Bisnis Asap Mengepung Anak

 

 

FIJAR Maulana membuat resah orang tuanya. Di usia yang baru beranjak delapan tahun, dia kerap kepergok menghisap rokok. “Puntung rokok yang apinya masih hidup, sering kali diambil, lalu diisapnya,” ungkap Andi Darmawan, sang ayah, akhir pekan lalu.

Andi sudah sering memarahinya, sambil menjelaskan bahaya rokok kepada Fijar. Tapi, namanya juga bocah, Fijar hanya bisa nyengir kayak kuda. Tak lama berselang, bocah ingusan yang baru duduk di bangku kelas satu di salah satu SD di Kalianda, Lampung itu kembali berbuat ulah.

Riza, adik Fijar yang usianya enam tahun sering memergokinya. Riza melapor kepada papa dan mamanya saat mengetahui abangnya memungut dan mengisap puntung rokok yang masih menyala.

“Adiknya sering ngomong ke mamanya, kalau Fijar memungut puntung rokok,” tambah Andi yang bekerja sebagai tenaga administrasi di sebuah SMK di Kalianda.

Melihat gelagat buruk anaknya itu, Andi yang merupakan perokok berat terpaksa harus ekstra hati-hati. Dia tak lagi mau membuang rokok yang masih menyala dihadapan anaknya.

“Saya harus mematikan, bila perlu tak menyisahkan tembakaunya, atau saya injak-injak dulu hingga hancur,” katanya. Andi juga berusaha jaga jarak dari anak-anak saat merokok.

Namun, Fijar kembali berbuat ulah. Suatu ketika, Riza memergokinya memungut puntung rokok yang sudah mati, lalu menyalakannya dengan korek. Saat ditanya mengapa merokok, Fijar enteng menjawab karena rokok rasanya manis. Dia memang juga suka menjilati filter rokok lantaran rasanya yang manis.

Fijar memang belum masuk fase kecanduan. Rokok hanya sekedar salah satu alat permainan baginya. Di usia yang belia, Fijar juga tidak mengetahui jika asap rokok mengandung 4.000 zat kimia berbahaya. Bocah itu tentu juga tidak mengetahui jika kandungan nikotin yang bersifat adiktif dan tar yang bersifat karsinogenik dapat menimbulkan penyakit kanker.Tapi, agak risih juga melihat Fijar sudah menyentuh rokok.

Andi mengaku tidak tahu sejak kapan anaknya mengenal rokok. Namun, dia menyadari, selain lemahnya pengawasan, perilaku anaknya itu tidak terlepas dari dirinya yang merupakan perokok berat. Andi khawatir jika anaknya kelak kecanduan rokok di usia yang begitu belia yang berpengaruh terhadap perkembangan perilaku dan moralnya kelak.

Perilaku Fijar adalah salah satu panomena memperihatinkan betapa rokok berhasil merasuk ke lingkungan anak-anak. Di lingkungan siswa SMP dan SMA, penomenanya lebih memperihatinkan.

Rokok bukan lagi barang tabu. Tak susah menemukan gerombolan siswa SMP yang asyik dengan bebasnya mengisap rokok. Di tempat keramaian seperti pasar, mall dan hiburan, para perokok pemula kerap nongkrong layaknya gengster, sambil asyik mengisap candu.

Di terminal pusat perbelanjaan Blok M, Jakarta misalnya. Beberapa waktu lalu, sekitar pukul 11.00 WIB, para siswa dari salah satu SMP di Jakarta yang harusnya menghabiskan waktu untuk belaja di sekolah, ternyata lebih memilih membunuh waktu di tempat keramaian.

Bocah-bocah yang diharapkan menjadi penerus masa depan bangsa itu tertawa lepas. Mereka tak terusik dengan tebalnya asap hitam pekat yang keluar dari corong kendaraan. Mereka duduk melingkar, saling berhadapan. Entah apa yang mereka bahas. Sambil ketawa ketiwi, siswa SMP itu asyik mengisap rokok.

Melihat cara merokoknya, bisa dipastikan jika rokok sudah lama akrab dengan mereka. Realitas itu menunjukan jika rokok sudah menjadi candu di kalangan anak dan remaja Indonesia.

Arist Merdeka Sirait, Sekjen Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) mengatakan jumlah perokok anak Indonesia kini berada pada posisi ketiga setelah Thailand dan China.

Dari survei yang dilakukan Komnas PA terhadap 2.384 responden yang tersebar di beberapa kota di Indonesia, sebanyak 3,8 persen anak-anak berusia 9-13 tahun, telah menjadi perokok.

Sebelumnya, Indonesia menempati posisi keenam dengan tingkat usia perokok 13-15 tahun. “Jadi, trennya meningkat. Tak menutup kemungkinan, tren usia perokok pemula di Indonesia nanti rata-rata 5-10 tahun,” kata Arist.

Sejumlah survei serupa juga telah dilakukan. The Asean Tobacco Control Report Card dalam laporannya tahun 2007 menyebutkan, Indonesia menyumbang perokok terbesar dengan jumlah 57,56 juta perokok atau 46,16 persen dari jumlah perokok di Asean yang mencapai 124,69 juta perokok.

Laporan itu menyebutkan, hampir 50 persen adalah perokok pemula. Lalu, ada juga data tak resmi yang memperkirakan, dari 70 juta jumlah anak di Indonesia, 37 persen atau 25,9 juta anak adalah perokok. Lebih dari 50 persen merokok sejak usia 7 tahun.

Global Youth Tobacco Survey (GYTS) juga pernah melakukan survei yang menyimpulkan 34 persen siswa SMP pernah merokok. Dua dari 10 siswa SMP itu merokok sejak usia di bawah 10 tahun.

Lalu, ada juga survei menyebutkan jika prevalensi perokok usia SMP di Jakarta mencapai 34 persen, Bekasi 33 persen, dan Medan 34,9 persen. Sementara prevalensi perokok pasif usia remaja di Jakarta sekitar 66,8 persen karena tinggal serumah dengan orang yang merokok dan 81,6 persen remaja tercemar asap rokok di luar rumah.

Menjadi Target

Seto Mulyadi, yang akrab disapa Kak Seto, Ketua Umum Komnas PA amat prihatin dengan meningkatkan jumlah perokok pemula di Indonesia.

Iklan rokok yang tak pernah jeda menjadi biang lala menjamur candu di kalangan remaja. Komnas PA menyebutkan sekitar 2.846 jumlah tayangan di 13 stasiun televisi disponsori industri rokok.

Menurut Seto, industri rokok sengaja menjadikan anak-anak dan remaja Indonesia sebagai terget konsumen utama. “Anak-anak memang menjadi target utama industri rokok. Anak-anak dan remaja yang berjumlah 30 juta jiwa menjadi target pemasaran,” kata Seto, pekan lalu.

Agar lebih mudah melakukan penetrasi ke lingkungan remaja, industri rokok juga rela keluar kocek besar guna mensponsori setiap kegiatan yang digelar remaja. Simak saja event olahraga atau seni dan budaya, iklan rokok bertaburan menghiasi acara yang digelar remaja tersebut. Komnas PA mencatat, 1350 kegiatan yang disponsori industri rokok mulai dari kegiatan musik, olah raga, film layar lebar hingga keagamaan.

Gencarnya rokok menyerbu remaja lantaran hingga kini Indonesia belum menandatangani ratifikasi Framework Convention on Tobacco Control (FCTC) atau Konvensi Pengendalian Rokok.

Padahal, pemerintah pernah terlibat aktif bahkan menjadi salah satu penandatangan pembahasan FCTC. Tapi, tidak tidak meratifikasi FCTC yang sejak 27 Februari 2005 sudah menjadi hukum internasional yang ditandatangi 61 negara. “Jadi, Indonesia merupakan satu-satunya negara yang masih mengizinkan iklan rokok di mana-mana,” sesal Seto.

Pria kelahiran Klaten, Jawa Tengah, 28 Agustus 1951 itu juga menyesalkan sikap melunaknya DPR terhadap membanjirnya iklan rokok. Sebelumnya, kata Seto, DPR begitu kencang akan menggolkan UU larangan penyiaran iklan rokok di berbagai media dalam bentuk apapun.

“Kita sudah melakukan desakan kepada pemerintah, bahkan sempat mendapat dukungan DPR dalam pembahasan UU pelarangan iklan rokok. Sebanyak 41 persen anggota DPR mendukung, tapi kemudian kok langsung hilang,” sesal Seto.

Keengganan pemerintah melarang iklan rokok tak lain karena keuntungan negara yang didapat dari cukai rokok sangat besar.

Di tahun 2007, realisasi cukai rokok mencapai Rp44,3 triliun, meningkat dibandingkan tahun 2006 yakni mencapai Rp38,4 triliun. Di tahun 2008 ini, Bendahara Gabungan Perserikatan Pabrik Rokok Indonesia (GAPPRI) Adi Hernadi menargetkan realisasi cukai rokok mencapai Rp46 triliun.

Semakin besar cukai rokok, maka kapasitas produksi pun akan digenjot. Iklan rokok pun akan semakin ditabur. Untuk mengejar realisasi cukai sebesar Rp46 triliun itu, industri rokok di tahun 2008 akan menggenjot produksi 245 miliar batang, atau meningkat dibandingkan realisasi produksi tahun lalu sebesar 236 miliar batang.

Namun, keuntungan negara dari cukai tidak seimbang dengan biaya kesehatan yang dikeluarkan pemerintah untuk kesehatan masyarakat akibat rokok.

Arist mengatakan, Departemen Kesehatan mengeluarkan dana kesehatan masyarakat untuk pengobatan kangker paru-paru akibat rokok mencapai Rp102 triliun per tahun.

Pemerintah sebenarnya sudah menerbitkan PP No.19 Tahun 2003 tentang batasan iklan dan promosi rokok. Dalam UU Kesehatan juga disebutkan tentang larangan rokok. “Tetapi, acuan hukum tersebut tidak detil,” kata Arist.

Arist mendesak pemerintah segera meratifikasi konvensi PBB tentang Pengendalian Rokok. Dia menyesalkan jika pemerintah hanya mengutamakan keuntungan bisnis yang diraih dari cukai rokok, daripada biaya kesehatan yang harus ditanggung negara akibat rokok.

Komnas PA juga mendesak DPR untuk terus mendorong pemerintah meratifikasi konvensi PBB tersebut. Arist menyesalkan jika ada sebagian anggota Badan Legislasi DPR tidak setuju dengan ratifikasi tersebut. Komnas PA juga memandang DPR dan pemerintah harus segera menyusun UU yang lebih komprehensif tentang pelarangan iklan rokok di televisi dan media massa.

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) juga mendesak pemerintah dan DPR mencantumkan larangan merokok bagi anak-anak dalam UU tentang Kesejahteraan Sosial.

Ketua KPAI Masnah Sari menjelaskan kenyataan faktual telah menunjukkan usia perokok telah merambah sampai anak-anak usia tujuh tahun. KPAI menyadari pula bahwa di satu sisi, pendapatan negara dari cukai rokok sangat signifikan. Namun, sumbangan terbesar tersebut berasal dari kalangan menengah dan bawah.

Membius

TIDAK ada produk yang berhasil menembus pasar dan memenangkan kompetisi bisnis tanpa mengandalkan iklan. Logika bisnis tersebut terpatri kuat di kalangan pengusaha rokok. Buktinya, iklan rokok seolah tak ada jeda menyerbu khalayak.

Tak masalah jika industri harus mengeluarkan kocek untuk membayar pajak dan iklan. Pasalnya, keuntungan yang diraih dari upaya penetrasi pasar mampu merengkuh untung berlipat.

Buktinya, industri rokok mampu membayar cukai dengan nilai yang besar. Tahun 2007 lalu, cukai rokok yang disetor ke pemerintah mencapai Rp44,3 triliun. Di tahun 2008, industri rokok optimis, realisasi cukai akan mencapai Rp46 triliun. Kalau nilai cukainya saja begitu besar, apalagi nilai penjualannya.

Target cukai yang begitu besar, memaksa industri makin gencar menyerbu pasar. Segmentasi pasar tak hanya diarahkan ke kalangan dewasa dan orang tua. Iklan rokok juga agresif menyerbu kalangan remaja bau kencur hingga bocah ingusan.

Hasilnya memukau. Bayangkan, sebagian besar remaja menjadi perokok tetap karena pengaruh iklan. “Remaja berusia 13-15 tahun terdorong menjadi perokok pemula karena iklan dan sponsor rokok,” kata Arist Merdeka Sirait, Sekjen Komnas Perlindungan Anak. Dari 2.384 remaja yang disurvei di Tahun 2007, kata Arist, 71,3 persen menyatakan sudah merokok.

Ironisnya, penelitian tersebut juga menunjukan jika 3,8 persen anak berusia 9-12 tahun sudah menjadi perokok pemula. “Jadi, terjadi penurunan tren di tingkat usia,” kata Arist.

Iklan rokok pun mampu membius khalayak remaja karena piawai memunculkan skenario iklan yang memukau.

Sejumlah idiom iklan rokok telah berhasil menembus benak remaja. “Seluruh remaja hampir mengetahui semua iklan rokok, sehingga menjadi perokok pemula,” kata Arist.

Memang hampir sebagian besar, iklan rokok tidak secara frontal menampilkan sosok yang sedang menikmati asap rokok.

Iklan yang ditampilkan seolah-olah digarap guyonan, tapi lucu dan segar. Namun, dengan kreasi yang ampuh, ternyata idiom yang disampaikan dalam iklan rokok, begitu populer dalam kehidupan remaja.

Iklan rokok LA Light versi Maybe Yes Maybe No misalnya. Jika menilik materinya, iklan itu sebenarnya tidak secara langsung mengajak khalayak untuk merokok LA Light.

Namun, lantaran kata Mei yang diucapkan Ringgo Agus Rahman atas pertanyaan para tamu undangan tentang rencana pernikahannya diplesetkan menjadi Maybe Yes, Maybe No, ternyata berhasil menjadi populer dan kerap diucapkan khalayak.

Setidaknya lewat iklan tersebut, LA Light mampu menembus benak khalayak.

Simak pula iklan rokok kretek Djarum 76. Iklan yang sering mejeng di televisi itu menampilkan sosok pemuda yang berjiwa sosial yang rela memberikan tempat duduk kepada seorang ibu di kereta api meski perjalanan mudiknya amat jauh.

Lalu, iklan Sampoerna Hijau kretek yang terkenal dengan semboyan, Gak ada Lue, Gak Rame, mendeskripsikan betapa pentingnya persahabatan.

Masih banyak lagi iklan-iklan rokok yang nyeleneh, lucu, parodi serta bernuasa sosial bertaburan di 13 stasiun televisi di Indonesia.

Komnas PA mencatat, ada sebanyak 2.846 tayangan televisi yang disponsori oleh industri rokok di 13 stasiun televisi. Ribuan iklan yang terpampang di bilboard juga menghiasi sepanjang jalan kota.

Di kampus-kampus, sebagian besar kegiatan mahasiswa sering mendapat suntikan dana besar dari sponsor rokok. Komnas PA mencatat ada 1350 kegiatan yang diselenggarakan atau disponsori industri rokok mulai dari kegiatan musik, olah raga, film layar lebar hingga keagamaan.

Tak hanya itu, sering kali dijumpai sales promotion girl (SPG) yang cantik nan seksi dilibatkan dalam memasarkan rokok di kampus.

Gencarnya iklan rokok itu ternyata berhasil merengkuh 37 persen dari 70 juta anak Indonesia atau 25,9 juta anak menjadi perokok. Data tersebut jauh berbanding terbalik dengan realisasi pencapaian kampanye antirokok yang dikumandangkan sejumlah kalangan.

Buktinya, meski semua khalayak tahu jika rokok merugikan kesehatan, tapi jumlah pencinta rokok selalu naik signifikan dari tahun ke tahun.

Menurut Arist, Indonesia saat ini menempati posisi ketiga jumlah perokok tembakau tertinggi di dunia. Konsumsinya mencapai 138 miliar pertahun. Bukan mustahil negara ini kelak menempati posisi puncak jika tidak ada aturan tegas yang melarang iklan rokok.

”Indonesia adalah negara yang iklan, promosi dan sponsor rokoknya paling masif di Asia Tenggara. Indonesia juga adalah satu-satunya negara yang tidak memiliki larangan iklan, promosi, dan sponsor rokok,” kata Arist.

Menurut Seto Mulyadi, Ketua Umum Komnas PA, iklan telah menimbulkan keinginan remaja untuk merokok yang pada akhirnya menjadi perokok tetap.

Sekretaris Eksekutif Studi Pusat Penelitian Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKMUI) Rita Damayanti menilai, pemerintah perlu mengatur kembali bentuk peringatan kesehatan di semua kemasan produk tembakau termasuk bungkus rokok.

Menurut dia, lebih dari tiga perempat masyarakat Indonesia, perokok dan bukan perokok, menginginkan peringatan kesehatan dibungkus rokok berbentuk gambar dan tulisan.

Bahkan, perokok mengusulkan gambar yang spesifik dan jika memungkinkan dengan gambar yang menakutkan.

Merek rokok yang sama dengan produksi industri yang sama, menurut Rita, jika dijual di negara yang berbeda ternyata memiliki kemasan berbeda.

Sebagai contoh, di Singapura separuh permukaan bungkus rokok produksi Indonesia berisi gambar dengan pesan tunggal. Sedangkan di Indonesia merek rokok tersebut pesannya hanya berbentuk tulisan kecil pada permukaan belakang bungkus rokok.

“Hal ini dapat terjadi karena Indonesia belum memiliki aturan tentang peringatan kesehatan seperti yang sudah berlaku di banyak negara,” katanya.

Sejauh ini baru Kanada, Brasil, Australia, Singapura, Thailand, Uruguay, Venezuela, dan India yang telah menerapkan peraturan peringatan kesehatan berbentuk gambar dalam bungkus rokok.

Rita mengusulkan agar luas gambar adalah 50 persen dari permukaan depan dan belakang bungkus rokok, letaknya pada bagian atas, mudah terlihat, dan pesan diganti-ganti secara periodik.

Tapi, apa mungkin usulan itu ditanggapi. Beberapa tahun lalu, gerakan pelarangan iklan rokok sudah gencar dilakukan. Namun, sikap pemerintah dan DPR melunak. Industri rokok pun tentu tidak akan diam menghadapi gerakan yang mengkampanye antirokok.

Dengan uang segepok, mereka tak akan kalah gencar melakukan lobi di pemerintah maupun DPR untuk menganulir segala peraturan yang akan menghadang bisnis asap.

“Jadi, semuanya amat tergantung dari political will pemerintah dan DPR,” ujar Seto.

M. Yamin Panca Setia

Photo: Anak-nak dengan poster “naikkan cukai rokok agar tidak terjangkau oleh anak-anak” saat mengikuti aksi unjuk rasa damai dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional, di depan Istana Merdeka, Jakarta, 29 Juli 2007. Data tahun 2004 menunjukkan mayoritas merokok ketika masih anak-anak (di bawah usia 19 tahun) sebanyak 78%. [TEMPO/Novi kartika]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s