Kerjasama Militer RI-Singapura Masih Bermasalah


INDONESIA dan Singapura belum mencapai kesepakatan pasca penandatanganan Kesepakatan Kerjasama Pertahanan (Defence Cooperation Agreement/DCA). Kedua negara tetap berpegang pada argumentasi masing-masing, sehingga kerjasama pertahanan belum bisa dilaksanakan.
Menteri Luar Negeri Hassan Wirajuda mengatakan ada masalah dalam hal implementing arrangements (IAs). “Masih ada yang harus dikerjakan. Itu ada upaya-upaya yang dilakukan kedua belah pihak. Namun, sejauh ini belum membuahkan hasil,” ujarnya di Istana Presiden Jakarta, kemarin (14/6).
Singapura berargumen tidak perlu ada aturan pelaksanaan dari DCA. Indonesia berpendapat DCA tidak bisa langsung diterapkan. Kesepakatan itu perlu aturan-aturan lebih rinci seperti masalah administrasi, teknis, dan operasional.
Indonesia dan Singapura harus duduk bersama membahas masalah ini. Hassan mengatakan, problem lebih banyak ditemukan pada masalah teknis. Menurut Menlu, DCA membutuhkan adanya kesepakakan pelaksanaan untuk masing-masing daerah latihan.
Panglima TNI Djoko Suyanto juga mengakui ada masalah ddi implementing arrangement yang harus dibicarakan. “TNI sudah siap dengan konsep dan drafnya, tapi Singapura belum siap. Ya tinggal menunggu mereka. Kalau sudah siap, kita bicarakan bersama-sama, dan kita cocokan,” katanya. Ada tempat latihan perang (bravo) yang sudah disepakati, namun harus diatur implementasinya.
“Intinya diatur, pelaksanaan bagaimana. Itukan sesuai dengan amanat pasal 6 DCA. Itu harus ada aturannya, kalau belum ada ya diatur dulu,” kata Panglima.
Wakil Ketua Komisi I DPR Yusron Ihza Mahendra menilai ulah Singapura tidak menghargai Indonesia sebagai pemilik wilayah. Sebagai negara yang meminjam area, harusnya Singapura bicara baik-baik dengan Indonesia, tanpa harus menggertak kompensasi perjanjian ekstradisi dengan Indonesia.
Yusron menyesalkan sikap Singapura yang tidak mau diatur di daerah Bravo (laut Natuna termasuk Kepulauan Anambas dan Pulau Natuna Besar). Padahal, Singapura lebih butuh dan berkepentingan terhadap perjanjian pertahanan karena negara tersebut sangat kecil daripada Indonesia. Yusron mengharap, Indonesia harus lebih menguatkan posisi tawar dalam pembahasan dengan Singapura.

M. Yamin Panca Setia

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s