Bonat Menanti Keadilan

PENANTIAN Nirmala Bonat selama 3,5 tahun berakhir sudah. Tenaga Kerja Indonesia (TKI) asal Nusa Tenggara Timur (NTT) itu tak kuasa sembunyikan haru menyusul kabar Yin Pek Ha divonis bersalah oleh pengadilan setempat.

Pek Ha adalah majikan Nirmala di kondomunium Villa Putra, Kuala Lumpur. Awal 2004, majikan perempuan menyiksa Nirmala dalam bentuk menyetrika badan Nirmala, menyiram air panas, memukul kepala dengan gantungan baju, gelas jika kesal dan tidak puas dengan kerja Nirmala.

Kamis (3/1) lalu, pengadilan menyatakan Pek Ha bersalah atas empat tuduhan penyiksaan terhadap Nirmala. Wanita itu diancam hukuman maksimal 20 tahun. “Saya senang,” kata wanita asal Kupang itu, dengan mata berkaca-kaca saat ditemui di Kuala Lumpur, Malaysia.

Rasa haru itu pula yang disampaikannya dalam pertemuan dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Jumat lalu (11/1). Presiden ke Malaysia didampingi Ibu Negara Ani Yudhoyono beserta sejumlah menteri Kabinet Indonesia Bersatu (KIB).

Namun, Nirmala masih harus menunggu keputusan akhir dari Pengadilan Malaysia terhadap Yin Pek Ha yang rencananya baru diputuskan Mei 2008. Wanita 23 tahun itu sengaja bertahan di Kuala Lumpur bekerja sebagai tukang stempel di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) sambil menunggu keputusan akhir pengadilan setempat.

Keputusan pengadilan yang menyatakan Yin Pek Ha bersalah diapresiasi pemerintah Indonesia. Menurut Presiden, proses penyelesaian keadilan untuk Nirmala yang menjadi korban kekerasan, penganiayaan dan kejahatan dari mantan majikannya, telah mencapai titik penting.

Presiden mengharap agar hukum diputuskan secara adil kepada TKI lainnya yang mengalami nasib serupa dengan Nirmala. Pelaku kekerasan terhadap TKI harus diberikan sanksi yang tegas. “Semua WNI harus dilindungi dan harus dilayani,” kata Presiden seraya mengingatkan agar semua WNI di Malaysia menghormati hukum dan adat istiadat yang berlaku.

Kekerasan yang dialami Nirmala hanya salah satu kasus dari sekian banyak kekerasan yang dialami TKI di luar negeri. Selama tahun 2007, KBRI di Kuala Lumpur mencatat sedikitnya ada 708 TKI yang terpaksa ditampung di Tempat Penampungan Sementara TKI Bermasalah lantaran bermasalah.

Tak sedikit TKI yang mengalami kekerasan, bekerja ganda sebagai pembantu rumah tangga dan toko, pelecehan seksual, gaji tidak dibayar, penipuan oleh majikan dan agensi, diusir oleh majikan, korban perdagangan manusia (trafficking), telantar dan sebagainya.

Ketua Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan TKI (BNP2TKI), Jumhur Hidayat mengatakan ada sekitar 800.000 orang TKI yang tidak terdaftar. Mereka rentan mengalami tindak kekerasan.

Penyelesaian kasus yang dialami TKI di Malaysia pun tak mudah. KBRI Kuala Lumpur mencatat, kendala yang dihadapi antara lain: ketidakmampuan WNI/TKI dalam menyebutkan indentitas agen tenaga kerja/jasa penyalur di Indonesia maupun di Malaysia serta majikannya sehingga sulit dihubungi. Akibatnya, saat diterpa masalah, KBRI sulit dapat segera menyelesaikannya.

KBRI juga mengaku jika kurang ada kerja sama dari majikan di Malaysia, serta penyelesaian kasus di pengadilan buruh Malaysia yang memerlukan waktu lama yakni hingga dua tahun.

Angka perkara yang dihadapi TKI pun cukup tinggi. Menurut Jumhur, perkara yang umumnya dihadapi TKI yakni gaji yang tidak dibayar, PHK sepihak, atau TKI yang melarikan diri. Kasus kekerasan atau penyiksaan mencapai 30-40 kasus. Namun baru tahap awal atau ada indikasi kekerasan.

Jumhur mengharap pemerintah Malaysia harus serius memberlakukan Mandatory Consuler Notification (MCN) terhadap TKI di Malaysia untuk menghindari kasus kekerasan terhadap pekerja. Dengan MCN, kata Jumhur, aparat Malaysia akan secepatnya memberi informasi kepada KBRI atau Konjen RI jika ada TKI yang ditangkap atau terkena hukuman.

Dengan laporan itu Indonesia bisa memberi perlindungan hukum dan penyelesaian kasus jika WNI menghadapi masalah. Dalam pembicaraannya secara informal dengan sejumlah pejabat Malaysia, ada keinginan Malaysia mempercepat pembentukan MCN yang diharapkan segera diberlakukan 2008.

MCN dibentuk sebagai lembaga pengawasan yang bertugas memonitoring, menelepon dan mengunjungi tempat-tempat tenaga kerja dari yang selama ini hanya bersifat sebagai call center pasif atau tidak menindaklanjuti berbagai laporan yang masuk.

Permasalahan lain yang dihadapi TKI adalah menjadi korban perdagangan manusia (trafficking). Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan Meuthia Hatta Swasono mengatakan, 20 persen dari tiga perempat jumlah TKW yang bekerja ke luar negeri adalah korban trafficking.

“Sebagian besar mereka adalah korban eksploitasi seks,” ujar Meuthia salah satu anggota rombongan Presiden. Para korban itu, sebagian besar terjerat perdagangan manusia lantaran orang tuanya terjerat utang. “Lalu, anaknya disuruh bekerja. Orang tua kan percaya saja, dengan begitu dia harus melayani sekian orang,” katanya.

Meuthia mengaku miris karena korban trafficking mengalami kerusakan organ seksualnya. Untuk menekan kasus itu, dalam pertemuan bilateral antara Presiden SBY dengan PM Badawi, dibicarakan langkah antisipasi kejahatan perdagangan manusia. Malaysia adalah salah satu negara yang banyak menampung korban perdagangan manusia.

Indonesia mengharap Malaysia lebih proaktif memerangi kejahatan yang merendahkan martabat manusia itu. Meuthia menyesalkan jika proses hukum kepada pelaku yang melakukan perdagangan manusia cenderung memakan waktu lama.

“Prosesnya jangan terlalu lama. Kami merasa terlalu lama, termasuk untuk pemulangan,” katanya. Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Erman Suparno mengatakan, selama tahun 2007 terdapat 1.135 kasus TKI di berbagai negara penempatan.

TKI yang dihadapi kasus dan mendapat ancaman hukuman berat berjumlah 147 kasus. Kasus itu beraneka macam termasuk TKI yang melakukan pembunuhan dan WNI di luar negeri yang terlibat penjualan narkoba. Pihaknya berupaya menangani TKI di luar negeri yang berhadapan dengan kasus hukum.

“Kita bisa menyelamatkan. (Tapi berharap) yang diancam hukuman gantung, tidak jadi. Ada keringanan hukuman. (Juga) yang terancam hukuman mati mendapat keringanan hukuman,” katanya. Pemerintah berupaya membantu TKI di luar negeri yang berkasus dengan hukum itu secara bilateral.

Toh persoalan yang membelit TKI seolah tiada henti. Akhir pekan silam (13/1), publik tersentak saat Yanti Sukardi, TKI asal Karangtengah, Cianjur, dieksekusi mati di depan regu tembak Pemerintah Arab Saudi. Yanti didakwa membunuh majikannya.

Beberapa bulan lalu, dua orang TKI di Arab Saudi Siti Tarwiyah binti Slamet Dimyati dan Susianti ditemukan tewas dibunuh oleh keluarga majikannya. Sementara Ruminih binti Surtim dan Tari binti Tarsim Dasman terpaksa harus dirawat secara intensif di rumah sakit Riyadh karena luka parah dianiaya.

******

SEBAGAI tetangga, Indonesia-Malaysia tak selalu mesra. Ada saja dalam sejarah hubungan negara serumpun ini ada saja kerikil atau bahkan batu besar di jalan. Nah, persoalan TKI sejauh ini belum menjadi batu besar yang mengancam hubungan keduanya.

Di tingkat bawah, reaksi di dalam negeri terhadap perlakuan tak adil TKI memang tak bisa diremehkan. Tetapi kedua pemerintah, masih merasa perlu menjaga hubungan baik. Meski itu bukan berarti Jakarta-Putrajaya meremehkan kompleksitas permasalahan seputar TKI.

Akhir pekan lalu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Perdana Menteri (PM) Malaysia Abdullah Ahmad Badawi di Kantor PM Malaysia, Putrajaya, Malaysia. Banyak topik didiskusikan, salah satu penyelesaian persoalan yang dihadapi TKI di Malaysia.

Kedua kepala negara sepakat untuk memaksimalkan upaya perlindungan dan pelayanan hukum kepada seluruh TKI yang bekerja di Malaysia.

“Mereka (TKI, red) harus mendapatkan perlindungan dan pelayanan yang baik. Apabila ada masalah, maka hukum dan keadilan harus ditegakkan,” tegas Presiden SBY saat konferensi pers bersama PM Badawi.

Harapan senada disampaikan Pak Lah–panggilan Badawi. “Mudah-mudahan pertemuan ini akan jadi simbol membawa kemajuan yang lebih hebat lagi bagi kedua negara. Supaya kedua negara maju dengan banyak persamaan,” ujarnya.

Presiden menyatakan, selain bertemu PM Malaysia, ia hendak memastikan TKI mendapatkan perlindungan dan pelayan yang baik. Presiden SBY memberikan apreasiasi upaya Malaysia menyelesaikan permasalahan hukum yang dihadapi TKI di Malaysia.

Dalam pertemuan bilateral itu, Presiden memperjuangkan agar paspor TKI yang bekerja di Malaysia dapat dipegang pemiliknya dan kedua negara dapat menandatangani mandatory consuler notification (MCN) bagi perlindungan tenaga kerja Indonesia. Jika MCN ditandatangani maka setiap penangkapan WNI yang terlibat tindakan kriminal di Malaysia segera diinformasikan ke KBRI atau KJRI agar warga negara tersebut mendapatkan perlindungan.

Presiden juga berkunjung ke Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Kuala Lumpur untuk memastikan pelayanan TKI di Malaysia. Di hadapan ribuan TKI yang tengah mengurusi izin mendapatkan paspor di KBRI Kuala Lumpur, Presiden SBY menyatakan, kunjungannya ke Malaysia untuk bertemu PM Malaysia serta sejumlah pejabat pemerintahan setempat untuk memastikan TKI mendapatkan perlindungan hukum dan mendapatkan pelayan yang baik.

“Yang penting, setiap masalah harus diselesaikan dengan baik dan adil. Kalau itu menyangkut hak pekerja, maka mesti diberikan kepada TKI,” kaya Presiden disambut tepuk tangan ribuan TKI. Kepada pemerintah Malaysia, Indonesia telah mendesak agar warga Malaysia yang terbukti bersalah harus diproses secara hukum agar keadilan ditegakkan.

Namun, Presiden juga mengingatkan jika TKI yang bersalah juga harus mendapatkan sanksi sesuai peraturan yang berlaku. “Marilah kita cegah masalah hukum, tanyakan kepada KBRI untuk mengetahui peraturan di sini. Kami cintai saudara-saudara, kami ingin melindungi saudara-saudara,” jelas Presiden.

Tak lupa, Presiden mengingatkan agar TKI yang akan berangkat ke luar negeri harus menyertai dokumen. “Kalau surat belum lengkap, lengkapilah. Pemerintah akan membantu agar TKI dapat bekerja dengan baik. Saya juga tidak suka, kepada agen dan calo, dan pemeras yang tidak bertanggung jawab. TKI harus dilindungi, dibantu dan diberikan pelayanan yang terbaik, tidak dipersulit,” kata Presiden.

M. Yamin Panca Setia

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s