Perubahan Iklim Tanggungjawab Global


KONFERENSI internasional tentang perubahan iklim (Internasional Climate Change) yang akan digelar di Bali pada 3-14 Desember 2007 mendatang harus dijadikan momentum bagi Indonesia dalam memperjuangkan kepentingan Indonesia dari dampak perubahan iklim.

Emil Salim, Mantan Menteri Lingkungan Hidup yang juga menjabat sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) bidang lingkungan, mengatakan sebagai negara yang terletak dikhatulistiwa dan negara kepulauan, Indonesia telah merasakan dampak negatif akibat perubahan iklim yang disebabkan faktor industrialisasi global.

Menurut dia, dengan garis pantai sepanjang 80 ribu km, perubahan iklim akan menyebabkan naiknya permukaan laut yang berakibat tenggelamnya 15 ribu-17 ribu pulau yang ada.

“Perubahan iklim juga berdampak pada musim tanam, irigasi, ketersediaan air yang berpengaruh di sektor pertanian. Maka bagi Indonesia, persoalan perubahan iklim sangat penting dan sangat diperlukan kerjasama global karena udara tidak mengenal batas negara,” tegasnya di Istana Presiden kemarin (7/6) usai mengikuti rapat terbatas yang membahas persiapan penyelenggaraan Konferensi Internasional Climate Change di Bali pada Desember mendatang.

Emil Salim menilai, perubahan iklim saat ini sangat aneh karena CO2 tidak habis, tapi bertahan lama. Karena itu, Indonesia harus mendesak negara maju agar melakukan alih teknologi yang ramah lingkungan.

”Perlu ada pengembangan teknologi kalau ada iklim panas, bagaimana menyediakan bibit padi yang tahan terhadap panas. Bagaimana teknologi pantai seperti di Belanda sehingga dapat hidup di bawah permukaan laaut. Lalu bagaimana secara ilmiah, karbon yang memuat energi bisa ditangkap CO2 kemudian dimanfaatkan dan menjadi energi. Atau bagaimana laut, hidrogennya bisa dienergikan sehingga tidak perlu fosil fuel.”

Emil Salim menambahkan, Indonesia juga harus mendesak Kyoto Protocol hingga 2012 dapat berlanjut sebab pekerjaannya belum selesai.

Sementara itu, Menteri Lingkungan Hidup Rachmat Witoelar mengatakan, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengharap agar konfrensi itu mendahulukan kepentingan Indonesia. Rachmat menilai, harapan tersebut tidak susah direalisasikan karena dunia berkepentingan atas hutan yang dimiliki Indonesia.

Rachmat menambahkan, dalam konfrensi nanti, Indonesia mengusulkan agar negara maju turut bertanggungjawab atas reforestry hutan Indonesia yang sudah rusak. “Dunia harus bayar, dan mereka harus mau. Rp1 triliun se-tahun hanya dari Dephut, itu (dana reforestry, red) lebih dari itu. Itu saya mensyaratkan agar diterima,” jelasnya.

Menurut dia, usulan itu untuk mengganti Kyoto Protocol yang akan kadarluasa. Dia mengatakan, urusan hutan harus menjadi tanggungan negara yang tidak mempunyai hutan. Sekarang hutan tidak dihargai, padahal hutan kita memberikan oksigen sehingga tidak fair. ”Kita punya hutan untuk dipertahankan dan jaga, tapi tidak ada dana untuk itu. Ini untuk meluruskan adanya ketidakseimbangan antara negara maju dengan negara yang tidak maju.”

Rachmat menambahkan, usulan itu nanti akan dinegoisasikan. Sejumlah negara selatan, kata dia, sepakat dengan usulan Indonesia tersebut. Namun, negara maju seperti Amerika Serikat dan Australia tidak tidak sepakat. ”Ada 180 negara yang mendukung usulan Indoensia itu, yang tidak mendukung cuma dua negara, yaitu AS dan Australia.”

Sebagai tuan rumah konferensi, katanya, Indonesia berhak menentukan agenda acara, termasuk menentukan cara untuk mendapatkan dana bagi pelestarian hutan.

Indonesia juga akan mendesak negara maju untuk melimpahkan teknologi yang ramah lingkungan. ”Teknologi yang ramah lingkungan yang sekarang ada di Eropa agar dilimpahkan ke negara seperti Indonesia, Brazil, Filipina, Kongo dan Kostarika, atau negara yang berada di khatulistiwa dunia yaitu negara tropis.”

Dalam rapat terbatas yang dipimpin Presiden Yudhoyono itu juga dihadari Menteri Luar Negeri Hassan Wirajuda, Menteri Perhubungan Jusman Syafii Djamal, Menteri Ristek dan Teknologi Kusmayanto Kadiman, Menteri Perdagangan Mari E Pangestu, Menteri Keuangan Sri Mulyani, Menteri Sekretaris Negara Hatta Radjasa, Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro, Panglima TNI Marsekal Djoko Suyanto, Kepala Bappenas Paskah Suzetta, dan Kepala BIN Syamsir Siregar.

M. Yamin Panca Setia

Photo: Rahmat Witoelar (TEMPO/Rully Kesuma)


Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s