Dokter, Teolog dan Negarawan Sejati

JOHANNES Leimena, awalnya dokter di Rumah Sakit Immanuel dan rumah sakit pemerintah di Purwakarta dan Tanggerang. Namun, nama besar dikenal sebagai politisi yang menjunjung tinggi etika. Dia juga dianggap negarawan serta menghormati pluralisme.

Sejak menekuni politik dalam usia muda, pendiri Partai Kristen Indonesia (Parkindo) yang duduk di pemerintahan sejak 1946 hingga 1966 itu menjunjung tinggi etika politik.

“Politik itu etika untuk melayani, bukan teknik untuk berkuasa,” ujarnya seperti dikutip dalam buku berjudul, DR Johannes Leimena, Negarawan Sejati dan Politisi Berhati Nurani, yang disunting Victor Silaen, 2007.
Dengan kata lain, Leimena memandang tujuan politik melayani sesama, bukan menguasai sesama. Karenanya, Presiden Soekarno menganggapnya sebagai politisi jujur. “Dia adalah seorang yang paling jujur yang pernah kutemui,” kata Soekarno.

Meski dekat dengan Soekarno, Liemena yang sudah 18 kali duduk di kursi kabinet sejak kabinet Sjahrir II tahun 1946, tidak serta merta tunduk dengan arogansi Soekarno.

Om Jo, begitu sapaan Leimena, pernah menghalau Soekarno yang ingin membubarkan Partai Masyumi dan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) karena selalu mengkritiknya. Ridwan Saidi, mantan Ketua Umum HMI mengungkap, Leimena adalah tokoh yang memiliki hati nurani. Saat Soekarno berniat membubarkan Masyumi dan HIM, Leimena berupaya mencegahnya.

“Menyikapi pernyataan Om Jo ini, waktu itu saya katakan kepada teman-teman HMI bahwa nasib politik umat Islam ke depan sangat tergantung di ujung lidah-maaf ini hanya pendengaran saya, orang Ambon yang Kristen itu,” tulis Ridwan dalam buku 33 Renungan tentang Hidup Majemuk, karya Andar Ismail, 2008.

Ridwan pernah bertanya kepada Liemana alasan dirinya membela HMI dan Masyumi. “Om Jo mengatakan bahwa pembuaran Masyumi dan HMI sangat bertentangan dengan demokrasin dan HAM. Bagi Om Jo, semua memiliki hak untuk hidup di Republik ini,” jelas Ridwan.

Meski juga dikenal sebagai teolog, Leimena bukan politisi fundamentalis. Dia dapat menempatkan dirinya dalam dinamika politik yang beragam ideologi dan kepentingan.

Leimena sangat akrab bergaul secara tulus dengan tokoh-tokoh Islam seperti Mohammad Roem, Natsir, atau Mohammad Hatta. Leimena adalah sosial nasionalis yang kristiani. Dia mempertemukan nilai Pancasila dalam Iman Kristen.

Menurut dia, Pancasila adalah rumusan dasar negara yang dapat mempersatukan berbagai keanekaragaman. Dirinya belum melihat suatu rumusan kebangsaan yang terbaik yang akan memuaskan semua suku, agama, ras dan antargolongan di Indonesia selain Pancasila. Dia yakin, Indonesia akan pecah dan akan sia-sia perjuangan bangsa ini jika tanpa berbasis Pancasila.

“Ia (Indonesia) akan menjadi mangsa dari burung-buruk gagak luar negeri (buitenlandsche raven). Percekcokan dalam negeri sebagian besar terletak pada pendirian-pendirian yang bersimpang siur tentang dasar dan tujuan negara karena UUD kita adalah UUD Sementara,” jelas Leimena yang lahir di Ambon, 8 Maret 1905.

Salah satu penggali Pancasila itu tidak melihat kapitalisme klasik yang berakar pada individualisme dan komunisme serta Islam fundamentalis sebagai alternatif tepat menggantikan Pancasila.

Dia juga sosok yang menghargai pluralisme. Meskipun suku-suku bangsa ini tidak mempunyai tingkat kebudayaan yang sama, tapi dia menilai, tiap suku mempunyai talenta corak tersendiri. Jika suku-suku bangsa ini yang diibaratkannya bunga-bunga dan bunga-bunga itu dipersatukan, maka ia akan merupakan suatu karangan bunga yang indah.

Dia juga mengkritik konsep sentralisme yang menekankan kepada ika (kesatuan). Memang negara Indonesia adalah negara kepulauan yang memerlukan suatu kekuasaan sentral (central gezag) yang kuat. Namun, kekuasaan itu harus memberikan kepada daerah-daerah suatu otonomi yang cukup dan yang dapat memuaskan daerah-daerah itu.

“Bhineka Tunggal Ika hanya bisa berlaku sempurna, jika Bhineka itu diperkuat oleh Ika. Sebaliknya Ika hanya dapat tetap Ika, kalau Bhineka diperhatikan, diperkembangkan dan dipentingkan. Pendeknya, haruslah ada imbangan yang sehat antara Bhineka dan ika,” ujarnya.

Soal daerahisme yang ekstrem, seperti terjelma di daerah Maluku (RMS) adalah soal-soal yang timbul dari kesalahpahaman mengenai hubungan suku bangsa dan agama. “Kalau dalam perhubungan-perhubungan ini pun berlaku Bhineka Tunggal Ika, maka saya percaya peristiwa-peristiwa seperti di Maluku itu tidak akan terulang,” jelasnya.

Bagi umat Nasrani, Leimena adalah sosok yang memperjuangkan kepentingan Nasrani dalam ranah kekuasaan. Baginya, orang Kristen bukan minoritas yang berarti menyendiri. “Tetapi, tugas seorang Kristen justru menjadi saksi dalam masyarakat Indonesia,” katanya.

Insiator sumpah pemuda itu juga mengajarkan menjadi kewarganegaraan yang bertanggungjawab. Menurutnya, seorang tidak dapat dipisahkan dari negaranya. Sebaliknya negara tidak dapat dipisahkan dari anggotanya. Dia mengibaratkan negara dan warga negara seperti tangan, kaki dan sebagainya yang tidak dapat dipsahkan dari badan manusia. Badan manusia adalah persekutuan yang organis. Tanpa mata, kaki, tangan dan sebagainya, bukanlah suatu badan yang sempurna. Sebaliknya kaki, tangan dan sebagainya tidak dapat digerakkan.

Menurut Leimena, warga negara perlu bertanggungjawab karena terkait dengan maju atau mundurnya negara. “Terhadap kemajuan negara, ia memuji pemerintah, terhadap kemunduran, ia memberikan kecaman kepada pemerintah dengan jalan dan saluran yang legal,” jelasnya.

Dalam bidang kesehatan, jasanya sangat besar sehingga dirinya dianugerahi penghargaan dari Kementerian Kesehatan. Namanya tercantum dalam Aula di Kementerian Kesehatan sebagai Aula Leimena. Dia berkali-kali dipercayai sebagai Menteri Kesehatan mulai dari Menteri Muda Kesehatan Kabinet Sjahrir II pada 1946, Menteri Kesehatan Kabinet Amir Sjarifuddin I dan II pda 1947, Menteri Kesehatan Kabinet Hatta I dan II pada 1949, hingga Wakil Perdana Menteri untuk urusan Umum Kabinet Dwikora III pada 1966.

Salah satu warisannya dalam memajukan dunia kesehatan adalah Leimena Plan, sebuah perlindungan di bidang kesehatan yang dilakukan di Bandung pada 1954, yang kemudian menjadi cikal bakal terbentuknya Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas). Karyanya itu mendapat penghargaan dari World Health Organization (WHO) yang kemudian dicontoh negara lain.

M. Yamin Panca Setia

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s