Pangkas Birokrasi untuk Kejar Target


TARGET lifting (angkut) minyak dipatok 927 ribu barel per hari. Realisasi lifting itu diyakini bisa meringankan beban APBN dari tekanan harga minyak dunia yang melejit hingga menembus level US$120 per barel.

Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Migas (BP Migas) dan seluruh kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) perminyakan harus memeras keringat mengangkut minyak untuk merealisasikan target itu. Jika target meleset, maka anggaran negara akan defisit.

“Kalau selama setahun terjadi penurunan produksi rata-rata 10 ribu barel per hari, maka defisit APBNP mencapai Rp2 triliun,” ujar Anggito Abimanyu, Kepala Badan Kebijakan Fiskal Departemen Keuangan.

Raden Priyono, Kepala BP Migas yang baru menggantikan Kardaya Warnika telah diwanti-wanti untuk tidak mengulangi kegagalan tahun sebelumnya, ketika lembaganya tak mampu memenuhi target lifting. “Kami minta Kepala BP Migas mampu meningkatkan produksi dan menekan cost recovery,” ujar Ketua Komisi VII DPR Airlangga Hartarto.

Lembaga yang secara struktural di bawah Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) itu memang punya prestasi buruk soal merealisasikan target lifting. Setidaknya, sepanjang 10 tahun ini, realisasi lifting selalu menurun, dan tidak memenuhi target (lihat tabel: Realisasi Produksi Minyak). Target lifting 927 ribu barel per hari adalah target terendah yang harus direalisasikan BP Migas.

Seperti mempertegas pentingnya pencapaian target, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Purnomo Yusgiantoro akhir bulan lalu mengumpulkan Direktur Jenderal Migas, BP Migas, dan 41 KKKS. Kontraktor besar yang hadir dalam pertemuan ini antara lain Chevron, Total, Pertamina, ConocoPhillips, PetroChina, dan ExxonMobil.

Menurut Direktur Jenderal Minyak dan Gas Luluk Sumiarso, pemerintah akan terus memantau kinerja KKKS guna memastikan pencapaian target lifting. “Kami cek angka-angka itu, kami masukan dan verifikasi. Kami serius, mengecek dan meyakinkan, bahwa target itu bisa dicapai,” ujarnya.

Pemerintah akan selalu memutakhirkan laporan KKKS. “Kalau ada hal-hal yang masih perlu diperbaiki, masih ada corrective action. Masih ada waktu kita,” katanya.

Tapi, Luluk tidak bisa memastikan apakah target itu bisa tercapai sepanjang tahun ke depan. Dari laporan para KKKS, Luluk menyatakan, ada yang memproduksi di bawah target, dan ada yang di atas target.

Mantan Kepala BP Migas Kardaya Warnika mengungkapkan, dalam rencana kerja dan anggaran yang disampaikan seluruh KKKS kepada lembaganya, seluruh kontraktor menyatakan target 1,043 juta barel per hari pada 2008 sulit tercapai. Menurut dia, secara teknik perminyakan, cara menghitung lifting tidak seperti teori ekonomi, melainkan tergantung dari cadangan dan kemampuan produksi.

“Kalau kemampuan produksi 1 juta barel per hari, terus harga minyak naik kira-kira US$200 per barel lantas, kita tidak harus memproduksi 2 juta (barel per hari), karena kemampuannya 1 juta (barel per hari),” ujar Kardaya.

Pada Januari lalu, BP Migas mencatat, rata-rata produksi minyak hanya mencapai 955.840 barel per hari, Februari 986.840 barel per hari, Maret 985.870 barel per hari, dan 1-17 April 981.88 barel per hari.

Karena itu, Dodi Hidayat, Deputi Operasional BP Migas optimistis target lifting tercapai. “Karena proyeksi yang disusun berdasarkan data-data production sharing lebih dari 1 juta barel per hari.”

Untuk memastikan realisasi target lifting, BP Migas akan terus mengoptimalkan eksplorasi di sejumlah lapangan muda. Laju penurunan produksi lapangan-lapangan tua di Indonesia rata-rata di atas 10 persen. “Kalau hanya mengandalkan lapangan tua, sangat tidak mungkin, di mana-mana juga sangat tidak mungkin. Harus ada temuan baru hasil eksplorasi. Kalau tidak, kita akan sangat susah. Realisasi produksi terus turun karena sifatnya alamiah,” ujarnya.

Ketua Asosiasi Pengeboran Minyak dan Gas Bumi Indonesia Bambang Purwohadi pun meyakini target bisa dipenuhi. “Kalau 1,2 juta-1,3 juta barel per hari, harus kerja keras karena harus memilih lapangan tua untuk meningkatkan produksinya.”

Potensi lapangan yang dieksplorasi juga sangat besar. Dia menyebut beberapa lapangan yang seharusnya dalam dua tiga bulan ini menyumbang produksi skala besar seperti Sumur Tangguh di Papua, ExxonMobil di Cepu, dan Blok A yang digarap Medco di Aceh. “Lapangan itu diharapkan bisa menutup terget lifting,” ujarnya.

Hanya saja, Presiden Direktur Medco E&P Indonesia Lukman Mahfoedz mengingatkan, kini perusahaan migas harus berebut peralatan dan sumber daya manusia untuk mencapai target. Peralatan pengeboran dan sumber daya manusia menjadi mahal saat ini. “Kebanyakan lari ke Timur Tengah,” ujarnya.

Khusus untuk menjaga produksi di lapangan tua, kata Lukman, teknologi yang dibutuhkan pun harus lebih baru. Teknologi baru, ongkosnya pun lebih mahal. Karena itu, dia meminta masyarakat menyadari jika cost recovery pun akan naik.

Adapun Wakil Direktur Utama Pertamina Iin Arifin Takhyan menyatakan, pihaknya sulit memenuhi target yang dibebankan BP Migas kepada perseroannya. “Kami pesimistis mencapai angka 145 ribu barel per hari,” katanya. Pertamina, hanya optimistis mencapai produksi 132 ribu barel per hari sesuai target rencana kerja dan anggaran perusahaan (RKAP).

Melihat kenyataan itu, ahli perminyakan dari Institut Teknologi Bandung (ITB) Andang Bachtiar pesimistis target lifting tercapai. “Mana sih lapangan baru yang disetujui untuk PoD (plant of development), dan mulai produksi tahun ini? Kayaknya hanya sebagian dari (Blok) Cepu saja,” kata Andang. Dia menilai, sebenarnya BP Migas bisa menggenjot produksi minyak lebih dari angka yang ditetapkan APBNP 2008 jika agresif melakukan pencarian lapangan-lapangan baru.

Pencarian lapangan baru sejak beberapa tahun terakhir menjadi tersendat. Lukman menilai rumitnya birokrasi menjadi salah satu penyebabnya. “Sekarang kan sudah disederhanakan, mudah-mudahan pencarian lapangan baru menjadi lebih mudah dilakukan,” katanya. Penyederhanaan birokrasi ini pun menjadi kunci bagi tercapainya target lifting tahun ini.

M. Yamin Panca Setia

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s