Yang Murah, yang Mutunya Rendah

Yang Murah, yang Mutunya Rendah


”SAAT ini tidak ada jaminan jika listrik tidak akan mati karena kondisi dan kapasitas kelistrikan Indonesia yang kurang,” ujar Rudiantara, Wakil Direktur Utama PT PLN (persero). Menurut dia, sejak tahun 1997, kapasitas listrik hanya bertambah 3.000 MW dari 25 ribu MW kapasitas listrik yang dimiliki PLN.

Sementara kebutuhan terus meningkat. Konsumsi pertumbuhan listrik 6-7 persen tiap tahunnya. ”Akibatnya, reserve margin tergerus,” imbuhnya.

Pernyataan itu diungkap Rudiantara menjawab keluhan masyarakat terkait dengan pemadaman listrik di sejumlah daerah.

Berangkat dari masalah itu, PLN pun berupaya mengejar target realisasi pembangunan PLTU 10 ribu MW di sejumlah tempat. Selambat-lambatnya di 2012, ketersediaan listrik 10.000 MW bisa terserap seluruhnya. ”Setidaknya, tahun 2010 yang akan banyak, dan tinggi (penambahan listrik),” tambah Rudiantara.

Di megaproyek yang bernama Crash Program (program percepatan) pembangunan PLTU 10 ribu MW—yang ditargetkan rampung di akhir 2009 itu, akan dibangun 35 PLTU yang menyebar di sejumlah wilayah di Indonesia. Sebuah langkah yang patut diapresiasi, mengingatkan Indonesia makin dililit defisit listrik.

Sejak proyek itu digulirkan pertengahan tahun 2006 lalu, China telah mendominasi. Perusahaan China berhasil merengkuh minat pemerintah dan PLN lantaran menawarkan harga murah untuk proyek pembangunan PLTU ketimbang penawar lainnya seperti Jepang, India, Malaysia Korea Selatan, serta perusahaan domestik. “Harganya lebih murah, mungkin karena persyaratan investasi keluar negeri di China sangat mudah,” kata Ketua Masyarakat Kelistrikan Indonesia (MKI) Ali Herman Ibrahim.

Tapi, bagaimana dengan kualitasnya? Kekhawatiran tersebut memang patut ditindaklanjuti. Produk China terkenal dengan kualitas yang rendah sehingga cepat rusak.

PLTU Cilacap yang dibangun oleh Chengda Engineering Corporation of China dengan biaya US$510 juta misalnya. PLTU itu sempat berhenti beroperasi lantaran adanya penurunan tekanan hidrogen akibat kemasukan pasir. Padahal, pembangkit itu baru tiga bulan dioperasikan.

Beberapa waktu lalu, puluhan warga Winong dan Menganti Kisik Kabupaten Cilacap juga menderita luka bakar pada kaki yang diduga akibat limbah air panas dari operasional PLTU Cilacap. Limbah itu langsung dibuang ke laut saat pasang tanpa proses pendinginan terlebih dahulu.

Warga Perum Kencana Permai Karang Kandri yang tinggal di sekitar 300 meter dari PLTU juga mengeluhkan bau tak sedap dan suara bising yang ditimbulkan dari proses produksi. Mereka juga direpotkan dengan debu batu bara yang selalu mengotori seisi rumah.

“Sudah ada sekitar 28 keluarga yang eksodus dari perumahan ini, mereka tidak tahan dengan bau dan tebalnya debu batu bara yang selalu mengotori seisi rumah,” kata Sugriyanto, warga setempat.

Totok Siswantara, Pengkaji Transformasi Teknologi, Industri dan Infrastruktur menyarankan, agar perlu dilakukan audit kapasitas teknologi skala besar kelistrikan China di Indonesia.

Menurut dia, audit teknologi penting dilakukan untuk menjawab kekhawatiran akan standar kualitas teknologi dari China. Totok khawatir, proyek PLTU 10.000 MW yang diberikan jaminan penuh oleh pemerintah itu rawan masuknya teknologi senja atau rongsokan yang akan melahirkan masalah serius nantinya.

Totok mengatakan, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) harus melakukan audit teknologi karena khawatir jika teknologi PLTU buatan China adalah barang tua.

”BPPT harus melakukan audit terhadap PLTU China. Itukan (PLTU) teknologi senja, yang sudah lama sejak tahun 1970-an. Tidak terlalu baru. Saya curiga sebagian besar komponennya adalah barang bekas, yang kemudian di-las lagi. Makanya pentingnya audit teknologi. Kita kan punya BPPT, UPT yang bisa melihat, itu barang bekas atau tidak,” katanya.

Masalahnya, Totok menambahkan, lembaga pemerintah yang berkompeten sebagai clearing house technology seperti BPPT hingga saat ini belum memiliki kewibawaan untuk melakukan audit teknologi terhadap produk atau proyek infrastruktur berskala besar. Rekomendasi BPPT masih tumpul dan sering terkooptasi oleh lobi politik para komprador.

Selain itu, tak bisa pula dipungkiri kelak sejumlah PLTU buatan China berpotensi menimbulkan biaya eksternal yang tinggi yang ditanggung masyarakat dan lingkungan yang tidak masuk dalam perhitungan baik produsen maupun konsumen tenaga listrik. Kontribusi terbesar dari biaya eksternal adalah pada saat pembangkitan yang berupa dampak polusi udara.

Menurut dia, harusnya program pemerintah untuk mempercepat pembangunan infrastruktur direncanakan secara matang termasuk bagaimana melakukan penilaian teknologi dan keandalan produk yang akan digunakan.

Terkait dengan kekhawatiran tersebut, Direktur Utama PT PLN Fahmi Muchtar mengatakan, saat kunjungan ke China Mei lalu, selain menandatangani loan aggrement, PLN juga melihat manufaktur yang membuat sekaligus menyuplai PLTU 10 ribu MW.

Dari kunjungan itu, Fahmi menambahkan, teknologi PLTU buatan China seperti boiler, turbin, generator dan sebagainya adalah hasil kerjasama perusahaan-perusahaan di dunia, seperti Siemens dan sebagainya. ”Dan itu terus dikembangkan mereka, bahkan di perusahaan-perusahaan tersebut, sahamnya pun ada disitu. Artinya, dari segi kualitas, itu bisa dikatakan sama dengan mempunyai standar-standar internasional yang sudah disepakati,” terang Fahmi kepada Eksplo beberapa waktu lalu.

Dirjen Listrik dan Pemanfaatan Energi (Dirjen LPE) Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral Jacobus Purwono juga memastikan pemerintah dan PLN sudah sejak awal memastikan standar kualitas teknologi PLTU untuk Crash Program PLTU 10 ribu MW. ”Kalau standar minimal kan sudah ditetapkan dalam dokumen tender. Tinggal nanti mereka harus fight untuk memenuhi standar tersebut, dan tentu yang namanya tender akan mencari harga yang murah, tetapi dengan standar yang sudah ditetapkan,” kata dia.

Lantas bagaimana jika PLTU buatan China itu tiba-tiba terhenti beroperasi lantaran kendala teknologi, Purwono mengatakan, teknologi dari mana pun tidak bisa menjamin mengenai masalah tersebut. ”Bikinan manapun, kita tidak tahu juga kan. Tapi yang jelas, mengapa dilelang tentu melalui evaluasi yang sangat hati-hati oleh PLN,” tambahnya.

Dia menambahkan, evaluasi sudah dilakukan sejak akan menentukan pemenang.

Sementara Fang menyakinkan, China mempunyai kapasitas yang memadai untuk terus terlibat di proyek-proyek listrik Indonesia. “Produk alat-alat kami berkualitas, pilihan speknya lengkap, dan harga yang kompetitif,” tegas dia.

Larangan China

Tapi, Koordinator Working Group on Power Sector Restructuring (WGPSR), Fabby Tumiwa mengatakan, dari kunjungan dirinya ke China tahun lalu, ternyata pemerintah China sudah mengeluarkan larangan untuk tidak lagi membangun PLTU di atas 300 MW.

”Alasannya, environment impact besar, dan tidak efisien. Artinya, Indonesia di dalam tertentu ekonomi tenaga listrik untuk di Jawa, itu tidak lagi dipakai 300 MW. Turbinnya di atas itu,” ujarnya.

China adalah salah satu negara yang didesak internasional untuk menerapkan standardisasi PLTU batubara guna menekan emisi karbon dioksida. Ketentuan standarisasi tersebut merupakan bagian dari perundingan internasional yang dikenal dengan sectoral approach, standarisasi untuk berbagai jenis aktivitas yang bisa menghasilkan CO2. Standardisasi di antaranya terkait dengan penggunaan energi dan besaran emisi yang ditoleransi.

Rencananya akan ada standarisasi power plant batu bara yang dijadikan perangkat negara maju untuk menekan negara-negara berkembang seperti China, India, dan juga Indonesia walaupun masih relatif kecil supaya menurunkan kadar emisi CO2-nya.

Karena itu, Fabby khawatir karena di negaranya tidak bisa membangun PLTU yang baru, perusahaan industri China lalu menjualnya ke Indonesia.

Jika demikian, kata dia, sama saja Indonesia mendapatkan teknologi yang tidak efisien. Karena itu, Fabby mengusulkan kepada pemerintah agar punya standarisasi teknologi kelistrikan yang bisa lebih efisien.

Sejak awal crash program digulirkan Juni 2006 lalu, Fabby menilai, PLN tidak mempertimbangkan standarisasi teknologi. ”Ini celaka. Saya khawatir juga kalau PLTU yang masuk dalam 10.000 MW itu tidak semuannya bisa survaive karena teknologinya tidak reliable. Akibatnya kita akan menanggung biaya yang tinggi di kemudian hari, sebelum periodenya habis.”

Ironisnya, sejumlah PLTU itu pun dibangun lewat government guarantee seperti PLTU Paiton dan Suralaya. ”Bayangkan kalau cash back periode belum terbayar, kemudian pembangkitnya tidak dapat beroperasi, fasiltasnya turun drastis, itu akibatnya apa. Itukan yang harus bayar adalah pemerintah.”

Fabby tidak mempersoalkan siapapun yang masuk dalam proyek kelistrikan di Indonesia. Namun, pemerintah dan PLN harus punya standarisasi teknologi, dan efisiensi.

Kenyataanya, pemerintah dan PLN tidak melakukan upaya standarisasi dan efisiensi teknologi. ”Kita tidak melakukan itu. Ini celaka. Saya khawatir tidak semuan teknologi China bisa survaive. Suatu investasi yang seharusnya umurnya di atas 20 tahun, tapi karena standarisasi tidak jelas, dan teknologi yang masuk itu juga tidak reliable, maka kita akan menanggung biaya yang tinggi di kemudian hari,” jelas Fabby.

Indonesia memang harus memahami produk teknologi China yang mutunya masih dalam tahap pancaroba. Realitas membuktikan jika produk industri China umumnya masih dinilai negatif oleh konsumen lantaran kualitasnya di bawah standar, cepat rusak, dan sering berdampak merusak kesehatan dan lingkungan.

Ambil contoh produk Motor China (Mocin) yang sempat membanjiri pasar domestik yang nyatanya cepat menjadi barang rongsokan.

Pengalaman pahit lainnya yang dialami oleh bangsa ini adalah kasus Texmaco yang telah melibatkan teknologi yang kurang andal sebagai infrastruktur industri.

Kapabilitas divisi engineering texmaco menunjukkan bahwa aset teknologinya dikategorikan sudah senja. Kondisinya makin diperparah dengan adanya disintegrasi dari unit fasilitas produksi. Karena fasilitas produksi yang terdiri dari permesinan tersebut dibeli secara second hand alias bekas pakai dari berbagai negara seperti gado-gado.

M. Yamin Panca Setia

Photo : Tempo

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s