Krisis Listrik di Lumbung Energi


GUBERNUR Kalimantan Selatan Rudy Arifin mengeluhkan kinerja PLN. Dia mempersoalkan listrik di daerahnya yang sering byar-pet (sering padam).

Rudi tak bisa terima alasan PLN yang menyatakan aliran listrik mengalami byar-pet lantaran kurangnya pasokan energi.

“Mengapa bisa terjadi di wilayah kita yang batubaranya melimpah, tetapi Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) milik PLN selalu dikatakan kekurangan bahan batubara,” ujar Rudy terheran.

Saat menghadiri Forum Kerjasama Revitalisasi Pembangunan Regional Kalimantan di Jakarta beberapa waktu lalu, Rudy mendesak pemerintah pusat agar menjamin ketersediaan listrik sesuai kebutuhan dengan tarif listrik yang murah.

Rudy juga mengharap perencanaan pembangunan PLTU di Kalimantan segera tuntas di tahun 2009. ”Tanpa ketersediaan listrik, dan harga listrik yang murah maka ekonomi tidak berkembang baik,” katanya.

Teras Narang, Gubernur Kalimantan Tengah (Kalteng) juga mengeluh. “Masalah listrik perlu serius. Ini mendesak,” tegasnya. Menurut dia, krisis listrik hampir terjadi di seluruh wilayah Kalimantan.

Di Kalsel dan Kalteng, defisit listrik mencapai 30 megawatt (MW). Sementara Di Kalimantan Barat (Kalbar) defisit listrik mencapai 8 MW. Kalimantan Timur (Kaltim) paling parah. Defisit listrik mencapai 20 MW.

Direktur Utama PT PLN Fahmi Muchtar mengaku memang kerap menerima keluhan dari gubernur terkait dengan pasokan listrik yang kurang di daerahnya. Menurut dia, keluhan itu justru sebagian besar diutarakan dari gubernur yang daerahnya kaya akan sumber energi primer.

”Dalam perencanaan kita ke depan, kita perlu memperhatikan ini, dikaitkan dengan Rencana Umum Ketenagalistrikan Nasional (RUKN) dan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RPUPTL) kita. Jadi basisnya dari sana dulu,’ ujar Fahmi.

Dia menambahkan, dalam program tahunan PLN, daerah yang mengalokasikan sumber energi primer harus diutamakan. Kebijakan tersebut juga terkait dengan penerapan tarif regional bagi daerah yang memiliki potensi energi. ”Sehingga bisa saja, untuk daerah tersebut, listriknya bisa lebih murah daripada daerah lain bila memiliki sumber energi primer yang melimpah.”

Krisis listrik di Kalimatan memang ironis. Pasalnya, Kalimatan memiliki kandungan batubara yang melimpah. Di Kalteng saja, cadangan batubara mencapai sekitar 3,5 miliar ton-dengan kalori 4.000-8.300 kalori per kilogram.

Khususnya untuk batubara berkalori rendah, masih tersedia juga peluang wilayah bebas yang pemanfaatannya akan lebih ekonomis untuk pembangkit listrik di sekitar mulut tambang.

Di wilayah perjanjian karya pengusahaan pertambangan batu bara (PKP2B), sumber daya batubara yang tereka mencapai 809,58 juta ton, terunjuk 642,06 juta ton, dan klasifikasi sumber daya batu bara yang terukur mencapai 1,83 miliar ton.

Sementara di wilayah kuasa pertambangan (KP), potensi batubara yang tereka mencapai 586,54 juta ton, terunjuk 506,89 juta ton, dan yang terukur mencapai 195,81 juta ton.

Tapi, Kalimantan hingga kini dihadapkan krisis listrik.

Untuk menutup defisit listrik di Kalimantan, PT PLN (Persero) pun terpaksa menyewa pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) berbahan bakar marine fuel oil (MFO) atau minyak bakar dengan daya total 150 MW.

Untuk Kalteng dan Kalsel, penyewaan PLTD mencapai 60 MW, Kalbar sebesar 60 MW, dan Kaltim 30 MW. “Dana sewa berasal dari anggaran PLN sendiri,” kata Direktur Utama PT PLN Fahmi Muchtar. Biaya sewa PLTD tersebut sekitar Rp300 per kWh.

PLN akan mencari MFO dari PT Pertamina (Persero) sebelum melakukan tender.

PLN sudah menenderkan penyewaan PLTD tersebut dengan jangka waktu sewa antara 2-4 tahun. Jadwal operasi PLTD itu baru dimulai Juni 2008.

Menurut Fahmi, penyewaan PLTD merupakan solusi cepat dan bersifat sementara guna mengatasi defisit listrik di Kalimantan. PLN juga tengah membangun PLTG di Kaltim dengan kapasitas daya sekitar 90 MW.

Meski demikian, upaya tersebut tidak dapat dengan cepat mengatasi byar pet di Kalimantan.

Manajer Pembangkit PT PLN Kalsel dan Kalteng Dwi Priyo Basuki mengatakan, pemadaman bergilir di Kalsel masih akan berlangsung hingga dua bulan ke depan. Bahkan pemadaman Juni-Juli semakin parah, karena PLTU Asam-Asam yang dipelihara.
“Pemadaman Pada Juni-Juli akan semakin parah, karena kekurangan daya mencapai 65 megawatt, kalau sekarang yang dipelihara PLTD Trisakti, kekurangan dayanya hanya sekitar 20-25 megawatt,” katanya.
Semakin besarnya daya yang hilang pada saat itu, tambahnya, jangkauan dan waktu pemadaman juga lebih banyak.

Pemadaman bukan hanya pada lampu jalan maupun industri tetapi sampai ke rumah tangga.
Sedangkan rencana kedatangan bantuan genset dengan kapasitas 60 megawatt dari pemerintah pusat, hingga kini belum ada kabar berita lebih lanjut.
Kalaupun ada, tambahnya, paling cepat bisa direalisasikan pada 6-7 bulan kedepan, karena perlu adanya pembangungan kontruksi untuk menaruh mesin tersebut.

Solusi Jangka Panjang

Sementara untuk solusi jangka panjang, PLN akan membangun empat PLTU yang masuk dalam proyek percepatan program (crash program) berdaya 10.000 MW dengan bahan bakar batubara di Kalimantan.

Berdasarkan Peraturan Presiden (Perpres) No. 71 Tahun 2006, realisasi PLTU Batubara di Kalimantan dijadwalkan mulai beroperasi pada 2010. Empat PLTU tersebut akan dibangun di Singkawang (Kalbar) 2×25 MW, Parit Baru (Pontianak, Kalbar) 2×50 MW, Pulau Pisau (Kalteng) 2×60 MW dan Asam-asam (Kalsel) 2×65 MW.

Dalam skema crash program, PLTU Parit Baru terletak di Jungkat, Siantan, Kabupaten Pontianak atau sekitar 20 km dari kota Pontianak.

Daya listrik yang dibangkitkan akan disalurkan melalui jaringan transmisi interkoneksi 150 kV Pontianak–Singkawang–Sambas–Tayan yang disebut Sistem Khatulistiwa.

PLTU itu direncanakan beroperasi pada tahun 2010.

PLTU itu kelak akan melayani sejumlah pusat beban di Kalbar seperti Pontianak, Singkawang, Sambas dan Kabupaten–Kabupaten lain yang diproyeksikan mengalami pertumbuhan rata–rata sebesar 9 persen per tahun.

Total kebutuhan batubara untuk mengoperasikan PLTU Parit Baru sekitar 561.000 ton per tahun. Batubara dipasok dari tambang–tambang di Kalsel dan Sumatera Selatan. Proyek ini direncanakan selesai keseluruhan dalam waktu 26 bulan dari triwulan 4/2007 sampai akhir tahun 2009. Saat ini proses pengadaan PLTU Parit Baru masih dalam tahap re-tender.

Sementara PLTU Kalteng akan dibangun di Desa Buntoi, Kecamatan Kahayan Hilir, Kabupaten Pulang Pisau. Daya listrik yang dibangkitkan akan disalurkan melalui jaringan transmisi interkoneksi 150 kV Pulang Pisau-Banjarmasin, yang disebut Sistem Barito dan direncanakan akan bergabung dengan Sistem Mahakam Kaltim pada tahun 2009.

PLTU tersebut akan melayani pusat-pusat beban di Kalsel, Kalteng dan Kaltim yang diproyeksikan mengalami pertumbuhan rata-rata sebesar 10 persen per tahun.

Simulasi neraca daya di Sistem Barito menunjukkan reserve margin pada tahun 2008 (tahun terakhir sebelum tambahan pembangkit baru beroperasi) hanya sebesar 13 persen dari kebutuhan beban puncak 265 MW.

Hanya PLTU Asam-asam

Namun, realisasi pembangunan empat PLTU itu hingga kini seakan tak jelas. Sudah sekian lama tak ada investor yang tertarik membangunnya. Dari empat PLTU itu, hanya PLTU Asam-Asam yang mendapat angin segar dari investor—setelah sekian lama terkatung-katung lantaran tidak investor yang berminat mengajukan penawaran.

Pembangunan PLTU Asam-Asam Unit II rencananya akan dilakukan oleh PT.Wijaya Karya.

Dwi mengungkapkan, beberapa hari lalu perusahaan PT.Wijaya Karya telah melakukan peninjauan lapangan sehingga diperkirakan proses pembangunan akan segera dimulai.

Bila proses pembangunan PLTU Asam-Asam bisa dilakukan cepat, maka Kalsel di tahun 2010 tidak akan mengalami krisis listrik.

PLTU Asam-Asam segera dibangun sekitar Juni-Juli 2008 mendatang setelah salah satu perusahaan China memenangkan tender pembangunan PLTU Asam-Asam Unit III dan IV.
“Perusahaan dari China bekerjasama dengan perusahaan nasional PT.Wijaya Karya telah memenangkan tander pembangunan PLTU, dan akan segera memulai pembangunanannya paling lambat Juli 2008 ini,” kata Dwi.
Saat ini, tambahnya, PLN pusat sedang menyiapkan kontrak perjanjiannya, untuk ditandatangani perusahaan terkait. Sebelumnya, rencana pembangunan PLTU Asam-Asam tersebut sempat tertunda karena tidak ada perusahaan yang bersedia mengajukan tander pembangunan.
Hal tersebut sempat membuat beberapa pihak khawatir, karena dengan molornya pembangunan PLTU Asam-Asam Unit III dan IV, berarti akan memperpanjang krisis listrik di Kalsel yang direncanakan berakhir 2010.

Sementara pembangunan PLTU Pulau Pisau, kata Dwi, sudah investor yang berminat. Namun, masih terkendala pembebasan tanah.

“Kalau Pulang Pisau sudah lama mendapatkan investor, tetapi terkendala pada pembebasan tanah, sehingga proses pembangunannya juga belum bisa dimulai,” ujarnya.

Proses pengadaan tanah untuk PLTU tersebut sampai saat ini belum terbebaskan 100 persen. Masih ada beberapa kapling yang terhambat pembebasannya akibat perbedaan ukuran antara sertifikat dan luasan di lapangan, serta klaim kepemilikan yang tumpang tindih.

Masalah serupa juga dihadapi dalam pembangunan PLTU Singkawang Baru. Proses pembebasan tanah oleh Panitia dari Kabupaten Bengkayang berjalan sangat lambat. PLTU itu masih dalam tahap penyusunan dokumen kontrak oleh Kontraktor dan Tim Konsultan (PT. Prima Layanan Nasional Enjiniring).

Sementara PLTU Parit Baru 2×50 MW, proses finalisasi kontrak terkendala akibat adanya scope baru pekerjaan tambah yang memerlukan prosedur administrasi yang panjang. Pembebasan tanah belum tuntas seluruhnya karena ada warga yang menolak ganti rugi, serta masalah internal antara pemegang sertifikat dan penghuni.

Proses pengadaan dilakukan re-tender karena scope pekerjaan Common Facilities terlalu besar sehingga tidak dapat ditambahkan langsung kedalam kontrak.

M. Yamin Panca Setia

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s