Mendengar Suara Rakyat di Podium Kepresidenan

ACARA pemberian penghargaan Ketahanan Pangan Tahun 2007 dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono kepada 156 orang yang berprestasi dan komitmen dalam membangun ketahanan pangan nasional di Istana Negara Kamis (15/11), berlangsung tak seperti biasanya.

Kali ini berlangsung santai dan lepas jauh dari kesan formal. Setelah memberikan apresiasi atas kontribusi yang telah diberikan kepada para penerima penghargaan, Presiden membuka kesempatan kepada sejumlah perwakilan peraih penghargaan untuk berbicara di podium yang biasa dipakai Presiden saat berbicara didepan umum.

“Saya ingin menggunakan forum ini untuk mendengar apa yang telah dilakukan anda sekalian yang menjadi teladan dan prestasi yang tinggi. Supaya kita saling belajar, rakyat mendengarkan bahwa cara-cara seperti ini dapat menyelamatkan kebutuhan pangan di Indonesia,” kata Presiden di hadapan hadirin.

“Silakan bicara di sini,” imbuh Kepala Negara. Pendeta Saul Elapere mendapat kesempatan pertama berbicara di fodium pun langsung maju. “Tolong Pak Saul. Cerita apa saja yang berhasil, yang dapat meningkatkan produksi pertanian,” kata Saul yang berpenampilan khas Papua itu mendapat aplaus dari hadirin.

Dia terlihat sedikit gugup ketika Presiden mempersilakannya bicara di fodium. “Puji Tuhan, saya diberikan kesempatan yang luar biasa. Presiden memberikan kesempatan kepada orang Papua untuk berdiri di fodium ini,” kataPimpinan Kelompok Koperasi Masyarakat petani kopi di Kabupaten Jayawijaya, Papua itu.

Dia pun menjelaskan realitas yang terjadi di daerahnya. Katanya, Wamena adalah jantung Papua. Luasnya daerahnya tiga kali lipat dibandingkan Jawa. “Lahan banyak, tapi sedang “tidur” pak Presiden. Bayangkan, kalau diolah, Indonesia tidak hanya mendapatkan dari tambang saja, tapi juga hasilnya pertanian,” katanya semangat.

Kepada Presiden, Saul mengharap agar pemerintah memperhatikan petani Papua yang ingin mengembangkan pertanian dan perkebunan. “Tanah kami siap, kami ingin seperti yang lain,” ujarnya disambut tepuk tangan. Dia juga mengharap agar pemerintah memperhatikan modal usaha bagi petani.

Menjawab harapan itu, Presiden pun mengatakan, pemerintah terus memikirkan soal modal usaha kecil dan menegah. BRI sudah mengucurkan kredit usaha mikro dengan pola penjaminan. Pemerintah telah mengeluarkan Rp1,4 triliun untuk memberikan modal bagi usaha mikro, kecil dan menengah.

“Tolong gunakan fasilitas itu mengembangkan perkebunan yang ada di Papua,” kata Presiden. Kemudian, Presiden mempersilahkan Ir Rini Sukriswati, Pembina petani tebu, Jawa Timur. Kata Rini, tahun 2002 ketika petani sangat terpuruk tidak mau menanam tebu karena harga dan produksi jatuh.

“Saat itu, saya sadar mengapa ini tidak menamam. Kenapa rendah produksi, pabrik gula kekurangan bahan baku,” katanya. Giliran ketiga perwakilan Kelompok Ternak Kambing Pegu Mas, Desa Gumelar, Banyumas, Jawa Tengah untuk berbicara di depan.

“Bicaranya pelan-pelan. Ruangannya agak menggema,” ujar Presiden mengingatkan agar tidak gerogi. Perwakilan peternak menjelaskan pembentukan kelompok ini yang dimulai 2001 setelah melihat perkembangan peternakan di Indonesia yang kekurangan stok daging. Sebanyak 11 orang merintis kelompok Pegu Mas yang asli dari Banyumas.

Kini kelompok ini sudah berkembang dengan anggota 32 orang dan memiliki 500 ekor kambing yang diperlihara, dan hampir 1000 ekor yang dijaga. Kelompok ini meminta Presiden agar memperhatikan pengadaan fasilitas dan pengelolaan pakan.

Mereka menyatakan butuh fasilitas modern untuk bisa beternak lebih banyak untuk memberdayakan ketahanan pangan. Mendengar pemaparan itu, Presiden bercerita tentang seorang kawannya dari Pacitan yang bernama Suparmo. Suatu saat Parmo ditanya SBY.

“Hai Parmo, gimana, apa kerjaannya sekarang?” tanya Presiden.

“Ternak kambing,” jawab Parmo ditirukan Presiden.

SBY melihat ternaknya berhasil. “Berapa kambingnya?” tanya Presiden lagi.

“Yang hitam atau yang putih pak?” tanya balik Parmo kepada SBY.

“Yang putih,” balas SBY.

Lalu, Suparmo pun menjelaskan, yang putih ada seratus ekor.

“Yang hitam?” tanya lagi Presiden.

“Sama,” jawab Parmo.

“Terus sekarang makannya, bisa berkembang bagus itu, sehari-hari pakai apa?” tanya SBY.

“Yang mana pak, yang hitam atau yang putih?” Parmo kembali bertanya. Yang putih? Timpal SBY.

Parmo, kata Presiden kemudian cerita begini dan begitu. “Kalau yang hitam sama,” kata Parmo.

SBY pun mengaku penasaran. Inikan sama hitam-putih kok selalu nanya hitam atau putih,” SBY bingung. “Akhirnya saya tanya lagi. Hai Parmo, kamu selalu membedakan yang hitam dan putih, kan sama?”

Begini pak, kalau yang putih itu kan kambing saya”. “Kalau yang hitam?” tanya SBY. “Sama,” jawab Parmo. Mendengar cerita itu, para hadirin pun tertawa terbahak bahak.

Dalam acara itu, Presiden juga memberikan kesempatan kepada Bupati Karanganyar Jawa Tengah, Rina Iriani Sri Ratnaningsih dan Gubernur Sumatra Selatan Syahrial Oesman untuk menceritakan keberhasilan yang telah dilakukan dari unsur pemerintah.

Menteri Pertanian Anton Apriantono mengatakan, penghargaan diberikan karena mereka membantu memecahkan penyediaan pangan, membantu mengatasi distribusi pangan apabila terjadi kelangkaan di wilayah.

Penghargaan Ketahanan Pangan tahun 2007 diserahkan kepada 156 orang yang telah memberikan prestasi dan komitmennya dalam upaya membangun ketahanan pangan nasional. Mereka yang menerima penghargaan tersebut antara lain, 6 orang gubernur, 11 orang bupati dan seorang walikota, serta 108 wakil kelompok tani, 30 aparat fungsional dan pejabat teknis.

Para Gubernur penerima penghargaan Ketahanan Pangan Nasional antara lain Gubernur Jatim Imam Utomo Suparno, Gubernur DIY Sri Sultan Hamengkubuwono X, Gubernur Sumsel Syahrial Oesman, Gubernur Sulsel Amin Syam, Gubernur Jambi Zulkifli Nurdin serta Gubernur Riau Rusli Zainal.

Turut hadir mendampingi Presiden dalam acara pemberian penghargaan tersebut antara lain Mentan Anton Apriyantono, Menakertrans Erman Soeparno, Mendagri Mardiyanto, Mensesneg Hatta Rajasa, Menkop UKM Suryadharma Ali, Seskab Sudi Silalahi dan Jubir Presiden Andi A. Mallarangeng.

Dalam kesempatan itu, Presiden juga menginstruksikan kepada Menteri Pertanian (Mentan) Anton Apriyantono dan para kepala daerah untuk terus mengembangkan diversifikasi bahan makanan pokok dengan mengurangi ketergantungan terhadap beras sebagi sumber karbohidrat.

Presiden mencontohkan pengolahan mie yang berhasil menggantikan nasi
sebagai sumber karbohidrat. Tetapi, Presiden menekankan agar bahan makanan, bahan bakunya berasal dari produk lokal, seperti jagung, sagu, ubi dan yang lain-lain.

“Kita telah berhasil membikin mie, sehingga masyarakat kita sekali-kali tidak makan nasi, tapi makan mie. Mie ternyata bisa menggantikan beras, sumber karbohidrat,” kata Presiden pada acara penyerahan penghargaan Ketahanan Pangan tahun 2007 di Istana Negara, Kamis (15/11) siang.

Menurut Presiden, jika sebagian besar masyarakat mengatakan bahwa produk
makanan baru itu enak dan bisa menggantikan nasi maka baru dapat dikatakan
sebagai salah satu ragam makanan baru yang kaya karbohidrat sehingga tidak
harus mengandalkan nasi atau beras.

Presiden juga meminta Mentan agar digelar perlombaan yang mendorong semua pihak melakukan diversifikasi bahan makanan pokok.

“Tolong dilombakan Pak Anton. Kasih penghargaan yang tinggi, saya akan
kasih bintang dan uang yang banyak tetapi dengan syarat makanan itu harus
disenangi masyarakat,” kata SBY.

Mentan mengakui bahwa konsumsi makanan pokok Indonesia masih didominasi oleh beras sehingga ke depan pemerintah akan terus berupaya melakukan diversifikasi pangan.

Menurut Mentan, berdasarkan angka ramalan ketiga BPS 2007 ketersediaan
pangan mengalami peningkatan. Untuk beras menjadi 57,05 juta ton gabah
kering giling atau naik 14,8 persen dan untuk jagung menjadi 13,3 juta ton
atau naik 14,4 persen dibanding pada 2006.

Dalam kesempatan itu, Presiden SBY juga berjanji pemerintah akan terus bekerja keras dan akan membangun sektor pertanian mulai dari infrastruktur, penyediaan anggaran, penyediaan teknologi, serta mengatur stabilitas harga gabah atau beras agar petani memiliki nilai tukar yang lebih baik.

Presiden menilai, biaya operasional petani untuk memproduksi beras harus lebih kecil dibandingkan biaya yang dikeluarkan petani saat menjual gabah. Presiden juga mengutip data dari Badan Pusat Statistik (BPS) mengenai pertumbuhan pertanian tahun ini yang jauh lebih baik jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya yakni mencapai ertumbuhan 4,8 persen. Presiden menyerukan agar pertumbuhan tersebut terus ditingkatkan. M.Yamin Panca Setia

M. Yamin Panca Setia

Presiden SBY didampingi Ibu Negara menyerahkan Penghargaan Ketahanan Pangan kepada Pendeta Saule Elopere dari Keluarga Koperasi Masyarakat Petani Kopi Kabupaten Jaya Wijaya, Papua di Istana Negara, Kamis (15/11) siang. (foto: anung/presidensby.info)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s