kagak diterima. Ini yang saya katakan melanggar etika beroriganisasi. Harusnya diserahkan ke saya, dasarnya apa (pemecatan), nanti kita lihat kan. Dalam AD ART PKS kan ada pasal yang menentukan hak pembelaan. Kalau SK tidak ada, apa yang mau diadukan. Tidak ada sampai detik ini.

Apa alasan anda melaporkan juga ke KPK?

Kembali ke UU No 30 Tahun 2002 tentang KPK, Pasal 11. Disitu, Anis Matta sebagai penyelenggara negara. Karena itu, sebagai penyelenggara negara saya sudah berulang kali di internal PKS untuk menyelesaikan hal-hal yang krusial tersebut, yaitu sejak tanggal 29 Juni 2004. Tetapi, tidak pernah diselesaikan, tidak pernah ditanggapi.

Intinya laporan anda?

Saya sebagai seorang muslim berkewajiban amar maruf nahi munkar. Ini intinya. Karena itu, saya pada dasarnya niat untuk memberantas dan menyelamatkan PK yang saya dirikan dari perilaku yang tidak benar.

Saya juga sampaikan secara bertahap waktu saya di BK, saya punya tiga saksi, lalu kemudian berkembang-berkembang. Sekarang ada selusin saksi.

Nama-namanya siapa?

Saya berkewajiban tidak menyebut nama saksi. Mereka bukan hanya kader, mereka pengurus dan elit PKS.

Mengapa baru dilaporkan sekarang?

Masalahnya ya tadi, saya sebagai pendiri partai sudah berupaya menyelesaikan di internal. Tetapi, kagak beres. Stopnya kan 2007.

Apa bukti laporan anda?

Bukan alat bukti ya. Tetapi, bukti permulaan. Karena alat bukti itu di Pengadilan. Itu sudah saya serahkan ke KPK. Saya telah sampaikan. Kalau dalam bahasa saya itu bertahap. Ketika saya ke BK, kemudian saya bilang Anis melakukan penggelapan uang. Setelah saya konsultasi dengan Doktor Sutopo, dia dosen UI, dia bilang istilahnya penggelapan. Rp10 miliar itu uang mas kawin partai adalah uang satu koper berjumlah Rp40 miliar diserahkan ke DPW DKI yang menerima diantaranya Sutisna atau Sutriana, saya lupa. Pokoknya namanya Su Su gitu dah. Nah Rp40 miliarnya diambil Anis.

Setelah diinvestigasi oleh Dewan Syariah wilayah DKI dan intervensi Ketua Dewan Syariah PKS dan Ketua Dewan Majelis Syuro PKS, nah ada SP3 bahasa hukumnya. Atau tidak ditindaklanjuti.

Kabarnya anda ditunggangi?

Bagaimana saya mau ditunggangi. Ini keyakinan saya. Saya sudah sampaikan pada 29 Juni 2004.

Dari mana sumber uang itu?

Dari Adang Dorojatun. Tapi Pak Adang dari siapa, tanya Pak Adang.

Nunun Nurbeiti (isteri Adang) kabarnya dilindungi PKS?

Tidak tahu. Yang jelas, kalau Nunun dilindungi sangat wajar. Karena Adang anggota DPR dari PKS.

Ada tudingan jika langkah anda untuk menggembosi PKS di Pemilu 2014?

Gak ada urusan. Saya niat amar ma’ruf nahi munkar.

Kabarnya, ada konflik kepentingan terkait laporan anda?

Anis Matta itu mahasiswa saya. Luthfi itu murid saya.

Apakah anda bisa mempertanggungjawabkan laporan anda?

Saya bertindak atas tanggungjawab jawab secara yuridis. Karena itu, saya sangat senang karena sebelum saya ke sini saya konsultasi dengan tim pengacara. Silahkan gugat saya dalam 24 jam. Dan saya akan mempersiapkan gugatan ke MK atas sengketa partai.

Melati Hasanah Elandis/M. Yamin Panca Setia

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s