Penjara yang Tak Membuat Jera

LUAR biasa “kesaktian” yang dimiliki Artalyta Suryani alias Ayin. Terpidana kasus suap senilai US$660 ribu (sekitar Rp6,1 miliar) kepada jaksa Urip Tri Gunawan yang ditangkap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) itu menunjukkan kepiawaiannya menaklukkan angkernya Rumah Tahanan (Rutan) Pondok Bambu, Jakarta Timur.

Orang kepercayaan Syamsul Nursalim, koruptor Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) itu berhasil mengubah penjara yang kumuh menjadi apartemen mewah. Di ruangannya berukuran 8×8 meter itu, tersedia spring bed, kursi sofa yang dilengkapi meja dan bantal, lemari, televisi, penyejuk udara, dan kulkas. Bahkan ada alat senam dan perawatan salon kecantikan.

Di kamar mandinya pun terdapat closet serta bak mandi seperti di hotel mewah. Ayin tak ubahnya ratu di Rutan Pondok Bambu. Penjara juga telah diubahnya menjadi taman bermain anak balitanya. Di sana ada kolam bola dan peralatan main balita lainnya. Dia juga dibantu seorang pembantu rumah tangga.
Hebatnya, dari balik istana penjara itu, Ayin juga masih mengendalikan bisnisnya.

“Ya kalau enggak, nanti karyawan saya harus di-PHK (pemutusan hubungan kerja). Nanti bagaimana,” dalih Ayin.

Fasilitas mewah yang dinikmati Ayin itu terungkap saat Tim Satuan Tugas (Satgas) Antimafia Hukum menggelar inspeksi mendadak (sidak) ke rutan tersebut. Rupanya tak hanya Ayin yang mendapat pelayanan khusus di rutan tersebut.

Inspeksi yang dilakukan tiga anggota Satgas yakni Yunus Husein, Denny Indrayana, dan Mas Achmad Santosa juga menemukan fasilitas mewah untuk Liem Marita alias Aling, narapidana kasus narkotika. Kondisi sel yang ditempati Aling tak jauh berbeda dengan Ayin. Sel itu disulapnya menjadi cantik.
Dinding sel dicat sedemikian rupa. Aling juga tidak merasa kegerahan karena tersedia penyejuk udara, kulkas. Hebatnya lagi, di sel Aling, tersedia tempat karaoke.

Aling dipenjara karena memiliki 57 ribu butir ekstasi senilai Rp5,7 miliar. Dia ditangkap polisi di lantai 12 Apartemen Artha Gading, Kelapa Gading Square, Jakarta. Janda beranak satu dan dikenal pemakai berat narkotika itu merupakan anggota sindikat narkotika internasional.

Sel yang ditepati Ayin dan Aling jauh berbeda dengan sel narapidana lainnya yang menghuni Blok Edelweiss Rutan Pondok Bambu. Di blok tersebut, satu sel berukuran 2×7 meter diisi 7 hingga 10 orang. Di dalam sel dilengkapi kasur lipat, televisi usang, tanpa pendingin udara atau kipas angin.

Temuan Satgas membuka ketar-ketir Direktur Lembaga Permasyarakatan (Lapas) Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia (Depkumham) Untung Sugiono. Apalagi, temuan itu baru diungkap ke publik dikala Menteri Hukum dan HAM Patrialis Akbar sedang gencar melakukan pemantauan di sejumlah lapas.
Esoknya, Untung berserta jajarannya memeriksa Rutan Pondok Bambu. Sel mewah para bandit kelas kakap itu pun disapu bersih dari fasilitas mewah. Ayin beserta rekan-rekannya dikembalikan ke Blok E bersama tahanan lainnya.

Untung lalu mengumpulkan beberapa narapidana yang mendapat fasilitas mewah. Selain Ayin dan Aling, Untung juga memeriksa kondisi sel yang ditempati Darmawati Dareho dan Ines Wulandari. Keduanya merupakan terpidana kasus korupsi Departemen Perhubungan.

Tak sepatah kata pun keluar dari mulut Ayin saat menjawab pertanyaan wartawan. Dia justru berupaya menyembunyikan wajahnya dibalik tubuh Ines. Sementara Darmawati menolak tuduhan jika dirinya mendapatkan fasilitas mewah dari petugas penjara.

“Saya tidur di lantai, bersama-sama. Tidak ada AC,” katanya dengan nada tinggi.

Baginya, tidak ada yang salah dengan fasilitas di penjara. Dia bahkan balik bertanya kepada wartawan tentang tujuan didirikannya penjara.

“Saya tanya, konsep lembaga kemasyarakatan itu apa sih? Konsepnya kan membina, bukan menyakiti, membantai. Tetapi mempersiapkan mental kami ketika keluar nanti,” kata dia.

Seharusnya, Darmawati menegaskan, negara memberikan uang banyak biar penghuni penjara nyaman. Nyatanya, kata dia, negara tidak punya. “Kami seperti ayam, yang tidur tumplek-tumplek,” cetusnya.

Tapi, bukankah penjara yang nyaman justru tak akan membuat jera para koruptor, makelar kasus, pengendar narkotika atau para bandit kelas kakap lainnya? Kalau penjara dapat diubah menjadi istana, tentu para bandit yang berkantong tebal–tidak pernah kapok atas kejahatan yang pernah dilakukannya.
Mantan Jaksa Agung Muda Intelijen (Jamintel) Mayjen (purn) Syamsu Djalal menilai temuan adanya perlakuan khusus terhadap Ayin, Aling dan beberapa narapidana lainnya bukan sesuatu yang baru.

“Perlakuan khusus itu sudah lama, buktinya bandar narkoba masih bisa mengendalikan peredaran narkoba dari sel. Bahkan, ada narapidana yang mendirikan pabrik narkoba di penjara. Apalagi ini seorang Ayin,” katanya.

Syamsu menduga Ayin yang dikenal sebagai makelar kasus–dengan koneksi yang luas–masih mengendalikan perkara yang ditanganinya dari dalam tahanan.

“Tidak menutup kemungkinan Ayin masih bisa memainkan perkara dari selnya,” kata Syamsu.

Dia menduga Ayin masih bisa mengendalikan pengajuan memori kasasi PK yang diajukan perusahaan Ayin PT Graha Metropolitan Nuansa (GMN) ke Mahkamah Agung (MA) terkait sengketa dengan PT Harangganjang soal lahan di Kaveling 63 Jalan Sudirman, Jakarta Selatan.

Padahal, kata dia, MA sebelumnya sudah memutuskan memenangkan PK yang diajukan PT Harangganjang terkait kepemilikkan lahan tanah tersebut. “Namun anehnya PT GMN bisa mengajukan PK atas PK,” katanya.

Terbongkarnya istana di dalam penjara kembali membuktikan jika hukum di negeri ini hanya berlaku bagi orang kecil saja. Seorang yang terbukti maling ayam mendapatkan hukuman hingga berdarah-darah dan dijebloskan ke penjara yang pengap tiada tara. Sementara koruptor berleha-leha di dalam istana penjara.

Staf Khusus Presiden bidang Hukum dan Pemberantasan Korupsi Denny Indrayana menilai, perlakuan diskriminatif yang diterima sesama narapidana menjadi bagian dari praktik mafia hukum. “Itu bagian praktik mafia hukum,” kata Denny yang ditugaskan menjadi Sekretaris Satgas Antimafia Hukum di Gedung Mahkamah Agung (MA), di Jakarta, Senin (11/1).

Perlakuan istimewa beberapa narapidana memang sangat miris. Pasalnya, ribuan narapidana justru mendekam di penjara yang tidak manusiawi. Menteri Hukum dan HAM Patrialis Akbar mengaku telah mengunjungi beberapa Lapas di Indonesia. Kondisinya sangat memprihatinkan. Patrialis mencontohkan Lapas di Batam. Para napi harus berjubel-jubel di tahanan. “Ini tidak boleh dibiarkan berlarut-larut. Kondisi ini membuat sejumlah warga binaan tertekan tentunya,” tegas Patrialis.

Menteri dari Partai Amanat Nasional (PAN) itu miris saat menemukan nenek usia 70 tahun ditahan di Lapas Batam. Patrialis juga menjumpai empat bocah berusia di bawah 12 tahun ditahan di Lapas Tanggerang.
“Kondisi ini tidak bisa dipertahankan terus-menerus, kita perlu Lapas baru,” tegasnya.

Ketua Dewan Pengurus Transparency International Indonesia Todung Mulya Lubis mendesak Menteri Hukum dan HAM Patrialis Akbar mencopot Untung Sugiono terkait fasilitas mewah yang dinikmati Ayin, Aling dan beberapa narapidana lainnya.

“Tidak ada alasan untuk tak memberhentikan Dirjen Lapas,” kata Todung.

Syamsu juga menilai Dirjen Lapas harus dicopot dari jabatannya. “Dirjen Lapas yang bertanggung jawab atas perlakuan istimewa terhadap Ayin,” katanya.

Tapi, Untung memang beruntung. Patrialis tidak mencopotnya. Patrialis hanya menonaktifkan Kepala Rutan Pondok Bambu Jakarta, Sarju Wibowo. Patrialis mengangkat Catur Budi Patayatin sebagai Pelaksana Tugas Kepala rutan tersebut. Patrialis juga merotasi sejumlah petugas di Dirjen Lapas di seluruh Indonesia. Tujuannya, agar tidak terbentuk istana di Lapas.

Masalah pembenahan Lapas tak sekedar mencopot atau merotasi petugas penjara. Patrialis juga dituntut untuk membenahi kebobrokan petugas penjara. Banyak fakta mengenai modus pelanggaran yang dilakukan petugas Lapas. Buktinya, pada 2009 lalu, Dirjen Lapas mencatat, jumlah pengaduan masyarakat terkait pelanggaran petugas lapas mencapai 67 aduan. Laporan tersebut terkait praktik pungutan liar (22 aduan), penganiayaan (15 aduan), penyalahgunaan jabatan (15 aduan), pengeluaran tidak sah (5 aduan) dan pemerasan (5 aduan), serta pengaduan lainnya (17 aduan).

Sementara pelanggaran pegawai pemasyarakatan pada 2009 menunjukkan peningkatan sebanyak 17 kasus dibanding tahun 2008. Total pelanggaran pegawai pemasyarakatan selama tahun 2009 mencapai 238 kasus, sedangkan 2008 sebanyak 221 kasus.

Jenis pelanggaran pegawai pemasyarakatan terdiri atas pelanggaran ringan sekitar 54 kasus, sedang (77 kasus), berat (80 kasus) dan terlibat narkotika (27 kasus) sehingga totalnya mencapai 238 kasus.
Persoalan lainnya adalah keterlibatan petugas penjara dalam aksi kejahatan. Direktorat Jenderal Lembaga Pemasyarakatan (Ditjen Lapas) mencatat jumlah pelanggaran petugas lapas pada 2009 meningkat 17 kasus dibanding 2008.

Jumlahnya mencapai 238 kasus. Jenis pelanggaran pegawai pemasyarakatan terdiri atas pelanggaran ringan sekitar 54 kasus, sedang (77 kasus), berat (80 kasus) dan terlibat narkotika (27 kasus) sehingga totalnya mencapai 238 kasus. Khusus untuk kasus penggunaan narkotika, pada 2009 mengalami peningkatan menjadi 27 kasus dari 10 kasus pada 2008.

Ditjen Lapas juga menerima 67 pengaduan masyarakat terkait pelanggaran petugas. Laporan tersebut terkait praktik pungutan liar (22 aduan), penganiayaan (15 aduan), penyalahgunaan jabatan (15 aduan), pengeluaran tidak sah (lima aduan) dan pemerasan (lima aduan), serta pengaduan lainnya (17 aduan).
Khusus untuk pelanggaran pegawai yang terlibat narkotika pada 2009 mengalami peningkatan menjadi 27 kasus dari 10 kasus pada 2008. Ditjen Lapas telah menerapkan hukuman berupa pemberhentian sebagai pegawai negeri sipil (PNS) terhadap karyawan lapas yang melakukan pelanggaran berat.

Namun, upaya yang harus dilakukan tidak cukup hanya menjatuhi sanksi petugas saja. Tapi, perlu dipikirkan cara mengembalikan fungsi lapas sebagai tempat pembinaan bagi narapidana.
Petugas lapas bertanggung jawab memberikan bekal bagi narapidana agar dapat menopang hidupnya setelah keluar dari penjara. Nyatanya, Lapas gagal menjadi tempat untuk mengubah perilaku jahat narapidana yang telah dibebaskan.

Ironisnya, narapidana di Lapas bahkan masih bisa melakukan tindak kejahatan. Buktinya, Badan Narkotika Nasional (BNN) pernah berhasil membongkar pembuatan dan peredaran narkotika yang dikendalikan dari Lapas Nusakambangan, Jawa Tengah.

Dugaan tersebut terungkap setelah para tersangka mengaku jika pembuatan sabu-sabu dan peredarannya diatur dari rekannya yang menjadi narapidana Lapas Nusakambangan.

September 2009 lalu, Polres Cirebon juga berhasil membekuk tiga anggota kawanan pengedar narkoba jenis ganja kering. Ketiganya adalah Arief Jaelani, Sugiyandi, dan Adi Abdillah. Dari penyidikan polisi diketahui pengaturan peredaran ganja itu dilakukan Indra, narapidana Lapas Cijoho, Kuningan yang saat ini masih menjalani hukuman.

26 Desember 2009 lalu, petugas Lapas kelas I Cirebon juga berhasil menggagalkan upaya penyelundupan 1.000 butir pil dextro yang dilakukan oleh seorang pembesuk. Upaya penyelundupan tersebut dilakukan oleh Kartini, saat membesuk Susilo, penghuni lapas yang menjalani hukuman penjara selama 20 bulan. Kartini datang bersama dua anaknya. Gerak-geriknya rupanya dipantau petugas dari CCTV. Aksi keduanya pun berhasil diungkap.

Sejumlah fakta mengerikan juga beberapa kali tersiar dari Lapas. Membuat nyali sebagian besar orang begidik. Lapas seperti sangkar yang bisa membawa maut penghuninya. Di sanalah berkumpulnya para bandit. Mulai dari kelas teri hingga kelas kakap, yang paling kuat hingga yang paling lemah.
Di sana, kekerasan sudah biasa. Perang antargeng, antarnarapidana maupun antara narapidana dan petugas sipir sering terjadi. Kekerasan yang mengakibatkan kematian sudah sering terjadi.

April 2006 lalu, Lapas Cipinang dihebohkan perkelahian massal antarnarapidana yang menetap di Blok A dengan Blok E. Di Lapas tersebut juga pernah meledak kerusuhan massal pada Oktober 2001 lalu yang melibatkan ratusan napi penghuni Blok I Lapas Cipinang. Dua orang tewas dan puluhan luka parah dalam peristiwa tersebut.

Lapas juga menjadi sumber penyakit yang mematikan. Di Jambi, sepanjang 2009, tujuh narapidana meninggal dunia akibat sakit dan bunuh diri. Satu di antara narapidana yang tewas itu diduga mengidap penyakit HIV AIDS. Virus mematikan itu kabarnya berasal dari narapidana narkoba.

Namanya Syamsuddin alias Ahui, warga Jakarta yang ditangkap karena kasus narkoba. Ahui yang tewas 29 Desember 2009 diduga mengonsumsi obat racikannya sendiri di dalam Lapas. Sehari sebelumnya, Ahui kembali lagi ke dalam sel tahanannya di Blok A1 Lapas Jambi setelah mendapat perawatan dari RSUD Jambi.

Di Lapas Paledang Bogor dikabarkan sebanyak 12 orang narapidana terjangkit HIV/AIDS. Menurut Ketua Tim Kesehatan Lapas Paledang bidang HIV/AIDS Benni Ginting ke-12 napi ini terdiri atas 10 orang HIV positif (suspect HIV) dan dua orang sudah terjangkit AIDS.

Di Bali, Kelompok Kerja Penanggulangan HIV/AIDS Lapas Kerobokan menyebutkan, ada tujuh penghuni lapas yang meninggal akibat terinfeksi HIV AIDS positif selama 2009. Ketua Kelompok Kerja Penanggulangan HIV AIDS Kapas Kerobokan Anak Agung Gde Hartawan menjelaskan, pengidap HIV AIDS positif yang meninggal dari tahun ke tahun bersifat fluktuatif.

Dia mencatat, di tahun 2008 ada enam orang yang meninggal dunia, tahun 2007 sebanyak lima orang, dan pada 2006 sebanyak tiga orang. Sebagian besar pengidap HIV sudah terinfeksi sebelum masuk lapas dan penularan tertinggi karena hubungan seksual, bukan lagi melalui jarum suntik antarsesama pengguna narkoba.

Penularan HIV AIDS di lapas itu didominasi para pengguna jarum suntik. Namun, sejak 2006 mulai ditemukan penularan perilaku seksual. Penyebaran HIV AIDS sangat rawan di penjara. Tingginya mobilitas penghuni menjadi faktor utamanya. Sulit dideteksi sehingga menyebar terlebih dahulu sebelum diantisipasi. Tidak jarang ditemukan narapidana yang kondisi kesehatan sudah sangat memprihatinkan.

Kondisi Lapas juga sangat tidak manusiawi. Patrialis mengaku miris karena melihat para narapidana yang hidup berjubel dalam satu ruangan. Menurut dia, kondisi penuh sesak menjadi pemicu beberapa tahanan kabur. Kondisi tersebut tidak boleh dipertahankan karena narapidana juga manusia yang memiliki hak mendapatkan kenyamanan saat menghuni Lapas.

“Kita akan mengubah ini agar layanan di lapas lebih baik dan mereka yang di dalam juga merasa nyaman, diperlakukan secara manusiawi,” janji Patrialis.

Dia menyoroti kondisi penjara yang tidak layak akibat padatnya jumlah napi. Sebagian besar lapas kapasitasnya sudah tidak layak, karena overkapasitas, kamar yang ukurannya 3×4 meter diisi 20 orang. Di tahun 2009, jumlah narapidana yang menghuni lapas mencapai 132.372 orang.

Jumlah penghuni lapas terus meningkat tiap tahunnya. Pada 2008 tercatat, jumlah penghuni penjara mencapai 130.075 orang dengan kapasitas 88.599 orang atau kelebihan kapasitas sebanyak 41.476 orang. Tahun 2007 menunjukkan jumlah penghuni lapas sekitar 127.238 orang dan kapasitasnya 86.550 orang atau kelebihan kapasitas mencapai 40.688 orang, sedangkan jumlah penghuni penjara pada 2006 sebanyak 112.744 orang dan kapasitasnya 76.550 orang dengan kelebihan kapasitas sekitar 112.744 orang.

Menurut Untung Sugiyono, kelebihan kapasitas lapas menyebabkan lemahnya pengawasan dan pelayanan kepada narapidana. Kondisi itu juga rentan penularan penyakit, kematian, serta peredaran narkotika.
Dirjen Lapas memproyeksikan penambahan kapasitas lapas pada 2010 hingga 4.116 orang atau menjadi 93.565 orang dengan memanfaatkan lapas/rutan yang sudah ada di daerah.

Penambahan kapasitas meliputi daerah Aceh sebanyak 500 orang, Sumatera Barat (350 orang), Lampung (350 orang), Banten (100 orang), Jawa Barat (578 orang), Jawa Tengah (328 orang), Sulawesi Tengah (150 orang) dan Nusa Tenggara Timur (500 orang).

Di tahun 2010, pemerintah telah menganggarkan dana sebesar Rp1 triliun untuk membangun lapas baru di Indonesia. “Rencananya kita akan membangun 20 hingga 30 Lapas baru untuk meningkatkan layanan di lapas,” ujar Patrialis.

Selain membangun lapas baru, Patrialis akan menerapkan cross program, yaitu dengan memilih dan memisahkan warga binaan lapas yang memiliki masa tahanan cukup lama dan kasus berat ke lapas yang tingkat keamanan lebih berkualitas seperti di daerah Jawa yakni Nusa Kambangan atau Lapas Sukamiskin.

Pada dasarnya, tujuan dibentuknya Lapas adalah sebagai sistem pemasyarakatan dalam rangka membentuk warga binaan pemasyarakatan agar menjadi manusia seutuhnya, menyadari kesalahan, memperbaiki diri dan tidak mengulangi tindak pidana sehingga dapat diterima oleh lingkungan masyarakat. Mantan narapidana juga diharapkan dapat berperan aktif dalam pembangunan.

Tapi, banyak mantan narapidana kembali berbuat kejahatan. Bahkan, mereka beranggapan tinggal di penjara lebih nyaman. Pasalnya, dari balik penjara mereka mendapat penghasilan, tanpa harus banting tulang. Syaratnya, dia punya kekuatan di penjara.

M. Yamin Panca Setia

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s