Gelagat Politisi Menjelang Suksesi


SEKALIPUN beberapa menteri asal partai politik sudah menyatakan komitmennya menyelesaikan tugas negara, kecemasan terhadap dinamika politik sepanjang tahun 2008 tak bisa digeser begitu saja.

Dengan makin dekatnya pemilu 2009 elit partai politik di kursi kekuasaan akan lebih sibuk mengurusi partai daripada rakyat.

“Ada menteri dari parpol yang kelihatannya ingin keluar dari pemerintahan, dan bergabung dengan kekuatan politik lain,” kata Muhammad Qodari, Direktur Eksekutif Lembaga Survey IndoBarometer, akhir pekan lalu.

Qodari bahkan mengkhawatirkan akan ada menteri yang akan melakukan praktik sabotase di Kabinet Indonesia Bersatu (KIB). “Ya akan menggergaji (kabinet) dari dalam. Bisa juga tidak ngapa ngapain, bisa juga sabotase memotong kaki sendiri,” ujarnya.

Menurut Qodari, gelagat menteri dari parpol yang akan menyeberang dari Pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK), sudah terlihat di tahun 2007.

Qodari mengkhawatirkan jika di awal Januari 2009, sejumlah kursi yang diduduki menteri dari parpol di Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) akan kosong lantaran ditinggal pemangkunya.

Direktur Lingkar Madani untuk Indonesia (LIMA) Ray Rangkuti mengkhawatirkan jika menjelang Pemilu 2009, para menteri dari parpol akan gencar melakukan kampanye terselubung lewat pelaksanaan sejumlah program kementeriannya.

Alih-alih mengejar target realisasi program pemerintahan. Ada motif kepentingan politik pribadi yang diselipkan dalam program kerakyatan yang didanai uang negara. Agaknya sulit menghindari seorang menteri yang mengibarkan bendera partai saat merealisasikan program pemerintahan.

“Di Indonesia tidak ada fatsoen politik yang secara tegas membatasi fungsi seseorang,” kata Ray. Kegiatan yang mengatasnamakan uang negara akan dilakukan menteri dari parpol untuk mendompleng kepentingan partai politik, sementara tugas negara terabaikan.

Gelagat para menteri itu sebenarnya sudah pernah dikritik Presiden SBY. Dalam sebuah kesempatan, Presiden mengkritik pejabat pemerintah pusat dan daerah yang diusulkan oleh parpol, yang mengibarkan bendera partai politik saat merealisasikan program pemerintah.

Presiden menyerukan agar politisi dapat bersaing secara arif dan tidak mengorbankan rakyat dalam ajang Pemilu 2009. Kepala Negara mengharap segala aturan dan etika politik yang ada harus ditaati.

Politikus dan partai politik serta harus bisa menerima setiap kemenangan ataupun kekalahan. Sejumlah menteri dari parpol saat dimintai komentar menampik akan menelikung dari pemerintahan SBY-JK hingga 2009.

“Tidaklah. Itu terlalu jauh,” cetus Suryadharma Ali, Menteri Koperasi dan UKM yang juga menjabat Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP) di Kantor Presiden akhir pekan lalu. Jika Presiden merasa terusik dengan manuver politik yang dilakukan para menteri, Presiden pasti akan mengambil tindakan.

“Apakah menegur atau memberhentikan,” katanya. Menteri Hukum dan HAM Andi Mattalata yang diusung Partai Golkar berjanji tidak akan menggunakan fasilitas negara untuk kepentingan dan konsolidasi partai sangat baik.

Ketua Pemenangan Pemilu Golkar berjanji tidak akan memanfaatkan posisinya sebagai menteri. “Saat ketemu dengan orang daerah jangan bawa instansi ke sana atau ke acara partai,” kata mantan Ketua Fraksi Golkar di DPR tersebut di Kantor Presiden akhir pekan lalu.

Menurut dia, pers akan memantau jika ada menteri dari parpol yang menyalahgunakan jabatannya untuk kepentingan partainya saat menjalankan tugas kementerian.

Qodari meminta Presiden SBY lebih tegas jika ada menteri yang mencoba menelikung dari pemerintahannya. Bila perlu, Qodari mengusulkan agar Presiden membuka reshuffle kabinet jilid III. “Bagi menteri-menteri yang kinerjanya tidak mengalami kemajuan lebih baik diberhentikan saja, diganti dengan menteri baru yang punya harapan,” katanya.

Mendekati Pemilu 2009, upaya menggalang dukungan suara sudah dimulai sejak tahun lalu. Tahun ini mesin partai politk (parpol) diyakini berputar makin kencang. Tentu tensi politik diperkirakan makin panas.

Tokoh parpol yang jarang menyapa rakyat tiba-tiba turun gunung tampil dengan wajah manis. Momen yang dipakai untuk mematangkan dukungan itu bisa berbagai macam. Desember silam di Riau, misalnya, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) mengumpulkan kepala daerah dari partai itu untuk konsolidasi.

Bahkan, kegiatan politik tidak hanya bersifat intern. Para tokoh partai juga menjalin pertemuan sesama mereka. Juni tahun silam, Partai Golkar dan PDI-Perjuangan menjajaki kesamaan kepentingan.

Acara ngumpul kader parpol tentu wajar dilakukan kader parpol. Tetapi tentu harus berhati-hati jika elite parpol itu secara bersamaan mengemban amanat publik sebagai kepala eksekutif di daerah atau pejabat pemerintah di pusat. Di sini, kepentingan parpol dan kepentingan negara menjadi taruhan.

Dilema kepentingan parpol dan kepentingan bangsa semakin besar sejalan dengan banyaknya representasi parpol dalam kabinet. Khawatiran terpinggirkannya tugas-tugas negara oleh tuntutan makin besar dengan main dekatnya Pemilu 2009.

Tapi, kekhawatiran itu ditampik sejumlah menteri yang berasal dari parpol. Suryadharma berjanji akan tetap fokus melaksanakan tanggungjawabnya sebagai pembantu Presiden SBY hingga akhir 2009.

“Inikan soal manajemen. Kita juga tidak mengerjakan semuanya sendirian. Di partai kan ada aparat, ada pimpinan lain, kita ada pembagian tugas,” kata Surya, yang sempat bertandang di kediaman Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati, September 2007, di kawasan Teuku Umar, Jakarta Pusat.

Namun, Suryadharma mengaku sulit jika dirinya dibatasi untuk berkomunikasi intensif dengan kader PPP. Sebagai orang nomor satu di partai berlambang Kabah itu, dirinya dituntut untuk selalu melakukan konsolidasi dengan kader PPP di pusat dan daerah agar bersiap-siap bertarung di Pemilu 2009.

Katanya, selama langkah yang dilakukan menteri dari parpol tidak mengganggu jalannya pemerintahan, tidaklah perlu dipersoalkan. “Bagaimanpun saya kan melekat sebagai ketua umum partai. Jadi kalau saya tidak boleh melakukan komunikasi dengan partai saya, ya bagaimana,” katanya.

Komunikasi yang dilakukan menteri dari parpol dengan kadernya, kata Surya, bukan berarti menelikung dari tugas dan tanggungjawabnya sebagai menteri. PPP sendiri, kata Suryadharma, sudah sejak 2007 melakukan konsolidasi dengan kader di pusat maupun di daerah.

Menurut dia, Presiden akan melakukan tindakan berupa peneguran, bahkan pemberhentian jika merasa terganggu dengan menteri yang lebih sibuk mengurusi partai.

Meski sibuk di “dapur” partai, Suryadharma yakin tak ada masalah dalam mengatur antara tugas sebagai menteri dengan tugasnya sebagai Ketua Umum PPP. Dia bahkan menilai jika Kementerian Koperasi dan UKM yang dipimpinnya menunjukkan kinerja yang baik dengan dibuktikan dari tingkat penyerapan anggaran pada 2007 mencapai 90,7 persen.

Hingga akhir 2008, Surya berjanji akan menggenjot pelaksanaan program yang telah dirancang dari awal 2008 sehingga alokasi APBN di kementeriannya dapat tersalur lebih awal ke masyarakat. “Saya akan melakukan evaluasi yang cukup signifikan. Itu artinya, saya di 2008 akan bekerja lebih keras lagi,” janjinya.

Suryadharma juga menyatakan siap menerima teguran. Bahkan diberhentikan oleh Presiden jika ternyata lalai atas tanggung jawabnya sebagai menteri. “Kalau Presiden merasa terganggu, ya dengan sendiri, Presiden akan ambil tindakan. Apakah menegur atau memberhentikan,” ujar Suryadharma.

Menurut dia, Presiden dipastikan sudah memperhitungkan manuver atau langkah-langkah yang dilakukan menteri-menteri yang berasal dari parpol yang dipastikan akan menimbulkan risiko.

Andi Mattalata menilai tak perlu dipermasalahkan jika menteri dari parpol juga mengurusi partai, apabila urusan negara sudah selesai. “Ada waktu, apa salahnya (urus partai), asal saja urusan partai tidak yang menjadi utama,” kata Andi.

Dia mengaku jika ke daerah, dirinya tak melewatkan untuk berkomunikasi dengan kader Golkar di daerah. “Kalau tidak acara lagi, malamnya saya ketemu dengan kader partai. Yang penting jangan dimanfaatkan. Kita ketemu dengan orang daerah jangan bawa instansi ke sana atau ke acara partai,” kata mantan Ketua Fraksi Golkar di DPR tersebut.

Juru Bicara Kepresidenan Andi Malarangeng memastikan para menteri dari parpol akan tetap fokus dalam merealisasikan tanggungjawabnya sebagai pejabat negara.

“Pemerintah fokus pada pemerintah, termasuk menteri tetap harus fokus pada pemerintahan, menjalankan pemerintahan karena mereka sudah menyatakan siap maju menjalankan pemerintahan,” ujar Andi.

Menjelang Pemilu 2009, tensi politik memang dipastikan akan memanas. Di ajang Pilpres 2009, tarikan kepentingan makin kuat sejalan dengan makin maraknya kandidat calon Presiden (capres). Di antara kandidat, misalnya, PDI Perjuangan dipastikan mengusung Megawati. Adalagi Sutiyoso yang mendeklarasikan dirinya sebagai capres.

Sebelumnya, Sutiyoso juga bertemu dengan Megawati di kediamannya di Tengku Umar, Jakarta. PAN mengindikasikan akan mengusung Sri Sultan Hamengkubuwono X. Ketua Umum Partai Hanura Wirantomasih melakukan konsolidasi menghadap Pilpres 2009. PKB dipastikan mendorong Abdurahman Wahid sebagai capres.

Bagaimananpun kepentingan negara/rakyat tidak bisa dinomorduakan. Sebagaimana disampaikan pengamat politik Novel Ali dalam salah satu artikelnya: kepentingan partai politik merupakan bagian dari kepentingan negara.

Posisi negara ”di atas” posisi partai politik. Keberadaan, posisi dan kepentingan partai politik, hanyalah bagian kecil dari keseluruhan posisi serta kepentingan negara.

M. Yamin Panca Setia

Photo: Pelantikan menteri hasil reshuffle kabinet terbatas, dari kiri: Hatta Rajasa/ Menteri Sekretaris Negara, Andi Mattalata/ Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia, Jusman Syafii Jamal/ Menteri Perhubungan, Lukman Edy/Menteri Negara Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal, Mohammad Nuh/Menteri Komunikasi dan Informatika, Sofyan Djalil/ Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara (BUMN), dan Hendarman Supandji/Jaksa Agung, di Istana Negara, Jakarta, Rabu, 9 Mei 2007. [TEMPO/ Arie Basuki]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s