RI Desak WHO Tidak Komersialisasikan Virus H5NI dari Bali


MENTERI Kesehatan Siti Fadilah Supari menyatakan sampel virus flu burung H5N1 dari Bali yang dikirim ke Badan Kesehatan Dunia (WHO) hanya untuk penelitian, bukan tujuan komersil. WHO sendiri telah meminta agar Indonesia memberikan sampel virus mematikan tersebut untuk diteliti.

Menkes juga mengatakan, pengiriman virus flu burung dari Bali itu mengingat Bali menjadi tempat pariwisata dunia.

Menurut Menkes, sampel virus Flu burung tersebut di kirim ke WHO, tepatnya ke laboratorium center yang berada di Atlanta, Amerika Serikat.

“Ya. Itu ada assisment-nya dari Direktur Eksekutif WHO untuk Penyakit Menular, David Heymann. Kita menunggu international government meeting yang akan dilakukan Oktober mendatang,” katanya di Istana Merdeka, Jakarta, kemarin.

Di Bali, virus Flu Burung memakan korban Ni Luh Putu Sri Windiani (29). Dia meninggal dunia saat dirawar di Rumah Sakit Umum (RSU) Sanglah, Denpasar, Minggu (12/8). Luh Putu diduga kuat menderita penyakit flu burung.

Sementara terkait dengan kembali merebaknya kasus infeksi virus flu burung di Tangerang, Banten, Menkes menyatakan Depkes sudah melakukan penelitian dan hasilnya positif. “Positif. Tipenya masih seperti dari hewan ke manusia, bukan dari manusia ke hewan. Dan tidak ada penularan yang meluas, bekasnya hanya itu. Itu kita butuhkan eviden (bukti) di WHO dan WHO butuhkan itu dan kita hanya kirim sampel virus yang di Bali,” ujar Menkes.

Korban flu burung di Tanggerang menyerang seorang perempuan berinisal L yang berusia 17 tahun. Perempuan tersebut dinyatakan positif mengidab virus flu Burung. Dia adalah korban yang meninggal ke-83 dari ke-104 korban yang terserang virus flu burung.

Berdasarkan laporan dari RS Sari Asih, L mulai sakit sejak tanggal 8 Agustus 2007 dengan gejala demam dan sesak napas. Korban dirawat di RS Sari Asih Karawaci Tangerang tanggal 13 Agustus 2007 dan meninggal dunia tanggal 14 Agustus 2007.

Dari hasil rontgen, ditemukan ada perselubungan pada paru sebelah kanan. Saat ini tim surveilans dari Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang sedang turun ke lapangan untuk melakukan anamnese pada keluarga korban. Sementara faktor risiko belum diketahui.

Di Propinsi Banten tercatat 14 kasus positif flu burung, 12 orang di meninggal dunia.

Dengan demikian penambahan kasus baru itu maka saat ini total kasus flu burung di Propinsi Banten sebanyak 14 kasus dan 12 diantaranya berakibat kematian.
Sementara secara kumulatif infeksi virus flu burung telah menyerang 104 orang di seluruh Indonesia dan 83 orang diantaranya meninggal dunia.
Angka kematiannya atau Case Fatality Rate/CFR 79,81 persen, cukup tinggi.

Hingga kini belum ada obat yang terbukti manjur mengobati infeksi virus flu burung, hanya ada obat antivirus influenza oseltamivir yang berfungsi menekan perkembangan virus.

Satu-satunya cara yang paling efektif adalah mencegah jangan sampai tertular virus Flu Burung.

Selain itu, sumber penularan flu burung masih berasal dari unggas. Karena besarnya faktor risiko penularan flu burung pada manusia, masyarakat diimbau untuk memisahkan unggasnya dari pemukiman.

Masyarakat sebaiknya waspada dan tanggap terhadap unggas yang sakit dan mati mendadak. Apabila menemukan ayam/unggas sakit atau mati mendadak di lingkungan sekitar, diminta segera melaporkan ke RT/RW, Kepala Desa/Lurah, Camat/Puskesmas atau ke Dinas Pertanian/Kesehatan setempat.

M. Yamin Panca Setia

Photo: Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari (TEMPO/Fransiskus S)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s