Menjadi Raja di Pasar Internasional

Menjadi Raja di Pasar Internasional


ARIF S Siregar menyayangkan realitas paradoks yang dialami Indonesia di pasar tambang internasional.

Dia menyesalkan jika Indonesia yang dikenal sebagai produsen timah terbesar di dunia nyatanya hanya menjadi follower dalam penentuan harga.

“Kita mestinya menjadi price maker dong. Kita kan produsen timah paling besar di dunia. No 1 ekspor. Tapi, kok kita ikut Malaysia, Kuala Lumpur Tin Market (KLTM). Emang ada apa di Kuala Lumpur. Kita yang punya timah kok,” sesal Arif yang menjabat Ketua Asosiasi Pertambangan Indonesia.

Indonesia adalah pemasok timah hampir 40 persen dari kebutuhan dunia. Namun, kurang meraup untung lantaran tidak bersatunya pelaku timah serta regulator untuk membangun pasar timah di Indonesia sehingga pemasaran timah berkiblat di Malaysia dan Inggris (London Metal Exchange/LME). Mestinya, lanjut Arif, bukan Kuala Lumpur Tin Market, tetapi Jakarta Tin Market (JTM).

“Ini semua tergantung kemampuan manajemen kita. Di timah harusnya Indonesia punya bargaining power,” harapnya.

Transaksi timah yang di KLTM dan LME kurang memberikan untung bagi Indonesia.

Malaysia dengan Malaysia Smelting Corporation (MSC) memproduksi timah bermerek sebanyak 30 ribu ton pertahun. Padahal, penambangannya hanya memproduksi pasir timah sebesar 2.000 ton pertahun.

Begitu juga dengan Singapura. Meski tidak memiliki cadangan timah sama sekali, negara itu membangun pabrik Singapura Tin Industri (STI) karena mendapat pasokan dari Bangka. Sementara Thailand, pabrik timahnya mampu memproduksi 30 ribu ton setiap tahun, sementara hasil penambangannya hanya berupa pasir timah sebesar 3.000 ton saja.

Sementara Indonesia bisa mampu memproduksi sebesar 120 ribu ton timah bermerek bila seluruh bijih timah dan balok timah tidak dijual keluar negeri.

Saat ini, Indonesia baru punya tiga merek timah, yaitu Banka Tin, Mentok Tin, dan Banka Low Lead. Ketiganya sudah terdaftar di Pasar Timah Kuala Lumpur (KLTM) dan London Metal Exchange (LME).

Di pasar batubara pun demikian. Meski Indonesia dikenal sebagai eksportir terbesar, nyatanya harga batubara internasional masih berkiblat ke Australia.

“Soal harga sekarang, kita masih melihat ke Australia,” kata Direktur Eksekutif Pengusaha Batubara Indonesia (APBI) Supriatna Suhala di Jakarta beberapa waktu lalu.

Memang, lanjut dia, sebagai eksportir batubara terbesar di dunia, Indonesia seharusnya berperan sebagai pengendali harga. “Memang seyogianya begitu (menjadi price maker). Tetapi harus tercipta dulu standar harganya. Kalau timah atau crude falm oil, harga ditentukan di Kuala Lumpur karena pemerintahnya dulu men-set up mekanisme seperti itu,” ujar dia.

Di pasar dunia, Indonesia menduduki peringkat teratas dalam mengekspor batubara. Tingkat produksi batubara Indonesia telah mencapai 200 juta ton per ton per tahun yang sebanyak 150 juta ton diekspor per tahunnya.

“Di tahun 2008, kemungkinan (ekspor) di atas 250 juta ton. Kita eksportir terbesar di dunia. Sekarang bahkan kita bisa meninggalkan Australia,” jelas Supriatna.

Berdasarkan data statistik, dari ekspor timah dan batubara, keuntungan yang diraup Indonesia memang sangat besar. Apalagi, harga komoditas tambang di pasar internasional saat ini menguntungkan seiring melambungnya harga minyak dunia.

Departemen Perdagangan mencatat, volume ekspor timah batangan hingga Maret 2008 sebesar 8.606,27 ton—naik 15,86 persen dibanding volume ekspor produk sejenis pada bulan sebelumnya yakni 7.431,27 ton akibat penutupan pabrik peleburan timah milik PT Koba Tin oleh polisi.

Dari segi nilai, ekspor timah batangan bulan lalu juga naik sebesar 33 persen menjadi US$157,533 juta dari yang dicatatkan per Februari senilai US$118,41 juta.

Jika dilihat dari data selama Januari hingga Maret tahun ini, ekspor batangan mencapai 25.951, 94 ton atau setara dengan US$431,996 juta. Ekspor terbesar ke Singapura (21.943,54 ton), Malaysia (2.324,18 ton), dan Jepang (902,73 ton). Adapun negara lainnya yang menjadi tujuan ekspor timah batangan Indonesia adalah Hongkong, Korea, Taiwan, China, dan India.

Sementara di batubara, produksi pada 2008 diperkirakan tumbuh sekitar 20 persen dibanding target 2007 yang besarnya mencapai 215 juta ton.

Tahun ini ada tambahan produksi hingga 20 juta ton atau sekitar 235 juta ton dalam setahun.

76,7 persen atau 165 juta ton produksi batubara itu akan diekspor dan sisanya dijual ke pasar domestik.

Tingginya ekspor karena kebutuhan dunia akan batubara meningkat.

Data International Energy Outlook 2007 menyebutkan, Tiongkok dan India akan mengkonsumsi 72 persen batubara dunia pada 2030 mendatang.

Saat ini, menurut Supriatna, kondisi demand pun lagi tinggi seiring melonjaknya harga minyak. Sementara supply lagi kurang.

Supriatna mengaku keteteran menghadapi calon pembeli dari luar negeri yang berdatangan silih berganti tiap harinya.

“Setiap hari, kerja saya saja menerima tamu dari berbagai atase kedutaan besar seperti Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) dari luar negeri untuk cari batubara guna memenuhi keperluan bahan bakar negaranya. Mereka datang dari Korea, China, India, Filipina. Mereka pada antri,” kata Supriatna.

Di timah pun demikian. Defisit pasokan timah memicu naiknya harga timah dunia. April 2008, harganya menembus US$24 ribu per metrik ton. Sementara akhir tahun 2007 lalu, harga rata-rata timah dunia ditutup sebesar US$14.529 per metrik ton. Tingginya harga timah lantaran tingginya kebutuhan.

Tahun lalu, konsumsinya mencapai 364.600 metrik ton, sementara produksinya sebesar 347.300 metrik ton. Di tahun 2008, produksi timah dunia diperkirakan mencapai 361.000 metrik ton, sedangkan konsumsinya mencapai 375.300 metrik ton.

Melihat potensi pasar yang begitu besar itu, Indonesia sebagai produsen dipastikan akan meraup untung yang lebih besar jika mampu mengendalikan pasar.

Pasar Timah

Sebenarnya, pemerintah dan pengusaha sadar jika Indonesia harus merebut kendali harga yang dikuasai negara lain dalam penentuan harga komoditas tambang.

Pemerintah bahkan telah memberikan sinyal akan membangun pasar timah di Indonesia. Departemen Perdagangan akan memfasilitasi pelaku pertimahan dalam negeri untuk ikut serta dalam merancang pembentukan pasar lelang timah, Jakarta Tin Market.

Tahun 2008 ini diharapkan Indonesia mampu mengalihkan pusat perdagangan timah berkiblat ke Indonesia.

“Saya targetkan tahun ini mulai dirancang dan lebih diseriuskan, supaya mengalihkan pasar timah dari Malaysia ke Indonesia,” kata Dirjen Perdagangan Luar Negeri, Departemen Perdagangan, Diah Maulida beberapa waktu lalu.

Pembangunan pasar timah itu akan melibatkan produsen dan eksportir timah batangan di dalam negeri.

Direktur Utama PT Timah Tbk, Wachid Usman menyambut baik rencana itu. Menurut dia, bila pasar timah ada di Jakarta, maka Indonesia akan menjadi broker dan pedagangnya. Pembeli timah dunia akan berkiblat ke Jakarta. Dengan demikian, Indonesia bisa menetapkan harga sendiri.

“Dengan begitu yang mendapatkan manfaat besar adalah orang Indonesia sendiri, kalau sebelumnya lebih banyak orang Malaysia,” ujarnya.

Verifikasi Ekspor

Selain itu, upaya untuk meningkatkan nilai tambah juga dilakukan Departemen Perdagangan bekerjasama dengan Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral dengan cara memberlakukan ketentuan verifikasi ekspor produk pertambangan.

5 Juli nanti, Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu akan memberlakukan Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) No.14/M-DAG/PER/5/2008 tentang Verifikasi Ekspor Produk Pertambangan Tertentu.

Permendag itu merupakan kelanjutan verifikasi yang sudah diberlakukan untuk ekspor bahan galian golongan C selain pasir, tanah dan top soil (Permendag No. 03/MDAG/PER/1/2007) dan ekspor timah batangan (Permendag No. 04/MDAG/PER/1/2007).

Verifikasi ekspor bahan galian golongan C dalam pelaksanaannya ternyata mampu mendorong nilai ekspor. Departemen Perdagangan mencatat, sebelum verifikasi dilakukan tahun 2006, nilai ekspornya hanya sebesar 61,6 juta dollar AS, dengan volume 11.489 ton. Sedangkan sedangkan setelah dilakukan verifikasi nilai ekspornya meningkat menjadi 90 juta dollar AS lebih dengan volume yang hanya 6.019,3 ton.

Demikian juga dengan ekspor timah batangan. Dengan disyaratkannya verifikasi untuk setiap ekspor, nilai ekspor timah batangan mengalami peningkatan.

Sebelum verifikasi 2006, nilai ekspor timah batangan sebesar 913,3 juta dollar AS dengan volume 118.555 ton. Sesudah verifikasi nilai ekspor, nilai melonjak menjadi 1,2 miliar dollar AS, dengan volume hanya 86.304 ton.

Ketentuan pokok dalam Permendag No. 14 Tahun 2008 tersebut antara lain mengatur kewajiban eksportir melakukan verifikasi atau penelusuran teknis oleh surveyor yang memenuhi persyaratan sebagaimana ditetapkan Menteri Perdagangan dan dilakukan sebelum muat barang.

Verifikasi meliputi penelitian dan pemeriksaan data, minimal mengenai keabsahan administrasi sumber barang, spesifikasi barang yang mencakup nomor pos tarif/HS, uraian dan komposisi barang, jumlah dan jenis barang, waktu pengapalan, pelabuhan muat dan negara tujuan ekspor.

ICI

Sementara di batubara, Supriatna yang juga menjabat Komisaris PT Aneka Tambang (Antam) Tbk mengatakan, Indonesia masih mencoba men-set up index harga batubara sehingga harga batubara dunia berkiblat ke Indonesia.

“Kita sedang membuat Indonesian Coal Index (ICI). Itu sudah ada. Jadi, itu adalah salah satu upaya dari komunitas pengusaha batubara untuk menciptakan standar harga. Jadi, kalau beli dan mau bisnis batubara, melihatnya ke Indonesia. Sekarang kan tidak.”

Juni 2008, ICI-4 akan diluncurkan. ICI-4 yang akan menjadi acuan harga untuk batubara berkalori rendah, 4.200 kcal itu diperkirakan berada di kisaran 30-40 dollar AS per ton.

Saat ini, harga ICI sudah digunakan pemerintah untuk menetapkan kisaran harga batubara dalam perdagangan ekspor. Namun, baru terdapat ICI-1 (highest grade) untuk harga batubara berkalori 6.500 kcal, ICI-2 (medium grade) untuk batubara berkalori 5.800 kcal, dan ICI-3 (lowest grade) untuk batu bara berkalori 5.000 kcal.

Managing Director PT Coalindo Energy, perusahaan pengelola ICI, Maydin Sipayung mengatakan, harga awal akan mengacu pada harga ekspor yang belum mencerminkan harga pasar, mengingat volume penjualan yang masih rendah.

Pihaknya akan melakukan masa uji coba selama tiga pekan selama Juni sebelum ditetapkan harga pasti ICI-4 tersebut.

Keanggotaan Coalindo ICI yang menjadi panelis sekitar 23 anggota yang terdiri dari 9 personel dari produsen batubara, 9 personel dari konsumen batubara dan lima perwakilan pendukung keanggotaan. PT Coalindo Energy akan melaporan harga setiap minggunya.

Pemerintah dan pengusaha batubara menyambut terbitnya ICI tersebut. Dirjen Mineral Batubara dan Panas Bumi Departemen ESDM, Simon F.Sembiring mengemukakan,

sebelum ICI diterapkan, Indonesia menggunakan patokan harga batubara dari Australia yaitu lembaga Barlow Jonker, sehingga patokan harga itulah yang mengatur naik dan turunnya harga batubara Indonesia.

“Padahal, Indonesia merupakan negara pengekspor batubara terbesar di dunia,” katanya. Dengan ada ICI tersebut, maka Indonesia merupakan negara pengatur harga batubara baik di dalam negeri maupun

pasar dunia.

Supriatna Suhala mengatakan, masalah harga ke depan memang harus dikendalikan. Kalau tidak memiliki standar harga, konsumen akan menawar dengan harga murah.

“Kita sudah punya ICI. Tetapi perlu sosialisasi karena masuk ke pasar dunia untuk diakui perlu waktu,” ujar Supriatna.

Sudah sekitar 60 perusahaan batubara yang menjadikan ICI sebagai referensi dalam perdagangan batu bara. Termasuk Berau Coal, Banpoo, Bumi Resources, dan PT BA.

Saat ini, kata Supriata, memang penjualan batubara sedang cerah lantaran demand yang tinggi, semenatra supply lagi kurang. ”Jadi, harga ditentukan supply dan demand.

Saat ini, kata dia, Indonesia sebagai produsen bisa sombong. Sekarang banyak pendatang dari Korea dan India yang ingin membeli harga batubara Indonesia. Sekarang pembeli yang mencari produsen.

Masalahnya, kata dia, kalau pasar batubara lagi turun, maka yang dilakukan adalah mengatur ritme penjualan.

”Tapi standarnya tetap ada di tangan orang, maka harga yang mengatur orang, bukan kita.”

Dengan hadirnya ICI, kata Supriyatna, maka patokan harga ada di Indonesia. ICI adalah pegangan buat penjual dan pembeli. ”Dulu kita selalu sebagai follower untuk penentuan harga mengekor pada Australia sebagai eksportir terbesar.”

Namun, kata Supriatna, saat ini Indonesia adalah ekspor terbesar, tapi bukan produsen terbesar. China produksinya besar tetapi pemakaian terbesar. Amerika Serikat dan India yang merupakan produsen, sekarang bahkan jadi net importer karena pemakaian dalam negeri sangat besar.

”Jadi, kita patut diperhitungkanlah,” ujarnya. ICI juga bisa menjadi referensi harga batu bara terkait dengan tindak transfer pricing.

Kasus tersebut sempat melibatkan PT Adaro Indonesia melalui perusahaan afiliasinya di Singapura yang ternyata juga dimiliki pemegang saham yang sama dengan Adaro, Coaltrade, perusahaan itu hanya terkena pajak 10 persen.

Coaltrade mendapatkan keuntungan berlipat ganda karena batubara yang dibeli dari Adaro dipatok di angka 32 dolar AS per ton. Padahal, di akhir 2007, harga batu bara telah menembus 95 dolar AS per ton.

Transfer pricing adalah upaya memindahkan keuntungan oleh sebuah perusahaan di sebuah negara kepada perusahaan lain di negara lain, yang masih ada hubungan kepemilikan.

M. Yamin Panca Setia

Photo: Tempo

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s