Akar Amarah Kaum Radikal

RIBUAN orang berkumpul di Yogyakarta, 5-7 Agustus 2000. Mereka datang dari 24 propinsi untuk mendeklarasikan terbentuknya organisasi Islam militan yang berjuang mewujudkan Imamah (khilafah) yang bernama Majelis Mujahidin Indonesia (MMI).

Tegaknya syariat Islam adalah harga mati yang harus diperjuangkan MMI. Karena itu, MMI terus mempropagandakan perjuangan ideologis yaitu memberlakukan syariat Islam dalam konstitusi negara.

Mereka menyerukan semangat untuk melakukan satu gerakan kembali (revivalis) kepada Al-Quran dan Hadis, dengan mengangkat isu radikal seperti Daulat Islamiyah, Syariat Islam, Antibarat, antizionis dan antidemorkasi.

Mereka amat memimpikan kejayaan dunia Islam masa lalu yang dipandang sebagai golden age (zaman keemasan) dunia Islam untuk dijadikan rujukan gerakan Islam politik kotemporer. Mereka juga merujuk pada piagam Madinah sebagai landasan justifikasi pandangannya.

Dalam perjalanannya, organisasi Islam yang diketuai Ustad Abubakar Ba’asyir itu bergerak dengan semangat militansi dan tidak mengenal kompromi.

Saat era reformasi bergulir, MMI bersama ormas Islam lainnya seperti Front Pembela Islam (FPI), Hizbut Tahrir, Ikwanul Muslimin Indonesia, Forum Komunikasi Ahlussunah Waljamaah dan Laskar Jihad, mendesak syariat Islam diberlakukan.

Desakan itu pernah mereka suarakan saat sidang Istiwewa MPR 1999, 2000, 2001 dan 2002–saat konstitusi negara sedang diamandemen.

Gerakan mereka semakin radikal tatkala menyaksikan realitas paradoks yang dialami banyak negara-negara Islam akibat invasi militer Amerika Serikat (AS) dan negara-negara barat lainnya.

MMI pun ikut mengambil bagian dalam razia warga negara asing khususnya warga AS. MMI juga dituduh terlibat dengan jaringan Al-Qaedah pimpinan Osamah Bin Laden, yang dituduh sebagai dalang pengeboman World Trade Center (WTC) dan terdaftar sebagai organisasi teroris internasional.

Meski muncul sejumlah ormas-ormas Islam yang bersifat lokal, namun pergerakan mereka bersifat global, mengajak kaum muslim dunia agar kembali ke Al-Quran dan Hadis secara murni, menyeluruh dan total serta mendirikan sebuah negara Islam sebagai jalan keluar dari berbagai problem yang menimpa umat Islam pada umumnya.

Mereka juga mengacu pandangan Hasan Al-Banna, Sayid Qutb, Abul A’la Maududi dan Abu Hasan Nadwi yang menganggap bahwa untuk kejayaan uamat Islam dan dunia Islam adalah harus menjadikan Al-Quran dan Hadis sebagai dasar yang harus ditetapkan dan dilaksanakan kembali secara murni, menyeluruh bagi umat Islam. Karennya, Ishak Mussa Al Husaini menyatakan, tak meragukan, gerakan-gerakan yang mengadopsi doktrin Ikhawanul Muslimun akan terus hidup, selama Islam tetap hidup.

Dalam lingkup global, sedikitnya ada dua organisasi Islam yang sangat berpengaruh terhadap pola gerakan Islam radikal di seluruh dunia, yaitu Al Ikhwan- Al Muslimun maupun Jemaat-i-Islam di Pakistan.

Kedua organisasi ini, menyebar dalam bentuk jaringan keseluruh dunia, yang dihuni umat Islam. Kedua organisasi itu mengkhawatirkan ancaman negara-negara Eropa, gerakan misionaris Kristen dengan proses westernisasi serta pengaruh pemikiran dari sebagian elit yang memperoleh pendidikan dari barat untuk melakukan proses pembaharuan, dengan mencampurkan (akulturasi) pemikiran dan budaya barat dengan Islam.

Al Ikhwan-al Muslimun yang didirikan Hasan al-Banna, mengutuk proses westernisasi sebagai sesuatu yang membahayakan negara Islam. Banna menyakini perpecahan politik, ketimpangan ekonomi, sikap acuh terhadap agama Islam, disebabkan sekuleraisme dan materialisme barat yang merupakan penyebab utama kehancuran dan kemunduran kaum Muslimin.

Sementaran Jamat-i-Islami yang berarti Perhimpunan Islam didirikan pada tahun 1941 oleh Maulana Abul Ala Al Maududi. Organisasi ini berkembang pesat lewat kepemimpinan Maududi. Latar belakang pendirinya adalah menghalau imprealisme Inggris dan kaum nasionalis Hindu yang menghimpit ruang gerak umat Islam di India.

Jemaat i Islami juga memiliki cita-cita membentuk sebuah negara Islam di Pakistan. Meski berpusat di negara tersebut, organisasi itu sayapnya menyebar ke beberapa negara-negara Islam. Pemikiran Hasan Al Banna dan Maududi akhirnya mewarnai perjalanan organisasi-organisasi militan Islam saat ini.

Di Indonesia, gerakan Islam mulai ada sejak periode penjajahan Belanda. Kebangkitannya tidak terlepas dari pergerakan kebangkitan kebangsaan Indonesia. Diawali munculnya Sarekat Islam (SI) yang dipelopori Haji Oemar Sait (HOS) Cokroaminoto.

Dia mentransformasikan pemikiran intelektualnya tentang agama, politik, dan retorika. Cokroaminoto kemudian bergabung Sarekat Dagang Islam (SDI) yang saat itu dipimpin oleh H Samanhudi. Setelah SDI berubah menjadi Syarikat Islam (SI), pergerakan politik yang dipimpin Cokroaminoto makin besar.

Awalnya, organisasi itu dibentuk untuk melakukan perlawanan terhadap dominasi China dalam perdagangan. Namun, Cokroaminoto memimpin pergerakan dan makin memperjelas tujuan politiknya, yaitu mencapai kemerdekaan Indonesia dan memberlakukan syariah Islam dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Di era Orde Baru, gerakan Islam militan menjadi sasaran rezim dari tahun 1960-an sampai 1980-an karena menentang diterapkannya ideologi tunggal Pancasila. Abubakar Ba’asyir pernah ditahan sebagai tahanan politik pada tahun 1978-1982.

Pendiri pesantren Al Mukmin Ngruki Sokoharjo itu paling disoroti berbagai media dan lokal sejak pulang dari Malaysia bersama teman-teman pelarian politiknya seperti Abdullah Sungkar. Di era Orde Baru, terjadi kekerasan terhadap kelompok Islam seperti tragedi Tanjung Priok tahun 1984, dan Talangsari tahun 1989. Sejumlah orang ditangkap karena eks DI, Masyumi dan serta dai yang berkhotbah tentang syariat Islam.

Hingga saat ini, pergerakan Islam radikal masih begitu kuat. Sasaran mereka adalah perubahan ideologi negara. Meski Pancasila telah mengakomodasi tiga ideologi yaitu Islam, nasionalisme dan sosialisme, namum dalam pandangan Deliar Noer, hingga saat ini, masih terjadi tarik ulur ketiga ideologi tersebut dan berlomba-lomba untuk menegakkan tegaknya ajaran masing-masing.

Pergerakan mereka juga bersifat global. Bangsa ini pernah trauma dengan ruang ketakutan akibat teror yang mereka lakukan saat meledakan Bali (12 Oktober 2002), Bom JW Marriot (5 Agustus 2003), tragedi Kuningan (9 September 2004) dan tragedi-tragedi kemanusiaan lainnya. Upaya penghancuran terhadap simbol-simbol barat itu memberi pesan perjuangan mereka secara global.

Kini, aksi mereka kembali menghentak. Serangkaian teror bom buku yang terjadi beberapa hari lalu diduga dilakoni kelompok garis keras. Kepala Bagian Penerangan Umum (Kabag Penum) Polri, Kombes Pol Boy Rafli Amar menduga kelompok Jamaah Islamiyah (JI) berada di balik aksi teror paket bom buku. “Namun, belum seratus persen, sifatnya baru dugaan,” katanya di Jakarta, Kamis (26/3).

Polri menduga hal tersebut, menurut dia, karena melihat keterkaitan paket bom buku yang mirip dengan rangkaian bom dalam peristiwa teroris di daerah konflik pada tahun-tahun sebelumnya yang terungkap. Salah satunya teror bom Poso, Sulawesi Tengah, pada 2009.

Sementara Ulil Abshar Abdalla, yang menjadi sasaran teror bom buku, menganggap para pelaku adalah orang-orang gila yang yang mempunyai delusi tentang kekuasaan yang tidak benar.

“Ini membahayakan demokrasi dan negara kita yang sudah mengarah pada stabilisasi politik, ekonomi, dan seterusnya,” kata dia beberapa hari lalu. Politisi Partai Demokrat yang juga pernah memimpin Jaringan Islam Liberal itu juga menganggap gerakan para penabur teror merugikan dasar-dasar ideologi negara. Tujuannya adalah menggantikan Pancasila dengan ideologi Islam. Jika benar motifnya demikian, pertanyaannya kemudian, apakah memang ada perintah Al-Quran maupun Hadis untuk mendirikan negara Islam?

Karenanya, perdebatan tentang apakah kaum muslim wajib membentuk sebuah negara yang secara formal bernama negara Islam, sangat menarik untuk terus diwacanakan.

M. Yamin Panca Setia

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s