Sorak Sorai itu Lenyap Jelang Menit Akhir


SUTARDI rela dari Surabaya ke Jakarta untuk menyaksikan pertandingan sepak bola antara Indonesia melawan Arab Saudi dalam laga perebutan juara Piala Asia 2007 yang akan digelar Sabtu Malam (14/7) di Stadion Gelora Utama Bung Karno.

Dia datang bersama rombongan lainnya dengan menggunakan bus. Jumlahnya sekitar 40 orang. Kedatangan mereka lengkap disertai atributnya.

Mereka adalah segelintir dari ribuan suporter Tim Nasional Indonesia yang memadati Stadion. Berpakaian merah, dengan tulisan ”Indonesia” di depannya. Ada juga di antara mereka yang sengaja mengecet wajahnya berwarna Merah Putih warna bendera Indonesia.

Laga dan tampilan mereka layaknya suporter sepak bola fanatik saat Piala Dunia digelar. ”Saya harap Indonesia menang lawan Arab Saudi, seperti mengalahkan Bahrain,” kata Sutardi. Indonesia sebelumnya telah menggulung Bahrain dengan skor 2-1.

Pencinta bola Indonesia memang mengharap, Tim Merah Putih dapat menenggelamkan nama besar Arab Saudi yang merupakan salah satu tim unggulan dalam perebutan Piala Asia 2007. Arab Saudi juga sudah sering menjadi peserta dalam Piala Dunia.

Indonesia juga selalu kalah telak dalam setiap pertandingan melawan The green Falcons, sebutan buat tim Arab Saudi. Namun, kemenangan melawan Bahrain, diharapkan dapat menjadi penyulut bagi tim dibawah asuhan Ivan Kolev itu untuk mengalahkan Arab Saudi.

Makanya, laga Indonesia versus Arab Saudi itu dijejali ribuan massa. Mereka datang dari berbagai pelosok untuk memberikan dukungan moril kepada Tim Nasional Indonesia.

Mereka tak hanya dari pelosok Jakarta, Bogor, Tanggerang dan Bekasi dan sekitarnya, namun juga datang dari Semarang, Jogjakarta, Surabaya dan wilayah Indonesia lainnya.

Ribuan suporter itu pada bersorak, bernyanyi, menabuh dram, meniupkan peluit. Mereka begitu bersemangat meneriakan yel-yel yang nadanya membakar semangat buat Bambang Pamungkas dan kawan-kawan. Di halaman sekitar stadion, massa tumplek blek. Ada yang berkelompok, berpasangan, atau sendirian.

Saya adalah salah satu dari ratusan ribu penonton yang memadati stadion Gelora Utama Bung Karno. Sebenarnya, saya tak begitu fanatik dengan sepak bola. Saya hanya suka menyaksikan pertandingan sepak bola saat ajang Piala Dunia digelar.

Biasanya, saat Sabtu libur, saya lebih banyak menghabiskan waktu di atas kasur kost saya di kawasan Rawamangun, Jakarta Timur.

Namun, lantaran dapat tiket gratis untuk kelas VIP dan berangkat bersama-sama dengan rombongan wartawan yang biasa mangkal di Istana Presiden, dengan senang hati, saya pun meluncur ke stadion. Apalagi, selama dua tahun di Jakarta, saya tidak pernah menyaksikan langsung pertandingan sepak bola di stadion termegah di Indonesia itu.

Sekitar pukul 16.20 WIB, saya tiba di stadion. Di sana, saya bergabung dengan rombongan wartawan Istana dari sejumlah media di Indonesia.

Kami tidak bisa mudah untuk langsung masuk ke podium VIP. Sekitar satu jam kami harus antri mendapatkan tiket.

Saat wartawan ingin masuk, kericuhan kecil terjadi antara wartawan dengan petugas penjaga pintu masuk. Kericuhan terjadi lantaran petugas melarang wartawan membawa kamera dan foto. “Maaf, wartawan tidak boleh membawa kamera dan foto, karena yang memiliki hak siar terbatas,” kata panitia itu.

Mendengar larangan itu, para pencari berita pun serempak protes. ”Kenapa? Kita wartawan Istana, kita mau ambil gambar Presiden SBY,” kata seorang wartawan. ”Kita kan tidak mau menyiarkan pertandingan,” timpal rekan wartawan lainnya.

Terpaksa, jurus lobi pun digunakan wartawan untuk menaklukan panitia. Wartawan berusaha menyakinkan panitia jika kamera dan foto yang dibawa tidak akan digunakan untuk merekam jalannya pertandingan. Namun, panitia tetap tidak percaya.

Saat terjadi kekisruhan itu, Menteri Negara Pemuda dan Olah Raga Adhyaksa Dault kebetulan berpapasan dengan wartawan. Adhyaksa pun dijadikan tempat mengadu bagi wartawan.

“Tolong dong pak, kita kok dilarang bawa foto dan kamera. Kita tidak bisa ambil gambar,” keluh wartawan. Adhyaksa merespon keluhan wartawan tersebut. Dia coba melobi panitia.

Selang beberapa menit, Adhyaksa ternyata juga gagal menyakinkan panitia. Wartawan tetap dilarang membawa kamera TV dan kamera saku saat meliput Presiden SBY yang menonton pertandingan bola.

“Mohon maaf Pak, hak siar memang terbatas. Kamera tidak diizinkan masuk,” kata Asisten AFC, Soraya Farina. “Masalahnya masyarakat Indonesia ingin melihat gambar Presiden SBY, ini harus bagaimana? Saya harus ngomong dengan siapa,” timpal Adhyaksa.

Soraya, menyarankan agar Adhyaksa membicarakan hal tersebut ke Ali Al Hamdani, Media Officer AFC. Adhyaksa pun masuk ke ruang VVIP. Tak lama berselang, dia bersama Media Officer AFC dari Irak Ali Al Hamdani, menemui wartawan.

“Mohon maaf, aturan hak siap bisa dipahami. Jadi, jika rekan-rekan wartawan mau masuk dengan kamera AFC bisa dikomplain oleh puluhan negara Asia lainnya,” kata Hamdani.

“Teman-teman jadi mohon dipahami ya. Nanti ada kamera dan foto yang masuk VVIP tetapi hanya 1 untuk mengambil gambar Presiden SBY, tinggal bagi-bagi gambar saja,” kata Adhyaksa.

Daripada tidak bisa masuk, wartawan pun terpaksa mengalah. Mereka lalu mengumpulkan kamera TV, tripod, kamera saku di depan pintu XII, yang terletak di samping kiri pintu VIP. Wartawan memang harus terpaksa mengalah daripada tidak bisa menyaksikan langsung aksi tim nasional.

Wartawan sadar jika ribuan orang yang bersemangat untuk nonton tak bisa masuk karena kehabisan tiket.

Malang bagi mereka yang sudah datang dari kejauhan, namun tak bisa melihat langsung pertandingan karena tiket yang disediakan panitia sekitar 85 ribu, habis terjual.

Mereka hanya bisa menunggu di halaman luar stadion, tanpa disertai layar lebar. Bahkan, banyak yang terpaksa membeli tiket dari calo dengan harganya yang naik 100 persen.

Menjelang pertandingan dimulai, tak sedikit calo berkeliaran untuk menawarkan tiket kepada calon penontong. Tiket seharga Rp 25 ribu dijual sekitar Rp 50 ribu. Bahkan ada yang menawarkan Rp 70 ribu. Sedangkan tiket seharga Rp 75 ribu dijual antara Rp 150 ribu-Rp 200 ribu. ”Ini sudah murah lho, daripada tidak kebagian,” kata seorang calo yang tengah menawarkan harga tiket kepada seorang calon penonton.

Tak sedikit pula suporter yang berusaha mendobrak dan merubuhkan pintu di sebelah utara stadion, sambil berteriak, “Buka pintunya, buka pintunya, sekarang juga.” Mereka mengaku berasal dari Surabaya dan Bandung.

Mereka nyaris bentrok dengan petugas yang sedang berjaga-jaga. Mereka kesal lantaran tak dapat tiket. Aparat kepolisian pun dijadikan pelampiasan emosi. Mereka mengumpat dan menimpuk dengan botol plastik ke arah petugas keamanan. Untungnya, petugas tak membalas sehingga tidak terjadi bentrok fisik.

Aparat keamanan memang sudah disiagakan untuk mengamankan jalannya pertandingan jika terjadi kerusuhan. Polda Metro Jaya menerjunkan 1.656 polisi. Pengamanan pun semakin diperketat lantaran Presiden Susilo Bambang Yudhoyono akan menyaksikan langsung pertandingan tersebut.

Di setiap pintu gerbang stadion, nampak puluhan petugas keamanan berjaga-jaga. Mereka dari Brimob, Samapta, Intelijen Polri, Pasukan Pengamanan Presiden (Paspamres), bahkan TNI pun dilibatkan.

*******

SAAT memasuki stadion setelah antri sekitar 30 menit di pintu masuk, saya melihat sesuatu yang hanya pernah saya lihat di televisi. Stadion itu didalamnya padat penonton yang mengenakan baju berwarna merah, seragam kebanggaan tim nasional Indonesia.

Mereka bernyanyi lagu yang bernada seruan moral agar Indonesia menang. ”Ini kandang kita, saya ingin kita menang,” begitu nada yang kerap mereka nyanyikan. Kerap juga terdengar nyanyian ole ole ole. Mereka bernyanyi sambil berjingkrak, dan bertepuk tangan. Ada juga yang mengibarkan bendera merah putih.

Tabuhan dram, pekikan peluit, dan luapan kegembiraan terdengar membahana. Belum lagi, suara letusan mercon yang memancarkan api dan warna merah yang sesekali terdengar menghentakan. Semuanya senang.

Mereka juga kerap menampilkan aksi layaknya gelombang lautan dengan cara mengangkat tangan bergantian sambil berdiri yang bergiliran dari sektor 1 hingga 12 yang melingkari stadion. Aksi mereka begitu selaras seolah ada yang mengorganisir layaknya aksi demonstrasi buruh di jalanan.

Jumlahnya mereka jauh lebih banyak dibandingkan pendukung Arab Saudi. Mereka memadati 24 sektor yang melingkari Stadion.

Berbagai macam spanduk yang bertuliskan seruan agar Indonesia menang dipanjang di setiap penjuru sektor stadion. ”Harumkan nama bangsa. Timnas PSSI ku,” demikian bunyi tulisan sebuah spanduk yang ada di sektor 1. Sementara di sektor 7-8 nampak rangkaian huruf-huruf besar yang bertuliskan ”Ayo Menang Lagi.”

Tepat pukul 6.45 WIB, satu per satu pemain dari Indonesia dan Arab Saudi memasuki lapangan. Pemain kedua tim itu masuk ke lapangan untuk melakukan pemanasan dan pengenalan lapangan.

Sorak sorai pujian semakin riuh diluapkan para suporter Indonesia. “Indonesia, Indonesia, Indonesia,” begitu yel-yel serempat yang mereka luapkan. Bambang Pamungkas dan kawan-kawan nampak dari kejauhan agak terprovokasi. Mereka melambaikan tangan kepada pendukungnya.

Saat tim nasional Arab Saudi yang berseragam putih-putih masuk ke lapangan, yang nyaring terdengar adalah suara celaan. “uuuuhhhhh,” begitu bunyinya. Dukungan hanya terdengar dari arah pendukung Arab Saudinya yang jumlahnya puluhan orang. Suara mereka terdengar sayup-sayup lantaran tenggelaman oleh riuh para pendukung Indonesia.

Tepatnya pukul 19.25, pertandingan akan dimulai. Acara seremonial berupa menyanyikan lagu kebangsaan kedua negara dikumandangkan. Saat Indonesia Raya dikumandangkan, gemanya terdengar membahana. Semua penonton menyanyi.

Pada pukul 19.30, wasit yang memimpin pertandingan, Al Badwawi Ali dari United Arab Emirates meniupkan peluit sebagai tanda pertandingan dimulai. Sorak sorai pun semakin bergemuruh.

Dari arah tribun utama, nampak Presiden Susilo Bambang Yudhoyono bersama Ani Yudhoyono yang turut serta menyaksikan pertandingan larut dalam emosi kolektif para pendukung Indonesia.

Presiden mengenakan kaos Polo merah tampak serius menyaksikan jalannya pertandingan. Kepala negara yang didampingi Menteri Sekretaris Negara Hatta Rajasa, Menteri Pemuda dan Olahraga Adhyaksa Dault, dan Sekretaris Kabinet Sudi Silalahi, larut dalam suasana.

Nampak pula Ketua DPD Ginanjar Kartasasmita, Gubernur DKI Sutiyoso, serta Wakil Ketua DPR Zaenal Maarif. Ikut hadir pula di podium VVIP itu jajaran korps diplomatik dari Kedubes Arab Saudi.

Saya duduk di podium VIP yang bersampingan dengan podium yang ditempati Presiden. Selain wartawan Istana, podium itu juga dipadati wartawan olah raga baik dalam negeri maupun luar negeri.

Menyaksikan langsung pertandingan sepak bola di stadion utama Bung Karno, sungguh sangat mengesankan. Suasana di dalam stadion ternyata mampu membakar emosi orang-orang yang ada di dalamnya, termasuk saya.

Saya bersama teman-teman wartawan lainnya terprovokasi untuk bersorak, berteriak, bernyanyi maupun beratraksi mengikuti aksi kolektif massa yang ada di stadion. Nasionalisme kami pun terbakar untuk mendukung tim nasional Indonesia.

Pun halnya wartawan dari Arab Saudi. Mereka bernyanyi, sambil menari dan meledek-ledek wartawan Indonesia yang duduknya tak jauh dari mereka. Apalagi, pada 10 menit jalannya pertandingan, saat Yasser Al Kahtani berhasil membobol gawang Indonesia. Gol itu sekaligus menenggelamkan sorak sorai ribuan suporter Indonesia yang ada di stadion.

Kami rombongan wartawan pun mengekspresikan kesedihan. Sementara para wartawan Arab Saudi menari-nari di tribun wartawan.

“Woiii…bahlul, diam lue, huuuu,” teriak seorang wartawan Indonesia saat menyaksikan kegembiraan yang diluapkan wartawan Arab Saudi. “Goblok, tunggu pulangnya, kita jegat rame-rame,” kata teman-teman wartawan lainnya sambil diiringi ketawa ketiwi. Bahkan, di jajaran atas podium tempat saya duduk, ada wartawan yang kesel sambil menggebrak saat menyaksikan ulah wartawan Arab Saudi tersebut.

“Indonesia, Indonesia, Indonesia,” teriakan itu kembali membahana untuk membakar semangat tim nasional agar terus berusaha membobol gawang Arab Saudi. Hingga akhirnya, saat menit ke 15, Elie Aiboy, penyerang Indonesia berhasil mencetak gol balasan. Kami pun pada berjingkrak, dan berpelukan. Sementara wartawan Arab yang tadinya kegirangan, tiba-tiba diam.

Suara riuh di dalam stadion pun terus bergema. Hingga akhir babak pertama, skor masih imbang 1-1 antara Indonesia dengan Arab Saudi.

******

SAAT babak kedua digelar, pada menit pertama Indonesia langsung menyerang. Arab Saudi terus dibombardir oleh Bambang Pamungkas, Elie Eboy, Budi Sudarsono dan kawan-kawan.

Saya bersama wartawan lainnya tak henti-henti berjingkrak untuk menyaksikan setiap momen menegangkan di wilayah kedua tim.

Tim nasional pada awal menit pertama tidak memberi ruang bagi para pemain Arab Saudi untuk mengembangkan permainan dan menguasai bola terlalu lama.

Baru berjalan satu menit striker Budi Sudarsono langsung menggebrak sisi kanan pertahanan Arab Saudi. Namun tendangannya dari luar kotak penalti masih terlalu lemah sehingga dengan mudah ditangkap kiper Yasser Al Mosailem.

Namun, saya menyesalkan lantaran serangan terus menerus yang dilancarkan tim nasional Indonesia hanya bertahan pada hingga 10 menit babak kedua. Selebihnya, Arab Saudi lebih banyak menyerang. Sementara Indonesia harus bertahan.

Arab Saudi pun berhasil menemukan irama permainannya untuk membombardir pertahanan Indonesia. Tim asuhan pelatih asal Brazil Helio dos Anjos tersebut hampir mencetak gol ketika kapten Yasser Al Qahtani menggiring bola mengiris pertahanan tuan rumah dan melepas umpan mendatar ke tengah kotak penalti. Bola berhasil disambut Ahmed Al Mousa tetapi tendangannya melambung jauh ke atas mistar.

Yandri Pitoy, Kiper Tim Nasional Indonesia terpaksa harus kerja keras menyelamatkan gawang Indonesia dari serbuan cepat pemain Arab Saudi. Abdulrahman Al Qahtani dan Malek Alhawsawi adalah dua penyerang yang sering melakukan serangan berbahaya.

Hingga akhirnya, menjelang menit terakhir, gawang Indonesia pun bergetar setelah umpan lambung yang dilepaskan pemain tengah Arab Ahmed Al Bahri ke kotak penalti dan disambut sundulan striker Yasser Al Qahtani. Yandri Pitoy tidak mampu meraih bola hingga akhirnya menggetarkan gawang Indonesia.

Gemuruh sorak sorai dari suporter Indonesia itu pun tiba-tiba lenyap. Sorak sorai hanya terdengar dari arah segelintir pendukung tim Arab Saudi.

Tak lama berselang, Al Badwawi Ali meniupkan peluit panjang sebagai tanda pertandingan berakhir.

Ribuan suporter nampaknya harus lapang dada menerima tim kesayangannya kalah di kandang sendiri. Tapi, mereka agak puas, lantaran tim nasional mampu menunjukan permainan bagus malam itu. Meski kalah, mereka bertepuk tangan, sambil meneriakan yel-yel Indonesia, Indonesia Indonesia.

Para pemain Indonesia nampak terlihat lemas. Mereka menangis dan merundukan kepala setelah kalah bertanding. Mereka ternyata tak mampu mewujudkan keinginan rakyat Indonesia.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tak mampu menyimpan kekecewaan setelah Indonesia gagal melawan Arab. Namun, kepala negara tetap memberikan aplaus kepada tim nasional yang sudah berjuang keras.

Usai pertandingan, Presiden dalam pernyataan persnya secara tertulis mengaku bangga atas perjuangan tim nasional Indonesia. “Menyaksikan pertandingan tadi saya bersyukur, senang dan juga bangga melihat permainan kalian yang sangat baik dan berkualitas. Meskipun kita kalah satu dengan Saudi Arabia, tetapi kekalahan itu sangat terhormat, karena permainan kalian benar–benar baik, “ ungkap Presiden.

Menurut Presiden, teknik yang ditampilkan tim nasional sangat baik dan asyik ditontoon. Semangat pun tinggi dari awal hingga akhir pertandingan. ”Ini adalah kemenangan yang tertunda. Saya melihat awal kebangkitan dan kejayaan kembali sepak bola kita. Rakyat Indonesia, baik yang ada di lapangan stadion, maupun di seluruh tanah air, juga bangga menyaksikan permainan kalian. Teruslah mempersiapkan diri sebaik–baiknya untuk pertandingan yang akan datang. Selamat berjuang, Tuhan beserta kita, “ pesan SBY.

Namun, Presiden menyesalkan kepemimpinan wasit Al Badwawi Ali yang tak objektif memimpin pertandingan. “Sampaikanlah baik-baik kepada pihak AFC. Memilih wasit harus tepat agar tidak menimbulkan psikologi yang tidak baik,” ungkap Presiden.

Memang, sejak awal pertandingan ada yang tak beres dalam kepemimpinan Al Badwawi Ali. Saat babak pertama dimulai, Badwai telah menjatuhkan empat buah kartu kuning kepada pemain Indonesia. Pada babak kedua, dia memberikan kartu kuning.

Usai pertandingan, satu persatu para penonton keluar dari dalam stadion. Mereka memadati halaman di luar stadion, dan jalan-jalan arah ke Sudirman dan Senayan.

Tak ada luapan kegembiraan sedikit pun di wajah para suporter Indonesia. Bahkan, tak sedikit yang menangis. ”Sayang sekali ya. Padahal, pertandingan sudah mau berakhir, kalau imbang, hebat Indonesia,” begitu nada yang terdengar saat saya melintasi segerombolan pendukung Indonesia di luar stadion. Ada juga yang menyesalkan kepemimpinan wasit yang tidak adil dalam memimpin pertandingan. ”Wasitnya bego,” kata mereka kesal.

Suasana kala itu memang jauh berbeda saat pertandingan akan digelar. Tak terdengar suara terompet, peluit, tambuhan dram, dan sorak sorai membakar semangat. Ya ada hanya wajah-wajah sedih. Sorak sorai itu tenggelam menjelang pertandingan akan berakhir.

M. Yamin Panca Setia

Photo: Pemain Sepak Bola Indonesia Budi Sudarsono berebut bola dengan Ahmed Al Mousa, saat bertanding melawan Arab Saudi , di stadion Bung Karno, Jakarta. Indonesia kalah 2-1. (AP/Dita Alangkara)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s