Pasang Katub Peredam Resesi

 

 

 

BAYANG-bayang resesi makin pekat di langit Amerika Serikat (AS). Tanda-tanda menuju resesi terlihat dari perlambatan pertumbuhan ekonomi dalam beberapa kuartal terakhir. Bahkan, pertumbuhan ekonomi yang ditargetkan tahun ini sebesar 2,8% telah dikoreksi menjadi 2,2%.

Memang Gedung Putih tidak tinggal diam. Sejumlah langkah antisipasi atas perlambatan ekonomi negeri adidaya itu sudah diupayakan. Presiden AS George W Bush dan para pimpinan kongres telah meluncurkan paket perundang-undangan dan rancangan pemangkasan pajak untuk mendongkrak ekonomi yang terseok-seok.

Potongan pajak diobral US$600-1.200 bagi setiap pembayar pajak untuk mendorong belanja dan investasi. Namun, langkah itu belum mampu membangkitkan optimisme investor. Kuatnya pengaruh global AS, jelas tanda-tanda badai itu membuat jeri negara-negara lain.

Jika AS batuk, maka seluruh dunia bakal demam. Dan memang, pasar saham dunia ikutan terkena asma, Indonesia tak terkecuali. Senin (28/1), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) kembali tertekan, dengan ditutup melemah 1,47 persen.

IHSG ditutup turun 38,444 poin menjadi 2.582,049 dan indeks LQ45, kelompok 45 saham unggulan, melemah 9,244 poin (1,64 persen) ke posisi 553,585. Mencermati pergerakan ekonomi dunia yang menuju tubir resesi, Indonesia harus bersiap lakukan antisipasi.

Direktur Direktorat Riset Ekonomi dan Kebijakan Moneter Bank Indonesia Made Sukada mengatakan, dampak resesi AS cepat atau lambat pasti berpengaruh bagi perekonomian Indonesia.Dampaknya dirasakan lewat transaksi perdagangan dan transaksi modal.

“Jika perekonomian AS mengalami resesi, maka menurunnya pertumbuhan ekonomi tidak bisa dicegah,” ujar Sukada. Sebenarnya, dampak resesi AS sudah dirasakan Indonesia sebelum merebak isu ancaman resesi AS.

Pengaruh yang paling dirasakan adalah mandegnya ekspor produk Indonesia ke AS. Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu mengatakan, dampak ancaman resesi telah dirasakan Indonesia setelah diketahui merosotnya ekspor Indonesia ke AS. Dari nilai ekspor yang biasanya mencapai 10 persen, kini anjlok hanya mencapai lima persen.

“Bila permintaan dunia turun, dengan sendirinya, terutama di Amerika, akan terjadi penurunan permintaan,” jelas Mari beberapa waktu lalu di Kantor Presiden, Jakarta. Ancaman resesi AS juga berdampak pada terkereknya inflasi harga pada pasar domestik. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengemukakan, kenaikan harga pada sejumlah komoditas seperti kedelai, minyak goreng, tepung terigu dan sebagainya merupakan akibat resesi ekonomi global.

Kepala Negara menjelaskan, dunia kini dihadapkan gejolak keuangan pasar modal, tingginya harga minyak mentah dunia yang dapat berpotensi munculnya resesi ekonomi global. Harga minyak dunia akhir pekan lalu sempat tergelincir akibat kecemasan perekonomian AS yang bakal memasuki resesi.

Minyak mentah light sweet untuk pengiriman Februari, ditutup turun US$1,02 pada US$92,69 per barel. Di pasar London, minyak mentah Brent North Sea untuk pengiriman February terguling US$1,15 untuk bertahan pada US$91,07 per barel.

Resesi AS dipastikan bakal berpengaruh terhadap fundamental ekonomi Indonesia karena sistem perekonomian Indonesia pun bersifat terbuka. Apalagi, realitas faktual menunjukan, AS masih menjadi pasar potensial bagi Indonesia. Sekitar 20 persen total ekspor Indonesia masuk ke pasar AS.

Statistik perdagangan produk Indonesia yang dikirim ke AS pun terus bergerak maju. Minat importir AS sangat tinggi memesan produk dari Indonesia. Para importir setempat ingin mengimpor berbagai jenis produk ekspor Indonesia dalam skala besar untuk produk tekstil, furniture, barang-barang perhiasan dan barang- barang kerajinan, makanan, produk natural dan lain sebagainya.

Di tengah ancaman resesi AS, Menteri Koordinator Perekonomian Boediono optimis Indonesia tetap memiliki momentum pertumbuhan ekonomi. Momentum itu dapat direngkuh bila pertumbuhan ekonomi saat ini yang telah mencapai 6,7 persen berhasil dipertahankan.

Sementara itu, Kepala Badan Kordinasi Penanaman Modal (BKPM), M Lutfi, di Jakarta, Selasa (29/1) menilai, ancaman resesi AS tidak signifikan mengancam investasi Indonesia jika pemerintah mampu memberikan kebijakan yang mendukung pertumbuhan investasi. Di tahun ini, BPKM menargetkan pertumbuhan investasi mencapai 15,2 persen, dibandingkan tahun 2007 (US$14,4 miliar).

Langkah penting yang harus dilakukan pemerintah adalah memberikan proteksi atas produk industri nasional dari serbuan barang-barang dumping dari China. Lutfi memperkirakan, perlambatan ekonomi AS akan menyebabkan barang-barang China akan di-dumping ke Asia Tenggara.

“Siapkah pemerintah menghadapi hal tersebut,” kata Lutfi. Banyak komoditas Indonesia yang tidak ada sangkut pautnya dengan perekonomian AS. Namun, Lutfi mengusulkan agar perlu langkah proteksi komoditas nasional yang 60 persen digunakan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.

Pemerintah perlu memperjelas mekanisme pasar. Lutfi menjelaskan pemerintah sedang berusaha merubah kebijakan terkait dengan perlindungan terhadap industri tanah air. Di BKPM dibicarakan pemberian insentif bagi sektor industri yang berkomitmen menjual barang setengah jadi.

Insentif yang diberikan terkait dengan masalah pengolahan tanah, insentif non fiskal, dan yang terpenting adalah insentif fiskal. Jika hal tersebut tidak diberikan, kesalahan tahun 1970-an akan terjadi lagi: investasi akan ditarik keluar negeri.

Pemerintah sendiri telah menyusun tiga skenario antisipasi ancaman resesi AS yakni pengamanan APBN, pengamanan stabilitas harga dan pasokan bahan pokok, dan peningkatan koordinasi otoritas moneter dan fiskal.

Menko Perekonomian Boediono mengatakan, pengamanan APBN penting dilakukan karena APBN merupakan jangkar perekonomian nasional. Pemerintah juga akan menjaga stabilitas harga dan pasokannya dengan berbagai cara termasuk menghilangkan beban pajak, bea masuk, dan tata niaga.

“Katub-katub pengamanan pangan dan kebutuhan pokok harus disiapkan, termasuk juga upaya peningkatan produksi dalam negeri,” kata Boediono.
Pemerintah akan terus mendukung realisasi program tambahan produksi beras hingga dua juta ton lewat penyediaan lahan, irigasi, dan dukungan APBN.

Mitra Dagang Baru

EKONOMI Amerika Serikat (AS) yang sakit, diyakini bakal membuat ribet. Negeri adidaya itu akan memainkan aneka jurus untuk melindungi perekonomiannya. Saat ekonomi mereka bugar saja, AS banyak ulah. Apalagi saat demam.

Tuduhan dumping dan pemberian subsidi pun kerap menjadi jurus AS untuk menghalang serbuan produk negara lain. Jurus perang dagang di era perdagangan bebas itu terpaksa dilakukan AS untuk menjaga eksistensi industrinya.

Dumping adalah tindakan diskriminatif dalam penetapan harga atas barang yang dijual ke luar negeri dengan harga lebih murah dari harga jual di dalam negeri negara asal produk. Indonesia kerap jadi tumbal kebijakan anti-dumping AS. Sedikitnya 20 kebijakan anti-dumping dan antipemberian subsidi yang diterapkan AS terhadap sejumlah produk Indonesia.

AS pernah menyerang Indonesia lewat tuduhan dumping kertas. Akibatnya, Indonesia dikenai bea masuk anti-dumping sebesar 8 persen dan bea masuk antisubsidi sebesar 22 persen. Namun, lantaran tuduhan itu tidak terbukti, sanksi yang dijatuhkan harus dicabut.

Selain memberlakukan kebijakan anti-dumping, AS juga pernah menuduh Indonesia terlibat dalam praktik pemindahkapalan (transshipment) atas produk TPT dari negara lain yang masuk ke AS.

AS telah menjadi pasar potensial penjualan TPT dari sejumlah negara, termasuk Indonesia. Pada 2007, nilai ekspor (TPT) ke pasar AS sebesar US$10,6. Dari jumlah itu, 43 persen datang dari AS. Tahun ini diperkiraan negara itu tetap menjadi pangsa pasar utama Indonesia, yakni sekitar 36-40 persen.

Kebijakan anti-dumping diperkirakan akan semakin gencar diberlakukan AS menyusul gelombang resesi yang akan menggulung AS. “Itu kemungkinan yang perlu kita cermati. Namun biaya produksi di semua negara sebenarnya juga mengalami peningkatan,” kata Menteri Perdagangan, Mari Elka Pangestu.

Mencermati kondisi pasar AS saat ini, Indonesia baiknya melirik sejumlah negara yang ekonominya stabil, seperti China, Jepang, India, Uni Eropa, Timur Tengah, atau Rusia. Negara-negara ini bisa menjadi mitra dagang “baru”, kita bisa meluaskan kemitraan dagang dari yang sudah ada sebelumnya.

Di bidang perdagangan, kerja sama RI-China terus bergerak maju. Di periode Januari-Agustus 2007, nilainya mencapai US$16,37 miliar atau naik sebesar 36,77 persen dibandingkan periode yang sama di tahun 2006.

Indonesia juga harus memaksimalkan peluang besar di pasar Uni Eropa (UE) setelah ditandatanganinya Memorandum of Understanding (MoU) mengenai Multi Annual Indicative Programme untuk tahun 2007-2010.

Di bidang perdagangan dan investasi, Indonesia-UE juga terus mengalami kemajuan. Tahun lalu total perdagangan RI dan UE sebesar US$18 miliar dengan kenaikan 15 persen.

Dengan Jepang, Indonesia juga telah menandatangani kerja sama Economic Partnership Agreement (EPA) di Jakarta tahun lalu. Dengan kesepakatan tersebut, 90 persen produk Indonesia yang masuk ke Jepang, tarif masuknya menjadi nol persen.

Aturan tersebut tentu membuka akses Indonesia sehingga dapat menggenjot pasar komoditas dalam negeri seperti alas kaki, tekstil dan produk tekstil, produk kayu, dan hasil pertanian yang masuk ke Jepang.

Saat ini, Jepang menyerap 20 persen dari total ekspor Indonesia. Jepang adalah negara terbesar menerima ekspor nonmigas Indonesia yang nilainya mencapai US$1,03 miliar disusul Amerika Serikat US$847,3 juta dan Singapura US$624,9 juta. Namun, Jepang menekankan agar Indonesia memperhatikan standar kualitas atas semua produk ekspornya. Indonesia juga harus membebaskan BM bagi 58 persen pos tarif yang berjumlah 11.163 nomor HS (Harmonized System).

Ekspor Indonesia ke Jepang pada triwulan III 2007 mencapai Rp17,5 miliar, atau naik 20 persen dibandingkan tahun lalu. Kontribusi terbanyak diperoleh dari ekspor migas sebesar Rp7,3 miliar.

Peluang dagang juga dapat direngkuh Indonesia dari Rusia. Negara tersebut sedang naik daun, dengan pertumbuhan ekonomi mencapai 6,6 persen. Namun, potensi itu tersebut belum dioptimalkan.

Di sektor perdagangan, nilainya masih kecil, yakni sekitar US$680 juta. Namun, Indonesia-Rusia telah menyatakan komitmen untuk menggenjot target perdagangan mencapai US$1 miliar tahun 2008.

Afrika Selatan (Afsel) juga merupakan pasar strategis bagi Indonesia. Ekonomi Afsel terbesar di benua Afrika dengan GDP sebesar 25 persen dari total GDP Afrika.

Nilai perdagangan bilateral Indonesia-Afrika Selatan menunjukkan tren terus meningkat. Menteri Perdagangan, Mari Elka Pangestu mengatakan pemerintah akan mencari pasar lain untuk mengatasi penurunan permintaan ekspor dari AS.

“Kita akan melakukan diversifikasi pasar ke pasar yang kurang kena imbas dari semua ini,” kata Mendag. Indonesia akan lebih ekspansif memasuki pasar China, Rusia dan negara-negara Timur Tengah yang sedang memperoleh booming dari tingginya harga minyak.

M. Yamin Panca Setia

Photo: Bursa Efek Jakarta (BEJ) [TEMPO/ Nickmatulhuda]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s