Jangan ada Kelaparan
di Pengungsian Letusan Gamkonora


MENTERI Sosial Bachtiar Chamsyah memperingatkan kepada dinas sosial provinsi Maluku Utara agar tidak membiarkan ribuan pengungsi letusan Gunung Merapi Gamkonora, Kecamatan Ibu Selatan, Kabupaten Halmahera Barat (Halbar), Maluku Utara (Malut) kelaparan.

Jika terjadi kekurangan pangan, Mensos mengintruksikan agar pemerintah setempat menggunakan 70 ton beras yang berada di dinas sosial setempat untuk para pengungsi.

”Kita mengintruksikan kalau beras kurang, maka beras di sana ada 70 ton. Saya telah mengingatkan kepada dinas sosial jangan ada masyarakat korban yang tidak makan,” tegasnya di kantor Presiden kemarin.

Untuk penanganan pengungsi, Bachtiar mengatakan, letusan Gunung Gamkonora telah menyebabkan warga di 10 desa mengungsi. Tempat pengungsian sudah disediakan, yaitu di pusat Tosau dan Tondore. Berdasarkan data terakhir mengenai jumlah pengungsi yang diketahui, Mensos menyebutkan jumlah pengungsi mencapai 9.780 jiwa.

Menurut Bachtiar, penanganan pengungsi diatur oleh Badan Pengawasan Gunung Merapi. Sejumlah staf Direktorat Penanggulangan Bencana dari Departemen Sosial juga sudah diturunkan di lapangan.

Dia mengatakan, evakuasi telah dilakukan dengan menerapkan sistem dan prosedur tetap yang ada. ”Begitu dari pengamatan dari pengamatan gunung merapi memberikan aba-aba harus segera dilakukan pengungsian, maka satlak yang ada di daerah bekerja. Maka dibuat dua pemusatan tempat pengungsian.”

Namun, katanya, masih ada warga yang enggan mengungsi karena khawatir akan rumah, sawah, dan kebun di desanya jika ditinggalkan.

Dalam kesempatan itu, Bachtiar juga mengklarifikasi ketidakbenaran pernyataan Bupati Halbar yang menyatakan kepada media massa jika tidak ada bantuan. ”Itu tidak benar. Kebutuan pangan sandang aman. Saya langsung komunikasikan. Kau (bupati Halbar) ngomong apa? Saya jelaskan seluruh stok barang itu kepunyaan Departemen Sosial,” tandasnya.

Di setiap propinsi, lanjutnya, Depsos memiliki gudang untuk stok pangan bagi para korban bencana alam. Untuk kebutuhan pengungsi letusan Gunung Gamkonora, katanya, gudang pangan di Ternate sejak tanggal 9 Juli sudah bergerak. Jarak dari Ternate ke Kecamatan Ibu Selatan, Kabupaten Halmahera Barat (Halbar), Maluku Utara (Malut) menempuh perjalanan 2.45 menit. ”Faktor transportasi tidak menghalangi untuk mencapai pengungsi dan untuk mengangkut bahan makanan,” katanya.

Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM, Bambang Dwiyanto mengatakan gunung merapi Gamkonora tengah berstatus awas yang berarti status yang akhir yaitu mendekati letusan.

“Khusus untuk tingkat awas, konsekuensinya adalah kami bersama Pemerintah Daerah akan menetapkan lokasi-lokasi pengungsian dan akan menggerakan masyarakat untuk penyelamatan ke lokasi pengungsian,” Bambang menambahkan.
Badan Geologi Kementerian ESDM mengumumkan ada 10 gunung berapi yang berada pada status waspada, satu dalam status siaga, dan satu dalam status awas yaitu gunung merapi Gamkonora. 10 gunung dalam status waspada itu adalah Gunung Talang (Sumbar), Anak Krakatau (Lampung), Merapi (DIY), Semeru dan Bromo (Jatim), Batutara (NTT), Lokon dan Karangetan (Sulut), Dukuno dan Ibu (Maluku Utara). Sementara Gunung Soputan dalam status siaga, dan Gunung Gamkonora (Maluku Utara) dalam status awas.
Menurutu Bambang, status waspada apabila secara instrumental dari pengamatan dan juga secara visual menunjukkan ada peningkatan yang cukup signifikan. Apabila sudah menuju ke arah aktivitas letusan ini dinaikkan ke level siaga.

Dari peningkatan status tersebut, lanjut Bambang, apabila dalam kondisi waspada maka masyarakat diharapkan melakukan aktivitas yang sangat terbatas. Pada level siaga, diharapkan nasyarakat tidak boleh melakukan aktivitas di daerah-daerah yang terancam.

Dari tempat pengungsian Tasoa dikabarkan, banyak pengungsi yang kini menderita sakit, seperti batuk, flu, diare dan malaria, tetapi sampai sekarang bantuan obat-obatan belum ada. Pengungsi juga mengharap tambahan bantuan beras, mie instan, gula pasir dan minyak goreng yang sudah disalurkan Pemkab Halbar, tidak mencukupi. Mereka mengharapkan pula bantuan masker dan susu untuk balita. Di tempat pengungsian seperti itu, balita sangat rentan pada penyakit, oleh karena itu mereka harus mendapat suplai makanan yang bergizi tinggi, terutama susu agar daya tahan tubuhnya kuat.
Juru bicara Pemkab Halbar Drs Kalbi Rasyid seperti dikutip Antara mengakui, obat-obatan yang disalurkan Pemkab Halbar ke pengungsi masih terbatas. Pemkab Halbar masih menunggu datangnya bantuan obat-obatan dari pemerintah pusat yang kini dalam perjalanan.
Begitu pula bahan makanan, Pemkab Halbar baru menyalurkan beras sebanyak 10 ton, mie instan 500 dus serta gula pasir, minyak goring dan air mineral. Bantuan tersebut memang masih kurang jika dibandingkan dengan jumlah pengungsi yang kini mencapai 9.300 jiwa.
“Jumlah tenda yang disalurkan ke pengungsi baru 100 unit (bantuan pemerintah pusat). Jumlah itu memang tidak cukup. Sedangkan untuk masker yang dikirim pemerintah pusat sebanyak 10.000 unit sudah tiba dan akan segera didrop ke pengungsi,” katanya.

M. Yamin Panca Setia

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s