Sindikat Narkotika Mengepung Indoensia

Sindikat Narkotika Mengepung Indonesia


SINDIKAT narkotika dan zat psikotropika lintas negara mengepung Indonesia. Buktinya, sepanjang Maret 2008 lalu saja, tiga sindikat besar narkotika internasional berhasil digulung aparat.

Ketiga sindikat yang berhasil diungkap di Pantai Indah Kapuk (Jakarta), Bandara Soekarno-Hatta (Banten) dan Bengkalis (Riau) diduga berasal dari satu jaringan.

Minggu (30/3) lalu, petugas Bea dan Cukai Bandara Internasional Soekarno Hatta berhasil meringkus tiga warga negara Malaysia yakni Thor Li Hwa, Tan Sew Hua dan Pe Mee Yee.

Mereka ditangkap karena berupaya menyelundupkan shabu-shabu seberat 9,39 kilogram senilai Rp15 miliar. Barang haram itu dibawa dari China via pesawat Cathay Pasific nomor penerbangan CX-777 melalui Terminal Kedatangan Luar Negeri 2-D Bandara Soekarno-Hatta.

Dari hasil penyidikan sementara yang dilakukan Polres Bandara Soekarno Hatta, ketiganya diduga satu jaringan dengan Zahang Chun Wei dan Ah Lie, warga China yang menjadi tersangka pemilik shabu-shabu sebanyak 600 kilogram yang diringkus di komplek perumahan elit, Pantai Indah Kapuk (PIK), Jakarta Barat, Rabu, (19/3) lalu.

Kapolres Khusus Bandara Soekarno Hatta Kombes Guntur Setiyanto mengatakan, pihaknya masih mengkaji mata rantai jaringan mereka.

Ketiga warga Malaysia itu diduga anak buah Mr Liem yang juga menjadi bos Zahang Chun Wei dan Ah Lie Yang. Liem yang kabarnya berada di Hongkong itu mengendalikan penyelundupan shabu shabu ke Indonesia.

Pihak kepolisian juga menduga ada benang merah komplotan tersebut dengan satu jaringan sindikat narkotika yang berhasil diringkus dalam penyitaan 956 kg shabu di Teluk Naga, Tangerang, Banten tahun 2006.

Selang beberapa hari sebelumnya, giliran Kepolisian Resort Bengkalis, Riau (Rabu, 26/3) yang berhasil meringkus Atan alias Maret Kondratin lantaran menyelundupkan 15 ribu pil ekstasi dan shabu-shabu seberat 560 gram lewat jalur laut di perairan pantai Riau.

Menurut Kapolda Riau Brigjen Sutjiptadi, Atan adalah sindikat narkotika terbesar yang berhasil diungkap Polda Riau.

“Ini temuan terbesar di Riau, setelah April 2007 lalu, kita berhasil mengungkap sindikat narkotika sebanyak 10 ribu butir ekstasi,” ujarnya kepada Jurnal Nasional, pekan lalu.

Kuat dugaan, Atan juga terkait dengan sindikat narkotika asal Malaysia yang diringkus di Apartemen Taman Anggrek atau bahkan dengan yang di Pantai Indah Kapuk dan Teluk Gong.

Di Taman Anggrek, Tanjung Duren, Jakarta Barat, polisi membongkar sindikat ekstasi internasional jalur Malaysia-Indonesia pada 21 November 2007 lalu. Polisi berhasil menyita 490.802 butir ekstasi senilai Rp49 miliar. Tersangkanya adalah warga Malaysia yakni Lim Jit Wee, Cheong Mun Yau, dan Chau Lik Chang.

Dari penyelidikan kepolisian, banyak ditemukan benang merah antara pengungkapan kasus di satu tempat dengan tempat lain.

“Ada dugaan terkait dengan jaringan yang digerebek di Apartemen Taman Anggrek atau bahkan dengan yang di Pantai Indah Kapuk dan Teluk Gong,” ujar Kabid Penum Humas Mabes Polri, Kombes Bambang Kuncoko.

Adanya keterkaitan, lanjut Bambang, diindikasikan dari kualitas narkoba, kode-kode produksi yang tertera dalam pil ekstasi, sampai modus penyelundupannya. Indikasi itu bermuara pada bos besar yang menguasai jaringan internasional. Hanya saja sampai kini pihak kepolisian belum menemukan bukti akurat untuk bisa menyimpulkan adanya keterkaitan antara kasus satu ton sabu di Teluk Naga, Pantai Indah Kapuk dan di Riau.

Namun yang jelas, tertangkapnya Atan di Riau mengindikasikan pergerakan para sindikat internasional tak lagi via pantai Tanggerang dan Jakarta. Namun, mereka menjadi jalur pantai di daerah sebagai jalur untuk menyelundupkan barang haram itu ke Indonesia.

Para sindikat paham betul jika jalur pantai Tangerang dan Jakarta diawasi aparat setelah terungkapnya pemilik shabu 956 kg di Teluk Naga yakni Ah Khuang yang telah divonis 20 tahun penjara oleh hakim Pengadilan Negeri Tangerang.

“Karena wilayah Jakarta diperketat, kemudian mereka memanfaatkan jalur di daerah,” kata Bambang.

Sutjiptadi memperkirakan, jalur yang dilewati Atan adalah jalur transit peredaran narkotika dari luar negeri. “Ya. Itu sangat dimungkinkan karena rentang pantai, panjang sekali. Separuh panjangnya Selat Malaka,” katanya.

Atan sengaja melewati jalur tikus yang jauh dari pantauan petugas sehingga sulit diendus jejaknya. Untuk menembus Riau, Atan merambah dari Batu Pahang (Malayasia), Singapura, Batam, lalu ke Selat Panjang (Bengkalis).

Atan diduga telah tiga kali menyelundupkan barang haram ke Indonesia. Dia diduga sindikat narkotika lintas negara karena ditangannya ditemukan paspor Malaysia. “Dia tidak mungkin bekerja sendirian,” kata Sutjiptadi.

Polda Riau sudah mengantongi nama-nama sindikat internasional yang akan diburu. Selain telah menetapkan A Bun dan Hamtiong dalam daftar pencarian orang (DPO), polisi juga akan memburu Acong, warga Malaysia yang tinggal di Johor.

“Kita akan terus mengusut sindikatnya,” janji Kapolda. Namun, untuk mendeteksi jaringan tersebut, Sutjiptadi mengaku tak mudah. Pasalnya, sindikat narkotika internasional jaringannya terputus-putus. “Orang satu dengan yang lain saling tidak mengenal,” katanya.

Kepala Badan Harian Narkotika Nasional (BNN) Komisaris Jenderal Made Mangku Pastika memperkirakan, shabu yang diselundupkan ke Indonesia dibuat di tengah laut bebas yang tidak tersentuh oleh hukum negara manapun.

Mereka membawa bahan-bahan prekursor shabu ke dalam kapal lalu kapal pergi ke tengah laut dan dibuatlah shabu itu tanpa bisa ditindak oleh siapapun,” katanya.

Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Ketut Untung Yoga Ana memperkuat, shabu di Pantai Indah Kapuk memiliki hubungan dengan kasus shabu di Teluk Naga, Tangerang, tahun 2007 lalu sebab sama-sama memakai jalur laut untuk mengirim dari luar negeri.

Anggota Pansus Narkoba DPR Jansen Hutasoit menilai, pengawasan di sekitar memang sangat lemah. ”Banyak titik wilayah kita yang lemah. Mereka selalu mencari celah agar bisa masuk.”

Lemahnya pengawasan pantai diyakini membuka pintu masuk bagi para sindikat. Dia mencontohkan pantai di sekitar Tanggerang yang longgar menjadi tempat diselundupkannya shabu-shabu sebanyak 965 kg di Teluk Naga.

“Masuknya melalui laut, ke sungai hingga ke Teluk Naga. Di situ ada darmaga darurat.”

Dari informasi dengan Polres Tanggerang, Pansus Narkoba DPR menyimpulkan bahwa pantai di daerah tersebut telah menjadi pintu penyelundupan sehingga diperkirakan masuknya narkoba tidak hanya pada saat ini saja, namun sudah kesekian kalinya.

Namun, Jansen menambahkan, tak cukup hanya melakukan pengawasan di sekitar pantai. Pasalnya, para sindikat akan mengalihkan ke jalur lain yang sulit diendus petugas. ”Sindikat akan mencari setiap titik di mana bisa dapat masuk. Apalagi, wilayah Indonesia sangat luas.”

Belum Sistematis

Keberhasilan aparat menangkap para gembong narkotika itu patut diapresiasi. Namun, Jansen menilai, keberhasilan itu bukan lewat penyelidikan yang sistematis.

“Namun isidentil, karena kebetulan tertangkap, kebetulan ya sindikat itu bernasib jelek saja. Bukan karena penyelidikan sistematis,” ujarnya.

Penangkapan shabu-shabu sebanyak 965 kg di Banten tahun lalu misalnya. Sang bandar ditangkap karena faktor ketidaksengajaan, saat Bripka Hari Prastowo yang sedang patroli melihat kendaraan Panther Box dengan plat kendaraan B 9105 QD mencurigakan karena parkir di sembarang jalan.

Hari terus melakukan pengejaran dan berusaha menghalangi mobil itu di tengah jalan hingga mobil itu menabraknya yang mengakibatkan kakinya patah. Mobil itu pun berhasil kabur.

Masyarakat yang menyaksikan kecelakaan itu lalu melapor ke Polres Tanggerang. Hingga akhirnya, mobil Panther itu ditemukan di Kampung Melayu, Depan Kantor Kecamatan Teluk Naga. Tanpa diduga mobil itu berisi shabu-shabu.

Petugas sendiri agaknya tak bisa berbuat maksimal lantaran keterbatasan yang dimilikinya. Eko Dharmanto, Kepala Seksi Penindakan dan Penyidikan Bea Cukai Bandara Soekarno-Hatta mengatakan, teknologi yang dimilikinya pihak untuk mendeteksi penyelundupan narkotika masih kurang.

“Seandainya dimungkinkan untuk perbaikan dan perbaruan itu lebih baik. Kita sudah mengusulkan kepada pemerintah pusat yakni x-ray yang up to date, yang tampilannya lebih tajam, dan dapat mendeteksi klasifikasi barang lebih spesifik,” harap Eko.

Saat penangkapan tiga warga Malaysia yang menyelundupkan shabu-shabu seberat 9,39 kilogram, petugas Bea dan Cukai di Bandara Internasional itu lebih mengandalkan intuisi.

Ketiganya itu ditangkap karena petugas Bea dan Cukai yang berjaga di pintu belakang curiga usai mencermati tiga jenis barang sama yang dibungkus kardus, namun berbeda komposisi.

Petugas lalu berkoordinasi dengan petugas pintu depan. “Dilakukan pemeriksaan, kita potong stainless steel dan gypsum yang ada dalam. Ternyata di dalamnya ada shabu-shabu,” kata Eko.

Petugas Bea dan Cukai, sebelumnya nyaris dikibuli karena barang haram yang berbentuk kristal putih itu dibungkus rapi. Dikemas dalam satu paket khusus yang berbentuk tabung penyaring air (water filter) dengan materil stainless steel yang dibungkus gypsum.

Dengan cara demikian, petugas yang menjaga pintu belakang semula tak menduga shabu-shabu itu menyelip di tabung penyaring air-meski sudah melewati pendeteksian sinar x.

“Barang itu sangat samar-samar sehingga sulit dipastikan tabung penyaring air itu berisi shabu,” kata Eko.

Menurut Eko, modus penyelundupan yang dilakukan mereka sangat profesional. “Mereka berasumsi paket itu nanti tidak tembus x ray ( sinar x). Itu bukan yang biasa dan lumrah yang dilakukan oleh amatiran. Modus operandi yang mereka lakukan sangat profesional,” ujarnya, Selasa (1/4).

Sutjiptadi juga mengaku, minimnya petugas dan sarana pengawasan adalah kendala yang dihadapi petugas. Menurut dia, untuk melakukan pengawasan rutin di jalur rawan transit narkotika di sekitar pantai, Polda tak memiliki banyak personil dan sarana prasarana yang mendukung. Sementara jalur laut yang ditenggarai menjadi lalu lintas peredaran narkoba panjangnya mencapai ratusan kilometer.

“Sarana komunikasi di sana juga kurang, sarana mental detektor tidak ada. Kita hanya mengandalkan pada informasi saja,” kata Sutjiptadi.

Kapolda menambahkan, polisi pengawas pantai sangat kurang. “Di samping pengawasan polisi perairan, juga perlu juga pos dan jumlah polisi yang berada di sekitar pantai harus diperbanyak,” harapnya.

Penangkapan Atan saja berangkat dari informasi intelijen di Pelabuhan Tanjung Harapan Selat Panjang. Barang haram itu dibawanya via kapal Widi Ekspress dari Malaysia.

Dari laporan itu, Kapolsek Tebing Tinggi AKP Suparno kemudian memerintahkan Kapospol Pelabuhan Ajun Inspektur Satu (Aiptu) Zukrial untuk membuntuti Atan. Di Klenteng Tio Wan Swe, Atan ditangkap.

Pasar Menggiurkan

Made mengibaratkan pengguna narkoba di Indonesia saat ini seperti pencandu rokok. Makin mewabah dan memprihatinkan.

Menurut dia, di Indonesia ada sekitar empat juta konsumen narkotika. Sementara nilai transaksi narkotika mencapai sekitar Rp12 triliun per tahun.

”Bahkan, bisa mencapai Rp50 triliun jika juga dihitung biaya rehabilitasi dan dampak sosial terhadap korban serta keluarganya,” ujar Made.

Pasar yang menggiurkan itu mendorong para sindikat narkotika internasional makin gencar menyelundupkan barang haramnya ke Indonesia.

Beberapa kota yang menjadi pasar strategis penjualan narkoba adalah Jakarta, Bali, Jawa Timur, Bandung dan beberapa kota besar lainnya. Menurut dia, tingginya kebutuhan narkoba yang diminta konsumen di Indonesia menjadi celah bagi para sindikat untuk memasukan narkoba yang diproduksinya. Dia mengatakan umumnya narkoba banyak diproduksi dari luar negeri. “Kalau shabu kebanyakan dibawa dari China.

Sementera ekstasi, heroin, dan zat psikotropika lainnya, berasal dari eropa. Hanya ganja dari orang kita sendiri.”

Mantan Kapolda Bali tersebut mengatakan hingga kini belum ada data yang menunjukkan frekuensi penyalahgunaan narkoba di Indonesia. Namun, kasus penyalahgunaan narkoba yang

berhasil ditangkap aparat selalu naik. “Angka kasus naik. Barang bukti yang disita semakin banyak. Hal itu membuktikan penggunaan narkoba di Indonesia sangat besar,” katanya.

sepanjang tahun 2007, BNN mencatat 8.888 kasus narkotika, 7.433 kasus Psikotropika dan 1.436 penyalahgunaan bahak adiktif lainnya. Jumlah tersangka yang ditangkap 29.800 orang, terdiri warga Indonesia sebanyak 29.747 orang dan warga negara asing 53 orang. 72 orang divonis hukuman mati, tiga orang di antaranya sudah dieksekusi.

Made tak menampik masuknya narkoba ke Indonesia karena longgarnya jalur transit di sekitar kawasan sangat longgar. Namun, faktor pendorong masuknya narkoba di Indonesia lebih disebabkan

karena tingginya permintaan sehingga pengedar dengan segala cara memasukan barang haram itu ke Indonesia. “Jika tidak bisa lewat jalur pelabuhan, maka bisa diturunkan di tengah laut, dengan menggunakan kapal kecil nelayan, dan kita tahu Indonesia sangat terbuka.”

Badan Khusus

Lantaran sering menjadi sasaran para sindikat, maka saatnya perang terhadap narkotika tak lagi harus lewat kampanye. Namun, butuh kekuatan yang lebih dahsyat seiring gencarnya aksi penyulundupan.

“Pemberantasan narkotika tidak cukup dilawan dengan satu pasukan saja. Kita semua harus ikut serta. Ini sudah tidak main-main lagi. Ini sudah perang terbuka. Kini tidak ada lagi tempat yang bebas dari narkoba,” kata Jansen.

Dia menilai, keberadaan Badan Narkotika Nasional (BNN) maupun kepolisian, tidak maksimal dalam memberantas sindikat narkotika internasional.

BNN sejauh ini fungsinya sebatas melakukan koordinasi. Sementara Polri yang diharapkan gencar melakukan penyelidikan, lebih sibuk menangani kriminal lainnya.

Politisi dari Partai Damai Sejahtera (PDS) itu juga menilai, perang terhadap narkoba selama ini sebatas perang spanduk semata. Sementara pasukan atau peralatan untuk memerangi sindikat narkotika kurang mendukung.

“Perang terhadap narkoba sekarang ini cuma ngomong doang. Kita perang terhadap narkotika, yang keluar hanya spanduk spanduk saja,” katanya.

Karena itu, kata Jansen, Pansus DPR telah mengusulkan agar segera dibentuk suatu badan khusus yang menangani narkotika.

“Badan khusus itu super body memberantas narkotika. Bisa menangkap, menahan, menyelidiki, menyidik, dan menuntut.”

Tapi, usulan itu masih mentok lantaran perdebatan antaran DPR dengan pemerintah.

Dalam draf Rancangan Undang Undang (RUU) tentang Narkotika yang masih dibahas DPR, disebutkan tentang keberadaan lembaga negara yang kuat dan terstruktur dari tingkat pusat hingga kabupaten/kota untuk mengoordinir pembinaan, pengendalian dan pengawasan seluruh kegiatan yang berhubungan dengan narkotika dan prekursor narkotika.

Lembaga negara tersebut nantinya akan memperoleh dana dana khusus dari negara. Dalam draf RUU itu juga memuat sanksi pidana yang lebih berat undang-undang narkotika yang lama yakni UU No.22 1997.

Dalam pasal 78 undang-undang nomor 22 tahun 1997 disebutkan sanksi pidana kepada pihak menyimpan untuk dimiliki atau untuk persediaan, atau menguasai narkotika Golongan I bukan tanaman, paling lama 10 tahun penjara atau denda paling banyak Rp500 juta.

Sedangkan dalam pasal 84 RUU tentang narkotika, ancaman pidana penjara paling singkat satu tahun dan paling lama 10 tahun dan pidana denda paling sedikit Rp100 juta, dan maksimal Rp1 miliar.

Ketua Gerakan Nasional Antinarkoba (Granat), Henry Yosodiningrat mengatakan, tingginya angka kasus kejahatan narkoba, ternyata diikuti kenaikan jumlah pelaku. Henry mengatakan hukuman yang berat tidak menjamin pelaku jera. Nyatanya, Indonesia sudah menghukum mati pelaku kejahatan narkoba dan masih ada yang menunggu dieksekusi, tapi masih ada saja pelaku pengedar yang tertangkap.

M. Yamin Panca Setia

Photo: Arie Basuki (Tempo)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s