Panen Padi di Cianjur

SEORANG petani asal Nangroe Aceh Darussalam (NAD) memberanikan diri untuk menyampaikan harapan kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Bantas Edy, petani asal Kabupaten Nagan Raya (NAD) mengharap Presiden dan sejumlah menteri Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) dapat bertandang ke daerahnya pada November mendatang guna panen raya padi.

Undangan itu disampaikan petani Aceh saat berdialog dengan Presiden pada kegiatan panen SRI organik di Desa Bobojong, Kecamatan Mende, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, Selasa (31/7).

Menurut Edy, imbas dari konflik, khususnya Nagan Raya, menghadapi kendala, seperti banyaknya lahan pertanian yang terlantar. “Dengan kepemimpinan Presiden SBY, saat ini sudah cukup aman. Mudah-mudahan kepemimpinan diberikan panjang umur, dan dipilih kembali,” katanya.

Batas Edy mengatakan, petani di Nagan Raya mengundang Presiden untuk panen raya padi SRI pada November mendatang. Menurtu dia, saat ini petani di Nagan Raya telah nmelaksanakan SRI yang sudah diuji coba di 1.200 meter2 lahan, yang biasanya hanya anakan 40. Dengan menggunakan SRI, hari ini sudah 48 hari, namun anakannya 75 anakan.

“Ini sangat luar biasa. Saat ini kami melaksanakan SRI yang umurnya 8 hari untuk 30 hektare. Kami mengharapkan agar Presiden datang ke Aceh untuk panen raya pada November mendatang, untuk panen perdana di Kabupeten Nagan Raya yang baru berumur 5 tahun. Kami mengharap Presiden dan para menteri Kabinet Indonesia bersatu, pada panen nanti.”

Atas undangan itu, Presiden menyatakan “Insya Allah, kalau waktunya tetap, Nopember nanti saya akan datang ke Aceh untuk panen raya. Pak menteri pertanian, tolong dibicarakan ke Gubernur Aceh, saya senang kalau dapat kembali ke Nagan Raya, dan bersilathurahmi bersama seluruh saudara di Aceh,” ujar Presiden.

Presiden agaknya senang mendengar harapan Bantas tersebut.

Presiden memang amat mengharap agar supaya pengadaan pangan yang sangat penting dapat direalisasikan. Presiden menegaskan, jika target kebutuhan pangan dan realisasi pencapaian 2 juta ton beras di tahun 2007 harus terwujud. Karena itu, dia memerintahkan agar gubernur dan walikota agar berusaha maksimal dalam merealisasikan penambahan produksi pangan nasional. Jika tidak serius, maka akan Presiden tak sungkan mengenakan “kartu merah”.

“Gubernur, bupati harus berjuang habis-habisan. Nanti kalau yang tidak serius akan kita kasih kartu merah, bukan hanya kartu kuning. Kalau kita peduli, tidak mau kerja, ya kartu merah. Setuju!” kata Presiden di hadapan para petani dalam acara panen padi yang menggunakan sistem System of Rice Intensification (SRI) organik di Desa Bobojong, Kecamatan Mande, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat.

Kepada para petani, Presiden juga menghimbau agar berusaha maksimal dalam membangun sektor pertanian sebagai way of life atau jalan hidup. Menurut Presiden, profesi petani sangat mulia. Di Negara manapun, katanya, petani menjadi saka guru di negerinya, menjadi penyelamat. “Lihatlah petani di Jepang, Eropa, Amerika Serikat dan sebagainya. Petani adalah profesi yang terhormat. Saya ingin penghormatan, harga diri dan jati diri petani dihidupkan kembali,” ujar Presiden.

Presiden juga memerintahkan Menteri Pertanian dan sejumlah menteri terkait untuk dapat membantu petani-petani di daerah tersebut agar dapat mengatasi masalah ini dengan cara membuat mesin untuk mempercepat produktifitas pertanian mereka.

Dalam acara itu, Presiden didampingi Menteri Pertanian Anton Apriyantono, Menteri Koperasi dan UKM Suryadharma Ali, Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto, Menteri Sosial Bachtiar Chamsyah, Menteri Riset dan Teknologi Kusmayanto Kadiman, Dirut Bulog Mustafa Abubakar, Juru Bicara Andi Malarangeng, Gubernur Jawa Barat Danny Setiawan dan segenap jajaran Muspida Propinsi Jawa Barat.

Menurut Presiden, jika persediaan pangan nasional berkurang maka harga akan bergejolak sehingga menyebabkan masyarakat menderita.

Selain itu, lanjut Presiden, pemerintah juga akan berusaha untuk mengalokasikan dana yang lebih besar untuk usaha kecil dan menengah. “Pemerintah akan berusaha untuk mempermudah penyaluran modal usaha ini agar suku bunga tidak begitu tinggi, dan persyaratan dipermudah,” kata Presiden.

Sementara itu, Gubernur Jawa Barat Danny Setiawan mengatakan, sektor pertanian, terutama padi, masih jadi andalan Jawa Barat. Daerahnya adalah salah satu lumbung padi nasional dengan sumbangan sebesar 17 persen per tahun.

Untuk tahun 2007, Jawa Barat ditargetkan mampu menyumbang 10,05 juta ton beras guna memenuhi target peningkatan produksi beras secara nasional sebesar dua juta ton pada 2007. Dengan pengembangan bibit-bibit unggul padi termasuk padi SRI organik, katanya, diharapkan target tersebut dapat dicapai.

Ancaman Kemarau

Menteri Pertanian Anton Apriyantono mengatakan, pemerintah mengaku optimis target produksi 2 juta beras di tahun 2007 ini dapat tercapai meski ada ancaman kekeringan di sejumlah daerah karena pola tanam petani sudah banyak yang tidak lagi tergantung dengan air, namun menggunakan pupuk organik.

Ancaman kekeringan juga dinilai tidak begitu signifikan mempengarui tingkat produksi.

Berdasarkan perkiraan Badan Pusat Statistik yang hitungannya lewat luas lahan, produksi panen hingga April 2007 sudah mengalami peningkatan. ”Terlihat adanya peningkatan. Dari awalnya hanya sekitar 53 juta ton lebih gabah kering giling, dan meningkat menjadi 55 juta ton lebih. Padahal masih ada 8 bulan yang belum terhitung dengan baik,” katanya.

Menurut dia, meski ada kekeringan yang diluar perkiraan. Dari sisi itu kita optimis, paling tidak mendekati yang diharapkan.” Apalagi, kata Anton petani begitu antusias mengembangkan teknologi yang bisa meningkatkan produktivitas tanpa mengeksploitasi air, yang salah satunya dengan menggunakan System of Rice Itensification (SRI) organik yang dikembangkan Medco Foundation.

Sementara terkait dengan gangguan musim kemarau yang terjadi di Jawa Tengah dan Nusa Tenggara Timur, Mentan mengatakan, kemarau, banjir, serangan hama adalah gangguan yang terjadi tiap tahun.

Namun, jika membandingkan dalam jangka waktu 5 tahun, kemarau yang terjadi tahun ini masih dalam batas normal. Menurut Mentan, jika dikompensasi apa yg terjadi di akhir tahun sampai awal tahun, maka nampak terjadi kemunduran masa tanam dan panen karena kekeringan yang panjang. Dengan kekeringan yang panjang, katanya, justru produksi lebih tinggi dibandingkan tahun 2005.

Terkait dengan kerusakan saluran irigasi di sejumlah daerah, Anton mengatakan, pemerintah akan terus melakukan perbaikan kerusakan sejumlah DAS, irigasi dan membangun waduk baru karena menjadi program jangka panjang dalam pembangunan sektor pertanian.

Untuk jangka pendek dilakukan penyedian air di lokasi-lokasi kekeringan. Namun, Anton menekankan agar petani paham jika saat musim Kemarau, petani tadah hujan tidak menanam padi saja, namun juga mengembangkan tanaman palawija.

Kalau tidak, dikhawatirkan petani akan menanggung resiko kerugian akibat kekeringan. Menurut dia, memasuki Juli ini, curah hujan sudah berkurang. Agustus mendatang diperkirakan memasuki musim kemarau. ”Karena itu pola tanamnya itu harus padi, padi, palawija. Atau padi, palawija, palawija tergantung kesedian air.”

Di tempat yang sama, Dirjen Sumber Daya Air Departemen Pekerjaan Umum Iwan Nursyirwan mengatakan, kekeringan telah melanda di kawasan pertanian di Jawa Tengah dan Nusa Tenggara Timur. Sementara di wilayah utara Indonesia seperti Sulawesi Selatan mengalami musim hujan.

Dia menambahkan, indikator status waspada nampak di waduk Kedung Ombo. ”Statusnya waspada. Sudah dibawah pola normal.” Selain itu, banyak waduk kecil di Nusa Tenggara Timur dan Nusa Tenggara Barat yang mengalami kekeringan.

Untuk itu, dibutuhkan teknologi yang bisa modifikasi cuaca lewat hujan buatan untuk mencukupi air di waduk.

Pemerintah sudah mengalokasikan anggaran sekitar Rp60 miliar untuk juga modifikasi cuaca.

Kembangkan Padi SRI

Dalam kesempatan itu, Presiden juga mengharap agar padi SRI organik dapat dikembangkan di seluruh daerah karena memiliki sejumlah keunggulan.

Padi SRI adalah contoh nyata dari pembangunan berkelanjutan kebutuhan pangan yang ramah lingkungan sehingga harus diterapkan seluas luasnya.

Presiden menilai, Padi SRI organik terbukti hemat air. ”Metode ini telah menjadi solusi dari bercocok tanam yang hemat air dengan produktifitas tetap berlimpah.”

Padi SRI organik juga tidak memerlukan pupuk non organik sehingga dapat membantu usaha menhemat gas yang selama ini diperlukan untuk pembuatan pupuk.

Metode penanaman SRI dapat membuka solusi untuk mengatasi problem sampah di kota karena bahan organik dari sampah dapat digunakan sebagai kompos yang bermanfaat untuk budidaya pada SRI organik.

”Mari kembangkan padi SRI organik seluas-luasnya.”

Presiden mendukung rencana pengembangan 10 ribu hektar lahan padi SRI organik oleh Medco Foundation.

Pendiri Medco Foundation, Arifin Panegoro dalam kesempatan yang sama mengatakan rencananya untuk mengembangkan 10 ribu hektar lahan padi SRI organik di Indonesia.

”Kegiatan imi merupakan komitmen kami terhadap pengembangan alternatif solusi swasembada pangan sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani,” katanya.

Optimisme Arifin antara lain berangkat dari tingkat produktifitas padi SRI organik yang mencapai kisaran 10-12 ton perhektar. Berangkat dari kalkulasi itu, Arifin memperkirakan dibutuhkan hingga 400 ribu hektar lahan padi SRI organik untuk menutupi defisit produksi beras nasional yang mencapai 2 juta ton per tahun. ”Perlu kerja keras dan kerjasama antarmasyarakat dengan dukungan pemerintah agar cita-cita membangun 400 ribu hektar lahan padi SRI organik tersebut dapat terwujud.”

Sebagai tindak lanjut, Arifin menggandeng Bank Rakyat Indonesia, Bank Agro dan Bank Saudara untuk terlibat dalam tahap pertama berupa proyek pengembangan 10 ribu hektar lahan padi SRI organik. Dana yang diperlukan mencapai Rp100 miliar.

Kegiatan panen padi SRI yang berlangsung di Bobojong tersebut merupakan tahap awal dari lahan percontohan penanaman padi ramah lingkungan yang dikembangkan Medco.

Perusahaan tersebut juga memberikan dukungan permodalan, pemasaran dan manajemen kepada petani yang mencangkup areal seluas 7,5 hektar.

M. Yamin Panca Setia


Photo: Presiden SBY melakukan panen perdana padi System of Rice Intensification (SRI) Organic, di Desa Bobojong, Kecamatan Mande, Kabupaten Cianjur, Senin (30/7) (anung/presidensby.info)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s