Empati Bebaskan Darsem

RUMAH itu ukurannya sekitar 4 x 6 meter persegi. Sebagian plesteran dindingnya yang belum tersentuh cat pun sudah mengelupas. Lantai pun hanya beralaskan tanah.

Di rumah yang terletak di Kampung Trumtung, Desa Patimban, Kecamatan Pusakanagara, Subang itulah, Darsem dibesarkan Dawud dan Saidah, isterinya. Dawud hanya sebagai kuli nelayan dan Saidah sebagai pembuat terasi tradisional. Keluarga ini, menjalani hidup serba kekurangan.

Karena dililit kemiskinan, Darsem yang hanya lulus sekolah dasar (SD) itu nekat meninggalkan suami dan anak, Safi’i, yang kala itu berusia delapan bulan, untuk mencari peruntungan di Arab Saudi.

Dia menjadi tenaga kerja Indonesia (TKI) di Riyadh sebagai pembantu rumah tangga atas sponsor Jamroni dari PT. Titipan Hidup Langgeng yang berkantor di Cijantung, Jakarta Timur, sejak 30 Juni 2006. Sebelum ke Riyadh, Darsem mengikuti pelatihan selama dua bulan di Jakarta. Agustus 2006, dia berangkat mengadu nasib di Riyadh.

Impian untuk menuai untung selama bekerja di Riyadh nyatanya berbuah tragis. Darsem yang lahir 20 April 1986 itu kini menghadapi hukuman pancung karena dituduh telah membunuh Walid, majikan yang ingin memperkosanya.

Kabar naas yang dialami anaknya membuat sedih Dawud dan keluarganya. “Aku sangat nelangsa dan bingung,” ujar Dawud saat dijumpai di rumahnya. Bagaimana nasib Safi’i (anak Darsem), cucu kami yang sejak kecil tak pernah kenal ibunya,” imbuhnya.

Dia pun tak tak tahu harus bagaimana membebaskan Darsem. “Kami bingung dan tak berdaya. Kami semuanya sangat merindukannya,” kata Dawud memelas.
Ajal mengintai Darsem yang kini mendekam di penjara Wanita Malaz, Riyadh. Dia dijebloskan ke penjara lantaran memukul korban dengan sebuah martil berkali-kali saat mengetahui korban membawa sebilah pisau seraya mengancam ingin memperkosanya, Desember 2007. Dawud amat mengharap ada cara lain meloloskan Darsem dari hukuman pancung itu.
Harapan itu terkabulkan. Keluarga korban mengampuninya. Namun, Darsem bisa bebas asalkan membayar denda dua juta real atau Rp4,7 miliar. Dawud bingung membayar ganti rugi itu. Sementara hakim memberi batas waktu selama enam bulan untuk menyiapkan uang tebusan itu. Jika tidak, Darsem akan menghadapi algojo.
Untungnya, simpati mengalir deras dari banyak kalangan mengalir ke Darsem. Bupati Subang Eep Hidayat, melakukan penggalangan dana melalui Koin Solidaritas Untuk Darsem (KSUD) dari semua kalangan masyarakat Subang.

“Dana yang sudah terkumpul melalui rekening sebuah bank sebanyak Rp.100 juta,” kata Eep. Tapi, dia pesimistis bisa memenuhi biaya untuk membebaskan Darsem. “Kami meminta pemerintah pusat membantu sepenuhnya. Sebab, pembebasan Darsem merupakan kewajiban negara,” tutur Eep.

Empati pun muncul dari masyarakat Desa Patimban dan desa-desa di Kecamatan Pusakanagara. “Kami terus mengumpulkan bantuan uang tunai, sekarang baru mencapai Rp.20 juta,” kata Camat Pusakanagara, Ela Nurlaela.

Bantuan serupa juga digalang oleh kalangan mahasiswa. Para darmawan ingin Darsem bisa berkumpul lagi dengan keluarga. “Terutama dengan Safi’i, anaknya yang kini sudah berusia empat tahun,” kata Dadang Nurjaman, mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Subang.

Dukungan juga mengalir dari Garut. Kamis (10/3) lalu, Perempuan Kabupaten Garut yang tergabung dalam organisasi wanita (GOW) dan PKK ikut mengumpulkan uang untuk membantu Darsem. Gerakan itu dimobilisasi Isteri Bupati Garut Nurrohimah Aceng Fikri dan Isteri Wakil Bupati Garut Rani Permata Diky Candra.
“Kami terpanggil untuk membantu dia yang berusaha mempertahankan harga dirinya sebagai wanita,” kata Rani. Mereka bergerak ke sejumlah tepat, dengan membawa kotak bertuliskan Koin Peduli Darsem.

Di Pacitan, Jawa Timur, ibu-ibu dari Bahana Sosial Center (BSC) dan Srikandi Woman Club (SWC) mengumpulkan koin sumbangan untuk Darsem. Dengan berjalan kaki mereka menuju lokasi-lokasi yang menjadi konsentrasi warga. Di Pasar Arjowinangun, anggota BSC berkeliling ke lapak lapak dan los pedagang. Dengan menggunakan megaphone mereka mengumpulkan sumbangan dari pedagang di pasar.
Sementara mewakili pemerintah, Ketua Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) Jumhur Hidayat mengatakan pihaknya terus mendekati keluarga ahli waris Walid. Jumhur juga meminta PT Titian Hidup Langgeng selaku pelaksana penempatan TKI swasta (PPTKIS) yang memberangkat Darsem ke Riyadh, Arab Saudi, mendekati keluarga ahli waris Walid dari hati ke hati.
“PPTKIS bersama BNP2TKI secara hati ke hati mendekati ahli waris Walid,” kata Jumhur, di Jakarta, Senin (7/3). Jumhur mengharap, upaya tersebut membuahkan hasil, karena tindakan yang dilakukan Darsem tidak disengaja. “Dia membela diri saat akan diperkosa oleh majikannya,” ujarnya. Pemerintah juga terus memberikan bantuan hukum melalui proses banding dan proses pemaafan dari keluarga.

Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa mengatakan, pemerintah juga menyiapkan segala yang dibutuhkan untuk pembebasan Darsem. “Kita memastikan warga terbebas dari hukuman,” katanya.

Kasus yang dialami Darsem di Arab Saudi, hanya sebagian kecil kasus yang dialami WNI di sejumlah negara. Tak hanya berhadapan hukum, mereka juga sering kali menjadi korban kekerasan hingga nyawa pun melayang. Berdasarkan catatan Migran Care, sepanjang tahun 2010 ada 89.544 buruh migran menghadapi berbagai bentuk persoalan di 42 negara tujuan. Ironisnya, 1.075 di antara mereka meninggal dunia di berbagai negara dengan berbagai penyebab.

Neta Surya/M. Yamin Panca Setia

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s