Amankan Malaka Demi Kepentingan Global


PENGAMANAN Selat Malaka mutlak terus dilakukan untuk mengantisipasi kejahatan transnasional, dan ancaman terorisme. Pengamanan selat yang panjangnya mencapai 500 mil itu juga mutlak dilakukan karena menyangkut kepentingan global.

Betapa tidak, Selat Malaka adalah jalur lalu lintas 80 persen minyak dunia dan 30 persen nilai komoditas dagang dunia lewat Malak.

Lebih dari 50 ribu kapal pertahun melintasi Selat Malaka, yang mengangkut hampir seperlima perdagangan laut dunia. Kapal-kapal tanker mengangkut puluhan juta barel minyak per hari lewat Selat Malaka. Namun, seiring semakin tingginya frekwensi lalu lintas di jalur tersebut, jalur tersebut memiliki tingkat kerawanan yang tinggi dari aksi kejahatan pembajakan, penyelundupan dan sebagainya.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menegaskan, keamanan di Selat Malaka harus terus ditingkatkan. ”Gangguan kejahatan dari tahun ke tahun terus menurun secara signifikan di Selat Malaka,” ujar Presiden kepada pers saat mendampingi Menteri Jepang Shinzo Abe yang melakukan kunjungan bilateral ke Indonesia (20/8).

Aksi kejahatan di kawasan tersebut memang telah menurun. Dari 40 kasus perompakan di Selat Malaka pada tahun 2004, telah menurun menjadi 15 kasus pada tahun 2005 dan 2 kasus pada tahun 2006.

Presiden SBY juga menyerukan agar keamanan terus ditingkatkan lewat kerja sama patroli laut Indonesia-Malaysia-Singapura.

Selat Malaka yang yang terletak di perairan Sumatera dan Semenanjung Malaka merupakan urat nadi perdagangan dunia yang menghubungkan Samudera Hindia dan Pasifik, atau dari Asia Barat hingga Asia Timur. Namun, jalur tersebut rawan dengan aksi kejahatan. Pada 2003 jalur telah terjadi 150 kasus penyerangan/perompakan di Selat Malaka.

Aksi kejahatan itu memunculkan kekhawatiran sejumlah negara karena terganggunya arus transportasi komoditas yang menyuplai kebutuhan di seluruh dunia. Karena itu, sejumlah negara seperti Amerika Serikat, Jepang dan India berinisiatif untuk terlibat langsung dalam pengamanan Selat Malaka.

Namun, desakan Jepang, Amerika Serikat dan India agar bisa mengamankan Selat Malaka telah memunculkan sensitifitas, khususnya dari Indonesia karena menilai banyaknya negara berkepentingan atas Selat Malaka.

Indonesia menyatakan secara tegas menolak intervensi negara lain untuk pengamanan Malaka. Indonesia menolak jika urusan pengamanan Selat Malaka sebagai urusan internasional. Indonesia juga mempersoalkan pengaturan informasi navigasi laut yang berada di tangan Singapura, sebab bagi Indonesia tanggungjawab pengamanan Selat Malaka juga menjadi urusan Indonesia dan Malaysia. Sementara Amerika Serikat, Jepang, dan India hanyalah sebagai negara pengguna.

Indonesia lebih sepakat jika optimalisasi pengamanan Selat Malaka yang dilakukan negara lain yang kepentingan bisnis-politiknya di Selat Malaka, dengan memberikan bantuan keamanan tanpa harus terlibat dalam operasional.

Jepang adalah salah satu negara yang menerima keberatan Indonesia tersebut. Desember nanti, Jepang akan memberikan tiga kapal patroli cepat ke Indonesia untuk mengamankan Selat Malaka.

”Indonesia menyambut baik bantuan Jepang yang memberikan tiga kapal patroli cepat pada Desember mendatang untuk mengamankan Malaka,” ujar Presiden.

Dalam urusan pengamanan Malaka, Jepang meminta Indonesia berperan maksimal dalam kerjasama regional untuk keamanan laut. Indonesia diharapkan memainkan peran sentral di kawasan Selat Malaka untuk memerangi pembajakan dan penyelundupan di laut.

”Saya dan Presiden Yudhoyono membicarakan masalah terutama menyangkut keamanan lalu lintas kapal yang melintas di Selat Malaka dan Singapura. Kami sepakati untuk memastikan untuk menjaga lalu lintas kapal di Malaka karena bermuara pada kestabilan suplai, kestabilan crude dan kestabilan kawasan secara keseluruhan. Maka kami membicarakan untuk memastikan atau meningkatkan kerja sama lebih lanjut,” jelas PM Shinzo Abe. Kompensasinya, Jepang juga akan terus mendukung Indonesia dalam mewujudkan perdamaian atau peace building di Aceh. ”Jepang sedang mempertimbangkan bantuan dan dukungan lebih lanjut supaya memantapkan perdamain di Aceh. Yang kami pertimbangkan adalah proyek-proyek dapat dimanfaatkan oleh masyarakat setempat.

Indonesia memang belum sepenuhnya bersedia menjadi anggota kerja sama pengamanan laut di Selat Malaka. Tahun lalu, disepakati kerja sama regional untuk keamanan laut. Dari 14 negara Asia yang terlibat, Indonesia dan Malaysia belum mau menjadi anggota.

Dalam pengamanan Malaka, Indonesia juga dihadapi masalah teknologi pertahanan untuk mengatasi aksi pembajakan di wilayah tersebut.

Indonesia agaknya memahami bahwa Selat Malaka akan menjadi ajang pertarungan beberapa negara adidaya khususnya di kawasan Asia Tenggara. Sejumlah negara besar seperti Amerika Serikat, Jepang, India dan China tentu akan berupaya mengontrol bahkan mencari dominasi di kawasan Selat Malaka.

Selat Malaka selama ini tidak saja dikenal sebagai Sea Lines of Trade (SLOT) dan Sea Lines of Communication (SLOC), namun juga jalur strategis proyeksi Armada Laut negara-negara maritime besar dalam rangka forward presence dan global engagement ke seluruh dunia.

Kepadatan lalu-lintas alur pelayaran ini ditandai tingginya intensitas perdagangan global Selat Malaka, dan apabila terjadi interdiksi atas perairan ini, maka dampak negatif luar biasa yang akan dirasakan secara global adalah instabilitas perekonomian dunia.

Bisa dimengerti memang mengingat selama ini seluruh kegiatan eskpor dan impor internasional mengandalkan laut sebagai jalan raya/jalur perdagangan, sumber makanan, dan sumber mineral. Selat yang melewati Indonesia, Malaysia dan Singapura sudah menjadi rahasia umum bahwa tanker-tanker Jepang dan Cina selalu melintasi Selat Malaka setelah mengangkut minyak dari Timur Tengah.

M. Yamin Panca Setia

Photo: Sebuah kapal laut melintasi perairan Selat Malaka dengan latar gedung bertingkat di Singapura [TEMPO/ Arie Basuki]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s