RI Sesali Pemberian
Gelar Ksatria ke Salman Rushdie


PEMERINTAH Indonesia menilai pemberian gelar Ksatria oleh Kerajaan Inggris kepada penulis Salman Rushdie dapat menciptakan situasi hubungan antar peradaban dan agama di dunia menjadi tidak kondusif. Sebagai salah satu negara Islam, Indonesia menyesalkan pemberian gelar terhadap pengarang novel yang menghujat Nabi Muhammad SAW itu.

”Karya Salman Rushdie, yang di dunia Islam mendapatkan banyak tantangan, termasuk di Indonesia, jadi pemberian gelar kepada Salman, apa dasar pemberian gelar tersebut. Apakah terhadap karyanya atau terhadap yang lain,” kata Menteri Luar Negeri Hassan Wirajuda usai mendampingi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menerima tiga dubes negara sahabat di Istana Merdeka Jakarta, Kamis.

Dari segi waktu, Menlu menilai, pemberian gelar tersebut dapat menciptakan situasi yang tidak kondusif, dan saling pengertian yang lebih baik dalam hubungan antarnegara, peradaban dan agama. Menlu menambahkan, sosok Salman Rushdie sudah menjadi kontroversi sejak dia mengarang buku “Ayat-ayat Setan” pada tahun 1988, yang mendapat tentangan dari dunia Islam termasuk Indonesia.

Namun, Menlu mengakui dirinya belum mengetahui secara rinci mengenai pemberian gelar Ksatria oleh Ratu Inggris itu, apakah berdasarkan karyanya atu pengabdiannya.

Mantan Menteri Agama yang sekarang menjabat Ketua Umum Dewan Masjid Indonesia (DMI) Tarmizi Taher juga menyesalkan penghargaan yang diberikan Ratu Inggris Elizabeth kepada Salman Rushdie, karena menyakiti hati umat Islam Indonesia dan seluruh dunia.

Tarmizi prihatin atas fenomena tersebut, di mana beberapa negara maju dengan sengaja membuat kondisi kehidupan antartetangga dunia tidak lagi tenteram, tidak lagi saling menghargai perasaan orang lain. Dalam kehidupan dunia global modern ini, katanya, seharusnya antartetangga hidup berdampingan dengan damai dan tenteram, saling menghargai, dan tidak melakukan apa yang tidak disukai tetangga.

“Tetapi mentang-mentang mempunyai dominasi terhadap umat yang lain sehingga berlaku seenak udelnya, berlindung di balik kebebasan berekspresi lalu mengata-ngatai umat lainnya. Ini sungguh tidak pantas,” katanya.

Dia menilai, dialog antar peradaban, dunia yang makin damai dan aspirasi yang sejajar untuk seluruh umat itu semua hanya di mulut saja,” katanya.

Ditanya apakah pemerintah perlu memanggil Duta Besar Inggris di Jakarta soal pemberian penghargaan terhadap pengarang novel yang menghujat Nabi Muhammad itu, Tarmizi mengatakan belum perlu.

Sejumlah negara Islam menghujat pemberian gelar tersebut. Pemerintah Iran dan Pakistan memanggil perwakilan Inggris di negaranya masing-masing untuk melayangkan protes keras atas tindakan negaranya menganugerahi penulis novel The Satanic Verses ini gelar ksatria. Novel ini sempat menjadi perdebatan karena dinilai menghina Islam.

Sementara di jalanan Pakistan dan Iran, unjuk rasa masih marak menentang segala jenis pemberian gelar kepada pria yang terancam hukuman mati mati di negeri asalnya ini. Menteri luar negeri Iran, kepada duta besar Inggris di Teheran, Geoffrey Adams, mengatakan pemberian gelar ini merupakan “tindakan provokatif.”

Sementara di Islamabad, Komisioner Inggris, Robert Brinkley, juga dipanggil menteri luar negeri Pakistan. Pemerintah pakistan menganggap pemberian anugerah ini merupakan tindakan yang tidak sensitif. Kedua negara ini meminta agar Inggris menarik kembali gelar ksatria yang telah diberikan.

Rushdie dituduh menghujat Tuhan dalam novelnya The Satanic Verses (Ayat-Ayat Setan)yang diterbitkan pada tahun 1988. Dia tinggal di Inggris sejak pemerintah Iran saat masih berada di bawah pimpinan Ayatollah Ruhollah Khomeini menetapkan hukuman mati padanya. Hukuman mati ini secara teknis masih berlaku mengingat secara formal belum dicabut.

Rushdie yang berusia 60 tahun Selasa lalu memenangkan banyak penghargaan dalam bidang penulisan. Dia kini berada dalam penjagaan polisi mengingat novelnya menuai banyak kecaman.

Gelar ksatria atas jasanya di bidang literatur yang diumumkan Sabtu lalu merupakan penghormatan yang lazim diberikan ratu Inggris di hari ulang tahunnya. Dengan pemberian gelar ini maka dia bisa memanggil dirinya “Sir Salman”.

Terhadap kasus ini, Inggris menyatakan tidak bermaksud menghina umat Islam. Harian Inggrie The Independent setuju bahwa pemberian anugrah tersebut sembrono, namun tidak bermaksud untuk provokasi.

M. Yamin Panca Setia

Photo: http://www.januarymagazine.com


Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s