Pentingnya Pengembangan Sistem Inovasi Nasional


SISTEM Inovasi Nasional (National Innovation System) adalah jaringan lembaga di sektor publik dan swasta yang interaksinya memprakarsai, mengimpor, memodifikasi dan mendifusikan teknologi baru. Sistem Inovasi Nasional (SIN) juga dapat menjadi sistem pembelajaran, pencarian dan eksplorasi inovasi. Keberadaan SIN sangat penting dalam persaingan global mendorong kemampuan inovasi di sektor produksi.

Di Indonesia, perkembangan SIN belum optimal khususnya dalam menopang sektor manufaktur. Kementerian Ristek menilai, SIN tak mampu berkembang karena rendahnya kemampuan iptek nasional dalam menghadapi perkembangan global menuju Knowledge Based Economy (KBE).

Indeks Pencapai Teknologi (IPT) Indonesia tahun 2001 masih rendah, yaitu urutan ke 60 dari 72 negara. Sementara berdasarkan World Economic Forum (WEF) tahun 2004, indeks daya saing pertumbuhan Indonesia hanya menduduki peringkat ke-64 dari 104 negara.

Rendahnya kemampuan iptek nasional juga dapat dilihat dari jumlah paten penemuan baru dalam negeri yang didaftar di Indonesia yang hanya mencapai 246 buah, jauh lebih rendah dibandingkan paten luar negeri yang didaftarkan di Indonesia yang berjumlah 3.497 buah.

Tidak optimalnya SIN di Indonesia karena lemahnya interaksi antara ketiga komponen inovasi yaitu industri, universitas dan lembaga penelitian pemerintah. Kelemahan tersebut mencangkup sisi penghasilan inovasi teknologi (supply side), penggunaan teknologi (demand side), dan linkage.

Kementerian Ristek masih menghaadpi terbatasnya sumberdaya iptek, yang tercermin dari rendahnya kualitas SDM dan kesenjangan pendidikan di bidang iptek. Rasio tenaga peneliti Indonesia adalah 4,7 peneliti per 10 ribu penduduk, jauh lebih kecil dibandingkan Jepang yaitu sebesar 70,7. Rasio anggaran iptek terhadap PDB juga rendah, yaitu sekitar 0,039 jauh lebih rendah dibanding Malaysia yaitu sebesar 0,5 persen dan Singapura yaitu 1,89 persen. Akibatnya, terbatasnya fasilitas riset, biaya operasi dan pemeliharan, serta rendahnya insentif untuk peneliti.

Selain itu, lemahnya sinergi kebijakan iptek menyebabkan kegiatan iptek belum memberikan hasil yang signifikan. Menteri Ristek Kusmayanto Kadiman mengatakan, untuk mendorong perkembangan SIN perlu didukung oleh sekumpulan instrumen kebijakan secara menyeluruh, yang diarahkan pada peningkatan kondisi kondusif bagi inovasi, teknologi, dan interaksi antara pemasok dan pengguna teknologi.

Kementerian Ristek sudah mengeluarkan beberapa instrumen kebijakan yaitu, program insentif penelitian yang bertujuan untuk mendorong tumbuhnya inovasi dari penghasil teknologi, business technology center (BTC), dan program inkubator teknologi yang menginkubasi aktor penghasil inovasi untuk masuk ke dunia usaha.

Di samping itu, usaha peningkatan iptek nasional dalam rangka menjalankan SIN antara lain menentapkan 6 bidang prioritas riset nasional dalam bidang ketahanan pangan, energi baru dan terbarukan, manajemen dan teknologi transportasi, teknologi informatika dan telekomunikasi, teknologi Hankam, serta kesehatan dan obat-obatan.

Indonesia sebenarnya sudah memiliki kebijakan pengembangan SIN yaitu UU No.18 tahun 2002 tentang Sistem Nasional Penelitian, Pengembangan dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. Namun, perlu juga didukung oleh sejumlah instrumen kebijakan yang secara keseluruhan memenuhi kondisi adequacy of scope. Efek yang dihasilkan harus menstimulasi peningkatan kondisi bagi inovasi, pasokan teknologi dan interaksi antara pemasok dan pengguna teknologi.

M. Yamin Panca Setia

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s