Istana Bersolek Jelang Hari Kemerdekaan RI


”SORRY pak, kalau masuknya belum pas. Jadi, mohon dibimbing pak,” kata Presiden Susilo Bambang Yudhoyono kepada seorang laki-laki yang menjadi dirijen yang mengiringi musik saat Presiden bernyanyi.

Kala itu, Presiden usai menyanyikan lagu karya Koes Plus. Nadanya sangat sentimentil. Begini nadanya:

Terlalu indah dilupakan. Terlalu sedih dikenangkan. Setelah aku jauh berjalan. Dan kau ku tinggalkan. Betapa hatiku bersedih. Mengenang kasih dan sayang mu. Setulus pesan ku kepada mu. Dan, kau kan menunggu. Andai kan kau datang kembali. Jawaban apa yang kan ku beri. Adakah jalan yang kau lalui. Untuk kita bersama lagi….

SBY rupanya tengah berlatih untuk mempersiapkan diri tampil di atas panggung untuk bernyanyi memeriahkan perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) RI ke-62 di Istana Kepresidenan. SBY juga berlatih nyanyi bareng bersama Rini dan Wilson Indonesia Idol.

”Sudah berapa lagu saya nyanyikan. Tentu isentifnya bertambah,” kata SBY sambil tertawa ringan.

Itulah aktivitas Presiden menjelang peringatan HUT RI ke-62.

Presiden rupanya memanfaatkan momen tersebut untuk berlatih sekaligus melepaskan lelah setelah paginya dia harus tampil di Gedung DPR untuk menyampaikan pidato kenegaraan dalam rangka HUT Kemerdekaan RI ke-62, serta Keterangan Pemerintah atas RUU tentang APBN 2008 Beserta Nota Keuangannya di Depan Rapat Paripurna DPR.

Jelang perayaan HUT RI ke-62, kesibukan luar biasa memang nampak di halaman Istana Kepresidenan.

Sejumlah tim dekorasi tim dekorasi Istana sibuk berbenah menata apik halaman. Karpet merah telah dipasang. Puluhan meja dan kursi telah disediakan untuk pengunjung yang akan datang. Halaman istana pun telah dilingkari pita berwarna merah putih, serta lampu hias yang dipasang di pelbagai penjuru. Beberapa tenda dan panggung pun sudah didirikan, lengkap dengan berbagai jenis bunga menawan di setiap sudut halaman.

Panggung dengan latar belakang dua kapal laut itu berada tepat di depan Istana Negara. Panggung itu sudah lengkap dengan peralatan musik. Di atas panggung, sejumlah musisi juga pada sibuk melakukan check sound untuk mempersiapkan diri tampil memukau memeriahkan HUT RI di Istana Negara.

Nampak sejumlah musisi yang tak lagi asing turut sibuk mempersiapkan diri. Ada Titik Puspa, Ebiet, Wilson Idol, Rini Idol, Samuel AFI Junior, dan sebagainya.

Sekitar pukul 15.30 WIB, Presiden menyempatkan diri hadir di tengah kesibukan itu. Presiden berbaur dengan puluhan karyawan dan pekerja istana dan panitia yang sedang menyiapkan dekorasi dan sebagainya.

Presiden juga ingin mengetahui kesiapan panitia menyambut HUT RI. Presiden kala itu memakai batik warna coklat. Kehadiran Presiden disambut oleh sejumlah artis dan panitia. Presiden didampingi Juru Bicara Kepresidenan Andi Mallarangeng dan Staf Khusus Heru Lelono.

Di bawah pohon nan rindang, sambil berdialog dengan sejumlah pihak, Presiden dihiburkan oleh lantunan musik. Dia terlihat senang. Sambil duduk dikursi, badannya bergoyang-goyang mengikuti lantunan musik. Dia juga bernyanyi-nyanyi kecil saat seorang penyanyi menyanyikan lagu. Sejumlah artis seperti Ebiet, Titik Puspa, Samuel AFI Junior memang turut menghibur Presiden lewat nyanyiannya.

Bagi pengunjung, momentum tersebut juga dimanfaatkan untuk bersalaman dan berpoto bersama dengan Presiden.

Sekitar pukul 16.50 WIB, Ibu Negara Ani Yudhoyono bergabung di halaman istana. Dia datang setelah diwawancarai sejumlah wartawan di Istana Negara. Ani turut merasakan hiburan lagu yang dilantunkan.

Kepadatan Acara Seremonial

Beberapa hari menjelang perayaan HUT RI ke-62, aktivitas seremonial Presiden begitu padat di Istana Negara. 15 Agustus lalu, acara penganugerahan Tanda Kehormatan RI digelar. Presiden memberikan penghargaan kepada 16 tokoh yang berjasa besar kepada bangsa dan negara.

Presiden didampingi Ani Yudhoyono, Wakil Presiden dan Ibu Mufidah Jusuf Kalla serta para menteri Kabinet Indonesia Bersatu.

Ke-16 tokoh tersebut ditetapkan sebagai penerima Tanda Kehormatan RI berdasarkan Keppres No.052TK tahun 2007 dan Keppres No.053TK tahun 2007 karena dinilai memiliki jasa-jasa yang luar biasa terhadap bangsa dan negara Indonesia, pada bidang, peristiwa atau hal-hal tertentu.

Wakil Ketua DPR H. Soetardjo Soerjogoeritno adalah penerima Tanda Kehormatan Bintang Mahaputera Adipradana. Penghargaan serupa juga diterima Ketua Umum Legiun Veteran RI (LVRI) Letjen TNI (Purn) Rais Abin.

Mbah Tarjo, begitu sapaan Soetardjo Soerjogoeritno mengaku senang mendapatkan Bintang Mahaputra Adipradana. Dia memang mengidam-idamkan penghargaan tersebut sejak lama.

Dia merasa pantas meraih penghargaan tersebut karena sudah berjuang untuk Tanah Air sejak zaman Jepang. Saat itu dia menjadi tentara pelajar.

Penerima Tanda Kehormatan Bintang Mahaputera Utama adalah Gubernur Bank Indonesia Burhanuddin Abdullah, Gubernur DI Yogyakarta Sri Sultan Hamengkubuwono X dan Gubernur Sumatera Selatan Syahrial Oesman.

Penerima Tanda Kehormatan Bintang Mahaputera Nararya adalah Guru Besar Seni, Sastra dan

Budaya di Universitas Degli Studi di Napoli L`orientale, Italia, Prof Siti Faizah Soenoto Rivai.

Sedangkan penerima Tanda Kehormatan Bintang Jasa Utama adalah Kepala LIPI Prof Dr Umar Anggara Jenie Apt MSc dan Kepala BPPT Prof Dr Ir Said Djauharsyah Jenie MSc.

Sementara itu, delapan orang penerima Tanda Kehormatan Bintang Jasa Pratama adalah mantan Kepala Badan Kepegawaian Negara (BKN) Prapto Hadi SH MH, Bupati Madiun H Djunaedi Mahendra SH MSi, Bupati Tebo Drs HAB Madjid Muaz MM, Walikota Tarakan dr H Jusuf Serang Kasim.

Selanjutnya Deputi Kepala BPPT Prof Dr Wahono Sumaryono Apt APU, Jaksa Fungsional Yon Artiono Arba`i SH MH, tokoh bidang ekonomi pertanian Dr Herbrinderjit Singh Dillon, dan tokoh masyarakat Koperasi Jatim Soedirman SH MM.

Penganugerahan Tanda Kehormatan RI kepada sejumlah tokoh yang dianggap berjasa pada bangsa dan negara itu diberikan dalam rangkaian Hari Ulang Tahun Proklamasi Kemerdekaan RI ke-62 yang jatuh pada 17 Agustus 2007 mendatang. Mbah Tarjo, sapaan Soetardjo Soerjogoeritno senang mendapatkan penghargaan tersebut.

Gubernur DI Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono X juga menerima Tanda Kehormatan Bintang Mahaputera Utama. Dia mengatakan, penghargaan yang diterimanya itu pada hakekatnya tidak untuk dirinya saja melainkan juga untuk masyarakat Yogyakarta.

Siangnya, Presiden mengukuhkan Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) 2007 yang beranggotakan 66 orang dari 33 Provinsi di Indonesia, di Istana Negara. Dalam sambutannya, Presiden kembali menyerukan agar seluruh komponen bangsa bersama-sama menjaga persatuan, kebersamaan, kekompakan, dan kerukunan antar sesama bangsa Indonesia, tanpa membedakan asal dan usul, agama, daerah dan lainnya.


“Selamat atas terpilihnya anak-anak sekalian menjadi anggota Paskibraka tahun 2007, jadikan kesempatan itu sebagai tonggak sejarah yang penting ke depan. Siapkan diri melanjutkan tugas kepemimpinan di negara ini,” begitu pesan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono kepada 66 orang anggota Paskibraka yang mewakili 33 Provinsi di seluruh Indonesia.

Presiden mengatakan, anggota Paskibraka adalah pemuda pemudi terpilih sehingga harus bersyukur kepada Tuhan YME. Pengukuhan sebagai anggota Paskibrakan adalah suatu kebanggaan, kehormatan, sekaligus kepercayaan yang begitu tinggi untuk mengemban tugas yang bersejarah pada tanggal 17 Agustus 2007. Tidak semua mendapatkan kesempatan untuk mengemban misi yang mulia ini.

“Pemuda dan pemudi Indonesia yang kita harapkan tampil menjadi pemimpin bangsa kelak adalah mereka yang memiliki aklak dan budi pekerti yang baik, cerdas dan berpengetahuan, sehat jasmani dan rohani, yang memiliki semangat dan berbuat yang terbaik untuk negaranya.”

Karena itu, Presiden menghimbau agar anggota Paskibraka mempersiapkan diri sebaik-baiknya.

“Semua itu harus diperjuangkan, memerlukan pengorbanan, kerja keras dan tekat yang tinggi. Saya mengharap, ikrar yang disampaikan tadi, benar-benar dihayati, dipedomi dan dijalankan dalam pengabdian bangsa dan negara pada saat ini dan masa depan.”

Presiden mengukuhkan keanggotaan Paskibraka 2007 ditandai dengan penyematan lencana dan pemasangan kendit secara simbolis kepada salah seorang anggota Paskibraka I Gusti Agung Galuh Ardhaninggrat.

Usai memberikan sambutan, Presiden bersama Ibu Negara Ani Yudhoyono, Ibu Mufidah Jusuf Kalla, Menteri Pendidikan Bambang Sudibyo, Menteri Negara Pemuda dan Olah Raga Adiyaksa Dault, Sekretaris Kabinet Sudi Silalahi, dan beberapa Pembina Paskibraka, memberikan ucapan selamat dan berjabatan tangan dengan seluruh anggota Paskibraka.

Saat bersalaman dengan para anggota Paskibraka. “Selamat ya, asalnya dari mana, sekarang kelas berapa?” tanya Ani kepada para anggota Paskibraka. Dari 66 anggota Paskibraka tersebut salah satunya adalah Wiratama Hadi Ramanto Pratikto. Dia adalah Putra tunggal Mamiek Soeharto. Wira, demikian sapaan akrabnya mendapat perhatian dari sejumlah hadirin.

Wira mengaku bangga menjadi salah satu anggota Paskibraka. Dia bergabung menjadi anggota Paskibraka sejak Januari 2007. Mengenai prosesnya, Wira mengatakan, dirinya diutus sekolahnya di Tanggerang.

“Wira sendiri diutus sekolah untuk mengikuti seleksi Paskibraka di Kabupaten Tanggerang, kemudian dipilih 10 besar, kemudian dari 10 besar itu mengikuti pelatihan selama dua bulan dan mengikuti seleksi,” ujarnya.

Bahkan di tengah acara salam-salaman, Presiden SBY dan Ibu Ani pun sempat meluangkan waktu beberapa saat untuk ngobrol dengan pelajar kelas II Sekolah Internasional Global Jaya Bintaro itu.

Semua anggota Paskibraka tentu senang dan bangga bisa mewakili daerahnya untuk mengibarkan sang saka Merah Putih di Istana Merdeka, Jakarta, 17 Agustus mendatang. “Saya bangga sekali. Saya senang bisa mewakili Papua Barat,” ungkap Johanes Pardiban anggota Paskibraka 2007 dari Papua Barat.

Dari Papua, ada empat orang yang dikirim. Dia bersama teman-temannya sudah 24 hari berada di Jakarta, untuk dilatih di Pusat Diklat Kepemudaan Cibubur, dengan materi kepepimpinan, keorganisasian, dan latihan baris berbaris.

Sehari sebelumnya, Presiden juga mengukuhkan 37 Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) Presiden menjadi pengurus DPP/Wantimpus LVRI periode 2002-2007. Pengukuhan juga dilakukan di Istana Negara.

Mereka berasal dari veteran pejuang yang umumnya dari veteran pembela Trikora, Dwikora, dan Timor Timor. Mereka adalah kepengurusan transisi yang akan melanjutkan estafet kepengurusan Dalam kesempatan itu, para sesepuh itu mendapatkan waktu untuk berdialog dengan Presiden.

Ada beberapa hal yang mereka ungkapkan saat berdialog dengan Presiden. Ketua Umum DPP LVRI Rais Abin menyatakan, para veteran tetap teguh hati terhadap NKRI yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Dalam sisa usianya, Rais menyatakan, veteran masih memiliki semangat perjuangan dan pengorbanan.

Di hadapan Presiden, LVRI mengharap agar kedudukan Pembina LVRI dalam lembaga negara lebih ditingkatkan. Dalam hubungan dengan organisasi veteran ASEAN (Veconac) dan organiassi veteran dunia (WVF), LVRI melaporkan bahwa Indonesia akan menjadi tuan rumah dalam penyelenggaraan Sidang Umum Veconac tahun 2009.

Rais juga mengungkap terima kasih atas perhatian pemerintah terhadap para veteran termasuk pemberian dana kehormatan mulai 1 Januari 2008 yang merupakan angin segar bagi segenap veteran.

Namun, veteran juga mengharap agar Presiden dapat menerbitkan keputusan tentang pengukuhan sebagai veteran perdamaian bagi para anggota pasukan perdamaian sehingga mereka dapat segera bergabung degan legiun veteran RI.

“Kami minta pengukuhan veteran perdamaian bagi mantan anggota pasukan pemelihara perdamaian PBB, agar dapat segera bergabung dalam LVRI,” kata Rais Abin, Senin lalu.

Harapan itu disambut positif oleh Presiden. Dengan demikian keanggotaan LVRI dapat diperluas tidak lagi sebatas para Veteran pejuang kemerdekaan dan Veteran Pembela (pasukan Trikora, Dwikora dan Seroja).

“Saya mendapat berita, TNI anggota pasukan pemelihara perdamaian selalu menjalankan tugas dengan baik, dapat sambutan hangat dan dekat dengan warga setempat. Maka tepat bila mereka bergabung dalam LVRI,” kata Presiden.

Kepada para veteran, Presiden yang didamping Ibu Negara Ani Susilo Bambang Yudhoyono mengharap, agar terus melestarikan nilai dan semangat perjuangan, serta berkontribusi dalam pembangunan bangsa.

Presiden mengharap agar para senior tetap memberikan nasihat, membimbing sekaligus memohonkan doa, waktu, dari para sesepuh, senior agar tugas mulia, dan persoalan yang tidak mudah dihadapi bangsa ini dapat dilaksanakan dengan baik.

Menurut Presiden, generasi muda diharapkan dapat melihat lintasan sejarah bangsa dengan pengabdian para pendahulu, dan memiliki patriotisme serta nasionalisme, untuk berbuat yang terbaik pada bangsa dan negara terutama pada saat mereka semua telah melanjutkan estafet kepemimpinan negara.

“Zaman sudah berubah. Masa akan terus berganti, tetapi semangat pendiri republik dan konsensus-konsensus dasar kebangsaan harus abadi dan berlaku sepanjang masa.

Kalau kita berbicara nilai, jati diri, dan konsensus dasar kebangsaan kita, adalah dasar Negara Pancasila, UUD 1945 , NKRI, dan kehidupan bersama dalam kemajemukan Bhinneka Tunggal Ika. Itulah roh, itulah nilai napas yang telah diletakkan para pendiri republik,” kata Presiden, yang hadir dalam acara ini didampingi Ibu Negara.

Presiden juga berjanji akan terus berusaha meningkatkan kesejahteraan pejuang purnawirwan termasuk penyandang cacat yang pernah mengemban tugas di daerah operasi. Menurut Presiden, perjuangan yang telah dilakukan para pejuang, tidak bisa digantikan.

Dalam acara tersebut, hadir pula sejumlah menteri yakni Menko Polhukam Widodo AS, Menkum dan HAM Andi Mattalatta, Menhan Juwono Sudarsono, Menkominfo M Nuh, Mensesneg Hatta Rajasa, Menteri Kelautan dan Perikanan Freddy Numberi, Menneg PAN Taufik Effendi dan Seskab Sudi Silalahi.

Memang selayaknya pemerintah memerhatikan kesejahteraan veteran. Kesejahteraan pejuang kemerdekaan tidak boleh dikesampingkan. Harus diakui, veteran masih mengeluh atas persoalan kesejahteraannya.

Sejumlah organisasi veteran menginginkan pemerintah segera merealisasikan uang kehormatan bagi pelaku sejarah. Uang kehormatan hingga kini belum diterima oleh para pejuang tanah air itu.

RM Solichin, 83 tahun, Pengurus Veteran Surabaya Kabag Ipolkam mengaku prihatin atas masalah tersebut, mengingat proses pemberian uang kehormatan sudah lama digulirkan pemerintah, yakni sejak tahun 1985.

Kalau itu, sudah ada aturan pemerintah soal uang kehormatan. Kemudian diperbarui tahun 2001 dan terakhir muncul PP No 16/2006 yang menjelaskan pemberian uang kehormatan akan diberikan per 1 Januari 2006. Kenyataannya, hingga saat ini belum ada realisasinya.

Besaran uang kehormatan yang ditentukan dalam PP No 16/2006, hanya Rp 70 ribu per bulan. Bagi pelaku sejarah bukan mempersoalkan uang kehormatan melainkan bagaimana pemerintah bisa menghargai pengorbanan mereka di masa memperebutkan kemerdekaan.

Selain belum direalisasikan uang kehormatan, dia juga prihatin penghapusan bantuan uang Rp45 ribu per bulan untuk Organisasi Veteran.

Ani Yudhoyono juga tak kalah sibuk. Beberapa hari lalu, dia menerima para pendidik di jalur non formal di Istana Negara. Ibu Negara memberi apresiasi atas tugas yang diemban para pendidik non formal karena meski jumlah pendidik masih sedikit, namun harus melayani dan memberikan akses pendidikan kepada masyarakat, khususnya yang tak mampu di seluruh tanah air.

“Beban dan tantangan yang dihadapi jauh lebih berat,” kata Ani di hadapan para peserta Jambore Nasional Pendidik dan Tenaga Kependidikan Pendidikan Non Formal (PTK-PNF).

Pada acara itu, Ani Yudhoyono didampingi Menteri Pendidikan Bambang Sudibyo. Hadir pula sejumlah isteri menteri yang tergabung dalam Solidaritas Istri Kabinet Indonesia Bersatu, yakni Isteri dari Menko Politik, Hukum dan Keamanan, Menteri Perhubungan, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Menteri Koperasi dan UKM, Menteri Perumahan Rakyat, Menteri Agama, Menteri Negara Pembangunan Desa Tertinggal, Menteri Komunikasi dan Informatika, Menteri Pertanian, Menteri Negara BUMN, Menteri Luar Negeri, dan isteri Kepala Rumah Tangga Istana Kepresidenan.

Ibu Ani menilai sudah sepantasnya tenaga pendidik lebih ditingkat kualifikasi, kompetensi serta tingkat kesejahteraannya. Tugas yang diemban para tenaga pendidik non formal sangat berat.

Namun, tugas yang diemban itu sangat mulia.

Seperti pendidikan anak usia dini, tutor untuk paket A, B dan C, kursus Bahasa Inggris, kursus seni, tutor senam, kursus kecantikan, dan sebagainya. “Jadi, lebih mulia tugas Anda sekalian. Saya berterima kasih dan memberikan penghargaan.”

Menurut Ibu Ani, keterampilan dan kecermelangan para pendidik non formal telah memunculkan semangat baru dalam diri pemuda yang putus sekolah agar tidak terkukung dalam kelompok pengangguran. Dengan pelatihan yang diberikan, diharapkan dapat menjadi sesuatu yang lebih bermakna bagi kehidupan mereka kelak. Lewat pelatihan yang diberikan, daya saing bangsa Indonesia akan meningkat, khususnya menghadapi persaingan global.

Upaya yang dilakukan pendidik non formal diharapkan dapat memberantas buta aksara di Indonesia. Saat ini warga Indonesia yang masih buta aksara mencapai 8,07 persen (12,8 juta jiwa).

Mudah-mudahan, 2009, buta aksara di Indonesia berkurang menjadi 5 persen. Sementara target UNESCO, buta aksara di Indonesia pada tahun 2015 harus berkisar 5 persen.

Menteri Pendidikan Bambang Sudibyo mengatakan, secara nasional jumlah seluruh pendidik dan tenaga kependidikan non formal adalah 24.871 orang.

“Jika melihat jumlahnya sasaran peserta didik, yang saat ini lebih besar dari jumlah sasaran peserta didik di jalur pendidikan formal, maka jumlah mereka sangatlah tidak mencukupi. Selain itu, kualifikasi dan kompetensi mereka pun masih perlu untuk ditingkatkan lagi,” kata Bambang.

Mendiknas mengatakan, mereka selama ini mencurahkan segala perhatian dalam mengoptimalkan kecerdasan anak-anak lewat program Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) yang saat ini sudah melayani anak usia 0-6 tahun sejumlah 48,07 persen dari sekitar 28 juta anak Indonesia di usia tersebut.

Lewat kerja keras mereka, kata Mendiknas, diharapkan dalam tiga tahun ke depan, Indonesia dapat berhasil dibebaskan dari buta aksara.


M. Yamin Panca Setia

Photo: presidensby.info

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s