Prosesi Singkat Dikala Pagi Menjelang


”MIN bangun…! Nanti ketinggalan lue,” seru Teguh, rekan wartawan dari Radio Elshinta yang satu hotel dengan saya saat bersama-sama meliput kunjungan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Sidoarjo Jawa Timur.

”Jam berapa bos,” tanya saya setengah sadar kepada dia.

”Jam 5.00. Ayo bangun, nanti ketinggalan pesawat lue,” balas Teguh.

Dengan berat, saya pun beranjak dari kasur empuk kamar 209 Hotel Utami Sidoarjo itu. Saya berusaha sadarkan diri setelah lelap sesaat lantaran letih dikejar deadline hingga pukul 00.00 tadi malam.

Teguh adalah teman akrab saya yang biasa mangkal di Istana Presiden. Tubuhnya tinggi. Lebih tinggi sedikit daripada saya. Dia rupanya sudah siap check out dari Hotel Utami—tempat rombongan wartawan dari Istana beristirahat.

Saya coba melangkah ke kamar mandi. Uh….dingin sekali…..! Hembusan AC terasa menusuk tulang. Dinginnya AC dan udara pagi buta itu bagi saya adalah kenikmatan untuk bergelut melepas lelah di atas kasur. Uhhhh…! Rasanya tak berani menyentuh air kala itu.

Tapi, saya terpaksa mandi karena harus segera bergegas tinggalkan Sidoarjo. Waktu keberangkatan pesawat memang sudah sangat mendesak. Rombongan wartawan yang beristirahat di hotel diberikan deadline hingga pukul 06.00 karena pesawat yang kami tumpangi bersama rombongan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono akan lepas landas di Bandara Juanda Surabaya ke Jakarta pukul 06.30.

Usai mandi, saya pun cepat bergegas mengemas barang yang saya bawa dari Jakarta. Tak banyak yang saya bawa. Hanya sejumlah peralatan ’tempur’ yang biasa digunakan wartawan di medan laga.

Meski sudah mandi, tapi kantuk masih saja menghinggap. Saya benar-benar kurang merasakan nikmatnya tidur.

Maklum, tadi malam, saya lembur hingga pukul 00.30 untuk menyelesaikan laporan berita mengenai rapat penanggulangan lumpur panas Sidoarjo di Jawa Timur yang dipimpin Presiden bersama sejumlah menteri terkait, Bupati Sidoarjo, Gubenur Jawa Timur, Tim Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo dan pihak PT Lapindo Brantas.

Sebagai kuli perusahaan, saya terpaksa memangkas hak tubuh saya untuk beristirahat.

Dari kamar sebelah, rekan saya Angga dari Lativi, Dendy dari ANTV, Ivan dan Vicki dari RCTI, nampak juga sibuk berkemas. ”Ayoo bos, buruan….nanti tidak kebagian tempat duduk di pesawat,” kata saya kepada mereka. Sapaan bos adalah sapaan akrab yang biasa dipakai teman-teman wartawan.

Sebelum berangkat, kami yang berjumlah sekitar 23 orang wartawan dari sejumlah media di Jakarta punya waktu tak lama untuk menikmati sarapan pagi di hotel itu. Saya melihat, Mbak Ipah, humas Istana sibuk mengkoordinir para wartawan. ”Jangan lama-lama, pesawat terbang jam 6.30,” katanya mengingatkan.

Lantaran terburu-buru, saya pun tak bisa fokus menikmati sarapan. Padahal, kalau urusan makanan, saya paling anti diganggu. Apalagi di kala pagi—saat perut lapar sekali. Karena keadaan mendesak, mau tidak mau perut harus bertoleransi. Makan ala kadarnya. Ya, cukuplah untuk dua jam hingga tiba di Jakarta.

Usai sarapan, kami pun langsung bergegas menuju bus milik Pemerintah Kabupaten Sidoarjo. Sang sopir, rupanya sudah siap mengantarkan kami ke Bandara Juanda. Perjalanan dari hotel menuju Bandara hanya sekitar 15 menit.

Saat memasuki areal bandara, sejumlah aparat keamanan nampak siaga di setiap lini. Begitulah kalau Presiden datang. Ratusan petugas keamanan dikerahkan untuk mengamankan kepala negara.

Pengamanan super ketat. Saat bus yang kami tumpangi mendekat ke gerbang bandara, sejumlah petugas memberikan perintah untuk berhenti sesaat. Seorang petugas langsung naik ke bus untuk memeriksa kami. Petugas keamanan baru mempersilahkan masuk ke Bandara setelah mengetahui, kami adalah rombongan wartawan dari Istana Presiden.

Saat bus mulai mendekat ke pesawat, segala peralatan yang kami bawa, terlebih dahulu diperiksa aparat. Mungkin, mereka khawatir, jika salah satu di antara kami membawa bahan peledak. Saya pun sekilas berpikir jika di negeri yang saya cintai ini, keamanan sangat mahal sekali.

Tak lama berselang, rombongan Presiden pun tiba di Bandara. Sejumlah petugas nampak semakin awas. Sejumlah protokol pun bersiap-siap menyambut Presiden dan rombongan.

Presiden bersama Ibu Negara Ani Yudhoyono didampingi sejumlah menteri dan pejabat daerah. Nampak Menteri Sekretaris Negara Hatta Rajasa, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Purnomo Yusgiantoro, Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto, Menteri Sosial Bachtiar Chamsyah.

Selain itu, nampak pula Menteri Negara Lingkungan Hidup Rachmat Witoelar, Menteri Komunikasi dan Informatika Mohammad Nuh, Menteri Negara Perencanaan Pembangunan/Kepala Bappenas Paskah Suzeta, Kepala Badan Pertanahan Nasional (BPN) Joyo Winoto, Juru Bicara Kepresidenan Andi Malarangeng, Dino Pati Djalal dan staf kepresidenan lainnya.

Gubernur Jawa Timur Imam Utomo bersama jajaran Muspida Provinsi Jatim juga hadir dalam acara penyerahaan bantuan itu.

Rupanya, di kala pagi baru menjelang, sebuah prosesi akan digelar. Rombongan wartawan pun bergegas untuk merekam prosesi tersebut. Prosesi kala itu adalah penyerahan bantuan uang yang diberikan Presiden dan PT Lapindo Brantas kepada para korban.

Presiden menyerahkan bantuan suka rela dan bina lingkungan untuk korban semburan lumpur panas PT Lapindo di Sidoarjo sebesar Rp10 miliar.

Bantuan diserahkan Presiden secara simbolis kepada Bupati Sidoarjo Win Hendarso di Bandara Juanda, Sidoarjo, Jawa Timur, sebelum terbang ke Bandara Halim Perdana Kusuma Jakarta, kemarin.

Dana sebesar Rp10 miliar yang diserahkan secara suka rela itu bersumber dari BUMN sektor energi dan sumberdaya mineral.

”Pak Bupati, ini kami serahkan, sumbangan dari sektor energi dari BUMN, kepada saudara kita yang terkena dampak lumpur Sidoarjo ini. Dengan harapan, dana ini dapat digunakan sebaik-baiknya,” kata Presiden kepada Bupati Sidoarjo Win Hendarso.

Presiden bersama Ibu Negara kemudian memberikan selamat ke masing-masing korban yang mewakili ribuan korban semburan lumpur Lapindo. Presiden mengharap, agar bantuan yang diterima dapat digunakan sebaik-baiknya. Nampak, sejumlah perwakilan korban yang menerima bantuan menangis terharu karena mendapatkan bantuan dari pemerintah.

Di tempat yang sama, Chief Executive Officer PT Lapindo Nirwan Bakrie juga menyerahkan dana pembayaran ikatan jual beli tanah secara simbolis kepada Muhammad Gufron, perwakilan korban Lumpur sebesar Rp133,6 juta dari total jual beli tanah sebesar Rp175,54 miliar.

PT Lapindo berjanji untuk mempercepat pembayaran ganti rugi sesuai dengan kesepakatan rapat yang dipimpin Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan melibatkan sejumlah menteri terkait, BPLS, Bupati dan Lapindo selama dua hari di Wisma

General Manager Lapindo Brantas Inc Imam P Agustino mengatakan, Lapindo sudah menyiapkan sejumlah dana di Bank Mandiri dan Bank Tabungan Negara. Dari dana sebesar Rp30 milar yang tersimpan di bank tersebut, Lapindo berjanji akan meningkatkan dananya Rp100 miliar untuk membiayai ganti rugi ke korban lumpur. ”Dana itu Insya Allah sudah cukup,” katanya.

Imam melanjutkan, jadwal pembayaran sudah dimulai tanggal 1 Juli hingga 14 September untuk pelunasan 20 persen biaya ganti rugi. ”Jadi Pak Presiden sudah menyampaikan bahwa verifikasi akan dipercepat . Setelah verifikasi disahkan, kemudian diserahkan ke kami untuk pembayaran,” ujar Imam.

Dia mengatakan, tim verifikasi akan bekerja secara sefektif dan penuh kehati-hatian.

Dia menambahkan, dari 522 dokumen yang sudah diverifikasi, ada sejumlah 163 yang akan dituntaskan sepenuhnya. ”Yang 20 persen untuk empat desa itu. Yang 80 persen akan diselesaikan sesuai dengan Perpres No 14 Tahun 2007, dan kami tunduk kepada Perpres itu, paling lambat habis masa kontrak selama dua tahun.”

Sementara terkait dengan ganti rugi ke perusahaan yang terendam lumpur, Imam mengatakan, Lapindo melakukan kerjasama secara bisniss to bisniss. ”Sudah sembilan perusahaan memiliki kesepakatan dengan kami. Kalau perusahaan b to b dilakukan antara Lapindo dengan wakil perusahaan.” Kerjasama dengan perbankan, lanjut Imam juga tidak ada masalah.

Setelah prosesi serah terima digelar, Presiden bersama rombongan pun langsung terbang ke Jakarta dengan pesawat milik Maskapai Garuda Indonesia. Saya berada di antara rombongan Presiden yang numpang pulang ke Jakarta.

M. Yamin Panca Setia

Photo: CEO Lapindo Brantas, Nirwan Bakrie menyerahkan bantuan kepada perwakilan korban lumpur Lapindo, disaksikan Presiden SBY, Ibu Ani dan para menteri, di Base Ops Pangkalan TNI-AL Juanda, Rabu (26/6) pagi. (foto: abror/presidensby.info)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s