Sang Revolusioner yang Tersingkirkan

Menteri Luar Negeri Ahmad Soebardjo, dikejutkan oleh tamu yang tak diundang yang duduk, menunggu di pojok ruangan rumahnya di Jalan Cikini Raya 82. Sepintas, Soebardjo melihat sosok tersebut seperti Iskaq Tjokrohadisuryo, bekas anggota Perhimpunan Indonesia di Negeri Belanda. Dugaannya ternyata salah.
“Wah, kau Tan Malaka,” ujarnya. “Saya kira kau sudah mati, sebab saya baca di surat kabar bahwa kau menjadi korban dalam kerusuhan di Birma. Ada lagi kabar kau di Yerusalem dan mati dalam kerusuhan Israel,” ujar Soebardjo.
Tan Malaka menjawab sambil tertawa dalam bahasa Belanda. “Onkruid vergaat toch niet. Alang-alang toh tak dapat musnah kalau tak dicabut dengan akar-akarnya,” jawab penulis buku Menuju Republik Indonesia (1924) itu.
“Sampai sekarang saya hidup, di bawah tanah. Sekarang Indonesia sudah merdeka. Saya ingin hidup dan bergerak di atas tanah. Saya ingin menemui dan mengenal pemimpin Indonesia,” imbuhnya. Soebardjo pun bertanya, “Saudara tinggal di mana?”
Sambil mesem, Tan Malaka menjawab, “Bagaimana seorang zwerver (gelandangan) mempunya tempat kediaman tertentu. Saya menginap di mana saya dapat berlindung,” jawabnya.
Percakapan akrab yang terjadi pada tanggal 25 Agustus 1945 itu dikutip dari buku: Tan Malaka, Gerakan Kiri, dan Revolusi Indonesia karya sejarawan Belanda Harry A Poeze, 2008.
Begitulah lika-liku hidup Tan Malaka. Tokoh bangsa yang perjalanan hidupnya penuh misteri. Dia sempat hilang seperti ditelan bumi. Hingga akhir hayatnya, sosok Tan Malaka pun masih menyimpan misteri. Jejaknya menghilang sejak Februari 1949 lalu. Keberadaan makamnya diduga kuat di Desa Selopanggung, Kecamatan Semen, Kediri, Jawa Timur setelah Poeze mengungkap fakta perjalanan hidup Tan Malaka. Poeze menyebut Tan Malaka dibunuh oleh tentara yang dipimpin Letnan Dua Soekotjo, 21 Februari 1949, saat dalam pelarian.
Sejarah membuktikan, Tan Malaka telah memberikan sumbangsihnya untuk Republik. Dia bergerak dari bawah tanah, menggalang kekuatan untuk merebut dan mempertahankan kemerdekaan negara ini. Bahkan, saat dirinya berada di Bangkok, Thailand itu, bersama Soebakat dan Djamaludddin Tamin, Juni 1927, Tan Malaka memproklamasikan berdirinya Partai Republik Indonesia (PARI).
Presiden Soekarno mengenal sosoknya sebagai revolusioner yang piawai. Dialah yang menggelorakan semangat perjuangan rakyat lewat semboyan-semboyan seperti: Perintah dari Rakyat, Untuk Rakyat dan oleh Rakyat, Indonesia untuk Bangsa Indonesia, dan Hands of Indonesia. Soekarno pun mengukuhkan gelar pahlawan nasional pada tanggal 28 Maret 1963 kepada Tan Malaka.
Semboyan-semboyan itu menghiasi di setiap jalan. Menyebar ke luar Jakarta. Propaganda yang ampuh memobilisasi kekuatan rakyat agar tetap berjuang mati-matian melawan penjajah.
Saat Indonesia baru merdeka, 9 September 1945, terjadi pertemuan antara Soekarno dan Tan Malaka di rumah dokter pribadi Soekarno, dr Soeharto, di Jalan Kramat Raya 82. Sehari sebelumnya Soekarno minta Soeharto agar menyediakan ruangan khusus untuk menerima seorang tamu yang tidak disebutkan namanya. Dalam percakapan itu, ruangan dibiarkan gelap dan selanjutnya berjalan sangat rahasia.
Saat datang, Tan Malaka yang ditemani Sajoeti Malik memperkenalkan dirinya dengan nama Abdul Radjak dari Kalimantan. Soeharto lalu membawanya ke kamar belakang, bertemu dengan Soekarno empat mata. Sajoeti bisa menangkap inti pembicaraan mereka. Sementara Soeharto tidak mengetahuinya.
Pertemuan itu kabarnya mengulas soal wasiat kepemimpinan setelah proklamasi kemerdekaan dikumandangkan. Soekarno rupanya khawatir keselamatannya sehingga perlu menunjuk penggantinya. Tan Malaka adalah orang yang dipercayai Soekarno untuk menggantikannya. Namun, tidak disetujui Wakil Presiden Mohammad Hatta. Hatta mengusulkan agar mandat itu diberikan kepada beberapa orang, yaitu: Tan Malaka, Iwa Koesoemasoemantri, Sjahrir dan Wongsonegoro.
Dalam gerakan politik, Tan Malaka memulai kiprahnya pada tahun 1921. Ideologi kiri menjadi pilihannya. Dia paling lantang melawan kolonialisme. Tan Malaka selalu berdiskusi dengan Semaun, tokoh komunis, mengenai pergerakan revolusioner untuk menyerang pemerintahan Hindia Belanda.
Awalnya, di tahun 1920-an, Partai Komunis Indonesia (PKI) adalah partai nasionalis pertama di Indonesia. Jauh sebelum Partai Nasionalis Indonesia (PNI) yang dipimpin Soekarno muncul. Kaderisasi dilakukan Tan Malaka dalam bentuk pendidikan politik kepada anggota-anggotanya dan Sarekat Islam. Dia mengajarkan doktrin perlawanan, keahlian berbicara dan kepemimpinan.
Hingga akhirnya memunculkan kekhawatiran Pemerintah Hindia Belanda sehingga dirinya dilarang menggelar pendidikan. Selain melakukan pendidikan politik, Tan Malaka juga memobilisasi gerakan kaum buruh dan tani untuk menentang praktik eksploitasi yang dilakukan perusahaan milik pemerintahan Hindia. Dia mengajarkan aksi-aksi mogok, serta mendistribusikan propaganda agar rakyat makin sadar jika hidupnya dirudakpaksa pemerintah kolonial.
Dalam kancah global, Tan Malaka mendapat tempat terhormat. Ia memiliki hak veto atas aksi-aksi partai komunis di dunia. Namun, dia kecewa karena Moskow yang menjadi sentral komunisme global, tak peduli dengan situasi Indonesia.
Dia menyakini, Indonesia tidak akan dapat melulu menggantungkan politiknya, sambil menunggu keruntuhan negeri-negeri kapitalis di dunia.
“Jika kapitalisme kolonial Belanda di Indonesia besok atau lusa jatuh, kita harus mampu menciptakan tata tertib baru yang kuat dan sempurna di Indoneisa. Kabobrokan kapitalisme kolonial Belanda nampak makin lama makin terang. Kapitalisme Eropa dan Amerika didukung oleh kaum sosial demokrat. Di tanah-tanah jajahan seperti Mesir, India, Filipina, imprealisme yang sedang goyah didukung oleh borjouasi nasional,” tulis Tan Malaka dalam bukunya berjudul: Menuju Republik Indonesia (Naar de ‘Republiek Indonesia).
Hingga akhir hayatnya, Tan Malaka disingkirkan dengan cara menggenaskan. Gelora revolusi yang disuarakannya, ternyata memakan dirinya sendiri.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s