Bisnis Keruk Makin Untung



PARA investor paham betul jika kebutuhan dunia akan komoditas tambang akan melonjak seiring melambungnya harga minyak dunia hingga US$136 per barel. Makanya, investor pun makin agresif menggarap potensi tambang di Indonesia lantaran akan menuai untung.

Di tambang batubara misalnya. Kebutuhan dunia akan batubara yang makin meningkat mendorong investor untuk berbondong-bondong tanamkan investasi di Indonesia sebagai produsen batubara terbesar di dunia.

Reliance, salah satu grup industri terkemuka di India misalnya. Setelah mendapat restu dari Pemerintah Kabupaten Musirawas, Sumatera Selatan, dalam waktu dekat ini akan berinvestasi senilai Rp30 triliun untuk mengeksplorasi tambang batubara di Muara Lakitan dan Rawas Ilir, Musirawas, Sumatera Selatan.

”Insya Allah penandatangan MoU-nya akan dilakukan saat presiden SBY datang ke Musirawas akhir Juni mendatang,” ujar Bupati Musirawas H Ridwan Mukti beberapa waktu lalu.

Reliance tertarik dengan cadangan batubara Musirawas yang jumlah mencapai sekitar dua miliar ton. Batubara itu kelak akan digunakan untuk pembangkit listrik di India. Cadangan batubara Musirawas yang mengandung nilai kalori 5.000-6.000 itu tersebar di Muara Kelingi, Muara Lakitan, Muara Beliti, Nibung dan Rawas Ilir.

Untuk tahap awal, Reliance akan membangun jaringan rel kereta api (KA) yang menghubungkan daerah tersebut ke pelabuhan Pulau Baai, Bengkulu.

Sementara di Papua Barat, sebanyak 15 perusahaan penanaman modal dalam negeri (PMDN) dan perusahaan penanaman modal asing (PMA) tengah menunggu proses perizinan dari Menteri Pertambangan dan Sumber Daya Mineral (ESDM) setelah memperoleh rekomendasi dari Bupati Teluk Bintun untuk mengeksplorasi tambang batubara di daerah tersebut.

Kepala Dinas Pertambangan dan Mineral Kabupaten Teluk Bintuni, Papua Barat, Markus Sraun mengatakan, wilayah distrik dan kampung di Teluk Bintuni menyimpan potensi tambang batubara berskala besar menjadi bahan baku pembangkit listrik tenaga uap.

Menurut dia, bila hasil eksplorasi tambang batubara diketahui kapasitasnya, maka investor diberikan peluang mengelola bahan baku batubara menjadi tenaga listrik guna menunjang pembangunan dan aktivitas masyarakat di daerah pedalaman Kepala Burung itu.

Tingginya minat investor itu diakui Direktur Eksekutif Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI) Supriatna Suhala. ”Sekarang keadaan demand lagi tinggi. Sebagai produsen, kita bisa sombong. Sekarang banyak pendatang dari Korea dan India yang ingin membeli harga batubara Indonesia. Sekarang pembeli yang mencari produsen,” ujarnya.

Supriatna menjelaskan, pergerakan harga batubara saat ini lagi booming mengikuti harganya minyak. Untuk high range coal, harganya sudah sampai US$90 dollar per ton, bahkan spot mungkin di atas 100 dollar AS per ton—hampir setara dengan harga minyak. Berbeda dengan lima tahun lalu harga batubara hanya sepertiganya harga minyak.

Harga batubara yang melonjak memberi untung berlipat sejumlah perusahaan tambang batubara. PT Bumi Resources Tbk di kuartal I/2008 labanya naik 28,8 persen menjadi US$103,3 juta atau setara Rp961,72 miliar dibandingkan dengan laba bersih pada kuartal I tahun lalu US$80,2 juta atau setara Rp746,66 miliar.

Bumi menargetkan peningkatan produksi tahun ini menjadi 64 juta ton dan target penjualan 61 juta ton dengan harga US$70 per ton atau naik dibandingkan dengan harga pada kuartal I/2007 yaitu US$44 per ton.

Sementara PT Tambang Batubara Bukit Asam Tbk meraup laba bersih Rp760,2 miliar atau naik setengah kali laba bersih 2006.

Besarnya kebutuhan dunia akan batubara dipastikan akan mendongkrak produksi batubara Indonesia. Menurut data yang dimiliki Departemen ESDM, bila dibandingkan dengan jumlah produksi pada tahun 2007 sebesar 2.313 ribu BOEPD (barel oil equaivalen per day), produksi batubara diperkirakan akan meningkat sebesar 46 ribu BOEPD menjadi 2.359 ribu BOEPD di tahun 2008.

Investor juga agresif menggali potensi nikel Indonesia dengan cara berafiliasi dengan perusahaan tambang dalam negeri untuk membangun pabrik pengolahan nikel.

Salah satunya dengan PT Aneka Tambang (Antam) Tbk. Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang bergerak di sektor terus membangun afiliasi dengan perusahaan lain untuk membangun pabrik agar hasil tambang Indonesia bisa diolah di dalam negeri sehingga menggenjot keuntungan berlipat.

Dengan BHP Billiton—perusahaan tambang berbendera Australia misalnya. Bersama Antam, Billiton tengah bersiap-siap membangun pabrik pengolaan nikel di Halmahera Timur (Haltim), Maluku Utara.

Nilai investasi mencapai Rp10 triliun. Pabrik itu nantinya diharapkan akan menjadi perusahaan terbesar di dunia dengan kapasitas produksi mencapai 100 ribu ton nikel per tahun. Realisasi pembangunan pabrik diperkirakan mulai awal 2009 nanti.

Antam juga berafiliasi dengan Jindal Stainless Limited—perusahaan asal India. 13 Mei 2008 lalu, kedua perusahaan itu menandatangani Joint Venture Agreement (JVA) untuk membangun fasilitas peleburan nikel dan stainless steel di Konawe Utara, Sulawesi Tenggara.

Kepemilikan Antam dalam proyek tersebut adalah sebesar 55 persen dan Jindal sebesar 45 persen.

Pabrik tersebut direncanakan memiliki kapasitas sebesar 20.000 tonnes per annum (tpa) nikel dalam feronikel dan sekitar 250.000 tpa untuk stainless steel yang sebagian besar berupa high quality stainless steel seri 300.

Produk akhir dapat berupa stainless steel slabs atau stainless steel long products.

Proyek tersebut tersebut akan memeroses bijih nikel yang berasal dari konsesi Antam di lokasi Mandiodo. Proyek ini akan menjadi proyek pertama di dunia.

Gencarnya investor menggarap tambang nikel Indonesia lantaran harga komoditas tambang itu sedang naik. Harga jual feronikel yang didasarkan pada harga internasional di London Metal Exchange misalnya, naik 60 persen menjadi US$16,16 per pon, atau US$35.627 per ton.

Nilai penjualan bijih nikel naik 144% menjadi Rp4,894 triliun seiring dengan peningkatan volume penjualan menyusul kenaikan permintaan dari China dan kenaikan harga penjualan bijih nikel saprolit atau bijih kadar tinggi.

Harga jual saprolit yang dijual FOB (free on board) naik 49 persen menjadi US$82,43 per wmt.

Nilai penjualan emas naik 72% menjadi Rp1,034 triliun seiring dengan peningkatan volume penjualan dan harga jual. Pada tahun 2007, harga emas naik 15 persen menjadi US$702,63 per troy ounce. Harga emas didasarkan pada harga internasional London Bullion Market Association.

Nilai penjualan perak yang merupakan by-product emas, naik 47 persen menjadi Rp108 miliar, seiring dengan kenaikan volume penjualan sebesar 28% menjadi 26.949 kg (866.430 troy oz) dan produksi sebesar 24.126 kg (775.669 troy oz). Harga jual perak tercatat juga naik 15 persen menjadi US$13,64 per troy ounce. Antam mengestimasikan produksi emas tahun 2008 mencapai 2.980 kg (95.809 troy oz) dan produksi perak sebesar 20.703 kg (665.617 troy oz).

Harga komoditas yang melonjak di tahun 2007 itu membuat Antam meraup untung yang mencengangkan. Nilai penjualan Antam pada tahun 2007 naik signifikan sebesar 113 persen menjadi Rp12,008 triliun dibandingkan Rp5,629 triliun pada tahun 2006.

Peningkatan signifikan disebabkan kenaikan volume produksi dan penjualan komoditas feronikel, bijih nikel, dan emas, serta adanya kenaikan harga komoditas.

Komoditas feronikel menyumbang 48 persen dari penjualan Antam, bijih nikel dan emas masing-masing sebesar 41 persen dan 9 persen.

Kontribusi segmen nikel yang berjumlah Rp10,687 triliun adalah 89 persen pada tahun 2007, dibandingkan kontribusi segmen ini pada tahun 2006 sebesar 84 persen. Pendapatan dari segmen emas yang termasuk penjualan emas, perak serta jasa pengolahan dan pemurnian logam mulia berjumlah Rp1,171 triliun atau 10 persen dari total penjualan Antam.

“Kinerja tahun 2007 yang merupakan pencapaian tertinggi selama ini yang disebabkan ekspansi produksi yang signifikan serta kenaikan harga, telah menciptakan pondasi finansial yang solid dan kami telah siap untuk melakukan investasi untuk bertumbuh selanjutnya,” jelas Direktur Utama PT Antam Tbk, Dedi Aditya Sumanagara dalam rilisnya.

Gairah pasar juga merebak di komoditas timah. Itu dibuktikan dengan keuntungan yang diraup PT Timah Tbk yang mencengangkan. Laporan keuangan konsolidasi untuk tahun buku per Desember 2007 mencatat kenaikan laba bersih yang luar biasa yaitu sebesar 757 persen menjadi Rp1,78 triliun dari Rp208,1 miliar tahun sebelumnya.

Keuntungan diraup karena melambungnya harga timah. Harga terendah dan tertinggi logam timah dunia sepanjang 2007 adalah US$10,175- US$17.300 per Metrik ton (Mton) dan dengan harga rata-rata sebesar US$14,529 per Mton.

Harga itu naik 166 persen dari harga rata-rata logam timah dunia pada 2006 yang hanya US$8,763 per Mton. Pendapatan dari penjualan logam timah meningkat dua kali lipat lebih menjadi Rp7,79 triliun.

Tingginya harga rata-rata logam timah disebabkan karena volume penjualan logam timah yang meningkat. Volume penjualan timah naik 38 persen menjadi 58.927 Mton dari sebelumnya 42.613 Mton.

Timah, batubara dan nikel, menjadi komoditas tambang yang seksi di pasar internasional. Dirjen Mineral Batubara dan Panas Bumi Departemen ESDM Simon Felix Sembiring yakin target investasi tahun ini sebesar US$1,55 miliar atau setara Rp 14,57 triliun dipastikan tercapai.

Pemerintah juga yakin penerimaan sektor pertambangan umum untuk tahun ini bisa mencapai Rp 32,30 triliun, meningkat dibandingkan tahun lalu yang mencapai Rp 29,87 triliun dan tahun 2006 hanya Rp20,7 triliun.

Tapi, Arif Siregar, Ketua Asosiasi Pertambangan Indonesia mengingatkan agar pemerintah konsisten dalam melaksanakan aturan agar tak mengusik minat investor. ”Kalau pajak tinggi, ada aturan dan iuran yang tinggi, tetapi disebutkan dari awal, itu tidak masalah. Tetapi, kadang sering di tengah jalan (berubah-ubah). Itu yang buat susah,” sesalnya.

Arif yang juga menjabat Presiden Direktur PT International Nickel Indonesia (Inco) menilai, investasi tambang di Indonesia relatif kering lantaran tidak konsistennya pemerintah dalam memberlakukan peraturan. “Investasi tambang di tempat kita ini relatif tidak ada, baik mineral, minyak dan gas, gak ada. Coba lihat mana? Baru yang belakang ini saja mulai, padahal dari tahun 2000 sudah tidak ada.”

Negara yang tidak atraktif seperti Vietnam, Laos saja, lanjut Arif, investor pada datang. Bahkan melakukan pengolahan. ”Cobalah kita di Indonesia diusahakan supaya ada sinkronisasi peraturan antara daerah dengan pusat, peraturan yang sudah dikeluarkan jangan diubah-ubah setidaknya dalam periode tertentu.”

Angin Surga

HARGA komoditas tambang di pasar internasional tahun 2008 diperkirakan tetap kinclong seperti tahun lalu. Bahkan, harganya bisa lebih menarik seiring melonjaknya harga minyak dunia, dan tingginya kebutuhan komoditas tambang.

Harga batu bara misalnya. Melejitnya harga minyak dunia yang nyaris menembus level US$120 per barel dipastikan akan mendongkrak harga emas hitam ini. Pasalnya, mahalnya harga minyak akan memicu makin intensifnya konversi minyak bumi ke batu bara. Harga komoditas tambang tersebut diperkirakan pada triwulan I 2008 rata-rata sekitar US$58,34 per ton, atau naik 32,6% dari harga rata-rata akhir tahun lalu, yakni US$44 per ton.

Demikian pula harga timah. Harga balok timah dunia untuk kontrak pengiriman tiga bulan ke depan di London Tin Market (LME), pada pertengahan April lalu, naik 1,4 persen menjadi US$21.300 permetrik ton.

Pun halnya harga komoditas lainnya, seperti tembaga, nikel, emas, bauksit, timah, dan sebagainya. Harga sejumlah komoditas tambang tersebut diperkirakan akan naik lantaran meningkatnya kebutuhan pasar internasional.

Mencermati realitas pasar tersebut, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengingatkan, agar seluruh stakeholder pertambangan bisa lebih banyak meraup untung sehingga bisa menggejot penerimaan negara dari tambang.

“Dengan harga tambang yang meningkat, saya berharap, kita mendapatkan keuntungan yang besar, baik di tingkat pemerintah, maupun masyarakat, di mana usaha pertambangan itu dilakukan,” begitu pesan Presiden dalam pidatonya di Istana Negara, Jakarta, Rabu (30/4).

Sebagai negara yang memproduksi berbagai komoditas tambang, Indonesia memang harus mampu meraup untung berlipat dari penjualan komoditas tambang di pasar internasional.

Caranya dengan mengatur ritme produksi. Menurut Dirjen Mineral, Batubara, dan Panas Bumi Departemen ESDM Simon F Sembiring, agar bisa terus mempertahankan harga di pasar internasional, Indonesia perlu menjaga keseimbangan produksi. “Jadi jangan sampai, mentang-mentang harganya naik, produksi digenjot habis-habisan. Ini tak bagus juga untuk pasar dan harga dunia bisa terpengaruh.”

Di pasar internasional, Indonesia adalah pemasok timah terbesar. Sekitar 40 persen timah Indonesia dipasok untuk menutupi kebutuhan dunia.

Nilai ekspor timah batangan Indonesia pun terus meningkat. Direktur Ekspor Produk Pertambangan dan Industri, Ditjen Perdagangan Luar Negeri, Departemen Perdagangan, Hartojo Agus Tjahjono mengatakan, volume ekspor timah batangan di Maret 2008 meningkat dibandingkan Februari.

Maret lalu, volume ekspor timah mencapai 8.606,27 ton atau senilai US$157,533 juta. Sementara di Februari, volumenya 7.431,27 ton atau senilai US$118,41 juta.

Sedangkan volume ekspor timah batangan selama Januari-Maret 2008 telah mencapai 25.951, 94 ton atau senilai US$431,996 juta.

Ekspor terbesar ditujukan ke Singapura dengan volume 21.943,54 ton, Malaysia sebanyak 2.324,18 ton, dan Jepang sekitar 902,73 ton. Timah Indonesia juga ekspansif merambah pasar Hongkong, Korea, Taiwan, China, dan India.

Sementara dari sisi produksinya, data Departemen Perdagangan (Depdag) menyebutkan, selama 2007 produksi balok timah Indonesia mencapai 93.735 metrik ton atau senilai US$1,354 miliar. Selama triwulan I 2008, produksi timah sudah mencapai 25.951 metrik ton senilai US$431,996 juta.

Indonesia juga akan meraup untuk berlipat lantaran PT Timah Tbk sebagai produsen timah milik negara akan berencana membangun pasar lelang timah.

Dirjen Perdagangan Luar Negeri Depdag, Diah Maulida beberapa waktu lalu mengatakan, pemerintah akan memfasilitasi pelaku pertimahan dalam negeri untuk ikut serta dalam merancang pembentukan pasar lelang timah, Jakarta Tin Market.

Selama ini, hasil penjualan timah Indonesia kurang maksimal meraup untung lantaran pasar lelang timah Asia dikendalikan di Kuala Lumpur (Kuala Lumpur Tin Market/KLTM). Sementara London Metal Exchange/LME mengendalikan pasar timah wilayah Eropa dan Amerika.

Balok timah asal Indonesia yang diperjualbelikan di KLTM dan LME kurang mendapatkan manfaat optimal dari jasa perdagangan balok timah tersebut.

Dirut PT Timah Tbk, Wachid Usman mengatakan, bila pasar timah ada di Jakarta, maka Indonesia akan menjadi broker dan pedagangnya. Pembeli timah dunia akan berkiblat ke Jakarta. Dengan demikian, Indonesia bisa menetapkan harga sendiri.

“Dengan begitu yang mendapatkan manfaat besar adalah orang Indonesia sendiri, kalau sebelumnya lebih banyak orang Malaysia,” ujarnya.

PT Timah di tahun 2007 memproduksi balok timah sebanyak 58 ribu ton. Di tahun ini, perusahaan tersebut akan menggenjot produksinya hingga 60 ribu mentrik ton.

Untung berlipat juga diharapkan bisa diraih Indonesia dari penjualan batubara di pasar internasional. Komoditas tambang hitam itu diperkirakan bisa menembus US$81 per ton di triwulan IV 2008 atau tumbuh 38,8% dari posisi triwulan I ini.

Investor Relations Bumi, Dileep Srivastava usai RUPSLB di Jakarta akhir April lalu, memperkirakan pada triwulan I 2008, harga rata-rata batubara sekitar US$58,34 per ton, atau naik 32,6% dari harga rata-rata akhir tahun lalu yakni US$44 per .

Bumi menargetkan volume penjualan di triwulan II sekitar 14 juta ton. Pendapatan Bumi di triwulan II diharapkan bisa mencapai US$980 juta.

PT. Bukit Asam (BA) juga secara bertahap menargetkan penjualan hingga 50 juta ton batu bara sampai 2015. PT BA juga memperkirakan mendapat laba bersih sekitar Rp1 triliun, lebih besar dibanding tahun sebelumnya yang Rp760 miliar.

Direktur Utama PT BA Sukrisno mengaku optimistis target tersebut tercapai mengingat permintaan produksi batu bara terus meningkat tiap tahunnya.

“Harga batu bara terus naik, karena kebutuhan dunia memang naik. Karena itu kita berharap bisa meningkatkan produksi,” kata Sukrisno.

Perusahaan negara tersebut di 2008 menargetkan total pendapatan usaha mencapai Rp6,8 triliun. Target itu meningkat sekitar 60,4% dari tahun sebelumnya, yaitu sebesar Rp4,11 triliun. Pendapatan itu akan dikantongi lewat realisasi penjualan batu bara sebesar 13,3 juta ton.

Dari jumlah itu sekitar lebih dari 50 persen ditujukan untuk konsumsi PLTU Suralaya, dan sekitar 32-35 persen untuk ekspor. Sisanya tetap untuk pemenuhan dalam negeri.

Meski penjualan meningkat 2,7 juta ton dibanding tahun sebelumnya, PT BA hanya menyanggupi produksi sekitar 9,1 juta ton saja.

Di tahun yang sama harga jual rata-rata tertimbang batubara perseroan di pasar domestik tahun lalu sekitar Rp346.500 per ton, sementara harga jual rata-rata tertimbang di pasar ekspor sekitar US$ 47,5 per ton.

Keuntungan juga bisa diraup dari peningkatan ekspor gas alam cair (liquified natural gas/LNG) 2008 yang ditargetkan mencapai 22,1 juta ton, atau naik 1,3 juta ton dibandingkan realisasi 2007 yang mencapai 20,8 juta ton.

Wakil Diektur Utama Pertamina, Iin Arifin Takhyan mengatakan, kenaikan ekspor LNG dikarenakan produksi Kilang Bontang, Kaltim juga mengalami peningkatan. Target ekspor LNG sebesar 22,1 juta ton itu akan direalisasikan dari Kilang Bontang sebesar 19,6 juta ton dan Arun 2,5 juta ton.

Sedangkan, ekspor LNG 2007 sebesar 20,8 juta ton berasal dari Bontang 20 juta ton dan Arun 2,8 juta ton. Iin mengatakan, produksi LNG dari Arun terus menurun, karena memang produksi gasnya dan kontrak juga sudah habis.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Purnomo Yusgiantoro mengusulkan agar harga LNG juga naik seiring naiknya harga minyak dunia.

Menurut dia, pembicaraan dengan negara produsen LNG sudah dilakukan tapi belum dibentuk seperti OPEC. “Dengan adanya kenaikan harga minyak dunia, kita ingin harga gas kita dihargai. Kita mendukung harga gas dunia naik,” kata Purnomo.

M. Yamin Panca Setia

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s