Mengharap dari Kebangkitan Investasi


ARUS investasi yang mengalir ke Indonesia terus meningkat. Pada Tahun 2007, Penanaman Modal Asing (PMA) tumbuh sekitar 16,8 persen, dari Rp31,6 trilun, menjadi Rp37 triliun. Sementara Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) naik 135 persen, atau dari Rp11,8 triliun menjadi Rp28 triliun.

Pada semester I tahun 2007, peningkatan PMDN tumbuh 72 persen dari Rp67 triliun menjadi Rp115,4 triliun. Sedangkan PMA tumbuh 301,67 persen dari Rp53,73 triliun pada Semester I 2006 menjadi Rp215,82 triliun pada Semester I tahun 2007.

Idealnya, kenaikan nilai investasi itu dapat memicu pertumbuhan sektor riil, peningkatan lapangan kerja, pengentasan kemiskinan dan peningkatan kesejahteraan rakyat. Harapan itu coba digeber oleh pemerintah saat ini. Pemerintah memang harusnya mengakui, stabilitas ekonomi makro yang berhasil diwujudkan ternyata, belum menjadi stimulan bagi peningkatan ekonomi mikro, yang bersentuhan langsung dengan kehidupan rakyat.

Melihat realitas itu, Menteri Koordinator Bidang Ekonomi Boediono mengatakan, pemerintah akan terus melakukan review atas perkembangan berbagai indikator yang terkait di sektor riil dengan harapan dapat terus dipertahankan stabiltas kebangkitan sektor riil yang tercermin dari berbagai indikator, sektoral dan makro ekonomi saat ini.

”Usaha tersebut dilakukan agar kebangkitan sektor riil yang mulai bergerak di kuartal kedua tahun ini, dapat dimanfaatkan untuk stabilitas ekonomi secara luas,” kata Boediono usai rapat terbatas yang dipimpin Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di kantor Presiden, Jakarta tadi malam.

Dalam rapat terbatas yang juga dihadiri Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu, Menteri Keuangan Sri Mulyani dan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Muhammad Lutfi tersebut, Boediono mengatakan, Presiden mengharap agar pertumbuhan sektor rill yang sudah bergerak harus bisa diarahkan pada usaha menciptakan stabilitas ekonomi yang menyangkut orang banyak, khususnya pada stabilisasi barang pokok. ”Karena itu, kita harus terus mencermati agar tidak ada kenaikan secara tidak terduga sehingga perlu antisipasi,” ujarnya.

Kepala Negara juga menekankan agar tim ekonomi dapat terus mempertahankan kebangkitan dari investasi yang sudah terlihat pada semester I, terutama pada kuartal II, dengan menghilangkan semua hambatan dalam proses investasi.

Kebangkitan investasi diharapkan dapat benar-benar menjadi stimulan dalam memicu pertumbuhan ekonomi, peningkatan lapangan kerja, pengentasan kemiskinan dan kesejahteraan masyarakat.

Dalam ratas tersebut, Presiden juga menekankan pembangunan di daerah dapat lancar jika penggunaan APBD sejalan dengan pelaksanaan di level pusat sehingga saling melengkapi untuk mendorong stimulasi pertumbuhan ekonomi.

”Presiden menyayangkan kepada daerah yang belum memanfaatkan APBD untuk pembangunan, karena ada yang masih disimpan dalam SBI dan seyogyanya digunakan untuk menghidupkan kegiatan ekonomi di daerah, dan ini akan kita monitor dari waktu ke waktu,” kata Boediono.

Karena APBN 2008 jumlahnya akan semakin besar, lanjutnya, Presiden menginginkan alokasinya dapat tepat sasaran dan efisien. Presiden juga mengharapkan, APBN tahun 2008 dapat diarahkan untuk simpul-simpul strategis perkenomoian negara seperti infrastruktur, belanja modal, dengan cara menunda pengeluaran yang belum mendesak.

Meningkat

Di tempat yang sama, Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan, hampir semua sektor riil tumbuh sangat kuat (double digit) di kuartal kedua tahun 2007 dan inflasi hingga akhir tahun ditaksir kurang dari 6 persen. Untuk sektor konstruksi, pertumbuhan Pajak Penghasilan (PPh) perusahaan 30 persen dan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) meningkat 39,2 persen. “Itu menunjukkan angka produksi di sektor konstruksi sangat tinggi.”

Sementara di sektor perdagangan, PPh meningkat 25,8 persen dan PPN naik 27,4 persen. Di sektor transportasi dan komunikasi, PPh meningkat 35,4 persen dan PPN 3,4 persen yang tahun depan diproyeksi meningkat hingga 21,24 persen.

Di sektor pertanian, migas dan non migas, PPh juga tumbuh baik, yaitu di atas 10 persen. Di industri pengolahan, PPh naik 104 persen dan PPN 12,4 persen.

Untuk industri makanan, Sri Mulyani mengatakan, tahun lalu mengalami pertumbuhan negatif baik dari PPh dan PPN, tapi tahun ini telah bangkit. PPh Industri makanan tumbuh 19,5 persen, tembakau 9 persen, tekstil 6,3 persen yang tahun lalu minus 1,2 persen, dan industri logam tahun lalu yang minus 0,7 persen, tahun ini meningakat 8,9 persen.

Di sektor elektronik, tahun lalu minus 13,6 persen, tahun ini PPh naik 8,7 persen. Pun halnya industri kendaraan bermotor yang positif naik hingga 16 persen. “Ini hal-hal yang menggambarkan adanya pemulihan dan perkembangan,” kata Sri Mulyani.

Di sektor kredit perbankan, Sri mengatakan, pada bulan Juni mengalami lonjakan tinggi yakni mencapai di atas Rp35 triliun. Sementara bulan lalu, masih sekitar Rp15 trilun. “Jadi, recovery sektor rill semakin terlihat nyata,” kata dia.

Kepala BKPM Muhammad Lutfi mengatakan, pertumbuhan realisasi investasi untuk periode pertama 2007 angkanya sangat baik, khususnya Penanaman Modal Asing (PMA) dan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN).

Menurut dia, total investasi tumbuh dari 42,7 triliun menjadi 65,3 triliun atau naik 52,6 persen. PMA tumbuh sekitar 16,8 persen, dari Rp31,6 trilun, menjadi Rp37 triliun, sementara PMDN tumbuh dari Rp11,8 ttriliun, menjadi Rp28 triliun, atau naik 135 persen.

Realisasi investasi PMA dan PMDN tersebut, kata Lutfi direalisasikan dalam bentuk perluasan penciptaan tenaga kerja. Dia menjelaskan, pertumbuhan sektor tenaga kerja tercatat 143.154 orang.

Terkait dengan usaha meningkatkan investasi, PMDN tumbuh 72 persen dari Rp67 triliun menjadi Rp115,4 triliun pada semester pertama tahun 2007, sedangkan PMA tumbuh 301,67 persen dari Rp53,73 triliun pada Semester I 2006, menjadi Rp215,82 triliun pada Semester I tahun 2007. “Ada penciptaan lapangan kerja dari PMDN 194.342 orang, dan PMA 242.777 orang,” katanya.

Boediono mengatakan, BPKM akan tetap menjadi institusi sentral dalam melaksanakan kebijakan investasi. Namun, ada juga institusi yang mendampingi BKPM untuk membantu lembaga tersebut dalam memecahkan masalah yang tidak dapat diselesaikan BKPM.

Menurut Boediono, pemerintah telah membentuk Tim Nasional Peningkatan Ekspor dan Investasi yang diketuai Presiden dan Ketua Harian Menko Perekonomian Boediono, dan sejumlah Menteri sebagai anggota tim, dan pokja yang nantinya akan mendampingi BKPM.

M. Yamin Panca Setia

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s