Pelajaran dari Gempa Sumatera

 

 

 

 

 

 

 

 

 

SEKITAR pukul 08.30 WIB, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Ibu Negara Ani Yudhoyono beserta rombongan tiba di Bandara Fatmawati Soekarno, Bengkulu Senin (17/9). Presiden bertandang ke Bengkulu untuk melihat langsung korban gempa berkekuatan 7,9 skala richter (SR) mengguncang Sumatera pada 12 September lalu.

Bengkulu dan Sumatera Barat adalah daerah yang paling merugi karena digoyang gempa. Gempa juga dirasakan warga Lampung, Medan, Jakarta, dan Bandung.

Saat tiba di bandara, Presiden disambut Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Aburizal Bakrie, Gubernur Bengkulu Agusrin M Najamudin. Nampak pula Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto dan Menteri Kesehatan Siti Fadhillah Soepari, mendamping Presiden.

Presiden beserta rombongan langsung menuju Satkorlak Penanggulangan Bencana Alam (PBA) Provinsi Bengkulu. Di sana, Presiden mendengarkan pemaparan Agusrin soal kronologi dan upaya tanggap darurat saat gempa melanda. Dari laporan yang disampaikan Agusrin, Presiden agaknya meragukan data kebutuhan untuk korban gempa.

Kepala Negara mempertanyakan soal verifikasi yang menjadi acuan penentuan data yang dipaparkan Agusrin. “Sebentar, ini (data) sudah diverifikasi belum. Atau baru laporan pertama,” kata Presiden saat Agusrin memaparkan kronologi dan upaya tanggap darurat yang dilakukan aparat di Satkorlak Propinsi Bengkulu, Senin (17/8).

“Ini baru laporan pertama Bapak Presiden hasil dari laporan bupati dan mereka sudah melibatkan dinas terkait yang ada di daerah,” jawab Agusrin.

Sebelum Agusrin melanjutkan, Presiden berkomentar. “Pengalaman-pengalaman selama ini, baik korban gempa yang terjadi di Yogyakarta dan Klaten atau di tempat lain, maka segera dilakukan verifikasi baik melibatkan unsur teknis, dan ahli, lalu kita kalkulasikan.” “Siap. Siap, Pak. Ini laporan baru sementara,” kata Agusrin lagi.

Menurut dia, laporan ini disampaikan agar wartawan mengetahui beratnya situasi yang terjadi. Menurut dia, kadang diasumsikan bahwa 14 orang meninggal sepertinya gempanya ringan dan tidak terlalu besar. Bengkulu pernah diguncang gempa tektonik berkekuatan 7,3 SR pada awal Juni 2000 dan menelan 94 orang meninggal dan kerugian sekitar Rp400 miliar.

“Jumlah korban memang sedikit. Sepertinya tidak terlalu dahsyat gempa ini. Ini karena jauh-jauh hari kita mensosialisasikan bagaimana menghadapi gempa,” kata Agusrin. Kebetulan, lanjutnya, gempa terjadi pada sore hari sehingga masyarakat dengan cepat keluar rumah untuk menyelamatkan diri.

Agusrin juga memaparkan soal kebutuhan mendesak yang belum terpenuhi di hadapan Presiden. Lagi-lagi Presiden berbicara. “Ini kenapa bergerak terus slide-nya. Mengalir dengan penjelasan gubernur. Ikuti penjelasan gubernur,” kata Presiden yang rada kesal karena slide yang menjadi bahan presentasi Agusrin tidak sejalan dengan penjelasan lisan Agusrin. Buru-buru Agusrin pun memerintahkan kepada petugas. “Tolong Pak, infokus jangan ditutupi.”

Dia kemudian melanjutkan penjelasan soal kebutuhan makanan bagi korban. Agusrin mengatakan, kebutuhan beras sangat cukup. Namun, banyaknya penduduk yang tidak ingin tinggal di rumah saat itu menyebabkan kebutuhan tenda dan selimut ternyata di luar dugaan.

Khususnya anak-anak di Bengkulu saja, kata Agusrin, banyak yang trauma sehingga tidak ingin tidur di dalam rumah, meski keadaan rumah hanya rusak ringan. “Sarung atau selimut yang dibutuhkan sekitar 83 ribu.” Katanya.

Memperhatikan angka itu, Presiden bertanya. “Itu rumah yang roboh, atau kerusakan total, barang-barang pribadi bisa diselamatkan tidak?”

“Ada yang bisa Pak. Misalnya tempat masak, kalau masih bisa dipakai, ya dipakai,” jawab Agusrin sekenanya.

Jawaban itu agaknya tidak ada kaitan dengan pertanyaan Presiden. Makanya, saat Agusrin melanjutkan penjelasan mengenai jumlah tenda yang dibutuhkan, Presiden kembali bertanya. “Entar. Saya ingin tanya masalah selimut dan sarung ini lho. 83 ribu iya toh. Ini asumsinya, pakaian sudah tidak ada lagi seperti tsunami hilang semuanya. Pertanyaan saya, apakah jumlah selimut dan sarung itu dihitung berdasarkan jumlah rumah yang korban dikali penghuninya. Itu dilihat di lapangan?” tanya Presiden.

Agusrin pun menjawab, jumlah itu ditentukan berdasarkan kebutuhan yang diminta bupati. “Tapi, kita melihat mana yang paling urgen Pak. Yang tidak layak, kita tidak penuhi. Tidak semua pak, kita selektif,” jawabnya menyakinkan.

Tapi, Presiden masih meragukan data tersebut. “Sepertinya tak sampai. Tenda harus sampai 6.640. Tidak sampai Pak. Saya ingin lihat di lapangan. Saya juga ingin tahu apa yang dilaksanakan bupati dan camat.”

Presiden memang tak puas dengan data yang dilaporkan Agusrin. Dari pengalaman selama tiga tahun, kata Presiden, memang tak mudah mengelola keadaan seperti ini. “Ada data dari pengecekan, yang ditulis dengan yang dihitung, tidak masuk akal. Harus akuntabel,” kata Presiden.

Lain halnya saat Presiden menerima laporan dari Gubernur Sumatera Barat Gamawan Fauzi di kediaman Bupati Pesisir Selatan, Asrul Ajib, Senin malam. Presiden senang atas laporan Gamawan yang mencatat akurat data korban, kerusakan hingga jumlah pengungsi. Menurut Presiden, akurasi data sangat mendasar sehingga harus ada verifikasi yang jelas karena dana yang digunakan adalah dana negara yang mesti dipertanggung-jawabkan.

“Saya memberikan pujian kepada Sumbar. Ini contoh bagaimana memelihara kesiagaan, latihan, protapnya dijalankan. Itu bagus. Saya menganjurkan provinsi lain mengikuti Sumbar. Tolong dikembangkan lalu organisasi ditata dan dipersiapkan,” ujar Presiden seraya berharap Sumbar menjadi model dalam menghadapi bencana. “Saya minta ada model-model posko yang jika orang masuk ke posko, ketemu, semua kronologi, data korban jiwa, material, apa yang diperlukan,” kata SBY.

Tanggung Jawab Pemimpin

Dalam kesempatan itu, Presiden juga menyesalkan jika ada kepala daerah yang rakyatnya tengah mengalami musibah, tetapi tidak ada di daerahnya. Pemimpin harusnya terdepan dalam mengatasi, berada di lapangan, ambil risiko, memberikan beberapa instruksi untuk membimbing dan mengarahkan masyarakat sehingga semua bisa diselesaikan dengan baik.

”Saya instruksikan semua pejabat pemerintah untuk kembali ke tempat, menjalankan tugasnya dengan sepenuh hati. korbankan waktu pikiran, ambil risiko, agar rakyat kita tenang ada yang memimpin ada yang mengatur,” ujar Kepala Negara.

Saat gempa menggoyang Bengkulu, Agusrin sedang berada di Amerika Serikat (AS) sejak 23 Agustus lalu, untuk mengikuti pelatihan kepemimpinan atas undangan pemerintah di sana. Karenanya, saat gempa terjadi, Presiden kesulitan berkomunikasi dengan Agusrin. Pejabat yang bisa dihubungi adalah Wakil Gubernur Bengkulu M. Syamlan. Presiden tidak bisa mentolerir alasan apa pun jika diketahui ada kepala atau pejabat daerah yang tidak ada di tempat kala masyarakat dihadapi situasi genting. “Kalau pemimpinnya tidak ada, tidak mau ambil risiko, itu bukan pemimpin,” tegas Presiden .

Pernyataan itu dilontarkan Presiden tak hanya buat Agusrin, tapi ditujukan kepada kepala daerah lainnya. Memang, sungguh tak elok kala rakyat terkena musibah, pemimpinnya justru melalang buana ke negeri orang.

Presiden juga mengingatkan, agar tak coba-coba “mengail di air keruh” dengan memanipulasi anggaran bencana alam. “Tak boleh yang seharusnya Rp20 miliar, menjadi Rp40 miliar yang digunakan untuk kepentingan lain,” kata Presiden. “Itu adalah kejahatan luar biasa jika di tengah-tengah kesulitan seperti ini. Jangan dimanipulasi. Dosanya besar,” SBY menegaskan.

Masih Trauma

Muko Muko, salah satu kabupaten di Bengkulu yang paling rusak diguncang gempa berkuatan 7,9 skala richter (SR). Bupati Muko Muko, Ichwan Yunus melaporkan, gempa menewaskan lima orang. Untuk masalah pangan, sudah dapat diatasi oleh pemerintah setempat dengan memanfaatkan beras hasil penggilingan di Muko Muko.

Presiden kemudian menyerahkan bantuan berupa tenda, mie instan, air minum, pakaian, minyak goreng, paket sembako, serta uang senilai Rp1 miliar. Di sana, sebagian warga hingga kini masih tidur di tenda-tenda. Mereka masih trauma jika terjadi gempa susulan. Selain itu, rumah mereka juga belum diperbaiki.

Di Muko Muko, warga memilih tidur di tenda-tenda, baik yang didirikan di depan rumah maupun tempat pengungsian. Bupati Ichwan Yunus mengatakan, penduduk di daerahnya berjumlah 33 ribu kepala keluarga (KK) dan seluruhnya masih memilih tidur di tenda. Warga juga memilih untuk tinggal di ketinggian seperti Kecamatan Lubuk Pinang, SP3, SP6 dan Teras Terunjam.

Gempa juga merusak kabupaten Bengkulu Utara. Bupati Bengkulu Utara Imron Rosyadi memperkirakan, kerugian akibat gempa mencapai Rp1,5 triliun. Total rumah penduduk Bengkulu Utara yang mengalami kerusakan 19.054 unit, dengan rincian sebanyak 6.415 unit rusak total, 10.869 unit rusak berat dan 1.770 unit rusak ringan. Untuk Puskesmas yang mengalami rusak total 14 unit dan rusak berat serta ringan masing-masing empat unit.

Kerusakan juga terjadi pada Puskemas pembantu yang hingga saat ini tercatat 20 unit Pustu rusak total, 25 unit rusak berat dan 28 rusak ringan, rumah dokter sebanyak 10 rusak total, 19 rusak berat dan 12 rusak tingan, rumah paramedis, rusak berat 26 unit, rusak berat 23 unit dan rusak ringan 35 unit. Selanjutnya, gudang obat Puskesmas, rusak total tiga unit dan rusak berat serta ringan masing-masing dua unit, poliklinik desa/pos kesehatan desa yang rusak total sebanyak 24 unit, rusak berat 12 unit dan rusak ringan enam unit.

Warga Bengkulu masih khawatir gempa susuan terjadi. Selasa Sore lalu (18/9), gempa susulan berkekuatan 5,8 SR kembali menggoyang. BMG setempat melaporkan, gempa susulan yang terjadi pukul 15.41 WIB itu berada pada kedalaman 96 Km barat laut Lais, Bengkulu Utara berada pada 3.2 Lintang Selatan (LS) dan 101.25 Bujur Timur (BT) dengan kedalaman 20 Km.

Di Sumatera Barat, gempa dirasakan di kabupaten Pesisir Selatan (Pessel). Bupati Pesisir Selatan Asrul Ajib, mengatakan, kerugian akibat bencana gempa bumi yang terjadi pada tanggal 12 September 2007 lalu, total Rp. 768,98 milyar. Kerusakan terjadi di sejumlah tempat seperti di Kabupaten seperti Pessel, Mentawai, Padang Pariaman, Pariaman (188 unit), Agam, Padang dan Solok .

Saat memberi pengarahan kepada bupati se Sumatera Barat di kediaman Bupati Kapupaten Pesisir Selatan, Asrul Ajib, Selasa pagi, Presiden menekankan pentingnya pemimpin yang tanggap darurat saat bencana alam menimpa daerahnya.

Presiden juga menjelaskan lima cara efektif menangani bencana dan dampak-dampaknya yaitu pertama, pengorganisasian yang tepat. Kedua, kesiapan Pemda dengan melakukan pelatihan, sosialisasi, dan edukasi soal bencana kepada masyarakat. Ketiga, penanganan bencana juga harus didukung sistem manajemen pemerintahan daerah yang bagus, sehingga segala sesuatunya dalam mengatasi bencana bukan rencana bangun tidur.

Presiden juga menekankan kepemimpinan yang baik yaitu mampu memberi di lapangan, seperti mengecek data korban yang tepat dan akurat, pengungsi, termasuk kerugian yang di derita masyarakat. terakhir, dapat memanfaatkan teknologi bekerja sama dengan negara sahabat dan dunia internasional.

Dalam kesempatan itu, Presiden memaparkan presentasi berjudul living on the edge (hidup di pinggiran). Presentasi itu diarahkan agar pemimpin negeri ini secara mental, pengetahuan, dan keterampilan dapat siap berkorban karena Indonesia adalah negara rawan gempa yang kemungkinan akan menyebabkan tsunami. Indonesia juga memiliki gunung merapi yang rawan meletus. “Semuanya harus siap,” kata Presiden.

Dalam living on the edge, kata Presiden, Indonesia yang merupakan negara kaya, juga memiliki kekurangan, yakni rawan bencana. Karena itu, masyarakat Indonesia harus akrab bahkan harus bisa mengubah musibah menjadi berkah.

Presiden mengingatkan agar masyarakat tidak mengkaitkan gempa yang kerap terjadi di Indonesia dengan takhayul, dengan mengkaitkan dirinya sebagai Presiden sebagai penyebab.

Presiden juga menilai, Sumatera Barat merupakan salah satu wilayah yang potensial terkena musibah. Presiden mengibaratkan Sumatera Barat sebagai supermarket bencana, karena memiliki lima gunung api, potensi terhadap tsunami, dan longsor karena wilayahnya perbukitan.

Simpang Siur Informasi

SRI Woro Harijono, Kepala Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) menyesalkan adanya informasi akan gempa yang berpotensi terjadinya tsunami yang beredar di masyarakat. Sri menilai, spekulasi akan terjadinya gempa yang disampaikan sejumlah ahli dan praktisi yang dikutip sejumlah media, hanya membuat masyarakat panik.

Makanya, Sri berbicara untuk meluruskan sejumlah spekulasi yang hanya meresahkan masyarakat tersebut. “Kasian kan masyarakat,” katanya di Bengkulu Senin lalu.

Dia mengimbau agar masyarakat tidak percaya dengan sejumlah spekulasi yang memprediksi akan terjadi gempa susulan dengan kekuatan 9,0 skala richter seperti yang beredar lewat pemberitaan atau sejumlah pesan singkat (SMS). “Sampai saat ini belum ada teknologi yang bisa secara ilmiah diterima untuk menentukan kapan gempa terjadi dan besarnya,” jelas Sri menyakinkan.

“Bila ada informasi seperti itu dan bukan dari BMG, tidak benar,” katanya sambil memaparkan data rekaman mengenai kekuatan gempa.

Sri mengharap agar media tidak memuat informasi mengenai besar dan di mana gempa akan terjadi karena memang belum ditentukan.

Menanggapi komentar sejumlah ahli dan pengamat yang memprediksi akan kemungkinan terjadi gempa susulan di Sumatera dan Jawa, Surono Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Geologi Departemen ESDM menilai, pernyataan tersebut sama sekali tidak berdasarkan kajian ilmiah dan hasil penelitian. “Itu suatu pendapat yang sangat spekulatif,” katanya.

Jika ada pengamat atau peneliti gempa yang mengeluarkan pernyataan mengenai besarnya gempa, harus dicermati apa dasar perkiraannya.

Dasarnya apa? Negara kita adalah negara yang rawan gempa bumi dan memiliki gunung api. Jadi, jangan sampai masyarakat hanya diombang ambingkan oleh potensi. “Potensi itu bisa 0-100 persen. Bisa saja itu hanya 1 persen,” uajrnya.

Gempa susulan memang masih terjadi. Masyarakat panik untuk menyelamatkan diri. Pada Selasa (18/9) gempa susulan masih dirasakan oleh warga Bengkulu dan Sumatera Barat. BMG Bengkulu melaporkan gempa berkekuatan 5,8 SR kembali menggoyang Bengkulu. Gempa susulan yang terjadi pukul 15.41 WIB berada pada kedalaman 96 Km barat laut Lais, Bengkulu Utara berada pada 3.2 Lintang Selatan (LS) dan 101.25 Bujur Timur (BT) dengan kedalaman 20 Km.

Sementara di Sumatera Barat, BMG Padang Panjang melaporkan terjadi gempa berkekuatan 5,9 SR pukul 15:41 WIB di kedalaman 10 km. Gempa dirasakan wrga di sepanjang Pesisir Selatan dan Kota Padang.

Di hari yang sama, BMG Bandung mengabarkan gempa bumi berkekuatan 5,1 SR mengguncang kawasan pesisir Tasikmalaya. Gempa terjadi sekitar pukul 05.37 WIB itu dirasakan oleh warga di kawasan Pasisir Pantai Selatan Tasikmalaya dalam dalam hitungan 3-4 detik.

Menurut Sri Woro, berdasarkan data statistik dari BMG, peluruhan gempa susulan, untuk gempa sebesar 7,9 SR yang terjadi pada 12 September lalu, masih terjadi selama dua minggu.

Namun, skalanya tidak besar. Makin lama, skalanya mengecil. “Kekuatannya antara 4 hingga 5,5 skala. richter. ‘Kemungkinan bisa saja (terjadi), tapi tidak tahu kapan dan di mana,” ujar Sri. | M. Yamin Panca Setia

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s