Silaturahmi Politik Jelang Sukesi


Silaturahmi Bermotif Politik Jelang Pilpres 2009


“TIDAK ada yang tanya soal Capres?” kata Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Pernyataan itu dilontarkan Kepala Negara usai jumpa pers yang menjelaskan hasil rapat kabinet mengenai persiapan lebaran tahun 2007 di Kantor Presiden, Jakarta (4/10). Mendengar pernyataan itu, wartawan diam sejenak. Lalu, mereka tiba-tiba tertawa meledak.

Pikir wartawan, Presiden rupanya menunggu pertanyaan soal hubungan dirinya dengan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) yang ramai diberitakan telah pecah kongsi. ”Kalau tahu gitu, mau tanya tuh,” celetuk seorang wartawan.

Kebetulan saat itu, disamping Presiden ada Wapres. JK juga tersenyum mendengar pernyataan Presiden tersebut. Namun, tak sepatah kata pun dilontarkannya.

Lantaran tak ada satu pun wartawan yang mengajukan tawaran pertanyaan Presiden itu, kedua pemimpin negara itu pun langsung meninggalkan keramaian wartawan dan langsung masuk ke Kantor Presiden.

Pernyataan Presiden itu pada dasarnya ingin menjawab pemberitaan terkait dengan rencana JK untuk mencalonkan dirinya sebagai Capres pada Pilpres 2009. Ada pernyataan JK yang agaknya melebar dari konteks pernyataan yang dikatakan JK. Pernyataan JK yang ingin mencalonkan diri sebagai Capres pada Pilpres 2009 ternyata diinterpretasikan wartawan sebagai indikasi jika dirinya pecah kongsi dengan SBY.

Sebenarnya, JK sendiri kembali menegaskan tidak benar jika dirinya pecah kongsi dengan SBY.

JK bersama SBY sepakat akan melaksanakan berbagai tugas negara dengan sebaik-baiknya sampai akhir masa jabatan. Baru setelah tiga bulan menjelang pemilu, keduanya membicarakan rencana pencalonan di Pilpres 2009. JK sendiri mengatakan, keputusan dirinya untuk masuk di bursa Capres 2009 tergantung keputusan Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) Partai Golkar yang dipimpinnya.

Sabtu lalu (6/10), Presiden mengkritik ramainya pemberitaan mengenai perpisahan dirinya dengan JK. Presiden mengharap, media bersikap arif dalam memuat suatu pemberitaan.

Presiden juga mengharap agar wartawan bisa membantu mengkomunikasikan kepada rakyat apa yang dilakukan oleh presiden saat ini.

Kamis malam (4/10) lalu, saat berbuka puasa di Istana Negara bersama sejumlah pimpinan Lembaga Negara, para menteri, Wantimpres, pimpinan TNI dan Polri, para Dubes negara-negara Islam, beserta para pemimpin redaksi baik media cetak, maupun media eletronika seluruh Indonesia, Presiden mengatakan, keinginan JK mencalonkan dirinya sebagai Presiden, tidak akan mengganggu jalannya pemerintahan.

“ Tidak. Beliau (JK) Ketua Umum Golkar, tentu harus melakukan komunikasi dengan Golkar tentang proyeksi politik tahun 2009. Hubungan saya dengan Pak Jusuf Kalla tetap baik, dan tentunya menjadi kewajiban saya dan Pak Jusuf Kalla untuk lebih mencurahkan pikiran waktu dan tenaga kami berdua untuk menjalankan tugas,” kata Presiden.

Kepala Negara juga menyambut positif munculnya sejumlah Capres belakangan ini, meski Pilpres masih berlangsung dua tahun lagi. Presiden sendiri mengikuti pernyataan Megawati dan Sutiyoso terkait dengan pencalonannya.

“Bagi saya positif, bagus. Itulah demokrasi yang makin mekar. Kalau kita berpikir positif, makin banyak calon, maka makin banyak pilihan rakyat. Pada saatnya nanti rakyat tentu akan memilih yang menurut mereka tepat untuk memimpin negeri kita tahun 2009 mendatang.”

PILPRES tahun 2009 masih dua tahun lagi. Namun, suhu politik mulai memanas. Sejumlah politisi mulai gencar melakukan manuver. Beberapa calon sudah bermunculan. Dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Megawati sudah memastikan akan maju sebagai kandidat. Lalu, Sutiyoso mendeklarasikan dirinya sebagai capres. Sutiyoso rupanya ingin mengikuti jejak Bill Clinton dan George W Bush yang mencalonkan Presiden Amerika Serikat saat masih menjadi Gubernur negara bagian Paman Sam itu. Sutiyoso gencar melakukan safari politik untuk meraih simpati.

Selasa (2/10) lalu, Sutiyoso mengawali safari politiknya ke rumah jurukunci Gunung Merapi, Ki Surakso atau yang dikenal Mbah Marijan di Dusun Kinahrejo, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Sebelumnya, Sutiyoso juga bertemu dengan Megawati di kediamannya di Tengku Umar, Jakarta.

Sri Sultan Hamengkubuwono X juga mengindikasikan akan maju ke Pilpres jika ada partai yang melamar dirinya.

Sementara Wiranto, Ketua Umum Partai Hanura mengaku masih melakukan konsolidasi menghadap Pilpres 2009. Abdurahman Wahid yang biasa disapa Gus Dur dipastikan akan didorong PKB untuk menjadi kandidat Pilpres.

PDIP agaknya paling gencar melakukan lobi lintas partai politik untuk meraih dukungan maksimal. Pertemuan akbar pernah digelar PDIP dan Golkar. Megawati juga pernah ketemu dengan Gus Dur. Selain itu, Megawati juga telah menggelar pertemuan dengan Ketua DPP PPP Suryadarma Ali, dan Sutiyoso.

Meski tidak secara frontal diungkapkan jika pertemuan itu diarahkan untuk persiapan Pilpres 2009, namun naga-naganya PDIP coba melakukan pendekatan lintas parpol untuk menggalang dukungan kepada Megawati. Partai Golkar dipastikan akan mengusung Jusuf Kalla (JK) Ketua Umum partai berlambang pohon beringin itu sebagai Capres.

Politisi Partai Amanat Nasional (PAN) juga tak kalah gencar melakukan manuver. Meski belum memastikan siapa calon yang akan diusung, PAN coba melakukan seleksi kepada sosok yang dianggap pas menjadi Capres.

Mantan Ketua Umum DPP Partai Golkar Akbar Tandjung menilai, munculnya para kandidat capres seperti Megawati Soekarnoputri (PDIP), Sutiyoso, Sri Sultan Hamengkubowono, Wiranto dan Abdurrahman Wahid yang akan bersaing di Pilpres 2009 merupakan sebuah terobosan politik yang bagus untuk perkembangan demokrasi.

Namun, Akbar menilai, para calon baiknya juga mempersiapkan visi dan misinya agar masyarakat bisa menilai program yang ditawarkan.

“Munculnya Megawati sebagai capres PDIP merupakan figur perekat yang membuat partai lebih solid. Jika Mega sudah menyatakan siap, seharusnya dia sudah menyiapkan visi dan misinya. Kalau tidak, orang tidak akan tahu apa yang akan diperjuangkan dan membandingkan kembali kinerjanya dengan terdahulu saat menjadi presiden,” katanya.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menilai positif munculnya calon-calon presiden. Namun, Presiden mengharap, para pejabat di jajaran pemerintahan, mulai dari gubernur, menteri atau siapapun yang ingin maju sebagai Capres harus tetap lebih mengutamakan tugas-tugas pemerintahan hingga akhir masa baktinya. Presiden sendiri belum memastikan akan maju atau tidak dalam Pilpres 2009. Kepala Negara ingin lebih fokus menyelesaikan tugas pemerintahan hingga akhir masa jabatan.

Sementara itu, Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhanas) Muladi menilai, maraknya pencalonan presiden dalam Pemilu 2009 saat ini merupakan cerminan dari krisis etika dan ideologi dalam kehidupan politik nasional.

“Sangat tidak etis, orang masih dua tahun menjabat sudah dikatakan tinggal enam bulan lagi berkuasa,” ujarnya menanggapi pernyataan Taufik Kemas yang mengatakan .

Fokus Tugas Pemerintahan

Presiden SBY belum bisa memastikan akan maju kembali dalam Pilpres 2009. Presiden menegaskan dirinya masih ingin fokus melanjutkan tugas dan tanggungjawabnya sebagai Kepala Negara. Menurut Presiden, tidak tepat jika di tahun 2007, dirinya sudah menyampaikan maju atau tidak maju. ”Biarkan saya melanjutkan tugas saya menuntaskan banyak pekerjaan rumah sampai akhir masa bhakti selesai pada tahun 2009. Saya akan menyampaikan posisi saya secara tepat, dalam arti pada waktu yang tepat,” ujarnya.

Maju atau tidak bagi Presiden tergantung kalkulasi. ”Kalau saya pikir baik untuk bangsa, untuk negara dan untuk rakyat, ya saya Insya Allah akan maju. Tetapi kalau justru menurut perhitungan saya tidak baik, saya tidak akan maju,” jawab Presiden.

Kepada para pejabat pemerintahan yang ingin mencalonkan sebagai Capres 2009, Presiden menyerukan agar tetap mengutamakan tugas-tugas pemerintahan.

”Kalau tidak, nanti kasihan rakyat. Program kita nanti tidak terlaksana. Berkompetisi-lah yang baik, yang fair dan sehat. Dengan demikian kita meletakkan tradisi politik yang baik. Rakyat juga akan senang.”

Mantan Ketua Umum Partai Golkar Akbar Tanjung menilai tepat pernyataan Presiden SBY karena dirinya akan lebih fokus pada tugas pemerintah dan baru akan menentukan kapan akan maju lagi.

“Secara politis, SBY tidak memiliki persoalan kapan harus maju, tinggal menentukan waktu saja. Yang menjadi persoalan justru ada di Jusuf Kalla. Pernyataannya tidak bisa menentukan pencalonan dirinya justru bisa merugikan partai,” kata mantan Ketua DPR itu.

Ketua Fraksi Partai Demokrat DPR Syarief Hasan menyatakan sependapat dengan Presiden SBY yang menyatakan bahwa pemerintah akan berkonsentrasi periode menyukseskan program kerja selama dua tahun sisa periode pemerintahan saat ini.

”Sikap SBY adalah sikap seorang negarawan yang baik. Kami setuju bahwa Pemerintah masih berkonsentrasi menyukseskan program kerja selama dua tahun sisa waktu pemerintahan saat ini,” kata Syarief.

Jusuf Kalla juga terpaksa harus meluruskan pemberitaan yang ramai diberitakan Rabu (3/10) terkait dengan pernyataannya yang akan mencalonkan diri sebagai calon Presiden di Pilpres 2009. Pernyataan JK jika dirinya bisa saja pisah atau tidak dengan SBY pada Pilpres 2009 ternyata diinterpretasikan wartawan sebagai indikasi kedua pemimpin negara sudah pecah kongsi.

“Tidak ada suatu kalimat yang mengatakan bahwa saya siap berpisah atau apa. Tidak ada itu. Hanya semua dikembalikan kepada partai. Itu sama persis dengan pernyataan SBY (pada Kamis malam (4/10),” kata Kalla kepada pers di Kantor Wapres, Jakarta, Jum’at (5/10).

Wapres menegaskan tak ada perbedaan sikap dirinya dengan Presiden SBY terkait wacana pencalonan presiden di Pemilihan Presiden (Pilpres) 2009. Keputusan tentang pencalonan baru diambil tiga bulan menjelang pemilu.

JK juga memastikan Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) akan tetap stabil hingga berakhirnya masa jabatan pemerintahan di bawah kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tahun 2009. Kalla justru meyakini jika di akhir jabatan pemerintahan, KIB akan semakin hebat dalam bekerja.

Muhammad Qodari, Direktur Eksekutif Indo Barometer menilai, pernyataan klarifikasi yang dilakukan JK membuktikan adanya kesadaran (mutual understanding) yang dilakukan JK untuk menjaga soliditas pemerintahan bersama Presiden SBY.

Qodari juga menilai pernyataan Presiden cukup bijak dan elegan. Jika Presiden ingin menjawab pelbagai manuver politik, maka disarankan untuk menjawab secara moderat, sejuk seperti yang sudah dilontarkan Presiden Jum’at malam lalu. “Tetap cool, count and confidient,” ujar Qodari.

Menurut dia, Presiden SBY harus tetap fokus pada pencapaian program kerja KIB yang masih dipimpinnya selama dua tahun, daripada menanggapi suhu politik yang mulai memanas menjelang Pilpres 2009.

Qodari mengatakan, soliditas SBY-JK sangat penting untuk mengejar realisasi sejumlah program KIB. Dengan demikian rakyat akan puas dan berpengaruh positif terhadap keduanya jika ingin maju dalam Pilpres 2009.

Qodari menyambut positif pernyataan Presiden SBY jika dirinya belum mau memikirkan Pilpres 2009, namun lebih mengutamakan penyelesaian tugas pemerintahan.

“Kalau pemerintahan terbengkalai, masyarakat akan menghukum. Dinamika politik saat ini hanya bisa dijawab dengan kerja. Itu saja, tidak ada lainnya,” ujar Qodari.

Terkait dengan sejumlah menteri di KIB yang mulai melakukan manuver, Qodari mengatakan, Presiden harus terus melakukan evaluasi atas kompetensi dan dukungan politiknya. ”Jika ada menteri yang kemungkinan pisah dengan SBY, lebih baik mundur dari sekarang.”

Sejauh ini, kinerja pemerintahan SBY JK cukup baik. Pertumbuhan ekonomi makro ekonomi mencapai 6 persen. Komponen pembayaran pajak tahun meningkat dibandingkan tahun lalu, year on year mencapai peningkatan 50 persen. Sementara pada semeter pertama 2007, tumbuh 20,8 persen. Jika pertumbuhan itu dapat dipertahankan dan ditingkatkan hingga akhir tahun, maka Indonesia dapat kembali ke periode sebelum krisis yakni dengan tingkat perumbuhan ekonomi mencapai 6-7 persen.

Arus investasi yang mengalir ke Indonesia juga terus meningkat. Pada Tahun 2007, Penanaman Modal Asing (PMA) tumbuh sekitar 16,8 persen, dari Rp31,6 trilun, menjadi Rp37 triliun. Sementara Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) naik 135 persen, atau dari Rp11,8 triliun menjadi Rp28 triliun. Pada semester I tahun 2007, peningkatan PMDN tumbuh 72 persen dari Rp67 triliun menjadi Rp115,4 triliun. Sedangkan PMA tumbuh 301,67 persen dari Rp53,73 triliun pada Semester I 2006 menjadi Rp215,82 triliun pada Semester I tahun 2007.

Karena itu, Qodari menilai soliditas pasangan harus tetap kuat sehingga tidak ada persepsi masyarakat dan investor bahwa pasangan ini sudah pecah kongsi dari sekarang, ”Kemudian diasumsikan terjadi instabilitas politik yang berpengaruh terhadap keyakinan investor sehingga pertumbuhan ekonomi akan terhambat,” kata Qodari.

Dari survei yang dilakukan Indo Barometer pada Mei 2007, Qodari menjelaskan, SBY unggul atas beberapa tokoh nasional yang potensial tampil sebagai Capres 2009. sementara JK, paling unggul sebagai Wapres 2009. “Dari aspek populeritas pada Mei 2007, SBY yang paling populer, dan Wapres yang paling populer adalah JK. Dari situ, maka SBY butuh JK, dan JK butuh SBY,” kata Qodari.

Untuk Capres, SBY menempati posisi teratas dengan perolehan 35,3 persen suara. Disusul oleh Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri (22,6 persen), Sri Sultan Hamengku Buwono X (7,7 persen), Wiranto (6,7 persen), dan Amien Rais (5,1 persen). Sementara, Jusuf Kalla hanya menempati urutan ketujuh dengan perolehan suara 2,9 persen.

M. Yamin Panca Setia

Presiden SBY dan Wapres JK berdoa setelah shalat Maghrib berjamah usai berbuka puasa bersama di Istana Negara, Kamis (4/10) petang. (foto: abror/presidensby.info)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s