Meraup Untung dari EPA



HARI ini (20/8), RI dan Jepang akan menandatangani kerjasama Economic Partnership Agreement (EPA) di Jakarta. Penandatanganan EPA itu akan dihadiri Perdana Menteri (PM) Jepang Shinzo Abe dan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Selama di Jakarta, Abe juga akan mengadakan pertemuan dengan Presiden SBY guna membahas hubungan bilateral, khususnya kerjasama investasi dan perdagangan serta berbagai isu regional dan internasional. Kedatangan Abe sekaligus kunjungan balasan dari kunjungan Presiden SBY ke Jepang tahun lalu.

Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu saat menghadiri acara detik-detik Proklamasi, Jum’at (17/8) di Istana Merdeka mengatakan, untuk pertama kalinya Indonesia punya kerja sama yang komprehensif dengan Jepang melalui EPA yang mencakup perdagangan barang dan jasa, investasi dan bantuan teknis.

“Begitu implementasi 90 persen produk Indonesia yang masuk ke Jepang, tarif lain langsung menjadi nol persen,” ujar Mendag menjelaskan keuntungan kerjasama EPA RI-Jepang. Draf EPA diharapkan dapat segera diimplementasikan pada November 2007.

Bagi Indonesia, aturan tersebut diharapkan dapat menggenjot pasar komoditas dalam negeri seperti alas kaki, tekstil dan produk tekstil, produk kayu dan hasil pertanian.

Kesediaan Jepang untuk menandatangani EPA tidak terlepas dari peran Indonesia yang gencar melobi negara sakura itu. Pertengahan Mei lalu, Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu melakukan kunjungan khusus ke Jepang untuk melobi Jepang agar segera menandatangani EPA. Jepang sendiri tak mudah begitu saja mau menandatangani EPA.

Penandatanganan EPA sempat mundur karena Jepang mengharap agar Indonesia harus menyelesaikan peraturan pemerintah pelaksana Undang-undang Penanaman Modal.

Kedua negara juga belum mencapai kata sepakat karena masalah peningkatan kapasitas, program dan proyek yang akan dijalankan bersama. Jepang mengharap ada aturan pelaksana tentang daftar sektor tertutup dan terbuka dengan bersyarat.

Mari mengatakan, kerjasama tersebut diharapkan dapat semakin menguntungkan Indonesia karena memiliki akses luas dalam mengembangkan pasar di Jepang.

Saat ini, Jepang menyerap 20 persen dari total ekspor Indonesia. Jepang adalah negara terbesar menerima ekspor nonmigas Indonesia yang nilainya mencapai 1,03 miliar dollar AS, disusul Amerika Serikat 847,3 juta dollar AS, dan Singapura 624,9 juta dollar AS. Saat ini sekitar 1.000 perusahaan Jepang beroperasi di Indonesia yang menyerap kurang lebih 200.000 pekerja.

Dengan EPA ekspor RI ke Jepang diharapkan naik terus 4,68 persen per tahun dan bisa bersaing dengan negara lain yang telah memiliki perjanjian serupa dengan Jepang.

Peluang bisnis yang terbuka dengan EPA ini dapat mencapai 65 miliar dolar AS pada 2010. Namun, Jepang menekankan agar Indonesia memperhatikan standar kualitas atas semua produk ekspornya. Indonesia juga harus membebaskan BM bagi 58 persen pos tarif yang berjumlah 11.163 nomor HS (Harmonized System).
Selain itu, Mendag menjelaskan, EPA diharapkan dapat meningkatkan investasi. Tentu peluang investasi dari Jepang bisa diraih Indonesia asal ada kepastian hukum dalam negeri. Kedatangan PM Abe juga akan disertai sekitar 150 pengusaha Jepang. Pertemuan juga akan berlanjut pada pertemuan forum bisnis 28 Agustus mendatang untuk membicarakan perjanjian kerja sama bisnis baru yang lebih menguntungkan.

Investasi utama Jepang di sektor mesin listrik dan elektronik mencapai 2,8 miliar dolar AS sedangkan di sektor kendaraan dan peralatan transportasi mencapai 1,6 miliar dolar AS. Investasi utama Jepang di Indonesia adalah industri mineral dan non metalik yang nilainya mencapai 862 juta dolar AS, industri kimia dan obat-obatan 780 juta dolar AS, serta perdagangan dan reparasi 661 juta dolar AS.
Di sektor industri otomotif dan manufaktur, nilai investasi Jepang ke Indonesia pada 2007-2008 mencapai 557,4 juta dollar AS. Beberapa perusahaan alat berat asal Jepang juga akan menanamkan modal di Indonesia hingga 185 juta dollar AS pada 2007-2008 di Indonesia.

Selain itu, Jepang juga tanamkan investasi untuk sektor industri logam dengan nilai 58,8 juta dollar AS. Untuk industri elektronik, Jepang akan menanamkan modal sekitar 18 juta dollar AS. Sementara investasi dari sektor industri aneka, Jepang akan tanamkan 6 juta dollar AS dan industri tekstil sebanyak 2,23 juta dollar AS.

Indonesia memang mengharap agar Jepang membangun sekitar sepuluh Pusat Pengembangan Industri Manufaktur (Manufacturing Industry Development Center/MIDEC) untuk pengembangan industri di tanah air. Dengan adanya MIDEC, diharapkan akan terjadi alih teknologi secara cepat dari Jepang ke Indonesia.

M. Yamin Panca Setia

Photo: Menteri Perdagangan Marie Elka Pangestu [TEMPO/


Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s