Termangu di Halaman Parkir Setneg


NURMAYANTI, Wartawati Koran Seputar Indonesia (Sindo) nampak sedang duduk di pintu masuk halaman parkir motor Kantor Sekretariat Negara. Dia adalah wartawati yang ditugaskan perusahaan medianya untuk meliput aktivitas di Istana Presiden. Wajah Nurma saat itu terlihat kecewa. “Tidak bisa masuk,” katanya saat saya mendekatinya. ”Lho kenapa?” tanya saya.

Dia mengaku aneh. Tak biasanya, petugas dari kesatuan Pengamanan Presiden (Paspamres) kali ini melarang wartawan masuk ke Istana Presiden.

”Lho, memangnya kenapa?” tanya saya lagi.

”Alasannya sih, rapatnya intern, wartawan tidak boleh meliput” jawabnya dengan nada agak sedikit sinis. Tapi, lanjutnya, walau intern, wartawan biasanya dipersilahkan masuk menunggu di bioskop. Bioskop adalah sebutan ruang pers bagi para wartawan peliput aktivitas kenegaraan di Istana.

Nurma benar-benar kelihatan kesal. ”Kayaknya, baru sekarang deh, kita tidak boleh masuk,” sesalnya.

Dari pengakuan Nurma itu, saya yang baru sejenak tiba di halaman parkir jadi enggan melangkahkan kaki menuju Istana Presiden yang jaraknya sekitar 100 meter dari halaman parkir motor Kantor Sekretariat Negara tersebut.

Tak lama berselang, dari arah pintu masuk Istana Presiden, nampak Roy wartawan LKBN Antara berjalan menuju tempat kami berdua mangkal. Dia juga terlihat kecewa. ”Kok tidak boleh masuk ya?” tanyanya saat mendekati saya dan Nurma.

Saat itu, kami bertiga pun langsung ngomong tak karuan. Intinya, kami kecewa lantaran tidak boleh masuk.

Rupanya, kekecewaan tak hanya kami rasakan. Dina, wartawati Harian Sinar Harapan juga tak habis pikir tentang pelarangan itu. Para wartawan televisi seperti Trans 7 dan TVRI juga kecewa. Lantaran tak bisa masuk Istana, mereka pun balik arah meninggalkan istana.

Padahal, mereka datang dari kejauhan untuk bertandang ke Istana guna meliput hasil rapat intern yang dipimpin Presiden Susilo Bambang Yudhoyono bersama Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan Widodo AS, Panglima TNI Djoko Suyanto, dan Kapolri Jenderal Pol Sutanto. Kita tentu sudah mereka-reka. Presiden bersama petinggi aparat keamanan itu pasti membicarakan soal gerakan separatis yang mulai melakukan menuver di sejumlah daerah seperti di Ambon, Papua, dan Nanggroe Aceh Darussalam.

Kabar tidak menyenangkan itu lalu kusampaikan ke Redaktur Eksekutif Koran Jurnal Nasional yang bernama Rihad Wiranto. ”Bos, wartawan tidak boleh masuk ke Istana, jadi bagaimana?” tanya saya lewat SMS.

”Oh gitu, garap pesan rapat saja dari kantor. Hubungi Depdagri dan lain-lain. Untuk halaman 1 lho. Tak usah ditunggu kalau tak bisa masuk. Iya kan?” begitu pesan dari Rihad kepada saya lewat SMS.

Lantaran redaktur sudah memerintahkan agar balik ke kantor, saya pun langsung menghidupkan motor saya untuk segera meluncur ke Rawamangun, tempat kantor ku.

”Ya sudah, kita pulang saja yuk,” seru saya kepada teman-teman wartawan. Mereka pun sepakat. Kami satu persatu meninggalkan Istana Presiden.

Saat tiba di Kantor Koran Jurnal Nasional, saya pun langsung menyusun strategi lain untuk menggali informasi soal Pendeklarasian Partai Lokal bersimbol Gerakan Aceh Merdeka (GAM) beberapa waktu lalu oleh elit GAM yang menggemparkan Jakarta.

Mau tidak mau, saya pun melakukan wawancara lewat telepon ke pihak TNI untuk mengetahui respon insitutusi militer itu dalam menghadapi persoalan yang bernuansa separatis di provinsi paling barat Indonesia itu.

Syukurlah, pihak TNI yang ingin saya mintai komentar yakni Kepala Pusat Mabes TNI Sagoem Tamboen bersedia meladeni wawancara lewat telepon. Intinya, dia menegaskan TNI tidak mentolerir segala bentuk tindakan yang dapat mencabik-cabik Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Usai wawancara singkat lewat telepon tersebut, saya dapat kabar jika sekitar setengah jam lagi akan ada jumpa pers di Istana Presiden. Kabar itu membuat saya menggrutu. Kenapa tidak tadi saja saat saya masih berada di Istana. ”Piye toh iki,” saya mengeluh dengan logat jawa kepada redaktur.

Namun, lantaran tugas, dengan langkah agak berat, saya pun langsung meluncur ke Istana. Apalagi, saya berpikir rapat di Istana Negara yang dihadiri Menkopolhukam Widodo AS, Panglima TNI Djoko Suyanto, Kapolri Jenderal Pol Sutanto, pasti membahas soal pendeklarasian partai GAM, pengibaran bendera OPM dan insiden RMS beberapa waktu lalu. Semua berita yang bernuasa separatis itu masih menjadi kabar aktual di telinga wartawan.

Dari kantor ke Istana Presiden, menempuh perjalanan sekitar 30 menit lewat kendaraan bermotor. Kalau macet bisa sampai 45 menit.

Seperti biasa, jalan di Jakarta di kala sore menjelang, dihadapi persoalan macet. Persoalan itu kadang membuat saya benci menjadi penghuni ibu kota.

Beda dengan tempat kelahiran saya yaitu Bandar Lampung yang jauh dari kemacetan. Udaranya pun segar, berbeda dengan Jakarta yang udaranya begitu sesak lantaran kepulan asap yang keluar dari corong knalpot jutaan kendaraan.

Tiba di Istana Presiden, saya melihat sejumlah wartawan sudah pada mangkal di ruang kaca—tempat jumpa pers biasa digelar.

Tapi, lagi-lagi wartawan dibuat kecewa, lantaran harus menunggu lama komentar dari petinggi negara untuk memaparkan hasil rapat yang dibahas bersama Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Istana Negara hingga tengah malam.

Untuk menghilangkan kejenuhan, para wartawan lalu menghidupkan televisi di ruang kaca untuk menyaksikan tayangan langsung pertandingan sepak bola antara Indonesia-Bahrain. Pertandingan itu mampu mengusir kepenatan wartawan menunggu kabar dari Istana Negara—tempat rapat intern yang dipimpin Presiden berlangsung.

Sebuah tendangan hasil muntahan bola yang menyentuh tiang gawang Bahrain yang berhasil dimanfaatkan striker andalan tim Merah Putih bernama Bambang Pamungkas berhasil menembus gawang Bahrain. Kami pun berteriak sambil berjingkrak senang. “Goooooooooolllll” teriak para wartawan di ruangan itu. Skor 2-1 untuk kemenangan Indonesia.

“Tapi, jangan senang dulu bos,” celetuk Ivan, kameramen RCTI. ”Nanti ketemu Korea atau Arab baru dicetak 5-0,” katanya disambut ketawa ketiwi teman-teman wartawan lainnya. Memang bukan tak mustahil, saat lawan Korea atau Arab Saudi nanti, Indonesia akan dilumat dengan skor telak. Dua negara itu secara teknis dan pengalaman jauh lebih hebat daripada Indonesia.

Sekitar pukul 20.30, jumpa pers pun dimulai. Wajah wartawan yang tadinya terlihat agak kantuk, terlihat kembali Nampak hadir Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan Widodo AS, Panglima TNI Marsekal Djoko Suyanto, Kepala BIN Syamsir Siregar, KSAD Jenderal Djoko Santoso, KSAL Laksamana Slamet Subiyanto, dan KSAU Marsekal TNI Herman Prayitno.

Widodo AS yang paling banyak memberikan penjelasan kepada wartawan soal rapat yang dibahas bersama Presiden. ”Maaf, jika rekan-rekan wartawan telah lama menunggu,” katanya sebelum jumpa pers dimulai. ”Iya nih pak, lama,” celetuk seorang wartawan.

”Apa rapatnya sambil nonton bola ya pak. ”Indonesia kan menang 2-1 lawan Bahrain pak,” sambung wartawan. ”Apa iya,” ujar Widodo.

Tak lama berselang, jumpa pers pun dimulai. Wajah wartawan yang tadinya terlihat pada mengantuk, berubah menjadi cerah. Mereka lalu sibuk menyiapkan tape perekam, blocknote. Sementara para kameramen, sibuk mengatur kamera untuk merekam gambar narasumber.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s