Beragam Jurus Miskin Pencapaian

HARGA minyak mentah di pasar internasional yang bersifat fluktuatif tentu tak hanya dijawab dengan cara berhemat. Apalagi kebutuhan akan energi sangat vital dan terus meningkat. Sekitar 50 persen kebutuhan energi dunia bersumber dari bahan bakar minyak. Sisanya, disuplai dari batu bara dan gas alam. Adapun energi surya, angin dan sebagainya, belum memberi kontribusi yang signifikan.

Tuntutan diversifikasi energi pun menjadi keniscayaan. Tetapi, diversifikasi energi ini belum berjalan baik. Pengamat Perminyakan Kurtubi menilai, realisasi manajemen diversifikasi energi sangat kacau. Dia mencontohkan diversifikasi energi dengan mengganti minyak tanah ke elpiji, dan mengurangi pemakaian premium dan memakai bahan bakar gas (BBG) untuk angkutan umum. “Yang memakai BBG itu hanya Transjakarta dan bajaj saja. Mestinya didorong sehingga subsidi tidak dikurangi.”

Masalah pun makin pelik lantaran kenaikan harga minyak di pasar internasional mendorong Pertamina menaikkan harga bensin jenis pertamax di dalam negeri menjadi Rp8.100 per liter baru-baru ini. Akibatnya, pemilik mobil yang dulunya menggunakan pertamax berganti memakai bensin jenis premium yang bersubsidi, seharga Rp4.500 per liter.

Bila kondisi ini dibiarkan maka konsumsi premium bersubsidi hingga akhir tahun akan melebihi target pemerintah, yakni 16,9 juta kiloliter. Pada Februari 2008, PT Pertamina mencatat penjualan pertamax sebesar 24 ribu kiloliter, sementara pada Maret turun menjadi hanya 20 ribu kiloliter.

Kebijakan lainnya yang juga tak maksimal pencapaiannya adalah realisasi Instruksi Presiden No.1/2006 tentang Penyediaan Bahan Bakar Nabati. Kepala Negara menginstruksikan kepada 13 Departemen dan Kementerian Negara, serta seluruh kepala daerah untuk mempercepat penyediaan, dan pemanfaatan biofuel sesuai tugas dan fungsi masing-masing instansi.

Berdasarkan cetak biru yang disusun Tim Nasional Bahan Bakar Nabati, telah ditetapkan sasaran pengembangan bahan bakar nabati sampai 2010 yaitu biodisel dari minyak kelapa sawit (6 juta ton), biodisel atau dari minyak tanaman jarak (2,25 juta ton), bioetanol dari tebu (3,75 juta ton), serta bioetanol dari singkong (4,6 juta ton).

Hitungan di atas kertas memang terasa gurih. Betapa tidak, biofuel diprediksi mengurangi jatah pemakaian BBM (10 persen), penghematan devisa sebesar US$10 miliar, pengurangan lahan terlantar lima juta hektar, menciptakan lapangan kerja untuk 3,6 juta orang, serta mengembangkan desa mandiri.

Tapi, sejumlah kebijakan itu tidak optimal tercapai, karena kedodoran di tingkat implementasi. Sekretaris Jenderal Masyarat Energi Terbarukan Indonesia (METI) Rifky Ibrahim menilai, kebijakan, studi maupun kampanye pengembangan energi terbarukan, termasuk biofuel, baru sebatas wacana. “Semua aturan dan UU yang dibuat tidak aplikatif.”

Salah satu penyebab masalah itu adalah ketidakjelasan standar harga. “Bagaimana orang mau menjual biofeul kalau tidak jelas harganya,” ucapnya. Pengembangan energi terbarukan lainnya seperti air dan panas bumi, juga menuntut penetapan harga yang atraktif di bawah harga bahan bakar minyak.

Ketidaksinkronan kebijakan dengan implementasi diakui Kusmayanto Kadiman, Menteri Riset dan Teknologi. Menurut dia, masing-masing departemen dan kementerian masih kurang fokus dalam pengembangan energi alternatif. “Kami masih terikat duwekku yo duwekku, duwekmu duwekmu (punyaku punyaku, punyamu punyamu),” ujarnya.

Akibatnya, kebijakan energi belum diikuti oleh langkah-langkah konkret dari masing-masing kementerian dan departemen teknis. Menurut dia, Indonesia setidaknya harus mencontoh Brasil, yang mengupayakan biofuel 20 persen.

Di Brasil, Menteri Pertanian menjadi panglima untuk memasok tebu dan menyediakan lahan bagi produksi bioetanol. Atau di Jerman, yang mengembangkan energi angin dengan otoritas kendali di bawah naungan Kementerian Lingkungan Hidup. “Kita belum bisa,” kata Kusmayanto.

Untuk memacu penggunaan sumber energi alternatif, Guru Besar Universitas Diponegoro Sudharto menilai perlu adanya insentif bagi dunia usaha. Insentif bisa berupa keringanan bea masuk, atau pajak untuk mendorong dunia industri mengonversi minyak ke sumber energi terbarukan.

Saat ini komposisi penggunaan sumber energi nasional masih terfokus pada minyak bumi yakni mencapai 51,6 persengas alam sebanyak 28,5 persen, batu bara 15,34 persen. Adapun energi terbarukan seperti mikrohidro, dan panas bumi hanya menyumbang 5 persen.

M. Yamin Panca Setia

Photo: Tempo

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s