Meredam Ketegangan Saudara Serumpun

LAIKNYA kakak dan adik, Indonesia dan Malaysia kerap cekcok. Indonesia yang usianya lebih tua, kadang menilai sinis perilaku kurang ajar Malaysia yang menjadi adiknya. Keduanya yang berasal dari satu rumpun itu kerap adu mulut lantaran diterpa sejumlah masalah.

Indonesia sering dibuat berang lantaran ulah Malaysia yang kerap bertindak kasar atas Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang berkerja di sana. Tak sedikit pula WNI di Malaysia yang mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan seperti yang dialami Musliana Nurdin, istri Atase Pendidikan Kedubes RI di Kuala Lumpur di tahan petugas Rela, atau penganiayaan terhadap seorang wasit karateka Indonesia, Donald Peter Luther Kolopita beberapa waktu lalu.

Sementara warga Malaysia kadang direpotkan oleh ulah ratusan ribu tenaga kerja Indonesia (TKI) yang berstatus ilegal.

Ulah Malaysia yang mengklaim kepemilikan lagu Rasa Sayange, atau tradisi Reok juga memicu amarah Indonesia yang memandang karya tradisi itu berasal dari Indonesia. Pun sebaliknya, Malaysia justru menilai tradisi miliknya.

Indonesia dan Malaysia pernah nyaris bentrok angkat senjata saat diterpa isu sengketa wilayah perbatasan. Krisis yang terjadi di Blok Ambalat nyaris memicu keduanya melakukan penyelesaian ala militer. Sebelumnya, kemelut pun memuncak terkait dengan status kepemilikan pulau Sipadan dan Ligitan yang berhasil dimenangkan Malaysia, serta ketidakjelasan mengenai garis wilayah perbatasan kedua negara.

Isu-isu itu adalah sebagian kecil masalah yang menghadang kemesraan Indonesia dan Malaysia.

Untungnya, cekcok tak berujung perang angkat senjata. Namun, jika percekcokan itu tidak terus menerus dicairkan, bukan mustahil akan berubah menjadi pertikaian yang menyeramkan.

Di level pemerintah, memang ada kesadaran untuk memilih damai daripada harus berperang. Kedua negara itu juga sepakat untuk selalu menggelar pertemuan bilateral setahun sekali khusus untuk membahas sejumlah persoalan, sekaligus memperluaskan kerjasama di segala bidang.

Beberapa waktu lalu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Perdana Menteri (PM) Malaysia Abdullah Ahmad Badawi mengelar pertemuan bilateral. Ritual tahunan yang digelar di PM Malaysia Putrajaya melahirkan sejumlah komitmen dan kesepakatan untuk memperluas kerjasama.

Namun, tentu tak cukup masalah hanya diselesaikan dilevel pemimpin kedua negara saja. Hasil pertemuan bilateral harus diarahkan untuk mendorong kesadaran rakyat Indonesia dan Malaysia.

Kedua pemimpin itu harus menyerukan agar seluruh rakyat Indonesia dan Malaysia bersama-sama mencegah sesuatu yang dapat merusak harmonisasi hubungan baik kedua negara yang sudah berlangsung lebih dari 50 tahun.

Dalam konteks ini, SBY dan Badawi menekankan pentingnya intermedia dialogue antara pers Indonesia dan Malaysia. “Apabila pers Indonesia dan Malaysia sering bertemu, maka understanding bias berkurang, dan masalah yang ada tidak boleh tidak diselesaikan. Kita harus terbuka, namun tidak boleh menghalangi-halangi kepentingan masing-masing untuk membangun kerjasama yang lebih kokoh,” kata Presiden.

Memang tak bisa dipungkiri, emosi diletupkan rakyat Indonesia dan Malaysia tidak terlepas dari sejumlah isu yang diberitakan media di kedua negara.

Wartawan senior Rosihan Anwar menyebut media di Malaysia semakin memperburuk keadaan lantaran kerap menggunakan sebutan Indon bagi para tenaga kerja Indonesia (TKI) yang dianggap melecehkan. “Kita (wartawan) punya tugas menjaga agar keadaan tidak semakin buruk,” kata Rosihan.

Seharusnya, kata Rosihan, pers di Malaysia sadar jika buruh migran adalah fenomana internasional sehingga tidak semestinya bersikap sombong terhadap TKI.

Kesombongan media Malaysia yang menganggap TKI adalah orang-orang yang bodoh adalah sikap yang tidak memperbaiki hubungan antarkedua negara sehingga perlu diingatkan. “(Buruh migran) Itu adalah gejala internasional. Jadi haraplah media Melayu jangan sombong,” ujar Rosihan.

Badawi juga memandang perlunya pendekatan budaya untuk merajut kembali hubungan harmonis Malaysia dengan Indonesia. Menurutnya, interaksi budaya (cultural interaction) yang baik antara orang Malaysia dengan Indonesia telah berlangsung sejak lama. Tak sedikit warga Minang Kabau atau Jawa yang bertandang ke Malaysia. “Mereka datang bersama membawa lagu, tarian, musik, adat istiadat dan masakan yang kemudian menjadi kebiasaan bagi Malaysia .”

Badawi mengatakan, RI dan Malaysia sepakat untuk membentuk Eminent Person Group (EPG) yang terdiri dari tujuh orang yang kredibel dalam menjawab permasalahan baik di bidang ekonomi, sosial, budaya, agama, atau bidang lain yang dianggap penting.

“Kumpulan orang tersebut dapat selalu berkumpul di suatu masa yang tugasnya untuk meninjau dan membvawa kepada pertemuan untuk dibicarakan guna mencari penyelesaian yang nanti disampaikan kepada pemerintah masing-masing. Ini merupakan perkembangan yang baik,” jelas Badawi.

Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik menjelaskan, pembentukan EPG diarahkan untuk menghapuskan kesalahpahaman dibenak warga Indonesia dan Malaysia terkait dengan isu yang dicuatkan media. Setelah bertemu dengan Menteri Kebudayaan Malaysia, lanjut Jero, ternyata ada kesalahpahaman seperti Malaysia mengklaim lagu Rasa Sayange atau budaya Reok.

”Padahal, negara Malaysia tidak pernah mengklaim budaya itu. Inilah karya nenek moyang yang sudah lama dipakai bangsa Indonesia dan Malaysia,” ujar Jero di Kuala Lumpur beberapa waktu lalu.

Jero menegaskan, tidak benar jika Malaysia mengklaim sehingga tidak memperbolehkan negara lain menerapkan tradisi tersebut. ”Mari kita pakai bersama-sama saja,” ujarnya.

Pemerintah Malaysia, kata Jero, mengakui jika budaya itu dibawa oleh orang-orang tempo dulu saat hijrah ke Malaysia.

Sama halnya dengan kesenian Barongsai yang berkembang di Indonesia, yang tetap saja dianggap sebagai kebudayaan asal China. Di Malaysia juga warganya yang keturunan Jawa, Melayu dan Bugis. ”Jadi, kalau ada pemberitaan (di Malaysia) yang menyatakan mengklaim sebuah budaya asal Indonesia, itu harus diklarifikasi karena dikhawatirkan dapat membius media di Indonesia jika Malaysia melakukan pengklaiman. Nanti kan ribut,” kata Jero. Indonesia dan Malaysia memang banyak memiliki identitas budaya yang sama.

Jero bersama Menteri Kebudayaan, Kesenian dan Warisan Malaysia Datuk Seri Rais Yatim sepakat untuk membentuk EPG yang diangkat oleh Presiden SBY untuk utusan dari Indonesia dan PM Badawi untuk utusan Malaysia. Tim tersebut terdiri dari tujuh orang dari Indonesia, dan tujuh orang dari Malaysia. “Kita masih akan memilih orang yang akan masuk dalam EPG,” kata Jero.

Sementara Menteri Penerangan Malaysia YB Datuk Seri Zainuddin Maidin mengatakan, dalam keadaan amarah, ikatan dan slogan yang menyejukan perlu terus dikembangkan. ”Ganyang Malaysia, tetapi (diganti, red) dengan selamatkan Siti Nurhaliza,” katanya memberi contoh.

Dia meyakini jika kehendak mayoritas rakyat Malaysia dan Indonesia lebih mementingkan silaturahmi dan kepercayaan pada kemesraan untuk menciptakan kekuatan ekonomi serantau yang boleh dimanfaatkan bersama yang tidak membedakan bangsa, agama dan negara. ”Kita percaya kemakmuran Malaysia berarti kemakmuran Indonesia dan kemakmuran Indonesia akan melimpahkan rahmat yang lebih besar di nusantara dan antarbangsa,” jelasnya.

Dalam kunjungan di Malaysia, Presiden SBY didamping PM Badawi juga menghadiri acara Peringatan 50 Tahun Hubungan Diplomatik Indonesia-Malaysia di Auditorium Perdana Angkasapuri, Kuala Lumpur, Malaysia. Acara peringatan hubungan diplomatik kedua negara sahabat tersebut dikemas dalam sebuah pagelaran musik yang bertemakan Setia Kawan.

Pergelaran kesenian itu menampilkan artis Indonesia seperti Rossa dan Didi Kempot. Rossa membawakan tiga lagu Pudar, Atas Nama Cinta, dan Kemesraan, sedang Didi Kempot yang tampil dengan mengenakan beskap menyanyikan lagu Bengawan Solo dan Haryati.

Pagelaran musik tersebut juga menghadirkan artis-artis lokal Malaysia, antara lain Jamal Abdillah, Ramli Sarip, Dayang Nurfaizah, Ameer Sofaz, Saleem, Zamani dan Ogy.

*****

BADAI memang kerap menerpa kemesraan hubungan RI-Malaysia yang telah terbangun sejak lebih dari 50 tahun lalu. Emosi warga kedua negara serumpun itu sering kali meletup lantaran diterpa sejumlah isu (lihat tabel) beberapa tahun belakang ini.

Jika tidak ada upaya dialog terus menerus yang dilakukan Pemerintah RI-Malaysia, bukan mustahil rentetan permasalahan itu akan menjadi ”bom waktu” yang setiap saat meledakkan emosi kedua negara hingga berujung pada perang.

Pertemuan bilateral antara Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Perdana Menteri (PM) Malaysia Abdullah Ahmad Badawi di Kantor PM Malaysia Putrajaya, Jum,’at (11/1), beberapa waktu lalu diharapkan mampu menyelesaikan sejumlah persoalan yang mejadi pematik ketegangan RI-Malaysia.

Pertemuan bilateral yang digelar tahunan itu adalah langkah kedua negara untuk terus memperluas kerjasama yang saling menguntungkan.

Pertemuan tersebut sekaligus me-review pertemuan bilateral SBY-Badawi di Bukittinggi, Sumatera Berat 2006 lalu, untuk mengetahui kemajuan yang telah diraih.

“Mudah-mudahan pertemuan ini akan jadi simbol membawa kemajuan yang lebih hebat lagi bagi kedua negara. Supaya kedua negara maju dengan banyak persamaan,” harap Badawi.

Dalam menjawab persoalan yang dihadapi TKI di Malaysia, Pemerintah Indonesia dan Malaysia sepakat memaksimalkan upaya perlindungan dan pelayanan hukum kepada seluruh TKI di Malaysia.

“Mereka (TKI, red) harus mendapatkan perlindungan dan pelayanan yang baik. Apabila ada masalah, maka hukum dan keadilan harus ditegakkan,” tegas SBY.

Indonesia memberikan apreasiasi atas upaya Malaysia yang berusaha menyelesaikan permasalahan hukum yang dihadapi TKI di Malaysia.

Keputusan Pengadilan Malaysia yang menjatuhkan vonis bersalah kepada Yin Pek Ha, warga Malaysia yang menjadi majikan Nirmala Bonat, TKI asal Kupang NTT yang menjadi korban kekerasan terhadap Nirmala, dinilai Indonesia memiliki arti penting dalam menyelesaikan persoalan TKI di Malaysia. Namun, Indonesia belum merasa puas. Negara Jiran juga diminta untuk menegakkan hukum kepada para TKI di Malaysia yang mengalami nasib serupa dengan Nirmala. ”Pelaku kekerasan terhadap TKI harus diberikan sanksi yang tegas. Semua WNI harus dilindungi dan harus dilayani,” tegas Presiden.

Kedua pemimpin juga sepakat untuk lebih mengefektifkan lagi proses perundingan seputar perbatasan wilayah. SBY meminta Badawi agar tim negosiasi kedua negara dapat berkerja lebih efektif lagi, dengan mandat yang lebih besar sehingga dapat segera menyelesaikan tugasnya dengan baik.

Dalam menyikapi permasalahan batasan wilayah, Indonesia tidak hanya memfokuskan pada perbedaan penglihatan tentang batas wilayah RI di laut sebelah timur Kalimantan, dan sebelah barat Sulawesi, tetapi juga ditempat yang lain.

Direktur Administrasi dan Perbatasan Ditjen Pemerintahan Umum Departemen Dalam Negeri, Kartiko Purnomo menyebutkan, ada sejumlah masalah di titik perbatasan RI-Malaysia yang harus segera diselesaikan (lihat tabel: Masalah Di Titik Perbatasan RI-Malaysia).

Dia mengatakan, seluruh permasalahan perbatasan tersebut, belum ada satu pun yang selesai. Namun, kata Kartiko, sudah ada kesepakatan kedua negara untuk menyelesaikan permasalahan dari kawasan Timur yakni dari Pulau Batik, lalu kemudian ke arah Barat

Sengketa wilayah perbatasan memang harus menjadi perhatian pemerintah RI-Malaysia karena kerap memicu ketegangan hubungan kedua negara.

Di luar itu, wilayah perbatasan RI-Malaysia—khususnya di darat, ditemukan jika perbatasan di kawasan hutan tidak terdapat tanda batas fisik yang spesifik dan jelas.

Di Kalimantan, wilayah perbatasan darat membentang sepanjang 1.950 kilometer. Di Kaltim yang panjang perbatasannya mencapai 1.038 kilometer, berada di tiga kabupaten (Nunukan, Malinau dan Kutai Barat), hanya terdapat 700 patok perbatasan. Patok perbatasan di tengah hutan maupun perbukitan terjal tidak bisa dilihat dari radius dekat sekalipun. Untuk mengetahuinya harus bersusah-payah mencarinya di tengah hutan ataupun perbukitan.

Selain itu, sejumlah wilayah atau pulau di kawasan perbatasan RI-Malaysia juga ada berpotensi menjadi dispute territory seperti: Pulau Berhala di Sumatra Utara, Pulau Pelampong, Batu Berhanti dan Nongsa di Riau; serta Pulau Gosong Makassar di Kalimantan Timur.

Berdasarkan Peta Wilayah RI di Departemen Kelautan dan Perikanan, pulau-pulau tersebut berada sangat dekat—bahkan tepat di garis batas Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) maupun batas laut teritorial yang rawan konflik/sengketa. Di antara pulau-pulau itu juga ada yang tidak berpenghuni. Jika tidak segera ditata guna memperjelas keberadaannya tidak mustahil akan terjadi silent occupation (pencaplokan diam-diam) wilayah itu oleh Malaysia.

Selain membicarakan sejumlah persoalan, RI-Malaysia juga sepakat untuk menargetkan pencapaian kerjasama di bidang perdagangan dan investasi sebesar US$10 miliar di tahun 2008 ini.

Target tersebut ditetapkan dalam sebuah Memorandum of Understanding (MoU) Joint Trade and Investment Committee (JTIC) yang ditandatangani Menteri Perdagangan RI Mari Elka Pangestu dan Menteri Perdagangan Internasional Malaysia Dato Seri Rafidah Aziz saat pertemuan bilateral berlangsung.

“Menteri Perdagangan kedua negara sudah menandatangani suatu MoU untuk meningkatkan lagi kerjasama perdagangan. Target awal dulu (tahun 2007) yaitu mencapai US$10 miliar. Tetapi sekarang sudah mencapai US$9 milliar lebih. Ini tentu akan terus kita capai, dan kita mengharap target US$10 millar dapat kita capai,” ujar Badawi.

Sementara itu, SBY mengatakan, kerja sama ekonomi yang lebih efisien diharapkan tercapai target-target yang ditetapkan. ”Ini menjadi salah satu strategic goals yang kita sampaikan,” kata Presiden.

Malaysia adalah negara terbesar ke-10 sebagai fatner perdagangan Indonesia di tahun 2006, dengan total kontribusi mencapai 3,1 persen dari perdagangan global.

Di tahun yang sama, total perdagangan Malaysia di Indonesia mencapai US$9,2 miliar dan naik mencapai 14 persn dari tahun 2005. Nilai ekspor Malaysia mencapai US$1,4 miliar. Total perdagangan Malaysia dari Januar hingga November 2007 sekitar US$ 10 miliar.

Hubungan ekonomi kedua negara dari tahun ke tahun terus meningkat dan membawa perkembangan untuk perbaikan di masa datang. Malaysia juga menggalakkan investasi asing langsung (FDI) bagi Indonesia.

Investasi langsung Malaysia di Indonesia periode Januari-Oktober 2007 mencapai US$279,4 juta, dengan sektor investasi meliputi perkebunan, kimia, farmasi, karet dan produk karet, dan industri otomotif. Tahun 2005 investasi Malaysia hanya mencapai 5,58 miliar dolar AS, tahun 2006 sebesar 7,3 miliar dolar AS.

Komoditas ekspor Malaysia ke Indonesia antara lain minyak dan produk minyak, hydrocarbon, transistor, dan perlengkapan telekomunikasi sedangkan impor dari Indonesia meliputi minyak sayur, cocoa, besi baja, dan minyak.

Dalam bidang investasi, Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Muhammad Lutfi mengatakan, total investasi Malaysia di Indonesia mencapai 1,4 miliar dollar AS yang berada pada posisi ke enam dari seluruh dunia dalam realisasi investasi untuk tahun ini. “Kebanyakan adalah di bidang perkebunan dan industri makanan,” kata Lutfi.

Dia menyakinkan bahwa Indonesia adalah negara ASEAN yang paling aktif dan progresif untuk mengatasi kendala bagi negara lain berinvestasi di Indonesia . “Saya tidak melihat adanya hambatan seperti yang bersifat tariff maupun non tariff, malah justru bisa lebih baik,” ujarnya.

Di tahun 2008 ini, lanjutnya, Indonesia akan melihat karena ke depan Indonesia meminta Malaysia agar di bidang perkebunan juga berinvestasi untuk proses pengelolaan dari mentah menjadi barang jadi.

M. Yamin Panca Setia

Photo: Tempo

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s