Pencinta Papua itu Bertandang ke Istana


PENAMPILANNYA nyentrik. Lelaki bertubuh agak tambun itu menggunakan rok sedengkul layaknya rok ala Skotlandia yang biasa dikenakan kaum pria.

Warnanya selaras dengan jas hitam tanpa dasi yang dikenakannya.

Dia juga bertato.

Tapi, siapa kira jika lelaki berambut putih itu adalah seorang anggota Kongres Amerika Serikat (AS) perwakilan dari American Samoa. Di Kongres AS, dia menjabat Ketua Komisi Asia Pasifik.

Eni Faleomavaega namanya. Eni dikenal vocal sebagai anggota Kongres AS yang selalu mempersoalkan penegakan HAM di Papua.

Dia sering ngotot ke pemerintah Indonesia agar diizinkan dapat bertandang langsung ke Papua guna menggali informasi seputar penegakan HAM di propinsi paling ujung timur Indonesia itu. Sikap kritisnya mengenai persoalan yang terjadi di Papua agak membuat sibuk pemerintah.

Rabu, sekitar pukul 14.00 WIB lalu, Eni bertandang ke kantor Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Sejumlah wartawan yang meliput aktivitas di Istana pada gerabak gerubuk ingin menampung komentarnya. Sementara para photografer dan kameramen berebut ingin mengabadikan kedatangan Eni.

Sayang, Eni tak memberikan komentar. Dia hanya nyelonong masuk ke kantor Presiden. Saat tiba di Istana, Eni disambut Menteri Luar Negeri Hassan Wirajuda.

Dalam pertemuan antara Eni dengan Presiden, nampak pula Menko Polhukam Widodo AS, Menteri Luar Negeri Hassan Wirajuda, Menteri Kelautan dan Perikanan Freddy Numberi, Sekretaris Kabinet Sudi Silalahi. Nampak pula Gubernur Papua Barnabas Suebu, Gubernur Irian Jaya Barat Abraham Oktavianus Atururi, Juru Bciara Dino Patti Djalal dan Duta Besar Indonesia untuk AS Sudjadnan Parnohadiningrat.

Pertemuan itu tertutup. Wartawan hanya menunggu kabar di ruang pers.

Sekitar 45 menit kemudian, pertemuan pun usai. Eni pun berbicara kepada wartawan.

”Assalamualaikum, selamat sore, Sukron” katanya akrab. Sukron adalah bahasa Arab yang artinya terima kasih.

Kepada wartawan, Eni mengatakan, pertemuannya dengan Presiden membahas beberapa isu-isu penting.

“Kami mendiskusikan pentingnya peran Indonesia pada situasi politik dunia saat ini. Indonesia bukan saja negara dengan populasi terbesar keempat di dunia, namun juga negara dengan populasi umat muslim terbesar di dunia,” kata Eni.

Katanya, Indonesia dapat memberikan kontribusi dan memainkan peran penting untuk membawa kedamaian bagi negara-negara Islam di berbagai kawasan di dunia. Dia juga mengatakan, pertemuan tadi diarahkan untuk benar menjaga hubungan bilateral negaranya.

Sementara soal Papua, Eni memberikan apresiasi atas komitmen Presiden terhadap Papua.

“Tidak hanya dalam menyediakan sumber-sumber yang dibutuhkan, tetapi juga menyediakan bantuan yang saya percaya inilah yang diingkan masyarakat Papua selama bertahun-tahun,” kata Eni.

Dia menilai, kondisi Papua saat ini sangat menggembirakan jika dibandingkan saat dirinya pertama kali menjadi anggota Kongres AS sekitar 19 tahun lalu.

Juru Bicara Kepresidenan Dino Patti Djalal yang mendampingi Eni mengatakan, pertemuan tersebut berjalan hangat dan bersahabat. Dia mengibaratkan pertemuan itu seperti extraordinary meeting atau pertemuan yang luar biasa.

Menurut Dino, Presiden telah menjelaskan mengenai kebijakan pemerintah terhadap Papua kepada Eni yang dianggap Presiden sebagai sahabat Indonesia dan memiliki perhatian besar terhadap Papua sejak lama.

“Presiden menjelaskan mengenai penerapan baru yang diambil pemerintah termasuk dengan semakin memperkuat otonomi dan demokrasi di Papua, seperti dengan pemilihan gubernur yang dipilih secara langsung dan demokratis,” katanya.

Presiden, kita Dino, juga menjelaskan mengenai new deal policy terhadap Papua yang memberikan penekanan pembangunan sosial dan ekonomi, pembangunan pendidikan dan kesehatan, infratruktur, pengentasan kemiskinan, serta kebijakan yang memberi ruang atau kesempatan besar bagi putra daerah.

Pemerintah juga telah mengalokasikan pendanaan yang besar bagi Papua dan Papua Barat, misalnya pada 2006 pemerintah memberikan alokasi 1,9 miliar dolar AS untuk pemerintah daerah Papua, dan pada 2007 ditingkatkan menjadi 2,3 miliar dolar AS.

“Presiden menekankan pentingnya hubungan Indonesia dengan AS, dan menyatakan komitmen Indonesia untuk terus meningkatkan hubungan tersebut.”

Selain membicarakan soal Papua, dalam pertemuan itu, Presiden juga menekankan bahwa Indonesia dan Amerika Serikat akan berupaya bekerjasama menghadapi berbagai masalah global yang menjadi kepentingan bersama seperti APEC, Climate Change, East Asia Summit dan sebagainya.

Sebelumnya, Eni mengharap Pemerintah Indonesia mengizinkan dirinya meninjau langsung kondisi Papua. Namun, pemerintah tidak mengizinkan dirinya melakukan pengkajian masalah HAM di Papua.

Pemerintah hanya mengizinkan anggota Kongres AS untuk menggelar konsultasi di Jakarta guna mengetahui perkembangan situasi HAM di Indonesia, termasuk di Papua.

“Kalau masuknya ya. Dalam artian, seperti yang sudah disepakati dengan pihak anggota Kongres AS salah satunya Eni, disepakati untuk kunjungan ke Jakarta,” kata Menteri Luar Negeri RI Hassan Wirajuda.

Pemerintah hanya ingin menggelar penjajakan guna mengetahui segala keperluan yang dibutuhkan anggota Kongres AS soal situasi Papua.

”Kalau keperluan untuk konsultasi dengan sebagian jajaran pimpinan daerah, kita bisa atur sesuai dengan jadwal waktu yang relatif pendek yaitu dengan pertemuan di Jakarta,” jelasnya.

Wakil Ketua Komisi I DPR Yusron Ihza Mahendra juga menilai tak perlu anggota Kongres AS ke Papua—meski alasannya untuk mengkaji soal HAM di Papua.

Dia khawatir, AS hanya menjadikan isu HAM sebagai alat untuk merealisasikan kepentingan nasionalnya di Indonesia. AS hanya menjadikan soal HAM negara lain sebagai alat diplomasi politik luar negerinya.

”Apa betul hanya sekedar mempertanyakan soal HAM. Namun, ada kepentingan nasional AS yang diusung. Jadi, mau apa masuk ke Papua, kalau tujuannya itu cukup di Jakarta saja,” kata Yusron.

*****

Sebelumnya, sekitar pukul 09.00 WIB, Presiden juga menerima kunjungan tiga anggota House Democracy Assistant Commission (HDCA) dari Kongres AS, yaitu David Drier California, James Moran dari Virginia, dan Donald Payne dari New Jersey.

Dari pertemuan itu, Presiden mengharap hubungan Indonesia-AS dapat lebih diperkaya, tak hanya antarpemerintah tapi juga antarparlemen, dan antarrakyat.

“Presiden menyatakan bahwa mengutip apa yang pernah dinyatakan mantan Menteri Luar Negeri Collin Powel bahwa Indonesia is the most misunderstood country in the world. Mengutip itu, Presiden menekankan perlunya semakin banyak anggota Kongres AS datang ke Indonesia untuk melihat situasi dan perubahan yang telah terjadi di Indonesia dalam beberapa tahun ini,” kata Dino.

Pertemuan dengan HDCA juga membahas hubungan bilateral antara Indonesia dan AS. Kedua negara dipandang perlu meningkatkan kerjasama ekonomi dan hubungan investasi.

”AS juga menghargai prestasi Indonesia di bidang counter terorrism dan mereka membahas pula mengenai masalah-masalah di Timur Tengah, terutama situasi Palestina, Irak dan Lebanon,” ujar Dino.

Dalam pertemuan itu, Presiden juga menyatakan prihatin terhadap situasi terakhir di Palestina. Presiden SBY berharap agar AS dapat memainkan peranan konstruktif untuk memajukan perdamaian di Palestina. AS diharapkan dapat terus memainkan dialog dengan Iran serta penyelesaian situasi di Irak.

”AS terus melakukan dialog-dialog ini karena konflik-konflik di Timur Tengah hanya dapat diselesaikan dengan meningkatkan confidence building dan dialog antara pihak-pihak yang berkepentingan,“ harap Presiden seperti dituturkan Dino.

Photo: Presiden SBY menerima Eni Faleomavega, anggota Kongres AS, yang juga Ketua Komisi Asia Pasifij dan mewakili Samoa. Pertemuan dilakukan di Kantor Presiden, Kamis (5/7) siang. (anung/presidensby.info)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s