Gundah Tanggapi Komentar


NADA bicara Presiden Susilo Bambang Yudhoyono terdengar datar. Dia terlihat lelah setelah dua hari dua malam, energi dan pikiran terkuras saat memimpin rapat pembahasan tindaklanjut penanganan lumpur Lapindo di Wisma Perwira Pangkalan Udara TNI-AL Juanda, Sidoarjo, Jawa Timur.

Selasa malam, sekitar pukul 22.00, rapat yang dipimpinnya, selesai. Presiden pun akhirnya berbicara kepada pers soal hasil keputusan rapat yang menyangkut ribuan nasib warga yang menjadi korban lumpur panas Lapindo.

Keputusan rapat itu sedikit agak melegakan warga Sidoarjo yang menjadi korban semburan lumpur. Pada intinya, rapat itu memutuskan agar Lapindo harus segera memberikan ganti rugi kepada ribuan warga yang rumahnya terendam lumpur.

Presiden juga mewanti-wanti agar pihak terkait mulai dari menteri terkait, Bupati Sidoarjo, Gubernur Jawa Timur, BPLS dan Lapindo, konsisten melaksanakan Peraturan Presiden (Perpres) No 14 tahun 2007.

Namun, di mata lawan politiknya, semburan lumpur panas menjadi komoditas politik yang ampuh menyerang Presiden. Di parlemen, sejumlah politisi menilai, apa yang telah dilakukan Presiden tak akan memberikan banyak manfaat kepada para korban lumpur di Sidoarjo. Sejumlah demo pun bermunculan. Di Jakarta, sejumlah perwakilan korban Lapindo menggelar demo di Gedung DPR.

Kritik pun semakin mengalir deras karena Presiden tidak bisa menemui langsung warga Sidoarjo yang menjadi korban lumpur.

Atas kritik itu, Presiden miris menanggapinya. ”Memang tadi ada sedikit komentar biasa, ketika saya belum datang lagi ke Sidoarjo—padahal saya sudah sering datang—tapi dikatakan SBY kok tidak datang. Jangan-jangan tidak memberikan atensi yang penuh. Padahal saya selalu memberikan atensi penuh. Tapi, saat datang ke Sidoarjo, ada komentar ngapain ke Sidoarjo,” kata Presiden.

Presiden mengatakan, dirinya bekerja tidak harus mendengarkan komentar. ”Tapi saya punya keyakinan. Kalau kita tulus, serius tentu ada yang dapat dicapai,” ujarnya.

Presiden menambahkan, dirinya sudah menerima laporan dari warga korban Lapindo Minggu lalu, dan sebulan sebelumnya Presiden sudah menerima representasi dari penduduk. ”Bahkan, hampir tiap hari Presiden menerima SMS mengenai pengaduan dan usulan dalam memecahkan masalah Lapindo.’’

Presiden mengharap, persoalan Lapindo tidak menjadi komoditas politik sehingga tidak memperkeruh situasi. ’’Marilah kita hindari, agar warga korban mendapatkan bantuan sebaik-baiknya. Ini harapan saudara kita yang memerlukan uluran perhatian dan pekerjaan yang tulus dari kita semua.”

Juru Bicara Presiden Andi Malarangeng menilai heran jika sejumlah pihak mempertanyakan soal pindahnya Istana ke Sidoarjo. ”Lah, apakah presiden hanya duduk manis di Istana, mendengar laporan dari semua pihak, tapi tidak meninjau langsung,” katanya.

Menurut dia, dalam sebuah organisasi modern, walau ada pembagian tugas dan wewenang, tapi tetap harus ada monitoring yang bisa dilakukan oleh pemimpin tertinggi guna mengetahui apakah kebijakan itu yakni Perpres No 14 tahun 2007, dapat betul betul dilaksanakan dengan baik.

Andi juga menampik penilaian jika rapat yang digelar di Sidoarjo dapat merepotkan pemerintah daerah setempat. Di Wisma Perwira AL, kata Andi, Presiden dan sejumlah Menteri mendapatkan perlakuan ala kadarnya. Kondisi Wisma jauh berbeda dengan kondisi hotel berbintang. Di sana, para menteri harus rela tidur di kamar ala kadarnya.

”Lihat saja, semua menteri tidur di sini, bahkan ada satu kamar berdua orang menteri, bertiga bahkan berlima dalam satu kamar. Itu biasa. Di Nabire, kita malah tidur di tenda. Di Aceh dan Jogja pun demikian.”

Andi menegaskan, kunjungan Presiden sama sekali tidak menyusahkan daerah. ”Sama sekali tidak.”

Menurut Andi, Presiden SBY sudah terbiasa dengan kondisi demikian karena berasal tentara yang dari bawah hingga ke atas sudah terbiasa di lapangan sehingga wajar jika saat ini Presiden ingin melihat langsung ke lapangan.

”Apalagi Presiden SBY adalah Presiden RI yang wilayah kerjanya di seluruh wilayah RI. Karena itu, bisa saja untuk kapan saja berkantor di seluruh wilayah Indonesia.” Jadi, kata Andi, jangan harapkan Presiden SBY harus melulu duduk di depan meja di Jakarta saja.

Sejumlah menteri yang hadir antara lain Menteri Sekretaris Negara Hatta Rajasa,Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Purnomo Yusgiantoro, Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto, Menteri Sosial Bachtiar Chamsyah.

Selain itu, hadir juga Menteri Negara Lingkungan Hidup Rachmat Witoelar, Menteri Keuangan Sri Mulyani, Menteri Komunikasi dan Informatika Mohammad Nuh, Menteri Negara Perencanaan Pembangunan/Kepala Bappenas Paskah Suzeta, dan Kepala Badan Pertanahan Nasional (BPN) Joyo Winoto.

M. Yamin Panca Setia

Photo: Presiden SBY bersama Mensesneg Hatta Rajasa, Menteri PU Djoko Kirmanto, Mensos Bachtiar Chamsyah dan pimpinan PT Lapindo, usai memberikan keterangan pers di Wisma Perwira TNI-AL Juanda, Selasa (26/6) petang. (Abror/presidensby.info)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s