Bachtiar Resah Diterjang
Berita Banjir Morowali

”KENAPA diberitakan tidak cukup, atau mata saya yang salah lihat. Kalau didramtisir begini, sakit juga kepala kita,” ujar Menteri Sosial Bachtiar Chamsyah dengan nada tinggi. Bachtiar rupanya gusar atas pemberitaan media massa yang tidak proporsional dalam memberitakan bencana alam banjir dan tanah longsor di daerah Morowali, Sulawesi Tengah.

Saat meninjau langsung Baturube, salah satu dari empat kecamatan di Kabupaten Morowali yang dihajar banjir bandang di Kabupaten Morowali, Bachtiar menilai, tidak ada persoalan dalam penyaluran obat-obatan, makanan dan kebutuhan lainnya buat korban.

Dia mengaku aneh, jika surat kabar melaporkan adanya keterlambatan suplai makanan dan obat-obatan ke para korban. ”Pengadaan obatan berlimpah. Pendistribusian juga tidak ada masalah, karena ada helikopter dan posko,” gumamnya.

Bachtiar mengharap agar pemberitaan musibah banjir di Morowali jangan didramatisir sedemikian rupa. ”Saya kira, itu (jika ada kekurangan) ya perlu kita perbaiki bersama Menko Kesra,” katanya.

Dalam menangani bencana di Morowali, Bachtiar menjelaskan, pihaknya tengah menunggu Bupati Morowali untuk segera menentukan lokasi yang paling aman untuk menjadi tempat penampungan sementara para korban banjir bandang dan tanah longsor di daerah tersebut.

Mensos mengharap, pemerintah setempat dapat menempatkan para korban di kawasan yang aman. ”Kita tinggal mendengar proses relokasi warga dari Bupati. Kira-kira lokasinya ke mana. Wilayah yang menjadi musibah itu di kelilingi bukit. Relokasi tergantung bupati. Kita tidak ahli, karena ada tata ruang. Dia yang tahu daerahnya,” kata Bachtiar.

Korban banjir yang menimpa Desa Malino dan Desa Panca Makmur, Kecamatan Soyo Jaya, Morowali lantaran terjebak di gunung yang dijadikan lokasi pengungsian.

Karena itu, harus segera dilakukan proses evakuasi penduduk agar tidak terjebak di gunung ke tempat yang lebih aman serta mudah memperoleh bantuan bahan makanan. ”Jadi lokasinya itu begini (dikeliligi bukit), jadi tidak bisa dibiarkan di bawah,” katanya.

Proses evakuasi hingga kini masih dilakukan. Batas akhir proses evakuasi korban banjir bandang dan tanah longsor di Morowali, selesai pada Kamis nanti.

Banjir dan tanah longsor yang menghantam Morowali bisa dinilai cukup tragis. Berdasarkan data terakhir, jumlah korban telah mencapai 71 orang. Jumlah itu diperkirakan terus meningkat karena proses evakuasi masih terus dilaksanakan. Sementara yang hilang, jumlahnya mencapai 17 jiwa.

Hari Minggu lalu, Satuan Pelaksana Penangulangan Bencana dan Pengungsi (Satlak PBP) Kabupaten Morowali di Kolonodale, berhasil mengevakuasi empat jenazah lagi yang tertimbun material longsoran di desa Ueruru dan desa Taronngo.

Jenazah-jenazah tersebut kondisinya dalam keadaan rusak dan sulit dikenali, sehingga tim SAR Gabungan memutuskan untuk memakamkannya di sekitar lokasi lokasi penemuan jenazah.

Data dari Satlak PBP juga menyebutkan dari total jumlah korban tersebut terbanyak berasal dari desa Ueruru yaitu 42 meninggal dunia dan 18 masih hilang.

Desa Boba sebanyak 14 orang meninggal dunia, Taronggo (7), Kolo Atas (4), serta desa Tambarobone dan Lemo masing-masing dua orang. Desa-desa ini berada dalam wilayah kecamatan Bungku Utara dan Mamosalato.

Komandan Korem 132/Tadulako (Wilayah Sulteng) Kolonel (Arm) AAG Suardhana di desa Baturube, Kecamatan Bungku Utara seperti dikutip dari Antara mengatakan, tim evakuasi berasal kesatuan TNI (AD dan AL), Polri, relawan dari berbagai elemen, dan masyarakat setempat masih terus mencari para korban yang dinyatakan hilang.

Upaya pencarian, katanya, masih difokuskan di desa Ueruru, sebab umumnya mereka yang dinyatakan hilang tersebut berasal dari desa yang sudah rata tertimbun longsoran bukit pada peristiwa tragis 22 Juli 2007.

Kolonel Suardhana juga mengatakan, para pengungsi di Baturube (ibukota kecamatan Bungku Utara)–terkonsentrasi pada lima titik–saat ini mulai menjalani terapi psikis dengan mendapatkan bimbingan rohani pada malam hari di tempat-tempat pengungsian dan rumah ibadah yang dilakukan oleh para rohaniawan.

Langkah ini dilakukan guna menghilangkan penyakit stres yang diderita mereka akibat memikul beban penderitaan yang sangat berat seperti kehilangan anggota keluarga, harta benda, serta mata-pencahariannya.

Namun demikian, Kolonel Suardhana menyatakan yang diperlukan sekarang adalah penyediaan alat-alat bermain dan buku bacaan bagi anak-anak disertai tenaga pembimbingnya, guna menghilangkan rasa kebosanan mereka di pengungsian sambil menunggu pembangunan kembali tempat hunian mereka yang rusak parah akibat diterjang banjir bandang disertai tanah longsor.

“Ini sangat penting agar anak-anak pengungsi itu juga tidak mengalami stres atau menjadi liar,” tuturnya dan menambahkan pihaknya telah meminta ke Mabes TNI-AD untuk mengirimkan bantuan berbagai perlengkapan sekolah kepada anak-anak pengungsi.

Sementara itu, sebagian pengungsi asal Baturube sejak Jumat (3/8) mulai kembali ke rumah mereka masing-masing dan membersihkan lumpur yang meredam bagian dalam dan luar rumah.

Sejak dihajar banjir bandang selama lebih sepekan sejak 17 Juli 2007, sebagian besar rumah penduduk di ibukota kecamatan Bungku Utara tersebut terendam air hingga mencapai ketinggian dua meter, bahkan sebagian ada yang hanyut terbawa arus.

Pembersihan lumpur yang disertai material lain yang terbawa arus air juga mulai dilakukan di sekolah-sekolah, pasar, dan kantor pemerintahan yang ada di Baturube dan di sejumlah desa sekitar.

M. Yamin Panca Setia

Photo: Tempo/Gunawan Wicaksono

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s